Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Polri, Gus Ulil dan Revitalisasi Budaya



Jumat , 30 Juni 2023



Telah dibaca :  609

Setelah selesai menjadi khatib sholat jum’at di Kapolres, saya tidak langsung pulang. Mas Mada Surya menemuiku dan meminta kepadaku agar berkenan mengikuti acara peringatan hari Bayangkara ke-77 yang diadakan oleh Polri dan kepolisian seluruh Indonesia secara hybrid. Acara mulai jam 13.30, masih ada 20 menit menunggu.  Mas Surya  mengajak saya untuk makan siang di Kantin Polres. Saya menyanggupinya. Sebelum makan, saya membaca doa. Saya tambah lafadz sedikit, “Allahuma barik laana fima razaqtana waqina ‘adzaba an-naar ( wa ghodzobi zaujatii), ya allah berilah keberkahan rezeki-rezeki yang telah engkau berikan kepada kami, dan jauh kan dari siksa api neraka(dan kemarahan dari istri ku). Ma’lum, Istri di Rumah sudah masak sayur Tong Seng Daging Sapi. Apa jadinya ketika pulang perut sudah kenyang, Semoga pikiran negatif saya tidak terjadi. Sebab kemarahan terbesar selain dari murka Allah (kata teman saya) yaitu kemarahan dari seorang Istri. Entah itu qoul siapa dan apakah qoul qadim atau jadid, saya tidak tahu. Walaupun ini bukan hadist atau ucapan para pujangga (saya duga itu pendapat seorang suami yang sudah makan asam garam kehidupan), tapi kelihatanya kemarahan seorang Istri bisa membuat badan “nggregesi” seorang suami masih relevan hingga detik ini.

Kisah Sunan Kudus dan Sapi

Peringatan hari Bayangkara dimulai dengan beberapa pembacaan beberapa agenda yang telah dilakukan antara lain; kegiatan lomba keagamaan dari setiap penganut agama di lingkungan kepolisian dan revitalisasi cagar budaya dari seluruh nusantara seperti makam para Pahlawan, Ulama, Masjid, Pura, Gereja, Keraton dan lain-lain. jika merujuk ke belakang, polri memang telah melakukan berbagai terobosan dalam menjaga keberagaman budaya seperti pertunjukan wayang kulit beberapa waktu lalu. Saya menilai, kegiatan polri mempunyai semangat tinggi dalam menjaga kelestarian budaya menghidupkan semangat kebinekaan. Beragam kegiatan yang telah dilakukan berusaha membumikan keberagaman, kesetaraan hak dan kewajiban antar umat beragama. Tentu saja kegiatan seperti ini sangat positif jika melihat keberagaman di tengah-tengah masyarakat. Persis harapan besar yang dititipkan dan dipanjatkan doa oleh pemandu doa dari agama Budha, yang secara spesifik mengharapkan hal-hal tersebut terwujud dengan baik.

K.H. Ulil Abshar Abdallah atau Gus Ulil dalam acara ini memberi mau’idlatul hasanah. Menurutnya, kegiatan revitalisasi budaya yang dilakukan oleh Polri  adalah bagian dari suatu tradisi yang telah dilakukan oleh Nahdlatul Ulama melalui berbagai kegiatan seperti ziarah kubur dan merawat peninggalan leluhur, yang bisa jadi ini jarang dilakukan oleh ormas-ormas agama lain. Bahkan revitalisasi yang dilakukan NU bukan sebatas kebudayaan dalam bentuk bangunan fisik, tapi juga khasanah keilmuan yang telah diwariskan oleh para ilmuwan hingga kini masih terjaga dengan baik seperti kitab-kitab hadist, fiqh, tauhid, ilmu gramatikal dan sastra arab. Itu sebabnya, apa yang telah dilakukan oleh Polri sebenarnya juga telah ikut mendukung tradisi yang telah dilakukan oleh organisasi NU.

Menurut Gus Ulil toleransi beragama dan revitalisasi budaya di Nusantara telah dilakukan oleh para Walisanga. Salah satu yang melegenda yaitu Sunan Kudus. Ketika masa lalu saat agama Hindu menjadi mayoritas di daerah Kudus Jawa Tengah, Sunan Kudus memerintah umat Islam agar tidak boleh memotong sapi baik pada saat Idul Adha maupun acara keagamaan lain. Larangan bukan mengharamkan, tapi larangan sebagai wujud penghormatan kepada umat Hindu.  Hal ini mengingat Sapi bagi umat Hindu adalah binatang yang disucikan. Sebagai ganti, binatang kurban menggunakan Kerbau (hampir mirip Sapi). Hingga kini, daerah kudus tidak ada masakan daging Sapi, tapi daging Kerbau. Sikap lembut dalam berdakwah dan menghargai serta menghormati umat agama lain yang dilakukan oleh Sunan Kudus dan para wali sanga lainya menjadi wasilah agama Islam cepat diterima di seluruh pelosok Nusantara. Tentu saja sikap dan perilaku para Walisanga adalah gambaran watak asli pendakwah Ulama Nusantara kala itu yang siap menerima keberagaman budaya. Maka meminjam pendapat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) perlu adanya pribumisasi Islam diperkuat di Indonesia. Ia merupakan suatu rekonsiliasi atau akomodasi antara budaya nusantara dan ketaatan terhadap pelaksanaan syariat Islam berjalan bersama tanpa harus mencerabut atau menghilangkan salah satu di antara keduanya.

Tantangan Komplek Masa Depan Umat Beragama

Setelah mengikuti acara hari Bayangkara ke-77 dan pesan-pesan dari Gus Ulil timbul tanda tanya dalam hati, apakah bangsa ini telah mengalami krisis “tepo seliro” dan saling menghargai antar pemeluk umat beragama yang plural sudah hilang? Apakah antar pemeluk umat agama yang berbeda sekarang sudah mulai tumbuh bintik-bintik “melototisme” dan saling curiga akibat berbagai persoalan yang bukan persoalan agama, tapi juga persaingan dan kekalahan dalam berbagai aspek kehidupan mulai dari aspek politik, pendidikan dan ekonomi. Apakah budaya “mesem” dan “mengangguk” sebagai ciri khas budaya sudah berubah cara pandang “sinis” dan masa bodoh tanpa etika?

Bisa jadi iya. Jangankan kita berbicara antar umat, inter-umat sendiri pun demikian. Islam sebagai umatan wahidah saat  berbaju dengan baju warna hijau, biru, kuning, merah, dan putih kadang berubah menjadi umatan amarah, saling curiga, saling tuduh-menuduh dan saling sikut-menyikut. Hal yang sama terjadi pada umat agama lain, tumbuh adanya ketidak-nyaman saat bertemu dan berkumpul. Kini agama telah ditarik, dibungkus pada formalitas baju, dan sudah mulai terkikis nilai-nilai subtansi kesantunan, kerukunan, keanggunan dan keagungan dalam bermasyarakat yang telah diajarkan oleh para Walisanga. Keadaan ini diperparah pada situasi kekinian menjelang pesta demokrasi 2024. Situasi benar-benar telah menjadikan umat manusia dan umat beragama seperti “beras di atas tampah”, Mereka bingung dan tidak tentu arah apa yang diucapkan dan siapa yang menjadi sasaran. Sebuah situasi yang sangat sulit mencari hakikat kebenaran sebagaimana sulitnya mengurai benang kusut.

Meskipun demikian, harapan selalu saja ada untuk memperbaiki keadaan ini. jika tidak bisa semua, maka tidak boleh ditinggalkan secara keseluruhan. Harus ada perbaikan-perbaikan dari hal-hal yang bisa dilakukan. Dari sisi ini, apa yang telah dilakukan oleh Polri dan seluruh jajaran kepolisian di Indonesia adalah sebuah langkah yang bijak sebagai upaya “ndandani” kain tenun persatuan yang mulai berlubang.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879