
Alkisah dulu ada anak muda hariqul ‘adat.
Ia bisa membaca pikiran orang lain. Bahkan konon bisa membaca isi hati orang
lain. Ketika melihat seseorang, Ia seketika langsung berkata: “Anda akan
menjadi ini-itu”. Hebatnya lagi, apa yang ia katakan benar. Sehingga masyarakat
pun mempercainya secara taken off granted. Ia benar-benar manusia yang
sudah ditempatkan sebagai manusia luar biasa. Mungkin ini yang dimaksud Iwan
Fals: “Manusia Setengah Dewa”.
Suatu hari pemuda tersebut bertemu seorang
ulama. Ia sangat rajin ibadah. Kehidupan sosial pun sangat baik. Sebagai orang
biasa, ia hidup apa adanya. Setelah sholat subuh, ia pergi ke pasar menjual
ini-itu. Pulang ia membawa belanja pasar: ada beras, sayur kangkong, bayam, dan
lain-lain. Ia rajin membantu pekerjaan istri memandikan anak-anaknya yang masih
kecil. Selesai mengerjakan pekerjaan rumah, ia bekerja sebagai buruh serabutan.
Karena akhlak nya baik. Tutur katanya lembut. Tidak pernah menyakiti orang
lain. Sopan terhadap siapa saja, bahkan terhadap orang yang membencinya ia
tetap senyum dan tidak ada dendam. Pendek kata, ia mendapatkan status ulama di
masyarakat meskipun ia tidak masuk organisasi agama dan tidak masuk kalangan
para penguasa.
Suatu hari pemuda tadi melintas di depan
rumah ulama tadi. Pemuda hariqul ‘adat menatap wajah ulama tadi dengan
tajam. Secara spontanitas ia mendekati ulama tersebut dan berkata: “Saya
melihat anda sebagai ahli neraka”. Ulama tadi tersenyum dan kemudian berkata: “Inggih
mboten nopo-nopo, saya sholat, bekerja dan membantu istri dan anak-anak ku
semua kerana mahabbah kepada Allah. Jika saya dimasukan ke dalam neraka pun
saya Ikhlas”. Lalu ulama tadi pun balik bertanya: “Jika kamu bisa
melihat orang lain ahli neraka, bagaimana nasib mu, neraka apa surga?”.
Pemuda tersebut kaget. Ia tidak menyangka
ada pertanyaan tersebut. ia pun berfikir, bahwa kemampuan yang ia peroleh
jangan-jangan justru menjadi problematika dihadapan Allah. Kemampuan membaca
pikiran dan hati seseorang merupakan suatu keistimewaan. Tapi ia tidak mampu
menentukan nasib dirinya sendiri di masa depan, termasuk nasib di akherat
nanti. Ia pun menyadari kekeliruannya.ia bertaubat, menangis dan menyesali
segala dosa yang ia lakukan. Ia pun terus memperbaiki amal ibadah diri sendiri.
Ending cerita akhirnya ia pun menjadi kekasih Allah.
Kisah di atas anggap saja sebatas imajinasi
semata. Jika anda bertanya tentang sumbernya, saya mengikuti jawaban model Gus
Dur, “Tanya Saja Kepada Abu Nawas!!”.
Kadang orang tua kita dulu memberikan
cerita-cerita kepada anak-anak nya saat menjelang tidur adalah cerita-cerita
hikmah yang bisa diambil intisarinya. Bagaimana orang tua menceritakan tentang
kura-kura berlomba dengan kancil. Logika pasti berkata:”kancil pasti menang”.
Tapi orang tua kita mendesain suatu cerita bahwa ada nilai-nilai kebaikan yang
harus diambil dan dipertahankan dari kehidupan ini. Orang tua kita telah
mengajarkan bahwa sesuatu yang berharga pada diri kita bukan sebatas keturunan
darah biru, orang terhormat, jabatan dan kekuasaan. Ada jauh yang lebih
berharga yaitu moralitas, etika dan akhlak karimah. Itu sebab nya kancil bisa
kalah oleh kura-kura dalam lomba lari karena telah melecehkan nilai-nilai
kemuliaan. Kancil terlalu membanggakan diri. Meskipun ia bisa meraih kekuasaan
dan kejayaan, tapi disisi lain ia telah dikalahkan oleh kura-kura dalam
kemulyaan. Kejayaan dan kekuasaan bisa diraih dengan kekuatan fisik dan akal,
tapi kemulyaan dan keagungan hanya bisa diraih dengan keindahan moralitas dan
kejernihan mata hati.
Orang tua kita telah mengajarkan “ajining
diri saka lathi, ajining raga saka busana”, harga diri seseorang pada ucapan
dan tulisan, dan keanggunan nya terletak pada bajunya. Ucapan para sesepuh tersebut
mengisyaratkan bahwa ucapan menjadi perhiasan pembuka untuk mengenal seseorang.
Saat ucapan sulit, maka tulisan menjadi cermin diri. Meskipun tidak sepenuhnya
benar, nabi telah bersabda: “Ucapkan
yang berkualitas, jika tidak bisa lebih baik diam.” Dalam pola kehidupan
sosial, ucapan sering menjadi barometer seberapa agung kemulyaan hati. Sebab rangkaian
kata sering merupakan refleksi hati yang ditumpahkan dalam kalimat-kalimat.
Meskipun demikian, kemampuan menata”turur
kata” dan “merangkai kata” dalam tulisan jangan hanya semata-mata untuk
kepentingan sesaat seperti kepentingan jabatan, harta dan kekayaan. Ucapan dan
busana jangan sampai hanya untuk kepentingan untuk meraih kemuliaan diri sebatas
pragmatis. Orang tua kita dulu telah mengingatkan: “aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan,
lan kemareman.” Kita belajar untuk
mengkosongkan diri dari debu-debu “kalungguhan”, “kadonyan”, dan “kemareman”. Jangan
sampai saat “kurugan” kekayaan, jabatan, dan kehormatan melecehkan kehormatan
orang lain. Padahal menempatkan manusia di tempat mulia merupakan inti politik
kehidupan yang sesungguhnya. Itu yang dikatakan oleh Gus Dur bahwa politik
tertinggi yaitu kemanusiaan.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872