
Politik tidak
selalu melulu tentang persoalan menang dan kalah. Politik juga tidak harus
dimaknai sebagai balas dendam dan kebencian yang membara sepanjang masa.
Politik sejati sebenarnya jalan untuk melihat keagungan Allah dalam kehidupan
fana di dunia ini. Ibnu Al-Alwi mengatakan, “Aku melihat Allah pelindungku dan
pencipta diriku dan pula aku mengenal-nya maka kusujud dengan shalat. Aku
menyaksikan dalam segala sesuatu dia bertitah dengan segala tanda-tanda segala
bukti-bukti dan ayat di dalam bintang yang menyerap keasyikan keindahan-Nya di
purnama raya telah nyata bertapa besar kemampuan-Nya, gemerci air mengalun
puiji syukur dan tasbi suci, kicau burung membawa nyanyi merdu yang riang
mempesona dan di bunga indah penyebar keharuman dengan hembusan lembut tiupan angin
yang membawa semerbak bau harum dibawa bayu”
Ibnu Al-Alwi telah
menyadari perjalan hidup yang singkat ini adalah merupakan suatu perjalan
politik spiritual yaitu suatu usaha atau jihad dan ijtihad sekaligus melakukan
berbagai langkah sistematis agar bisa secepatnya mengenal-nya dengan baik. Hal
ini tentu bukan suatu dongeng belaka para ahli sufi. Tapi karena memang pesan
allah dengan sangat jelas. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 186
berbunyi: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang
Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan
beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Kedekatan Allah
tidak berhubungan dengan tempat. Tuhan membuat suatu kata majaz bahwa kedekatan
bukan pada pendeknya jarak. Sebab sering ada yang dekat terasa jauh, dan jauh
terasa sangat dekat. Para kekasih Allah telah merasakan kehadiran-nya begitu
sangat dekat. Seolah tak ada jarak. Karena memang rasa selalu melintasi jarak
dan waktu. Itu sebabnya Abu Hayyan
mengatakan bahwa ungkapan Allah yang dekat mendengar doa hamba-nya adalah
cepatnya Allah mendengar keinginan doa dan dikabulkan doanya
Apakah Allah
mendengar doa para capres-cawapres dan para pendukungnya? Siapa yang menang?
Siapa yang kalah? Ini adalah ungkapan cinta para pedagang dan tangisan
anak-anak meminta sesuatu pada orang tua, saat dibelikan tertawa
terbahak-bahak, saat tidak dibelikan marah luarbiasa kepada orang tuanya. Doa
oleh sebagian orang dinisbatkan kepada sesuatu yang bersifat kebendaan yang
bisa dirasakan nikmat atas bertambah jabatan, harta benda dan kemulyaan di
tengah-tengah masyarakat.
Alkisah Nabi
Musa berdoa kepada Allah dan baru dikabulkan setelah empat puluh tahun kemudian
dari doa nya. Namun selama waktu yang panjang, nabi musa tidak goyah keimanan
kepada-nya. Ibadahnya tambah gesit, dan keyakinannya semakin membara. Sebab
dimensi doa bukan sebatas keterkabulan pada hal-hal yang bersifat kebendaan,
tapi juga masuk pada wilayah yang lebih luas, dan sering tidak disadari oleh
manusia.
Benar Allah
akan mengabulkan doa dari setiap hamba-hamba-Nya. Namun hamba-hamba Allah bukan
hanya kita tapi juga mereka. Kita sering egois pada saat hujan turun karena
panen gagal. Padahal di sebelah sana ada
Penjual Es Cendol dan kebakaran puluhan atau bahkan ratusan hektar pohon yang
sangat membutuhkan limpahan air. Kita kadang juga egois pada saat kita
mengharapkan sesuatu yang terlihat enak dan memikat, tapi tidak segera
dikabulkan. Hari berikutnya anda baru sadar, ketika cek ke dokter, kolesterol
dan gula darah naik. Saran dokter, anda harus puasa dan mengurangi makan yang
enak-enak, berlemak dan mengandung kadar gula yang tinggi. Fakta-fakta ini
sebenarnya Tuhan terlalu sayang dan mengabulkan doa saat diri kita terlalu
cepat berburuk sangka atas doa-doa yang menurut kita tidak pernah dikabulkan.
Kembali lagi
pada persoalan capres. Kini kita bisa melihat sebagian para pendukung telah
mengabaikan etika dalam politik spiritual. Jika Tuhan yang telah menentukan
suatu keberhasilan, kenapa segala usaha harus dilakukan dengan cara-cara yang
sangat menyakiti Tuhan. Kita sudah mengetahui bahwa semua dalam gengaman-nya,
bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini miliknya. Firman Allah dalam Q.S.
Ali Imran[3] :109 berbunyi: “Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan
apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan”.
Kita sudah mengetahui
hal ini, semua milik Allah dan kita sedang memposisikan diri sebagai orang yang
mendapatkan amanah untuk merawat milik-Nya. Ironisnya, sebagai seorang yang
diberi amanah harus berkelahi, bermusuhan dan saling mencaci-maki di media
sosial, menghasut tanpa batas, dan melukai perasaan sesama saudara seiman dan
saudara sama makhluknya Allah. Sungguh sangat menyedihkan.
Penulis pernah
membaca sebuah buku, ada kalimat yang menyentuh hati saya ketika membaca
tulisan Mahatma Gandi. Berikut kalimatnya: “ Saya menolak kekerasan karena saat
terlihat menghasilkan kebaikan, kebaikan itu hanyalah sementara; keburukan yang
dihasilkannya adalah kekal”. Lanjut kalimatnya: “ saya tidak percaya bahwa
kekerasan adalah jalan pintas menuju kesuksesan-betapa pun saya mungkin
bersimpati dan mengagumi tujuan yang berharga, saya adalah lawan yang keras
kepala dari metode kekerasan sekalipun untuk tujuan yang mulia-pengalaman
menyakinkan saya bahwa kebaikan yang kekal tidak penah akan menjadi hasil dari
kedustaan dan kekerasan”
Lalu apa hubungannya dengan keberhasilan para capres? Penulis harus melihat dari janji Tuhan, bahwa siapapun yang menanam akan mendapatkan hasilnya. Namun disisi lain, juga janji Allah pasti ditepati bahwa setiap capres akan mendapat doa-doa nya yang terbaik bagi dirinya, timnya bahkan untuk bangsa, negara dan agama. Ada yang mendapatkan jabatan berarti mereka diberi amanah untuk menyampaikan janji-janji-Nya. Namun Allah masih memberi peringatan, bahwa kemenangan tersebut belum “titik”, tapi masih tanda “koma”. Artinya jika bisa berlaku adil dan mampu mengangkat martabat masyarakat, maka Tuhan akan mencatat kebaikan kepada mereka. Tapi jika sebaliknya, mereka akan mendapatkan pertanggungjawaban yang sangat berat dari-Nya. Ada juga yang kalah dalam kontestasi, tapi menang dalam subtansi. Orang-orang yang telah niat berjuang dan belum mendapatkan hasil kemenangan, tapi Allah menghiburnya sebagai para mujahid dan mujtahid. Sebab konstestasi yang telah dilakukan memang untuk kebaikan, bukan wujud keserakahan. Jika untuk kebaikan, dan Tuhan telah memilih yang terbaik bagi dirinya yaitu diselamatkan dari persoalan yang mungkin dirinya belum mampu menanggung beban yang maha berat. Jika demikian, bukankah ini juga bagian dari doa yang dikabulkan oleh Allah dalam wujud yang berbeda? Kenapa masih belum menerima dan selalu merasa gelisah atas ketentuan Tuhan?
Daftar Pustaka
Akhyar, T. (1992). The Secret of Sufi.
Semarang : CV. Asy-Syifa'.
Al-Maliki, M. b. (t.t). Mafahim Yajibu
an Tushahhah . Surabaya .
al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam
Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .
An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul
Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .
an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul
Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya :
Risalah Gusti.
Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di
Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .
Baqir, H. (2020). Agama di Tengah
Musibah Perspektif Spiritual . Nuralwala.
Easwaran, E. (2011). Gandhi The Man,
terj; Yendhi Amalia dan Hari Mulyana. Yogyakarta : PT. Bintang Pustaka .
Haekal, M. H. (1996). Sejarah Hidup
Muhammad, terj; Ali Audah . Jakarta : Intermasa.
Hayyan, A. (2010). Al-Bahrul Muhith.
Beirut : Darul Fikri .
Khaldun, I. (1951). Al-Ta'rif bi Ibn
Khaldun wa Rihlatuh Gharban wa Syirqan. Kairo : Lajnah al-Tha'if wa
al-Tarjamah.
Khalid, K. M. (2015). Biografi 60 Sahabat
Rasulullah, terj;Kaserun A.S. Rahman . Jakarta : Qisthi Press.
Rahman, F. (1996). Major Themes of The
Qur'an, terj; Anas Mahyuddin. Bandung : Pustaka .
Rakhmat, J. (1998). Reformasi Sufistik.
Bandung : Pustaka Hidayah .
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876