Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Presiden, Dosen dan Santri



Rabu , 23 Oktober 2024



Telah dibaca :  721

Tulisan ini merupakan lanjutan dari judul tulisan sebelumnya”manunggaling santri”. Ada harapan dari tulisan tersebut untuk masa depan santri. Sebab jujur, Indonesia lahir tidak bisa dilepaskan dari perjuangan santri masa dulu. Kini semua mendapatkan berkah nya.

Prabowo Subianto adalah seorang presiden yang sangat mencintai santri. Buktinya sederhana. Hampir setiap pidato ia senantiasa menyisipkan kalimat sebagai berikut”mikul duwur mendem jero”, arti sederhana: selalu menghargai jasa para pendahulu dan senantiasa mengubur aib para pendahulunya. Prinsip sederhan; “tidak ada gading yang tidak retak, tidak ada manusia yang tidak pernah salah”. Saya kira ucapannya sangat konsisten. Buktinya, saat ia menjelang dilantik secara resmi menjadi presiden, seluruh presiden pada masanya benar-benar diputihkan. Itu bukan kerja presiden, tapi MPR. Lembaga tersebut telah mencabut TAP MPR Nomor 33 Tahun 1967, maka Soekarno dinyatakan tidak menghianati negara dan tidak mendukung pemberontakan PKI. MPR Mencabut TAP MPR Nomor 2 Tahun 200, nama Gus Dur dipulihkan Kembali dan bersih dari segala tuduhan pelanggaran hukum. MPR memutuskan untuk menghapus nama Soeharto dari TAP MPR Nomor 11 Tahun 1998. Keputusan tersebut menimbulkan pro-kontra. itulah sejarah. Selalu saja melahirkan respon yang berbeda-beda. 

Semasa Jokowi belum dilakukan. Ketika Prabowo naik, semua itu terjadi. Terlepas dari kepentingan politik tertentu, penulis menilai bahwa keputusan tersebut tidak lepas dari semangat konsistensi politik Prabowo untuk membangun kebersamaan seluruh komponen bangsa agar sama-sama menghargai para pahlawannya. Salah satu cara menghargainya, dikubur kejelekannya dan dikenang kebaikannya sepanjang masa.

Prinsip itu adalah ajaran para ulama, dan guru-guru di pesantren. Ajaran itu juga bagian dari ajaran filsafat para leluhur nya dan para leluhur bangsa Indonesia. jika anda yang pernah di pesantren (zaman dulu) dan anda yang pernah mendapatkan didikan guru model guru SD Inpres (zaman dulu), para santri sangat memahami kehidupan yang sangat indah. Ada santri yang dipukul tangannya pakai rotan karena kuku-kukunya panjang-panjang dan kotor warna hitam. Dulu, saya dan mungkin anda yang se-umuran dengan ku, pernah disuruh berdiri di depan papan tulis oleh gurunya karena tidak bisa membaca atau tidak menyelesaikan PR. Dulu, ketika mendengar ada berita “imunisasi” dari Dinas Kesehatan, saya dan anda (mungkin lhooo) segera lari loncat dari pagar sekolah dan meninggalkan buku di kelas karena takut jarum suntik.

Kita pernah mendapatkan kenangan yang unik dan menarik. Bukan kenangan yang garang dan mengerikan. Apalagi dicap menyakiti anak-anak santri. Apalagi dicap penganiayaan. Tidak sama sekali. banyak hukuman terjadi saat itu. Tapi tidak ada satupun wali santri atau wali murid membela anak-anaknya. Saat anak nya lapor atas hukuman dari guru, maka orang tua langsung menambah hukuman lebih menyakitkan kepada anak-anaknya. Tidak ada istilah pelanggaran HAM dalam proses pendidikan. Tidak ada juga yang mempersoalkan hal tersebut. guru dan orang tua benar-benar satu frekuensi. Saling percaya dan saling menghormati atas perbedaan tugas di antara mereka.

Kini para santri masa lalu telah mempunyai beragam profesi. Ada yang menjadi presiden dan ada yang menjadi dosen. Presiden dan dosen adalah produk para leluhur bangsa ini. Kita harus meneruskan perjuangan para guru dengan cara yang berbeda. Dosen akan terus menularkan nilai-nilai luhur para pendiri bangsa dan orang-orang tua kita agar generasi penerus mengenal hakikat diri sebagai santri dan sebagai generasi tangguh yang hebat, nasionalis dan rela membangun bangsa dan negaranya semakin martabat.

Presiden tentu melaksanakan perjuangan dan tugas  lebih komplek lagi. Salah satu yang tidak boleh dilupakan yaitu mengangkat derajat para dosen ditempat yang bermartabat. Penulis artikel ini tentu saja sangat mengharapkan pemerintah baru dengan kabinet merah-putih benar-benar mempunyai keberanian mengangkat derajat dosen dan pendidik semakin bermartabat dan mempunyai tujuan suci untuk memulyakan ilmu-ilmu di atas segalanya.

Penulis menyakini, suatu negara dan bangsa ketika ilmu menjadi rujukan di atas politik maka ilmu akan menuntun politik dan kebijakan menjadi semakin baik dan semakin mulia. Sebab ilmu bagian dari warisan para nabi, para ulama dan para cendekiawan di masa dulu dan akan terus menjadi warisan peradaban di masa mendatang. Tentu, obor peradaban sangat diharapkan semakin bercahaya di masa pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Ketika pemerintahan baru ini telah menancapkan ilmu sebagai jalan membangun Indonesia sekarang dan masa datang, maka rel pembangunan Indonesia telah kembali pada jalan yang benar.

Semoga tulisan sederhana ini menginspirasi pengambil kebijakan dan berbuah menghasilkan keputusan besar pemerintah baru di dunia pendidikan dalam rangka menuju Indonesia emas di masa mendatang.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Abdul karim, S.Pd.I

Sangat menginspirasi tulisannya yai.. Ada kasus di konawe sulawesi guru honor dituduh menganiaya murid dan dicebloskan ke penjara. Anak tersebut adalh anak oknum polisi, sementara tindak kekerasan tidak dilakukan oleh guru tersebut. Sungguh zalim hukum bagi guru alias wong cilik, piye niku mbah yai?.

Admin

iya pak guru, sungguh sangat menyedihkan

Avatar

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875