
Setelah selesai menjadi khatib sholat jum’at
di Kapolres, saya tidak langsung pulang. Mas Mada Surya menemuiku dan meminta
kepadaku agar berkenan mengikuti acara peringatan hari Bayangkara ke-77 yang
diadakan oleh Polri dan kepolisian seluruh Indonesia secara hybrid. Acara mulai
jam 13.30, masih ada 20 menit menunggu. Mas
Surya mengajak saya untuk makan siang di
Kantin Polres. Saya menyanggupinya. Sebelum makan, saya membaca doa. Saya
tambah lafadz sedikit, “Allahuma barik laana fima razaqtana waqina ‘adzaba
an-naar ( wa ghodzobi zaujatii), ya allah berilah keberkahan rezeki-rezeki yang
telah engkau berikan kepada kami, dan jauh kan dari siksa api neraka(dan
kemarahan dari istri ku). Ma’lum, Istri di Rumah sudah masak sayur Tong Seng
Daging Sapi. Apa jadinya ketika pulang perut sudah kenyang, Semoga pikiran negatif
saya tidak terjadi. Sebab kemarahan terbesar selain dari murka Allah (kata
teman saya) yaitu kemarahan dari seorang Istri. Entah itu qoul siapa dan apakah
qoul qadim atau jadid, saya tidak tahu. Walaupun ini bukan hadist atau ucapan para
pujangga (saya duga itu pendapat seorang suami yang sudah makan asam garam
kehidupan), tapi kelihatanya kemarahan seorang Istri bisa membuat badan “nggregesi”
seorang suami masih relevan hingga detik ini.
Kisah Sunan Kudus dan Sapi
Peringatan hari Bayangkara dimulai dengan
beberapa pembacaan beberapa agenda yang telah dilakukan antara lain; kegiatan
lomba keagamaan dari setiap penganut agama di lingkungan kepolisian dan
revitalisasi cagar budaya dari seluruh nusantara seperti makam para Pahlawan,
Ulama, Masjid, Pura, Gereja, Keraton dan lain-lain. jika merujuk ke belakang,
polri memang telah melakukan berbagai terobosan dalam menjaga keberagaman
budaya seperti pertunjukan wayang kulit beberapa waktu lalu. Saya menilai, kegiatan
polri mempunyai semangat tinggi dalam menjaga kelestarian budaya menghidupkan
semangat kebinekaan. Beragam kegiatan yang telah dilakukan berusaha membumikan
keberagaman, kesetaraan hak dan kewajiban antar umat beragama. Tentu saja
kegiatan seperti ini sangat positif jika melihat keberagaman di tengah-tengah
masyarakat. Persis harapan besar yang dititipkan dan dipanjatkan doa oleh pemandu
doa dari agama Budha, yang secara spesifik mengharapkan hal-hal tersebut
terwujud dengan baik.
K.H. Ulil Abshar Abdallah atau Gus Ulil
dalam acara ini memberi mau’idlatul hasanah. Menurutnya, kegiatan
revitalisasi budaya yang dilakukan oleh Polri adalah bagian dari suatu tradisi yang
telah dilakukan oleh Nahdlatul Ulama melalui berbagai kegiatan seperti ziarah
kubur dan merawat peninggalan leluhur, yang bisa jadi ini jarang dilakukan oleh
ormas-ormas agama lain. Bahkan revitalisasi yang dilakukan NU bukan sebatas
kebudayaan dalam bentuk bangunan fisik, tapi juga khasanah keilmuan yang telah
diwariskan oleh para ilmuwan hingga kini masih terjaga dengan baik seperti
kitab-kitab hadist, fiqh, tauhid, ilmu gramatikal dan sastra arab. Itu sebabnya,
apa yang telah dilakukan oleh Polri sebenarnya juga telah ikut mendukung
tradisi yang telah dilakukan oleh organisasi NU.
Menurut Gus Ulil toleransi beragama dan revitalisasi budaya di Nusantara
telah dilakukan oleh para Walisanga. Salah satu yang melegenda yaitu Sunan
Kudus. Ketika masa lalu saat agama Hindu menjadi mayoritas di daerah Kudus Jawa
Tengah, Sunan Kudus memerintah umat Islam agar tidak boleh memotong sapi baik
pada saat Idul Adha maupun acara keagamaan lain. Larangan bukan mengharamkan,
tapi larangan sebagai wujud penghormatan kepada umat Hindu. Hal ini mengingat Sapi bagi umat Hindu adalah
binatang yang disucikan. Sebagai ganti, binatang kurban menggunakan Kerbau
(hampir mirip Sapi). Hingga kini, daerah kudus tidak ada masakan daging Sapi,
tapi daging Kerbau. Sikap lembut dalam berdakwah dan menghargai serta
menghormati umat agama lain yang dilakukan oleh Sunan Kudus dan para wali sanga
lainya menjadi wasilah agama Islam cepat diterima di seluruh pelosok Nusantara.
Tentu saja sikap dan perilaku para Walisanga adalah gambaran watak asli
pendakwah Ulama Nusantara kala itu yang siap menerima keberagaman budaya. Maka meminjam
pendapat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) perlu adanya pribumisasi Islam diperkuat
di Indonesia. Ia merupakan suatu rekonsiliasi atau akomodasi antara budaya
nusantara dan ketaatan terhadap pelaksanaan syariat Islam berjalan bersama
tanpa harus mencerabut atau menghilangkan salah satu di antara keduanya.
Tantangan Komplek Masa Depan Umat Beragama
Setelah mengikuti acara hari Bayangkara
ke-77 dan pesan-pesan dari Gus Ulil timbul tanda tanya dalam hati, apakah
bangsa ini telah mengalami krisis “tepo seliro” dan saling menghargai
antar pemeluk umat beragama yang plural sudah hilang? Apakah antar pemeluk umat
agama yang berbeda sekarang sudah mulai tumbuh bintik-bintik “melototisme”
dan saling curiga akibat berbagai persoalan yang bukan persoalan agama, tapi
juga persaingan dan kekalahan dalam berbagai aspek kehidupan mulai dari aspek
politik, pendidikan dan ekonomi. Apakah budaya “mesem” dan “mengangguk”
sebagai ciri khas budaya sudah berubah cara pandang “sinis” dan masa bodoh
tanpa etika?
Bisa jadi iya. Jangankan kita berbicara
antar umat, inter-umat sendiri pun demikian. Islam sebagai umatan wahidah
saat berbaju dengan baju warna hijau,
biru, kuning, merah, dan putih kadang berubah menjadi umatan amarah, saling
curiga, saling tuduh-menuduh dan saling sikut-menyikut. Hal yang sama terjadi
pada umat agama lain, tumbuh adanya ketidak-nyaman saat bertemu dan berkumpul. Kini
agama telah ditarik, dibungkus pada formalitas baju, dan sudah mulai terkikis nilai-nilai
subtansi kesantunan, kerukunan, keanggunan dan keagungan dalam bermasyarakat yang
telah diajarkan oleh para Walisanga. Keadaan ini diperparah pada situasi
kekinian menjelang pesta demokrasi 2024. Situasi benar-benar telah menjadikan
umat manusia dan umat beragama seperti “beras di atas tampah”, Mereka
bingung dan tidak tentu arah apa yang diucapkan dan siapa yang menjadi sasaran.
Sebuah situasi yang sangat sulit mencari hakikat kebenaran sebagaimana sulitnya
mengurai benang kusut.
Meskipun demikian, harapan selalu saja ada
untuk memperbaiki keadaan ini. jika tidak bisa semua, maka tidak boleh
ditinggalkan secara keseluruhan. Harus ada perbaikan-perbaikan dari hal-hal
yang bisa dilakukan. Dari sisi ini, apa yang telah dilakukan oleh Polri dan
seluruh jajaran kepolisian di Indonesia adalah sebuah langkah yang bijak
sebagai upaya “ndandani” kain tenun persatuan yang mulai berlubang.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879