Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Polisi dan Potensi Infiltrasi



Selasa , 04 Juli 2023



Telah dibaca :  449

Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan sebelumnya yaitu, “Polisi, Gus Ulil dan Revitalisasi Budaya”, Dan “ Qurban, Tradisi dan Infiltrasi”. Tulisan ketiga berjudul “Polisi dan Potensi Infiltrasi”. Tujuan tulisan ini sebagai pengingat bahwa dalam kontek politik dan negara, aktivitas politik yang membenci terhadap NKRI akan terus bergerak seperti pergerakan “Gunung Vulkanik” yang secara tiba-tiba dan tidak disadari akan meletus dan menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan. Polisi laksana “Mbah Marijan” yang mempunyai indera keenam untuk mendeteksi dini potensi-potensi gunung meletus dari ciri-ciri alam di sekitarnya. Lagi-lagi, polisi yang demikian adalah polisi yang “jiwa dan raga nya”untuk NKRI. Namun jika mereka sudah terkena virus kebencian terhadap nkri akibat infiltrasi pemikiran dari ideologi luar, maka ketajaman seperti ini tidak akan bisa didapat. Atau jika hanya sebatas formalitas, maka yang dilihat pada dirinya adalah tugas rutinitas yang membosankan. Bukankah demikian?

Semakin mendekati pemilu, suasana semakin panas. Apalagi pemanasan global semakin meningkat. Cuaca yang kini disebut dengan cuaca ekstrem, telah melengkapi bahwa alam semesta ini bukan persoalan alam saja yang semakin panas, tapi juga politik lokal, nasional dan internasional semakin meningkat suhu politiknya. Kita terkadang tidak bisa mencerna dengan logika yang bisa diterima dengan tepat, betapa ironisnya “persoalan kematian satu anak muda” di Prancis menjalar kepada pengrusakan dan kerusuhan. Selama kerusuhan sebanyak 1.350 kendaraan dan 234 bangunan dibakar dan 2.560 insiden kebakaran terjadi di ruang publik.

Apakah ini pengaruh cuaca ekstrem yang telah memmpengaruhi panasnya hati dan pikiran sehingga jalan berfikir menjadi pendek, dan emosional meningkat dengan tajam? Apakah karena terlalu longgar kebebasan masyarakat Prancis yang membuka secara lebar para imigran bekas jajahan? ( salah satu kebaikan dan mempunyai efek negatif negara prancis yaitu terlalu longgar menerima imigran dari luar negeri, terutama orang-orang yang pernah dijajah oleh Prancis seperti Aljazair, Marokok, Mali, Tunisia, Gambia. Nahel M pemuda yang terbunuh adalah warga keturunan Aljazair). Apakah juga karena kebebasan individual tanpa batas sehingga semua bisa menjadi hakim dan membuat pengadilan massa yang liar di tengah-tengah masyarakat sebagaimana kasus tersebut di atas. Bukankah dalam kronologi kejadian, tidak serta merta polisi bersalah, tapi karena Nahel M telah melakukan pelanggaran lalu lintas dan diperingatkan agar berhenti, namun menolak? Namun kenapa masyarakat tidak bisa menerima segala alasan, bahkan bagai rumput kering dibakar, kemarahan telah merusak ribuan ruang public dan muncul kejahatan masyarakat semakin luas seperti perampokan dan penjarahan.

Saya mungkin bisa mema’lumi kebebasan yang dibangun dengan nilai-nilai rasional sering bertentangan dengan rasional itu sendiri. Prancis telah memilih bahwa kebebasan adalah hak setiap warga. Namun sayang nya kebebasan tersebut sering menjadi pemicu kerusuhan. Kebebasan tidak dikontrol dan dibatasi. Padahal kebebasan individu sebenarnya ada hak-hak orang lain yang membutuhkan penghormatan. Itu sebabnya ketika ada persoalan dengan individu harus diselesaikan dengan tidak merusak dan merugikan orang banyak.

Kisah tragis kerusuhan di jantung kota prancis adalah fenomena yang selalu ada dalam setiap masa. Tidak peduli apapun latarbelakang para pelaku baik beragama atau pun ateis. Namun yang menjadi pemikiran bersama bahwa potensi-potensi kerusuhan bisa menyusup dan mempengaruhi pemikira-pemikiran orang lain untuk mengikuti kehendaknya. Bukan hanya orang-orang biasa yang sering dianggap orang-orang yang keterbatasan ilmu pengetahuan, tapi bisa berjangkit kepada orang-orang yang berpendidikan, bahkan juga orang-orang yang sering disebut penjaga keamanan negara.

Kadang kita berfikir juga dan seolah-olah menolak jalan berfikir orang-orang dan oknum para pejabat atau aparat keamanan ada yang terkena pemikiran-pemikiran pada dirinya terhadap Ideologi Pancasila dan ingin menghancurkan di dari dalam, padahal mereka makan dan mendapat gaji dari negara dan bertanah air bahkan juga saat meninggal dunia dikubur di bumi Indonesia. Orang yang diluarsana kadang tidak bisa menerima jalan berfikir para pelaku anti NKRI. Tapi bagi para pelaku yang sudah terkena virus kebencian terhadap NKRI merasakan kenikmatan luarbiasa dan merasa sudah sebagian sisi kehidupannya sudah berada di surga, dan sebagian lagi sedang berusaha menjadi penghuni surga secara totalitas dengan melakukan suatu kegiatan yang dianggap sebagai jalan suci dan perintah suci dari Tuhan nya. Apapun agama nya, semua punya potensi seperti ini. Sebab setiap kitab suci mengajarkan kecintaan kepada Tuhanya. Bukti kecintaan yaitu melaksanakan perintah-perintahnya. Dan mereka menganggap bahwa salah satu perintah Tuhan yaitu merebut kekuasaan dari orang-orang yang dianggap  kotor dan jauh dari cahaya Tuhan. Akibatnya, sangat sulit sekali untuk menyadarkan orang-orang yang seperti ini, sama sulitnya menyembuhkan penyakit kanker yang sudah masuk stadium 4 atau laksana terperangkap oleh sabu-sabu sehingga halusinasi hanya keindahan dan cita-cita besar yang ada dalam benaknya di angkasa, tapi tidak menyadari kalau kaki nya sedang menghujam di bumi.

Tantangan polisi di internal sama tantangan kehidupan lain. Perbedaan yang mudah sekali menjadi pemicu konflik yaitu perbedaan agama. Orang akan mudah berfikir negatif yang sangat jauh melintas batas-batas tugas nya dan juga mudah sekali tertanam benih-benih militansi keagamaannya untuk menunjukan identitas diri dan melakukan konsolidasi diri pada kesamaan agama dan kepercayaan. Itu sebabnya ketika ada kasus-kasus tertentu, akan dengan mudah bumbu-bumbu agama bisa menjadi penyedap yang akan ketagihan untuk masuk dalam wilayah-wilayah ini. Tumbuh saling curiga. Jika ini terjadi, maka lembaga tersebut pasti tidak kondusif lagi dan potensi diadu domba dari pihak luar yang tidak bertanggunjawab.

Diusia ke-77, polisi tentu seharusnya semakin matang dalam berfikir akan pemahaman kehidupan berbangsa dan bernegara. Makna kematangan disini adalah bahwa apapun agama, keyakinan, suku dan budaya dari latarbelakang aparat polisi adalah saudara dalam satu keimanan, kemanusiaan dan satu kesatuan dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumpah prajurit adalah sari-sari nilai-nilai agama yang harus diwujudkan dan dipertahankan dalam cara berfikir, bersikap dan bertindak. Menjalankan sumpah prajurit sebenarnya menjalankan tiga amalan sekaligus yaitu menjalankan ajaran agama, menjaga negara-bangsa dan mencintai serta melindungi sesama manusia. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879