Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Prodi dan PPID: Quattrick antara Unggul dan Terbaik



Selasa , 09 Desember 2025



Telah dibaca :  275

Saya memulai tulisan ini dengan mengucapkan selamat kepada prodi KPI yang telah mendapat capaian tertinggi dengan akreditasi “unggul”. Kita juga sama-sama menunggu hasil prodi HKI. Semoga hasil nya pun serupa: unggul.  

Ini seperti sebuah film “Mission Imposible”. Bagi orang beriman harus mempunyai keyakinan bahwa “tidak ada yang tidak mungkin” bagi Allah membolak-balikan hati mendengar doa para hamba-hamba-Nya.

Saya juga tidak lupa mengucapkan selamat kepada TIM PPID IAIN Datuk Laksemana Bengkalis yang telah mencapai sebagai unit PTKIN berkinerja terbaik. Ini sebuah capaian yang luarbiasa di tengah keterbatasan ilmu pengetahuan dan fasilitas bagi perguruan tinggi negeri yang umur nya masih muda-belum mencapai seventeen dari mulai penegrian perguruan tinggi. Bahkan jika dihitung dari status perpindahan dari STAIN ke IAIN termasuk masih bayi. Jangan-jangan bayi prematur.

Anggap saja Tim PPID seperti bayi prematur. Anda sudah paham kondisi prematur. Ada dua kemungkinan “mengalami persoalan keterbakangan fisik, mental dan kecerdasan”, atau juga sebaliknya mendapatkan anugerah kelebihan dari ketiganya.

Kita sering mendengar kelebihan para tokoh atau artis yang lahir sebagai bayi prematur. Ada karya luarbiasa yang bisa dipersembahkan. Bagi anda yang suka seni pasti akan mengenal artis-artis seperti Arumi Bachsin, Asri Welas, Aura Kasih, Jessica Iskandar, dan Lesti Kejora. Mereka sederetan bintang pada bidangnya yang dulu nya lahir dari bayi prematur.


Bisa jadi sukses di atas, bagian dari bayi prematur yang sedang menorehkan tinta kesuksesan. Sebagai keberhasilan yang prematur mempunyai tantangan yang sangat hebat untuk masa depan nya. Perlu ada penyangga yang kokoh untuk mempertahankan status yang prestisius tersebut. Kata orang bijak “Mempertahankan jauh lebih berat daripada membuatnya”. Padahal dalam praktek, membuat kata “unggul” pada sebuah prodi sungguh sangat berat. Energi lahir batin harus totalitas. Sedangkan mempertahankan kadang terlena pada zona nyaman. Sehingga sering kelabakan untuk mempersiapkan lebih baik lagi. Artinya mempertahankan jauh lebih berat. Mungkin itu maksudnya.

Baik KPI dan prodi-prodi lain dan PPID yang telah mencapatkan status “unggul” atau “terbaik” merupakan capaian luarbiasa. Kita belajar mengikhlaskan hati bahwa semua ini ada tim dan tangan-tangan hamba-hamba Allah yang melahirkan satu kekuatan energi doa dan usaha dalam segala keterbatasan yang ada. Capaian ini sekaligus intropeksi diri atau pengingat diri bahwa saat Tuhan memberi kenikmatan kepada kita, pada sisi lain juga Tuhan sedang memberikan alarm peringatan agar kita harus senantiasa menyandarkan diri kepada-Nya atas segala kebaikan dan kemurahan-Nya menutupi segala aib dan membuka segala kemuliaan kita.

Keberhasilan ini menjadi catatan sejarah tentang makna pahitnya perjuangan dan manis nya hasil perjuangan tersebut. seperti kisah para orang tua dulu, tentang pentingnya menanam. Ketika menanam padi, akan tumbuh padi. Menanam mangga menghasilkan buah mangga.

Dalam kehidupan sosial, kita bisa melihat catatan-catatan sejarah. Darinya kita mengetahui dan belajar tentang sejarah -baik amalun sholihun maupun syayiatun-dan segala dinamika sosialnya.


Sejarah yang sangat indah dalam dinamika sosial adalah keberhasilan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya saat perang badar. Analisis politik selalu mengatakan bahwa pasukan Nabi Muhammad gagal. Secara matematika pasukan jumlah 300 an melawan pasukan berjumlah 1000 an pasti kalah. Apalagi head to head dengan perlengkapan senjata juga jauh dari kesempurnaan. Secara teori pasti kalah.

Kenyataannya pasukan Nabi Muhammad menang dalam medan pertempuran di Badar.  Ada kekuatan spiritual di sini. Kekuatan ini yang membuka kecerdasan out the box, yang tidak pernah terpikirkan kaum rasional. Kekuatan spiritual ini juga merangsang kecerdasan rasional tumbuh di atas rata-rata. Itu sebabnya pertemuan semangat spiritual yang telah membasaih kecerdasan dan keyakinan melahirkan strategi jenius dan doa-doa mustajab. Buah nya kesuksesan dalam perang badar.

Pelajaran selanjutnya pada perang uhud. Saat itu, umat Islam sudah kuat dan mempunyai pasukan sangat banyak dan militant. Meskipun pada perang ini, kita tidak bisa mengatakan bahwa kekalahan berada di pihak pasukan umat Islam. Bagaimana pun kita bisa membaca sejarah bahwa karena ada sedikit kesalahan teknis di tubuh pasukan muslim, hampir-hampir saja Nabi terbunuh oleh pasukan kaum kafirin.

Saya tidak bisa membayangkan, jika hari itu Nabi meninggal dunia, mungkin sudah tidak ada lagi agama Islam. Kalau toh ada, mungkin sudah tidak seutuh saat sekarang ini. Itu andai-andai pikiran kotor ku saja.

Tuhan tetap Maha Penyayang. Meskipun dalam kondisi yang sangat memprihatinkan-jika tidak mau dikatakan sebagai sebuah kesalahan-Allah hadir dan menyelamatkan Nabi dan umat nya. Benar kematian nya sesuatu yang sangat menyedihkan. Namun disisi lain kematian mereka adalah kabar gembira sebagai ahli surga. Mereka telah sempurna perjuangannya. Mereka telah mendapatkan kemulyaan di sisi Allah swt.

Sedangkan Nabi dan sahabat-sahabat lainnya terus berjuang untuk mencapai kesempurnaan ajaran islam. mereka semakin memahami tentang catatan-catatan kekurangan masa lalu dan terus diperbaiki pada masa-masa mendatang. Puncak perbaikan ini yang kemudian mengantarkan puncak kesuksesan yang disebut dengan fathul makah.

Saya kira kedua sejarah perang pada zaman nabi sangat mengispirasi umat Islam hingga saat sekarang ini. Saya kira umat lain-selain agama Islam- pun demikian. Mereka termotivasi dari perjuangan para nabi mereka, para tokoh-tokoh yang sangat menginspirasi mereka sehingga berani mengorbankan diri untuk sebuah kemenangan atau kejayaan.

Perjuangan TIM KPI dan TIM PPID tentu saja menjadi inspirasi bahwa apapun nama nya sebuah perjuangan membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit baik materi maupun immateri. Ujian dan cobaan serta tantangan itu pasti ada dan selalu datang penuh kisah yang mengharu biru. Ada gagal dan berhasil itu sudah biasa. Saat gagal kita belajar intropeksi diri atas segala kekurangan, ketika sukses kita harus tahu diri kepada Sang Pemberi Nikmat Yang Agung yaitu Allah swt. Semoga kenikmatan ini semakin menambah kecintaan kita beribadah dengan berkarya semata-mata mencari ridha Allah swt.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872