
Tulisan ini merupakan lanjutan dari judul tulisan
sebelumnya”manunggaling santri”. Ada harapan dari tulisan tersebut untuk masa
depan santri. Sebab jujur, Indonesia lahir tidak bisa dilepaskan dari
perjuangan santri masa dulu. Kini semua mendapatkan berkah nya.
Prabowo Subianto adalah seorang presiden yang sangat mencintai santri. Buktinya sederhana. Hampir setiap pidato ia senantiasa menyisipkan kalimat sebagai berikut”mikul duwur mendem jero”, arti sederhana: selalu menghargai jasa para pendahulu dan senantiasa mengubur aib para pendahulunya. Prinsip sederhan; “tidak ada gading yang tidak retak, tidak ada manusia yang tidak pernah salah”. Saya kira ucapannya sangat konsisten. Buktinya, saat ia menjelang dilantik secara resmi menjadi presiden, seluruh presiden pada masanya benar-benar diputihkan. Itu bukan kerja presiden, tapi MPR. Lembaga tersebut telah mencabut TAP MPR Nomor 33 Tahun 1967, maka Soekarno dinyatakan tidak menghianati negara dan tidak mendukung pemberontakan PKI. MPR Mencabut TAP MPR Nomor 2 Tahun 200, nama Gus Dur dipulihkan Kembali dan bersih dari segala tuduhan pelanggaran hukum. MPR memutuskan untuk menghapus nama Soeharto dari TAP MPR Nomor 11 Tahun 1998. Keputusan tersebut menimbulkan pro-kontra. itulah sejarah. Selalu saja melahirkan respon yang berbeda-beda.
Semasa Jokowi belum dilakukan. Ketika Prabowo
naik, semua itu terjadi. Terlepas dari kepentingan politik tertentu, penulis
menilai bahwa keputusan tersebut tidak lepas dari semangat konsistensi politik Prabowo
untuk membangun kebersamaan seluruh komponen bangsa agar sama-sama menghargai
para pahlawannya. Salah satu cara menghargainya, dikubur kejelekannya dan dikenang
kebaikannya sepanjang masa.
Prinsip itu adalah ajaran para ulama, dan
guru-guru di pesantren. Ajaran itu juga bagian dari ajaran filsafat para
leluhur nya dan para leluhur bangsa Indonesia. jika anda yang pernah di
pesantren (zaman dulu) dan anda yang pernah mendapatkan didikan guru model guru
SD Inpres (zaman dulu), para santri sangat memahami kehidupan yang sangat
indah. Ada santri yang dipukul tangannya pakai rotan karena kuku-kukunya panjang-panjang
dan kotor warna hitam. Dulu, saya dan mungkin anda yang se-umuran dengan ku,
pernah disuruh berdiri di depan papan tulis oleh gurunya karena tidak bisa
membaca atau tidak menyelesaikan PR. Dulu, ketika mendengar ada berita “imunisasi”
dari Dinas Kesehatan, saya dan anda (mungkin lhooo) segera lari loncat dari
pagar sekolah dan meninggalkan buku di kelas karena takut jarum suntik.
Kita pernah mendapatkan kenangan yang unik
dan menarik. Bukan kenangan yang garang dan mengerikan. Apalagi dicap menyakiti
anak-anak santri. Apalagi dicap penganiayaan. Tidak sama sekali. banyak hukuman
terjadi saat itu. Tapi tidak ada satupun wali santri atau wali murid membela
anak-anaknya. Saat anak nya lapor atas hukuman dari guru, maka orang tua
langsung menambah hukuman lebih menyakitkan kepada anak-anaknya. Tidak ada
istilah pelanggaran HAM dalam proses pendidikan. Tidak ada juga yang mempersoalkan
hal tersebut. guru dan orang tua benar-benar satu frekuensi. Saling percaya dan
saling menghormati atas perbedaan tugas di antara mereka.
Kini para santri masa lalu telah mempunyai
beragam profesi. Ada yang menjadi presiden dan ada yang menjadi dosen. Presiden
dan dosen adalah produk para leluhur bangsa ini. Kita harus meneruskan
perjuangan para guru dengan cara yang berbeda. Dosen akan terus menularkan
nilai-nilai luhur para pendiri bangsa dan orang-orang tua kita agar generasi penerus
mengenal hakikat diri sebagai santri dan sebagai generasi tangguh yang hebat,
nasionalis dan rela membangun bangsa dan negaranya semakin martabat.
Presiden tentu melaksanakan perjuangan dan
tugas lebih komplek lagi. Salah satu
yang tidak boleh dilupakan yaitu mengangkat derajat para dosen ditempat yang
bermartabat. Penulis artikel ini tentu saja sangat mengharapkan pemerintah baru
dengan kabinet merah-putih benar-benar mempunyai keberanian mengangkat derajat
dosen dan pendidik semakin bermartabat dan mempunyai tujuan suci untuk
memulyakan ilmu-ilmu di atas segalanya.
Penulis menyakini, suatu negara dan bangsa
ketika ilmu menjadi rujukan di atas politik maka ilmu akan menuntun politik dan
kebijakan menjadi semakin baik dan semakin mulia. Sebab ilmu bagian dari warisan
para nabi, para ulama dan para cendekiawan di masa dulu dan akan terus menjadi
warisan peradaban di masa mendatang. Tentu, obor peradaban sangat diharapkan
semakin bercahaya di masa pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Ketika pemerintahan baru ini telah menancapkan ilmu sebagai jalan membangun Indonesia
sekarang dan masa datang, maka rel pembangunan Indonesia telah kembali pada
jalan yang benar.
Semoga tulisan sederhana ini menginspirasi
pengambil kebijakan dan berbuah menghasilkan keputusan besar pemerintah baru di
dunia pendidikan dalam rangka menuju Indonesia emas di masa mendatang.
Penulis : Imam Ghozali
Abdul karim, S.Pd.I
Sangat menginspirasi tulisannya yai.. Ada kasus di konawe sulawesi guru honor dituduh menganiaya murid dan dicebloskan ke penjara. Anak tersebut adalh anak oknum polisi, sementara tindak kekerasan tidak dilakukan oleh guru tersebut. Sungguh zalim hukum bagi guru alias wong cilik, piye niku mbah yai?.
Admin
iya pak guru, sungguh sangat menyedihkan
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3565
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2946
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875