Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Politik Identitas; Jalan Mudah Menuju Bangsa Pecah



Minggu , 19 Februari 2023



Telah dibaca :  246

Dirkursus Politik Identitas kembali mencuat. Ia mengalami pro dan kontra; baik para elit politik maupun masyarakat yang mendukung diantara keduanya saat memasuki tahun politik 2024. Padahal masih cukup lama, namun Media-Media Sosial, Media Elektronik sudah mulai memanaskan ‘oven’ politik nya untuk meraih simpati masyarakat. Bagi kelompok yang pro terhadap Politik Identitas  berpandangan Politik Identitas menjadi suatu keharusan bagi Partai Politik dan Masyarakat. Sebagian lagi menolaknya dengan alasan akan memicu persoalan yang sangat membahayakan yaitu desintegrasi bangsa dan negara. Perbedaan tafsir dan definisi dalam tataran ilmu pengetahuan dan realita politik sering berbeda. Pengertian ilmu pengetahuan memang bisa dipahami dengan jelas, gamblang dan mudah dicerna oleh siapapun. Tapi ketika dia sudah masuk pada wilayah praktis, pengertian politik identitas menjadi bias. Bahkan saking biasnya, malah sering terjadi perdebatan-perdebatan panjang di tengah-tengah masyarakat.  Sungguh ironis, kesepakatan Negara berbangsa, bahasa, dan tanah air satu masih diperlemahkan oleh jualan Politik Identitas.

Politik Identitas merupakan penggabungan dari dua kata,”politik” dan “identitas”. Politik sebagai jalan untuk mendapatkan kekuasaan. Identitas mempunyai arti adalah jati diri seseorang berkaitan dengan status dari sisi agama, suku, budaya yang dianutnya. Politik Identitas bisa dipahami sebagai sebagai jalan untuk mendapatkan kekuasaan dengan menonjolkan adanya kesamaan agama, suku, dan budaya. Mereka merasa adanya persamaan nasib sebagai kelompok yang tertindas dan merasa selalu terdzalimi lalu melakukan gerakan politik untuk mendapatkan suatu kekuasaan yang dicita-citakan.

Bagi kelompok beragama Islam maka identitas diri sebagai muslim menjadi market paling dominan untuk membangun kesamaan politik atas nama agama, artinya identitas agama. Begitu juga kelompok beragama Nasrani akan membangun kesamaan politik untuk menguasai politik dan pemerintahan, bahkan juga negara melalui isu-isu agama dan ajaran-ajaran berasal dari kitab sucinya. Begitu juga agama-agama lain demikian. Artinya setiap agama dan para penganut agama masing-masing mempunyai semangat politik identitas baik yang diwujudkan secara tersembunyi maupun secara terang-terangan.

Apakah Politik Identitas merupakan suatu yang diperholehkan atau dilarang dalam agama dan etika politik pada masyarakat yang heterogen. Orang seperti Rocky Gerung berpandangan bahwa Politik Identitas merupakan suatu kebutuhan, karena kenyataanya setiap orang mempunyai identitas yang berbeda-beda. Menurutnya Politik Identitas diperlukan sebagai alternatif bila kemacetan dalam politik formal berlangsung. Ketika umat Islam menginginkan adanya sistem Khilafah, merupakan wujud identitas yang dibenarkan karena sistem demokrasi telah gagal di tangan pemerintah jokowi (Ekonomi.co.id, 2022). Hal senada dikatakan oleh Amien Rais bahwa Politik Identitas merupakan hal yang wajar di diperlukan. Sebab tanpa identitas, perjuangan kehilangan arah. Apalagi menurutnya antara politik dan agama tidak bisa dipisahkan (Populis, 2023).

Rocky Gerung sebagaimana model Sugi Nur memang selalu mengundang kontroversi. Pernyataanya tidak salah. Fakta bahwa bangsa ini mempunyai keberagaman identitas, dan bentuk syukur kepada Allah adalah menghargai identitas. Tapi menonjolkan identitas yang kemudian bisa melahirkan politik ashobiyah di masyarakat yang beragam sangat berbahaya. Rocky Gerung harus belajar bagaimana kebencian gam terhadap pemerintahan Soeharto yang diidentikan dengan suku Jawa. Sehingga setiap orang Jawa yang berada di Aceh saat itu, dibunuh. Rocky Gerung pun kurang referensi bagaimana kerusuhan di Poso juga salah satu  permulaannya adalah persoalan perang antara suku pendatang dan suku tempatan, yang kemudian menjalar menjadi persoalan yang komplek. Rocky Gerung pun tidak melihat fakta bahwa atas nama agama, kelompok agama minoritas harus menerima nasibnya tidak mempunyai tempat ibadah, sedangkan kelompok mayoritas sangat mudah mendapat izin pendirian tempat ibadah.

Amien Rais juga mungkin sudah lupa bahwa perjuangan politik yang tertinggi bukan sebatas untuk mendapatkan kekuasaan semata, tetapi di atas kekuasaan ada kemanusiaan. Amien rais sebagai seorang pakar politik mungkin juga lupa bahwa antara politik, agama dan moral sering berjalan sendiri-sendiri dan sangat sulit disatukan dalam keharmonisan. Sejarah telah mencatat dengan baik, seorang sahabat nabi yang tercinta dan agung derajatnya meninggal karena persoalan politik; Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali Abi Thalib. Sejarah juga memperlihatkan bagaimana kebenciaan keluarga Muawiyah terhadap suku dari Ali bin Abi Thalib, sehingga dengan sangat keji membantai seluruh keluarga dan rombongan cucu nabi Muhammad, sayidina husein tanpa perikemanusiaan. Lebih mengerikan lagi, kepala sayidina Husain dipenggal dibuat permainan oleh tentara Yazid, Anak dari Muawiyah.

Mereka punya identitas yaitu satu agama Islam, tapi mereka saling membunuh. Dimana letak moral dan etika yang diajarkan oleh Amien Rais. Bagaimana bisa para penguasa Umayyah membantai keluarga Ali dan Abbasiyyah. Ini juga terjadi para penguasa agama-agama besar lainya. Seperti di India, penguasa India Hindu juga membunuh masyaakat yang sama-sama beragama Hindu, dan lain-lain. Letak hubungan agama dan moral dimana? Ini jelas suatu ajaran politik yang belum pernah diterapkan saat Amien Rais muda ketika dia berdiri di depan mahasiswa menyuarakan tentang demokrasi yang berarti bahwa kemenangan kekuasaan berdasarkan kuantitas suara dan kualitas pemimpin, bukan pada persoalan latar belakang suku, agama dan budaya.

Rocky Gerung dan Amien Rais mungkin lupa bahwa Politik Identitas pernah diterapkan di Indonesia hampir saja meruntuhkan NKRI. Sebagian umat Islam ingin mendirikan Negara Islam dengan berpedoman pada Piagam Jakarta. Namun masyarakat Indonesia Timur tidak menerima dan ingin melepaskan diri dari NKRI. Atas ijtihad ulama NU dan Muhammadiyah serta ulama-ulama lainnya, maka perlu adanya kesatuan satu bangsa dan bernegara. Ini juga yang kemudian melahirkan konsep Ideologi Pancasila saat sekarang ini.

Walhasil, kita tidak bisa menolak keberagaman sebagai identitas kita. Para pendiri bangsa telah mengajarkan kesatuan dalam perbedaan. Betul ada suku Jawa, Melayu, Batak, dan lain-lain. Tapi saat berpolitik bukan identitasnya yang ditonjolkan kualitasnya. Itu sebabnya bangsa ini diikat oleh bahasa pemersatu, bukan bahasa Jawa, tapi bahasa Indonesia.

Benar bahwa kita berbeda agama, dan saat sama juga mempunyai beragam pandangan politik. Mereka bisa bertemu dalam satu tempat ibadah; umat Islam bisa bertemu di Masjid dan Mushola, umat kristiani bisa bertemu di Gereja, dan umat-umat lain pun bisa bertemu di tempat ibadah mereka.  Apa jadinya saat suasana ibadah yang sakral, tiba-tiba calon Kepala Daerah Partai Politik tertentu yang sedang ikut sholat dijelek-jelekan atas nama suku, agama dan budaya oleh Khatib atau para tokoh agama di tempat Ibadah yang heterogen pandangan politik dan pilihan. Apa yang akan terjadi? Ini baru satu tempat ibadah. Jika seluruh Nusantara, bisa-bisa NKRI ambyar dan tinggal kenangan.

jika Suriah, Libya satu identitas sama, yaitu Islam dan beda identitas ideologi bisa hancur lebur, apalagi identitas bangsa Indonesia yang sejak berdiri sudah berbeda SARA dan Ideologi. Jadi Politik Identitas dengan segala logika pembenar, tetap tidak bisa dibenarkan di bumi Indonesia.

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884