
Dirkursus Politik Identitas kembali mencuat. Ia
mengalami pro dan kontra; baik para elit politik maupun masyarakat yang
mendukung diantara keduanya saat memasuki tahun politik 2024. Padahal masih cukup
lama, namun Media-Media Sosial, Media Elektronik sudah mulai memanaskan ‘oven’
politik nya untuk meraih simpati masyarakat. Bagi kelompok yang pro terhadap Politik
Identitas berpandangan Politik Identitas
menjadi suatu keharusan bagi Partai Politik dan Masyarakat. Sebagian lagi
menolaknya dengan alasan akan memicu persoalan yang sangat membahayakan yaitu desintegrasi
bangsa dan negara. Perbedaan tafsir dan definisi dalam tataran ilmu pengetahuan
dan realita politik sering berbeda. Pengertian ilmu pengetahuan memang bisa
dipahami dengan jelas, gamblang dan mudah dicerna oleh siapapun. Tapi ketika
dia sudah masuk pada wilayah praktis, pengertian politik identitas menjadi
bias. Bahkan saking biasnya, malah sering terjadi perdebatan-perdebatan panjang
di tengah-tengah masyarakat. Sungguh
ironis, kesepakatan Negara berbangsa, bahasa, dan tanah air satu masih
diperlemahkan oleh jualan Politik Identitas.
Politik Identitas merupakan penggabungan dari dua
kata,”politik” dan “identitas”. Politik sebagai jalan untuk mendapatkan
kekuasaan. Identitas mempunyai arti adalah jati diri seseorang berkaitan dengan
status dari sisi agama, suku, budaya yang dianutnya. Politik Identitas bisa
dipahami sebagai sebagai jalan untuk mendapatkan kekuasaan dengan menonjolkan
adanya kesamaan agama, suku, dan budaya. Mereka merasa adanya persamaan nasib
sebagai kelompok yang tertindas dan merasa selalu terdzalimi lalu melakukan
gerakan politik untuk mendapatkan suatu kekuasaan yang dicita-citakan.
Bagi kelompok beragama Islam maka identitas diri
sebagai muslim menjadi market paling dominan untuk membangun kesamaan
politik atas nama agama, artinya identitas agama. Begitu juga kelompok beragama
Nasrani akan membangun kesamaan politik untuk menguasai politik dan
pemerintahan, bahkan juga negara melalui isu-isu agama dan ajaran-ajaran
berasal dari kitab sucinya. Begitu juga agama-agama lain demikian. Artinya
setiap agama dan para penganut agama masing-masing mempunyai semangat politik
identitas baik yang diwujudkan secara tersembunyi maupun secara
terang-terangan.
Apakah Politik Identitas merupakan suatu yang
diperholehkan atau dilarang dalam agama dan etika politik pada masyarakat yang
heterogen. Orang seperti Rocky Gerung berpandangan bahwa Politik Identitas merupakan
suatu kebutuhan, karena kenyataanya setiap orang mempunyai identitas yang
berbeda-beda. Menurutnya Politik Identitas diperlukan sebagai alternatif bila
kemacetan dalam politik formal berlangsung. Ketika umat Islam menginginkan
adanya sistem Khilafah, merupakan wujud identitas yang dibenarkan karena
sistem demokrasi telah gagal di tangan pemerintah jokowi
Rocky Gerung sebagaimana model Sugi Nur memang selalu mengundang kontroversi. Pernyataanya tidak salah. Fakta bahwa bangsa ini mempunyai keberagaman identitas, dan bentuk syukur kepada Allah adalah menghargai identitas. Tapi menonjolkan identitas yang kemudian bisa melahirkan politik ashobiyah di masyarakat yang beragam sangat berbahaya. Rocky Gerung harus belajar bagaimana kebencian gam terhadap pemerintahan Soeharto yang diidentikan dengan suku Jawa. Sehingga setiap orang Jawa yang berada di Aceh saat itu, dibunuh. Rocky Gerung pun kurang referensi bagaimana kerusuhan di Poso juga salah satu permulaannya adalah persoalan perang antara suku pendatang dan suku tempatan, yang kemudian menjalar menjadi persoalan yang komplek. Rocky Gerung pun tidak melihat fakta bahwa atas nama agama, kelompok agama minoritas harus menerima nasibnya tidak mempunyai tempat ibadah, sedangkan kelompok mayoritas sangat mudah mendapat izin pendirian tempat ibadah.
Amien Rais juga mungkin sudah lupa bahwa perjuangan
politik yang tertinggi bukan sebatas untuk mendapatkan kekuasaan semata, tetapi
di atas kekuasaan ada kemanusiaan. Amien rais sebagai seorang pakar politik
mungkin juga lupa bahwa antara politik, agama dan moral sering berjalan
sendiri-sendiri dan sangat sulit disatukan dalam keharmonisan. Sejarah telah
mencatat dengan baik, seorang sahabat nabi yang tercinta dan agung derajatnya
meninggal karena persoalan politik; Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali
Abi Thalib. Sejarah juga memperlihatkan bagaimana kebenciaan keluarga Muawiyah
terhadap suku dari Ali bin Abi Thalib, sehingga dengan sangat keji membantai
seluruh keluarga dan rombongan cucu nabi Muhammad, sayidina husein tanpa
perikemanusiaan. Lebih mengerikan lagi, kepala sayidina Husain dipenggal dibuat
permainan oleh tentara Yazid, Anak dari Muawiyah.
Mereka punya identitas yaitu satu agama Islam, tapi
mereka saling membunuh. Dimana letak moral dan etika yang diajarkan oleh Amien
Rais. Bagaimana bisa para penguasa Umayyah membantai keluarga Ali dan
Abbasiyyah. Ini juga terjadi para penguasa agama-agama besar lainya. Seperti di
India, penguasa India Hindu juga membunuh masyaakat yang sama-sama beragama
Hindu, dan lain-lain. Letak hubungan agama dan moral dimana? Ini jelas suatu
ajaran politik yang belum pernah diterapkan saat Amien Rais muda ketika dia berdiri
di depan mahasiswa menyuarakan tentang demokrasi yang berarti bahwa kemenangan
kekuasaan berdasarkan kuantitas suara dan kualitas pemimpin, bukan pada
persoalan latar belakang suku, agama dan budaya.
Rocky Gerung dan Amien Rais mungkin lupa bahwa Politik
Identitas pernah diterapkan di Indonesia hampir saja meruntuhkan NKRI. Sebagian
umat Islam ingin mendirikan Negara Islam dengan berpedoman pada Piagam Jakarta.
Namun masyarakat Indonesia Timur tidak menerima dan ingin melepaskan diri dari NKRI.
Atas ijtihad ulama NU dan Muhammadiyah serta ulama-ulama lainnya, maka perlu
adanya kesatuan satu bangsa dan bernegara. Ini juga yang kemudian melahirkan
konsep Ideologi Pancasila saat sekarang ini.
Walhasil, kita tidak bisa menolak keberagaman sebagai
identitas kita. Para pendiri bangsa telah mengajarkan kesatuan dalam perbedaan.
Betul ada suku Jawa, Melayu, Batak, dan lain-lain. Tapi saat berpolitik bukan
identitasnya yang ditonjolkan kualitasnya. Itu sebabnya bangsa ini diikat oleh bahasa
pemersatu, bukan bahasa Jawa, tapi bahasa Indonesia.
Benar bahwa kita berbeda agama, dan saat sama juga mempunyai beragam pandangan politik. Mereka bisa bertemu dalam satu tempat ibadah; umat Islam bisa bertemu di Masjid dan Mushola, umat kristiani bisa bertemu di Gereja, dan umat-umat lain pun bisa bertemu di tempat ibadah mereka. Apa jadinya saat suasana ibadah yang sakral, tiba-tiba calon Kepala Daerah Partai Politik tertentu yang sedang ikut sholat dijelek-jelekan atas nama suku, agama dan budaya oleh Khatib atau para tokoh agama di tempat Ibadah yang heterogen pandangan politik dan pilihan. Apa yang akan terjadi? Ini baru satu tempat ibadah. Jika seluruh Nusantara, bisa-bisa NKRI ambyar dan tinggal kenangan.
jika Suriah, Libya satu identitas sama, yaitu Islam dan beda identitas ideologi bisa hancur lebur, apalagi identitas bangsa Indonesia yang sejak berdiri sudah berbeda SARA dan Ideologi. Jadi Politik Identitas dengan segala logika pembenar, tetap tidak bisa dibenarkan di bumi Indonesia.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2984
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884