Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Politik Kemanusiaan



Rabu , 04 Desember 2024



Telah dibaca :  474

Alkisah dulu ada anak muda hariqul ‘adat. Ia bisa membaca pikiran orang lain. Bahkan konon bisa membaca isi hati orang lain. Ketika melihat seseorang, Ia seketika langsung berkata: “Anda akan menjadi ini-itu”. Hebatnya lagi, apa yang ia katakan benar. Sehingga masyarakat pun mempercainya secara taken off granted. Ia benar-benar manusia yang sudah ditempatkan sebagai manusia luar biasa. Mungkin ini yang dimaksud Iwan Fals: “Manusia Setengah Dewa”.

Suatu hari pemuda tersebut bertemu seorang ulama. Ia sangat rajin ibadah. Kehidupan sosial pun sangat baik. Sebagai orang biasa, ia hidup apa adanya. Setelah sholat subuh, ia pergi ke pasar menjual ini-itu. Pulang ia membawa belanja pasar: ada beras, sayur kangkong, bayam, dan lain-lain. Ia rajin membantu pekerjaan istri memandikan anak-anaknya yang masih kecil. Selesai mengerjakan pekerjaan rumah, ia bekerja sebagai buruh serabutan. Karena akhlak nya baik. Tutur katanya lembut. Tidak pernah menyakiti orang lain. Sopan terhadap siapa saja, bahkan terhadap orang yang membencinya ia tetap senyum dan tidak ada dendam. Pendek kata, ia mendapatkan status ulama di masyarakat meskipun ia tidak masuk organisasi agama dan tidak masuk kalangan para penguasa.

Suatu hari pemuda tadi melintas di depan rumah ulama tadi. Pemuda hariqul ‘adat menatap wajah ulama tadi dengan tajam. Secara spontanitas ia mendekati ulama tersebut dan berkata: “Saya melihat anda sebagai ahli neraka”. Ulama tadi tersenyum dan kemudian berkata: “Inggih mboten nopo-nopo, saya sholat, bekerja dan membantu istri dan anak-anak ku semua kerana mahabbah kepada Allah. Jika saya dimasukan ke dalam neraka pun saya Ikhlas”. Lalu ulama tadi pun balik bertanya: “Jika kamu bisa melihat orang lain ahli neraka, bagaimana nasib mu, neraka apa surga?”.

Pemuda tersebut kaget. Ia tidak menyangka ada pertanyaan tersebut. ia pun berfikir, bahwa kemampuan yang ia peroleh jangan-jangan justru menjadi problematika dihadapan Allah. Kemampuan membaca pikiran dan hati seseorang merupakan suatu keistimewaan. Tapi ia tidak mampu menentukan nasib dirinya sendiri di masa depan, termasuk nasib di akherat nanti. Ia pun menyadari kekeliruannya.ia bertaubat, menangis dan menyesali segala dosa yang ia lakukan. Ia pun terus memperbaiki amal ibadah diri sendiri. Ending cerita akhirnya ia pun menjadi kekasih Allah.

Kisah di atas anggap saja sebatas imajinasi semata. Jika anda bertanya tentang sumbernya, saya mengikuti jawaban model Gus Dur, “Tanya Saja Kepada Abu Nawas!!”.

Kadang orang tua kita dulu memberikan cerita-cerita kepada anak-anak nya saat menjelang tidur adalah cerita-cerita hikmah yang bisa diambil intisarinya. Bagaimana orang tua menceritakan tentang kura-kura berlomba dengan kancil. Logika pasti berkata:”kancil pasti menang”. Tapi orang tua kita mendesain suatu cerita bahwa ada nilai-nilai kebaikan yang harus diambil dan dipertahankan dari kehidupan ini. Orang tua kita telah mengajarkan bahwa sesuatu yang berharga pada diri kita bukan sebatas keturunan darah biru, orang terhormat, jabatan dan kekuasaan. Ada jauh yang lebih berharga yaitu moralitas, etika dan akhlak karimah. Itu sebab nya kancil bisa kalah oleh kura-kura dalam lomba lari karena telah melecehkan nilai-nilai kemuliaan. Kancil terlalu membanggakan diri. Meskipun ia bisa meraih kekuasaan dan kejayaan, tapi disisi lain ia telah dikalahkan oleh kura-kura dalam kemulyaan. Kejayaan dan kekuasaan bisa diraih dengan kekuatan fisik dan akal, tapi kemulyaan dan keagungan hanya bisa diraih dengan keindahan moralitas dan kejernihan mata hati.

Orang tua kita telah mengajarkan “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”, harga diri seseorang pada ucapan dan tulisan, dan keanggunan nya terletak pada bajunya. Ucapan para sesepuh tersebut mengisyaratkan bahwa ucapan menjadi perhiasan pembuka untuk mengenal seseorang. Saat ucapan sulit, maka tulisan menjadi cermin diri. Meskipun tidak sepenuhnya benar, nabi  telah bersabda: “Ucapkan yang berkualitas, jika tidak bisa lebih baik diam.” Dalam pola kehidupan sosial, ucapan sering menjadi barometer seberapa agung kemulyaan hati. Sebab rangkaian kata sering merupakan refleksi hati yang ditumpahkan dalam kalimat-kalimat.

Meskipun demikian, kemampuan menata”turur kata” dan “merangkai kata” dalam tulisan jangan hanya semata-mata untuk kepentingan sesaat seperti kepentingan jabatan, harta dan kekayaan. Ucapan dan busana jangan sampai hanya untuk kepentingan untuk meraih kemuliaan diri sebatas pragmatis. Orang tua kita dulu telah mengingatkan:  “aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan, lan kemareman.”  Kita belajar untuk mengkosongkan diri dari debu-debu “kalungguhan”, “kadonyan”, dan “kemareman”. Jangan sampai saat “kurugan” kekayaan, jabatan, dan kehormatan melecehkan kehormatan orang lain. Padahal menempatkan manusia di tempat mulia merupakan inti politik kehidupan yang sesungguhnya. Itu yang dikatakan oleh Gus Dur bahwa politik tertinggi yaitu  kemanusiaan.

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872