
Saya memulai tulisan ini dengan mengucapkan
selamat kepada prodi KPI yang telah mendapat capaian tertinggi dengan
akreditasi “unggul”. Kita juga sama-sama menunggu hasil prodi HKI. Semoga hasil
nya pun serupa: unggul.
Ini seperti sebuah film “Mission
Imposible”. Bagi orang beriman harus mempunyai keyakinan bahwa “tidak ada
yang tidak mungkin” bagi Allah membolak-balikan hati mendengar doa para
hamba-hamba-Nya.
Saya juga tidak lupa mengucapkan selamat
kepada TIM PPID IAIN Datuk Laksemana Bengkalis yang telah mencapai sebagai unit
PTKIN berkinerja terbaik. Ini sebuah capaian yang luarbiasa di tengah
keterbatasan ilmu pengetahuan dan fasilitas bagi perguruan tinggi negeri yang umur
nya masih muda-belum mencapai seventeen dari mulai penegrian perguruan
tinggi. Bahkan jika dihitung dari status perpindahan dari STAIN ke IAIN termasuk masih bayi. Jangan-jangan bayi prematur.
Anggap saja Tim PPID seperti bayi prematur.
Anda sudah paham kondisi prematur. Ada dua kemungkinan “mengalami persoalan keterbakangan
fisik, mental dan kecerdasan”, atau juga sebaliknya mendapatkan anugerah
kelebihan dari ketiganya.
Kita sering mendengar kelebihan para tokoh atau artis yang lahir sebagai bayi prematur. Ada karya luarbiasa yang bisa dipersembahkan. Bagi anda yang suka seni pasti akan mengenal artis-artis seperti Arumi Bachsin, Asri Welas, Aura Kasih, Jessica Iskandar, dan Lesti Kejora. Mereka sederetan bintang pada bidangnya yang dulu nya lahir dari bayi prematur.

Bisa jadi sukses di atas, bagian dari bayi prematur
yang sedang menorehkan tinta kesuksesan. Sebagai keberhasilan yang prematur
mempunyai tantangan yang sangat hebat untuk masa depan nya. Perlu ada penyangga
yang kokoh untuk mempertahankan status yang prestisius tersebut. Kata orang
bijak “Mempertahankan jauh lebih berat daripada membuatnya”. Padahal dalam praktek,
membuat kata “unggul” pada sebuah prodi sungguh sangat berat. Energi lahir
batin harus totalitas. Sedangkan mempertahankan kadang terlena pada zona
nyaman. Sehingga sering kelabakan untuk mempersiapkan lebih baik lagi. Artinya
mempertahankan jauh lebih berat. Mungkin itu maksudnya.
Baik KPI dan prodi-prodi lain dan PPID yang
telah mencapatkan status “unggul” atau “terbaik” merupakan capaian luarbiasa. Kita
belajar mengikhlaskan hati bahwa semua ini ada tim dan tangan-tangan
hamba-hamba Allah yang melahirkan satu kekuatan energi doa dan usaha dalam
segala keterbatasan yang ada. Capaian ini sekaligus intropeksi diri atau
pengingat diri bahwa saat Tuhan memberi kenikmatan kepada kita, pada sisi lain
juga Tuhan sedang memberikan alarm peringatan agar kita harus senantiasa
menyandarkan diri kepada-Nya atas segala kebaikan dan kemurahan-Nya menutupi
segala aib dan membuka segala kemuliaan kita.
Keberhasilan ini menjadi catatan sejarah
tentang makna pahitnya perjuangan dan manis nya hasil perjuangan tersebut.
seperti kisah para orang tua dulu, tentang pentingnya menanam. Ketika menanam
padi, akan tumbuh padi. Menanam mangga menghasilkan buah mangga.
Dalam kehidupan sosial, kita bisa melihat catatan-catatan sejarah. Darinya kita mengetahui dan belajar tentang sejarah -baik amalun sholihun maupun syayiatun-dan segala dinamika sosialnya.

Sejarah yang sangat indah dalam dinamika
sosial adalah keberhasilan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya saat perang
badar. Analisis politik selalu mengatakan bahwa pasukan Nabi Muhammad gagal. Secara
matematika pasukan jumlah 300 an melawan pasukan berjumlah 1000 an pasti kalah.
Apalagi head to head dengan perlengkapan senjata juga jauh dari kesempurnaan.
Secara teori pasti kalah.
Kenyataannya pasukan Nabi Muhammad menang
dalam medan pertempuran di Badar. Ada kekuatan
spiritual di sini. Kekuatan ini yang membuka kecerdasan out the box,
yang tidak pernah terpikirkan kaum rasional. Kekuatan spiritual ini juga merangsang
kecerdasan rasional tumbuh di atas rata-rata. Itu sebabnya pertemuan semangat
spiritual yang telah membasaih kecerdasan dan keyakinan melahirkan strategi jenius
dan doa-doa mustajab. Buah nya kesuksesan dalam perang badar.
Pelajaran selanjutnya pada perang uhud. Saat
itu, umat Islam sudah kuat dan mempunyai pasukan sangat banyak dan militant. Meskipun
pada perang ini, kita tidak bisa mengatakan bahwa kekalahan berada di pihak
pasukan umat Islam. Bagaimana pun kita bisa membaca sejarah bahwa karena ada
sedikit kesalahan teknis di tubuh pasukan muslim, hampir-hampir saja Nabi
terbunuh oleh pasukan kaum kafirin.
Saya tidak bisa membayangkan, jika hari itu
Nabi meninggal dunia, mungkin sudah tidak ada lagi agama Islam. Kalau toh ada,
mungkin sudah tidak seutuh saat sekarang ini. Itu andai-andai pikiran kotor ku
saja.
Tuhan tetap Maha Penyayang. Meskipun dalam
kondisi yang sangat memprihatinkan-jika tidak mau dikatakan sebagai sebuah
kesalahan-Allah hadir dan menyelamatkan Nabi dan umat nya. Benar kematian nya
sesuatu yang sangat menyedihkan. Namun disisi lain kematian mereka adalah kabar
gembira sebagai ahli surga. Mereka telah sempurna perjuangannya. Mereka telah
mendapatkan kemulyaan di sisi Allah swt.
Sedangkan Nabi dan sahabat-sahabat lainnya
terus berjuang untuk mencapai kesempurnaan ajaran islam. mereka semakin
memahami tentang catatan-catatan kekurangan masa lalu dan terus diperbaiki pada
masa-masa mendatang. Puncak perbaikan ini yang kemudian mengantarkan puncak
kesuksesan yang disebut dengan fathul makah.
Saya kira kedua sejarah perang pada zaman
nabi sangat mengispirasi umat Islam hingga saat sekarang ini. Saya kira umat
lain-selain agama Islam- pun demikian. Mereka termotivasi dari perjuangan para
nabi mereka, para tokoh-tokoh yang sangat menginspirasi mereka sehingga berani
mengorbankan diri untuk sebuah kemenangan atau kejayaan.
Perjuangan TIM KPI dan TIM PPID tentu saja
menjadi inspirasi bahwa apapun nama nya sebuah perjuangan membutuhkan
pengorbanan yang tidak sedikit baik materi maupun immateri. Ujian dan cobaan
serta tantangan itu pasti ada dan selalu datang penuh kisah yang mengharu biru.
Ada gagal dan berhasil itu sudah biasa. Saat gagal kita belajar intropeksi diri
atas segala kekurangan, ketika sukses kita harus tahu diri kepada Sang Pemberi
Nikmat Yang Agung yaitu Allah swt. Semoga kenikmatan ini semakin menambah
kecintaan kita beribadah dengan berkarya semata-mata mencari ridha Allah swt.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872