
Tulisan ini adalah lanjutan dari dua
tulisan sebelumnya yaitu, “Polisi, Gus Ulil dan Revitalisasi Budaya”, Dan “
Qurban, Tradisi dan Infiltrasi”. Tulisan ketiga berjudul “Polisi dan Potensi
Infiltrasi”. Tujuan tulisan ini sebagai pengingat bahwa dalam kontek politik
dan negara, aktivitas politik yang membenci terhadap NKRI akan terus bergerak
seperti pergerakan “Gunung Vulkanik” yang secara tiba-tiba dan tidak disadari
akan meletus dan menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan. Polisi laksana “Mbah
Marijan” yang mempunyai indera keenam untuk mendeteksi dini potensi-potensi
gunung meletus dari ciri-ciri alam di sekitarnya. Lagi-lagi, polisi yang
demikian adalah polisi yang “jiwa dan raga nya”untuk NKRI. Namun jika mereka
sudah terkena virus kebencian terhadap nkri akibat infiltrasi pemikiran dari
ideologi luar, maka ketajaman seperti ini tidak akan bisa didapat. Atau jika
hanya sebatas formalitas, maka yang dilihat pada dirinya adalah tugas rutinitas
yang membosankan. Bukankah demikian?
Semakin mendekati pemilu, suasana semakin
panas. Apalagi pemanasan global semakin meningkat. Cuaca yang kini disebut
dengan cuaca ekstrem, telah melengkapi bahwa alam semesta ini bukan persoalan
alam saja yang semakin panas, tapi juga politik lokal, nasional dan
internasional semakin meningkat suhu politiknya. Kita terkadang tidak bisa
mencerna dengan logika yang bisa diterima dengan tepat, betapa ironisnya
“persoalan kematian satu anak muda” di Prancis menjalar kepada pengrusakan dan
kerusuhan. Selama kerusuhan sebanyak 1.350 kendaraan dan 234 bangunan dibakar
dan 2.560 insiden kebakaran terjadi di ruang publik.
Apakah ini pengaruh cuaca ekstrem yang
telah memmpengaruhi panasnya hati dan pikiran sehingga jalan berfikir menjadi
pendek, dan emosional meningkat dengan tajam? Apakah karena terlalu longgar
kebebasan masyarakat Prancis yang membuka secara lebar para imigran bekas
jajahan? ( salah satu kebaikan dan mempunyai efek negatif negara prancis yaitu
terlalu longgar menerima imigran dari luar negeri, terutama orang-orang yang
pernah dijajah oleh Prancis seperti Aljazair, Marokok, Mali, Tunisia, Gambia.
Nahel M pemuda yang terbunuh adalah warga keturunan Aljazair). Apakah juga
karena kebebasan individual tanpa batas sehingga semua bisa menjadi hakim dan
membuat pengadilan massa yang liar di tengah-tengah masyarakat sebagaimana
kasus tersebut di atas. Bukankah dalam kronologi kejadian, tidak serta merta
polisi bersalah, tapi karena Nahel M telah melakukan pelanggaran lalu lintas
dan diperingatkan agar berhenti, namun menolak? Namun kenapa masyarakat tidak
bisa menerima segala alasan, bahkan bagai rumput kering dibakar, kemarahan
telah merusak ribuan ruang public dan muncul kejahatan masyarakat semakin luas
seperti perampokan dan penjarahan.
Saya mungkin bisa mema’lumi kebebasan yang
dibangun dengan nilai-nilai rasional sering bertentangan dengan rasional itu
sendiri. Prancis telah memilih bahwa kebebasan adalah hak setiap warga. Namun
sayang nya kebebasan tersebut sering menjadi pemicu kerusuhan. Kebebasan tidak
dikontrol dan dibatasi. Padahal kebebasan individu sebenarnya ada hak-hak orang
lain yang membutuhkan penghormatan. Itu sebabnya ketika ada persoalan dengan
individu harus diselesaikan dengan tidak merusak dan merugikan orang banyak.
Kisah tragis kerusuhan di jantung kota
prancis adalah fenomena yang selalu ada dalam setiap masa. Tidak peduli apapun
latarbelakang para pelaku baik beragama atau pun ateis. Namun yang menjadi
pemikiran bersama bahwa potensi-potensi kerusuhan bisa menyusup dan mempengaruhi
pemikira-pemikiran orang lain untuk mengikuti kehendaknya. Bukan hanya
orang-orang biasa yang sering dianggap orang-orang yang keterbatasan ilmu
pengetahuan, tapi bisa berjangkit kepada orang-orang yang berpendidikan, bahkan
juga orang-orang yang sering disebut penjaga keamanan negara.
Kadang kita berfikir juga dan seolah-olah
menolak jalan berfikir orang-orang dan oknum para pejabat atau aparat keamanan
ada yang terkena pemikiran-pemikiran pada dirinya terhadap Ideologi Pancasila dan
ingin menghancurkan di dari dalam, padahal mereka makan dan mendapat gaji dari
negara dan bertanah air bahkan juga saat meninggal dunia dikubur di bumi Indonesia.
Orang yang diluarsana kadang tidak bisa menerima jalan berfikir para pelaku
anti NKRI. Tapi bagi para pelaku yang sudah terkena virus kebencian terhadap NKRI
merasakan kenikmatan luarbiasa dan merasa sudah sebagian sisi kehidupannya
sudah berada di surga, dan sebagian lagi sedang berusaha menjadi penghuni surga
secara totalitas dengan melakukan suatu kegiatan yang dianggap sebagai jalan
suci dan perintah suci dari Tuhan nya. Apapun agama nya, semua punya potensi
seperti ini. Sebab setiap kitab suci mengajarkan kecintaan kepada Tuhanya. Bukti
kecintaan yaitu melaksanakan perintah-perintahnya. Dan mereka menganggap bahwa
salah satu perintah Tuhan yaitu merebut kekuasaan dari orang-orang yang dianggap kotor dan jauh dari cahaya Tuhan. Akibatnya,
sangat sulit sekali untuk menyadarkan orang-orang yang seperti ini, sama
sulitnya menyembuhkan penyakit kanker yang sudah masuk stadium 4 atau laksana terperangkap
oleh sabu-sabu sehingga halusinasi hanya keindahan dan cita-cita besar yang ada
dalam benaknya di angkasa, tapi tidak menyadari kalau kaki nya sedang menghujam
di bumi.
Tantangan polisi di internal sama tantangan
kehidupan lain. Perbedaan yang mudah sekali menjadi pemicu konflik yaitu
perbedaan agama. Orang akan mudah berfikir negatif yang sangat jauh melintas
batas-batas tugas nya dan juga mudah sekali tertanam benih-benih militansi
keagamaannya untuk menunjukan identitas diri dan melakukan konsolidasi diri
pada kesamaan agama dan kepercayaan. Itu sebabnya ketika ada kasus-kasus
tertentu, akan dengan mudah bumbu-bumbu agama bisa menjadi penyedap yang akan
ketagihan untuk masuk dalam wilayah-wilayah ini. Tumbuh saling curiga. Jika ini
terjadi, maka lembaga tersebut pasti tidak kondusif lagi dan potensi diadu
domba dari pihak luar yang tidak bertanggunjawab.
Diusia ke-77, polisi tentu seharusnya semakin matang dalam berfikir akan
pemahaman kehidupan berbangsa dan bernegara. Makna kematangan disini adalah
bahwa apapun agama, keyakinan, suku dan budaya dari latarbelakang aparat polisi
adalah saudara dalam satu keimanan, kemanusiaan dan satu kesatuan dalam naungan
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumpah prajurit adalah sari-sari
nilai-nilai agama yang harus diwujudkan dan dipertahankan dalam cara berfikir,
bersikap dan bertindak. Menjalankan sumpah prajurit sebenarnya menjalankan tiga
amalan sekaligus yaitu menjalankan ajaran agama, menjaga negara-bangsa dan
mencintai serta melindungi sesama manusia.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879