Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Potret Kehidupan Inklusi di Liverpool; Lebih Islami?



Jumat , 22 Maret 2024



Telah dibaca :  675

Jam 16.00 WIB udara kota Bengkalis masih terasa panas. Bahkan dua hari sebelumnya, panas ekstrem. Apalagi suasana puasa, sengatan sinar matahari sangat terasa sekali pengaruhnya. Namun saya harus tepat waktu menghadiri “Talk Show Inklusi Berbagi Takjil dan Buka Puasa” yang ditaja oleh Prodi Hukum Keluarga Islam STAIN Bengkalis. Kehadirankanku mewakili Ketua STAIN Bengkalis yang sedang dinas ke Jakarta. Ada keperluan berkaitan persiapan penerimaan mahasiswa baru Program Pasca Sarjana S2 Pendidikan Agama Islam (PAI).

Hadir pada acara tersebut antara lain perwakilan Bupati Bengkalis, Mas Sholahudin, Sahabat Purba Perwakilan Kapolres, pimpinan BSI mas Ilham Khalid yang wajah nya lebih mirip seorang ustadz daripada sebagai Direktur Bank, para tokoh pemuda dan tidak ketinggalan para pembesar Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam seperti Muhammad Al-Mansur (kajur), Saifulloh (sekjur), Juwandi (kaprodi HKI), dan Ade Indra Suhara. Saya benar benar terasa kecil jika berada di samping mereka. Apalagi kalau dekat dengan kajur dan sekjur, terasa badan ku semakin mengecil. Itu sebabnya, saya memilih banyak diam dan tidak mau duduk bersama mereka. Meskipun mendapatkan kesempatan memberi sambutan, saya hanya mengucakan kalimat secukupnya dan sedikit nasehat. Sebab pesan guruku; “Sampaikan nasehat kamu ingat saja, dan jangan disampaikan nasehat yang tidak kamu ingat”.

Pemateri Talk Show adalah Ashela Risa, M.Sc, magister kesehatan jebolan Liverpool John Moores University di Inggris. Seingat saya, Liverpool juga punya klub sepakbola sangat bagus. Diantara bintang sepakbola terkenal antara lain: Alisson Becker, Virgil van Dijk, Trent Alexander-Arnold, Darwin Nunez, Diogo Jota, Luis Diaz dan Mohamed Salah. Ternyata selain sebagai kota terkenal dengan prestasi olahraga,  juga terkenal pendidikan inklusi yang mengembangkan kesetaraan gender dalam dunia pendidikan.

Ashela Risa masih muda, langsing dengan mengenakan baju muslimah yang sederhana. Jika dilihat cara memakai jilbab, kelihatannya tipe perempuan yang tidak mau ribet dalam hal berpakaian. Wajah natural tanpa make up. Keningnya terlihat bersih dan sorotan matanya tajam menunjukan pribadi yang cerdas dan punya wawasan yang luas. bicaranya lancar dan mempunyai kemampuan mengendalikan emosional cukup baik ketika berbicara di forum tersebut, meskipun terlihat agak sedikit nervous, ia mampu menjelaskan secara jelas dengan pilihan kata yang tepat dan mengena.


Ketika menjelaskan materi inklusi, ia lebih menekankan pada contoh yang pernah ia alami saat tinggal di Inggris. Ada tiga hal yang menarik yang dipaparkan saat talk show, yaitu pertama tentang pelayanan lembaga pendidikan Perguruan Tinggi secara maksimal kepada seluruh mahasiswa. Ketika ada mahasiswa yang masuk kategori tidak mampu, maka pihak perguruan tinggi menyediakan jasa peminjaman laptop. Kedua, di setiap WC umum di kota Liverpool disediakan (maaf) pembalut perempuan. Tujuannya adalah membantu setiap kaum perempuan yang kemungkinan pada saat tertentu datang bulan dan tidak sempat membeli karena kondisi yang darurat, maka mereka bisa pergi ke WC umum dan memakai pembalut wanita yang sudah disediakan. Ketiga, di kota tersebut sangat mudah ditemukan orang-orang yang mempunyai kebutuhan khusus baik di perkantoran, fasilitas umum dan tempat-tempat lainnya. Bagi orang yang tidak mengetahuinya, seolah-olah populasi mereka lebih banyak dari manusia normal. Pandangan seperti itu tentu tidak tepat. Orang-orang yang berkebutuhan khusus yang begitu banyak di berbagai lembaga dan tempat-tempat umum lainnya sebagai wujud pemerintah menghargai mereka untuk bisa bekerja dan mendapatkan fasilitas yang sama sebagaimana orang-orang yang normal sejak lahir.

Ashela sebagai warga Indonesia yang tinggal di kota Liverpool tentu menjadi minoritas baik sebagai warga negara asing dan sebagai penganut agama Islam. Sebab mayoritas dari masyarakat tersebut beragama Kristen sebesar 57,26%, nomor dua agama Islam sebesar 5,30%.. Ketika tinggal di kota tersebut ia mendapat perlakuan sama dengan masyarakat dan tidak ada diskriminasi atas nama suku, ras, budaya dan agama. Pengalaman-pengalaman tersebut menunjukan bahwa sikap inklusi dalam keberagaman telah diterapkan dengan baik di kota Liverpool.

Jika dibandingkan secara umum, bangsa Indonesia jauh lebih majemuk ketimbang Liverpool.  Daerah tersebut dihuni sekitar 84% masyarakat ras kulit putih, sisanya adalah kulit hitam dan beberapa etnis laiinya. Mereka bisa hidup berdampingan dengan baik. Indonesia lebih komplek lagi, ratusan suku bahasa dan budaya hidup berdampingan. Bahkan konsep Bhineka Tunggal Ika yang diambil dari Sutasoma merupakan realita masyarakat kala itu telah lahir adanya keberagaman agama, keyakinan, suku, dan budaya. Harmonisasi tersebut kemudian menjadi salah satu pilar kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Ashela bisa saja kagum dengan kehidupan yang saling menghargai di Liverpool. Karena itu pengalaman yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Namun Indonesia justru sangat welcome sekali terhadap perbedaan. Ketika kaum kulit putih masuk di Indonesia, maka pintu rumah terbuka lebar sebagai watak asli bangsa ini yang senantiasa menghargai perbedaan. Namun susu dibalas air tuba. Bangsa kulit putih melakukan penjajahan yang sangat menyakitkan hati. Mereka juga telah meninggalkan perilaku moralitas yang jelek sehingga muncul adigium “ Kita harus berperilaku dengan budaya bangsa timur, bukan bangsa barat”. Bangsa timur dikonotasikan sebagai orang yang mempunyai peradaban agung, dan barat sebaliknya.


Apakah ungkapan itu masih relevan saat sekarang ini? Ketika dunia ini masuk di era digital, dimana manusia “seolah-olah” sudah tidak ada batasnya, maka pembatas “timur dan barat” sudah tidak ada. Bahkan batas geografis hanya sebagai administrasi Negara. Hakikatnya manusia telah berbaur dengan sangat komplek. Pergaulan-pergaulan ini akhirnya semakin terbuka dan mempengaruhi perilaku manusia, ada yang kearah lebih baik atau sebaliknya. Kini kita bisa melihat fakta tersebut, bahwa di negara-negara timur juga terjadi kemiskinan, kriminalitas dan perilaku yang tidak bermoral sebagaimana dulu dinisbatkan kepada bangsa barat. Begitu juga dibarat tidak selamanya negatif, ada sisi-sisi kemanusiaan yang kadang hati kita “trenyuh” atas sikap kemanusiaan yang kadang bisa jadi melebihi diri kita yang berasal dari timur. Bagaimana saat ini, manusia mulai menyadari bahwa tidak bisa hidup secara eklusif  memutuskan segala hubungan dengan pihak lain, tidak bisa sama sekali. Yang membedakan sebenarnya adalah dasar dari perilaku manusia, apakah atas dasar kemanusiaan murni atau atas dasar nilai-nilai yang melatarbelakangi, misalnya agama dan kepercayaan. Ini yang dalam Islam melahirkan amalan-amalan yang dibagi menjadi dua; amal sholeh dan salah. Bisa jadi nilai inklusi dalam kehidupan sama, tapi pada tataran keimanan akan berbeda. Sebab dimensi maqashidnya berbeda-beda. Meskipun demikian, pada era sekarang pola hidup bermasyarakat dengan pendekatan inklusi sebagai jalan untuk membangun peradaban manusia adalah pilihan yang tepat. Sebab keberagaman memang merupakan hal yang tidak bisa dihindari sebagai Q.S. Al-Hujurat [49] 13 berbunyi: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876