
Jam 16.00 WIB udara kota Bengkalis
masih terasa panas. Bahkan dua hari sebelumnya, panas ekstrem. Apalagi suasana
puasa, sengatan sinar matahari sangat terasa sekali pengaruhnya. Namun saya
harus tepat waktu menghadiri “Talk Show Inklusi Berbagi Takjil dan Buka
Puasa” yang ditaja oleh Prodi Hukum Keluarga Islam STAIN Bengkalis.
Kehadirankanku mewakili Ketua STAIN Bengkalis yang sedang dinas ke Jakarta. Ada
keperluan berkaitan persiapan penerimaan mahasiswa baru Program Pasca Sarjana
S2 Pendidikan Agama Islam (PAI).
Hadir pada acara tersebut antara
lain perwakilan Bupati Bengkalis, Mas Sholahudin, Sahabat Purba Perwakilan
Kapolres, pimpinan BSI mas Ilham Khalid yang wajah nya lebih mirip seorang
ustadz daripada sebagai Direktur Bank, para tokoh pemuda dan tidak ketinggalan para
pembesar Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam seperti Muhammad Al-Mansur (kajur),
Saifulloh (sekjur), Juwandi (kaprodi HKI), dan Ade Indra Suhara. Saya benar benar
terasa kecil jika berada di samping mereka. Apalagi kalau dekat dengan kajur
dan sekjur, terasa badan ku semakin mengecil. Itu sebabnya, saya memilih banyak
diam dan tidak mau duduk bersama mereka. Meskipun mendapatkan kesempatan memberi
sambutan, saya hanya mengucakan kalimat secukupnya dan sedikit nasehat. Sebab
pesan guruku; “Sampaikan nasehat kamu ingat saja, dan jangan disampaikan nasehat
yang tidak kamu ingat”.
Pemateri Talk Show adalah Ashela
Risa, M.Sc, magister kesehatan jebolan Liverpool John Moores University di
Inggris. Seingat saya, Liverpool juga punya klub sepakbola sangat bagus. Diantara
bintang sepakbola terkenal antara lain: Alisson Becker, Virgil van Dijk, Trent
Alexander-Arnold, Darwin Nunez, Diogo Jota, Luis Diaz dan Mohamed Salah. Ternyata
selain sebagai kota terkenal dengan prestasi olahraga, juga terkenal pendidikan inklusi yang
mengembangkan kesetaraan gender dalam dunia pendidikan.
Ashela Risa masih muda, langsing dengan mengenakan baju muslimah yang sederhana. Jika dilihat cara memakai jilbab, kelihatannya tipe perempuan yang tidak mau ribet dalam hal berpakaian. Wajah natural tanpa make up. Keningnya terlihat bersih dan sorotan matanya tajam menunjukan pribadi yang cerdas dan punya wawasan yang luas. bicaranya lancar dan mempunyai kemampuan mengendalikan emosional cukup baik ketika berbicara di forum tersebut, meskipun terlihat agak sedikit nervous, ia mampu menjelaskan secara jelas dengan pilihan kata yang tepat dan mengena.

Ketika menjelaskan materi inklusi,
ia lebih menekankan pada contoh yang pernah ia alami saat tinggal di Inggris.
Ada tiga hal yang menarik yang dipaparkan saat talk show, yaitu pertama tentang
pelayanan lembaga pendidikan Perguruan Tinggi secara maksimal kepada seluruh
mahasiswa. Ketika ada mahasiswa yang masuk kategori tidak mampu, maka pihak perguruan
tinggi menyediakan jasa peminjaman laptop. Kedua, di setiap WC umum di kota Liverpool
disediakan (maaf) pembalut perempuan. Tujuannya adalah membantu setiap kaum
perempuan yang kemungkinan pada saat tertentu datang bulan dan tidak sempat
membeli karena kondisi yang darurat, maka mereka bisa pergi ke WC umum dan
memakai pembalut wanita yang sudah disediakan. Ketiga, di kota tersebut sangat
mudah ditemukan orang-orang yang mempunyai kebutuhan khusus baik di
perkantoran, fasilitas umum dan tempat-tempat lainnya. Bagi orang yang tidak
mengetahuinya, seolah-olah populasi mereka lebih banyak dari manusia normal.
Pandangan seperti itu tentu tidak tepat. Orang-orang yang berkebutuhan khusus
yang begitu banyak di berbagai lembaga dan tempat-tempat umum lainnya sebagai
wujud pemerintah menghargai mereka untuk bisa bekerja dan mendapatkan fasilitas
yang sama sebagaimana orang-orang yang normal sejak lahir.
Ashela sebagai warga Indonesia yang
tinggal di kota Liverpool tentu menjadi minoritas baik sebagai warga negara asing
dan sebagai penganut agama Islam. Sebab mayoritas dari masyarakat tersebut
beragama Kristen sebesar 57,26%, nomor dua agama Islam sebesar 5,30%.. Ketika
tinggal di kota tersebut ia mendapat perlakuan sama dengan masyarakat dan tidak
ada diskriminasi atas nama suku, ras, budaya dan agama. Pengalaman-pengalaman
tersebut menunjukan bahwa sikap inklusi dalam keberagaman telah diterapkan
dengan baik di kota Liverpool.
Jika dibandingkan secara umum,
bangsa Indonesia jauh lebih majemuk ketimbang Liverpool. Daerah tersebut dihuni sekitar 84% masyarakat
ras kulit putih, sisanya adalah kulit hitam dan beberapa etnis laiinya. Mereka
bisa hidup berdampingan dengan baik. Indonesia lebih komplek lagi, ratusan suku
bahasa dan budaya hidup berdampingan. Bahkan konsep Bhineka Tunggal Ika yang
diambil dari Sutasoma merupakan realita masyarakat kala itu telah lahir adanya
keberagaman agama, keyakinan, suku, dan budaya. Harmonisasi tersebut kemudian
menjadi salah satu pilar kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Ashela bisa saja kagum dengan kehidupan yang saling menghargai di Liverpool. Karena itu pengalaman yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Namun Indonesia justru sangat welcome sekali terhadap perbedaan. Ketika kaum kulit putih masuk di Indonesia, maka pintu rumah terbuka lebar sebagai watak asli bangsa ini yang senantiasa menghargai perbedaan. Namun susu dibalas air tuba. Bangsa kulit putih melakukan penjajahan yang sangat menyakitkan hati. Mereka juga telah meninggalkan perilaku moralitas yang jelek sehingga muncul adigium “ Kita harus berperilaku dengan budaya bangsa timur, bukan bangsa barat”. Bangsa timur dikonotasikan sebagai orang yang mempunyai peradaban agung, dan barat sebaliknya.

Apakah ungkapan itu masih relevan
saat sekarang ini? Ketika dunia ini masuk di era digital, dimana manusia “seolah-olah”
sudah tidak ada batasnya, maka pembatas “timur dan barat” sudah tidak ada. Bahkan
batas geografis hanya sebagai administrasi Negara. Hakikatnya manusia telah berbaur
dengan sangat komplek. Pergaulan-pergaulan ini akhirnya semakin terbuka dan
mempengaruhi perilaku manusia, ada yang kearah lebih baik atau sebaliknya. Kini
kita bisa melihat fakta tersebut, bahwa di negara-negara timur juga terjadi
kemiskinan, kriminalitas dan perilaku yang tidak bermoral sebagaimana dulu
dinisbatkan kepada bangsa barat. Begitu juga dibarat tidak selamanya negatif,
ada sisi-sisi kemanusiaan yang kadang hati kita “trenyuh” atas sikap kemanusiaan
yang kadang bisa jadi melebihi diri kita yang berasal dari timur. Bagaimana saat
ini, manusia mulai menyadari bahwa tidak bisa hidup secara eklusif memutuskan segala hubungan dengan pihak lain,
tidak bisa sama sekali. Yang membedakan sebenarnya adalah dasar dari perilaku
manusia, apakah atas dasar kemanusiaan murni atau atas dasar nilai-nilai yang
melatarbelakangi, misalnya agama dan kepercayaan. Ini yang dalam Islam melahirkan
amalan-amalan yang dibagi menjadi dua; amal sholeh dan salah. Bisa jadi nilai
inklusi dalam kehidupan sama, tapi pada tataran keimanan akan berbeda. Sebab dimensi
maqashidnya berbeda-beda. Meskipun demikian, pada era sekarang pola hidup
bermasyarakat dengan pendekatan inklusi sebagai jalan untuk membangun peradaban
manusia adalah pilihan yang tepat. Sebab keberagaman memang merupakan hal yang
tidak bisa dihindari sebagai Q.S. Al-Hujurat [49] 13 berbunyi: “Wahai manusia,
sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876