Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Politik Spiritual para Capres



Minggu , 04 Februari 2024



Telah dibaca :  494

Politik tidak selalu melulu tentang persoalan menang dan kalah. Politik juga tidak harus dimaknai sebagai balas dendam dan kebencian yang membara sepanjang masa. Politik sejati sebenarnya jalan untuk melihat keagungan Allah dalam kehidupan fana di dunia ini. Ibnu Al-Alwi mengatakan, “Aku melihat Allah pelindungku dan pencipta diriku dan pula aku mengenal-nya maka kusujud dengan shalat. Aku menyaksikan dalam segala sesuatu dia bertitah dengan segala tanda-tanda segala bukti-bukti dan ayat di dalam bintang yang menyerap keasyikan keindahan-Nya di purnama raya telah nyata bertapa besar kemampuan-Nya, gemerci air mengalun puiji syukur dan tasbi suci, kicau burung membawa nyanyi merdu yang riang mempesona dan di bunga indah penyebar keharuman dengan hembusan lembut tiupan angin yang membawa semerbak bau harum dibawa bayu” (Akhyar, 1992).

Ibnu Al-Alwi telah menyadari perjalan hidup yang singkat ini adalah merupakan suatu perjalan politik spiritual yaitu suatu usaha atau jihad dan ijtihad sekaligus melakukan berbagai langkah sistematis agar bisa secepatnya mengenal-nya dengan baik. Hal ini tentu bukan suatu dongeng belaka para ahli sufi. Tapi karena memang pesan allah dengan sangat jelas. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 186 berbunyi: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Kedekatan Allah tidak berhubungan dengan tempat. Tuhan membuat suatu kata majaz bahwa kedekatan bukan pada pendeknya jarak. Sebab sering ada yang dekat terasa jauh, dan jauh terasa sangat dekat. Para kekasih Allah telah merasakan kehadiran-nya begitu sangat dekat. Seolah tak ada jarak. Karena memang rasa selalu melintasi jarak dan waktu. Itu sebabnya  Abu Hayyan mengatakan bahwa ungkapan Allah yang dekat mendengar doa hamba-nya adalah cepatnya Allah mendengar keinginan doa dan dikabulkan doanya (Hayyan, 2010).

Apakah Allah mendengar doa para capres-cawapres dan para pendukungnya? Siapa yang menang? Siapa yang kalah? Ini adalah ungkapan cinta para pedagang dan tangisan anak-anak meminta sesuatu pada orang tua, saat dibelikan tertawa terbahak-bahak, saat tidak dibelikan marah luarbiasa kepada orang tuanya. Doa oleh sebagian orang dinisbatkan kepada sesuatu yang bersifat kebendaan yang bisa dirasakan nikmat atas bertambah jabatan, harta benda dan kemulyaan di tengah-tengah masyarakat.

Alkisah Nabi Musa berdoa kepada Allah dan baru dikabulkan setelah empat puluh tahun kemudian dari doa nya. Namun selama waktu yang panjang, nabi musa tidak goyah keimanan kepada-nya. Ibadahnya tambah gesit, dan keyakinannya semakin membara. Sebab dimensi doa bukan sebatas keterkabulan pada hal-hal yang bersifat kebendaan, tapi juga masuk pada wilayah yang lebih luas, dan sering tidak disadari oleh manusia.

Benar Allah akan mengabulkan doa dari setiap hamba-hamba-Nya. Namun hamba-hamba Allah bukan hanya kita tapi juga mereka. Kita sering egois pada saat hujan turun karena panen  gagal. Padahal di sebelah sana ada Penjual Es Cendol dan kebakaran puluhan atau bahkan ratusan hektar pohon yang sangat membutuhkan limpahan air. Kita kadang juga egois pada saat kita mengharapkan sesuatu yang terlihat enak dan memikat, tapi tidak segera dikabulkan. Hari berikutnya anda baru sadar, ketika cek ke dokter, kolesterol dan gula darah naik. Saran dokter, anda harus puasa dan mengurangi makan yang enak-enak, berlemak dan mengandung kadar gula yang tinggi. Fakta-fakta ini sebenarnya Tuhan terlalu sayang dan mengabulkan doa saat diri kita terlalu cepat berburuk sangka atas doa-doa yang menurut kita tidak pernah dikabulkan.

Kembali lagi pada persoalan capres. Kini kita bisa melihat sebagian para pendukung telah mengabaikan etika dalam politik spiritual. Jika Tuhan yang telah menentukan suatu keberhasilan, kenapa segala usaha harus dilakukan dengan cara-cara yang sangat menyakiti Tuhan. Kita sudah mengetahui bahwa semua dalam gengaman-nya, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini miliknya. Firman Allah dalam Q.S. Ali Imran[3] :109 berbunyi: “Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan”.

Kita sudah mengetahui hal ini, semua milik Allah dan kita sedang memposisikan diri sebagai orang yang mendapatkan amanah untuk merawat milik-Nya. Ironisnya, sebagai seorang yang diberi amanah harus berkelahi, bermusuhan dan saling mencaci-maki di media sosial, menghasut tanpa batas, dan melukai perasaan sesama saudara seiman dan saudara sama makhluknya Allah. Sungguh sangat menyedihkan.

Penulis pernah membaca sebuah buku, ada kalimat yang menyentuh hati saya ketika membaca tulisan Mahatma Gandi. Berikut kalimatnya: “ Saya menolak kekerasan karena saat terlihat menghasilkan kebaikan, kebaikan itu hanyalah sementara; keburukan yang dihasilkannya adalah kekal”. Lanjut kalimatnya: “ saya tidak percaya bahwa kekerasan adalah jalan pintas menuju kesuksesan-betapa pun saya mungkin bersimpati dan mengagumi tujuan yang berharga, saya adalah lawan yang keras kepala dari metode kekerasan sekalipun untuk tujuan yang mulia-pengalaman menyakinkan saya bahwa kebaikan yang kekal tidak penah akan menjadi hasil dari kedustaan dan kekerasan” (Easwaran, 2011).

Lalu apa hubungannya dengan keberhasilan para capres? Penulis harus melihat dari janji Tuhan, bahwa siapapun yang menanam akan mendapatkan hasilnya. Namun disisi lain, juga janji Allah pasti ditepati bahwa setiap capres akan mendapat doa-doa nya yang terbaik bagi dirinya, timnya bahkan untuk bangsa, negara dan agama. Ada yang mendapatkan jabatan berarti mereka diberi amanah untuk menyampaikan janji-janji-Nya. Namun Allah masih memberi peringatan, bahwa kemenangan tersebut belum “titik”, tapi masih tanda “koma”. Artinya jika bisa berlaku adil dan mampu mengangkat martabat masyarakat, maka Tuhan akan mencatat kebaikan kepada mereka. Tapi jika sebaliknya, mereka akan mendapatkan pertanggungjawaban yang sangat berat dari-Nya. Ada juga yang kalah dalam kontestasi, tapi menang dalam subtansi. Orang-orang yang telah niat berjuang dan belum mendapatkan hasil kemenangan, tapi Allah menghiburnya sebagai para mujahid dan mujtahid. Sebab konstestasi yang telah dilakukan memang untuk kebaikan, bukan wujud keserakahan. Jika untuk kebaikan, dan Tuhan telah memilih yang terbaik bagi dirinya yaitu diselamatkan dari persoalan yang mungkin dirinya belum mampu menanggung beban yang maha berat. Jika demikian, bukankah ini juga bagian dari doa yang dikabulkan oleh Allah dalam wujud yang berbeda? Kenapa masih belum menerima dan selalu merasa gelisah atas ketentuan Tuhan?

 Daftar Pustaka

Akhyar, T. (1992). The Secret of Sufi. Semarang : CV. Asy-Syifa'.

Al-Maliki, M. b. (t.t). Mafahim Yajibu an Tushahhah . Surabaya .

al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .

An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .

an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya : Risalah Gusti.

Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .

Baqir, H. (2020). Agama di Tengah Musibah Perspektif Spiritual . Nuralwala.

Easwaran, E. (2011). Gandhi The Man, terj; Yendhi Amalia dan Hari Mulyana. Yogyakarta : PT. Bintang Pustaka .

Haekal, M. H. (1996). Sejarah Hidup Muhammad, terj; Ali Audah . Jakarta : Intermasa.

Hayyan, A. (2010). Al-Bahrul Muhith. Beirut : Darul Fikri .

Khaldun, I. (1951). Al-Ta'rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatuh Gharban wa Syirqan. Kairo : Lajnah al-Tha'if wa al-Tarjamah.

Khalid, K. M. (2015). Biografi 60 Sahabat Rasulullah, terj;Kaserun A.S. Rahman . Jakarta : Qisthi Press.

Rahman, F. (1996). Major Themes of The Qur'an, terj; Anas Mahyuddin. Bandung : Pustaka .

Rakhmat, J. (1998). Reformasi Sufistik. Bandung : Pustaka Hidayah .






Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876