Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Prof Inung Membuat Saya Termenung



Kamis , 16 Mei 2024



Telah dibaca :  266

Sebenarnya saya sudah sering bertemu dengan Prof.Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag (Prof Inung). Saya mengenalnya dengan baik. Ide-idenya senantiasa progresif dan mencerahkan. Hal tersebut saya catat paling tidak pada dua moment yang berbeda.

Pertama, pada pertemuan sindikasi media masa pada tahun lalu, ia memberikan wejangan kepada sahabat-sahabat media dari berbagai perguruan tinggi PTKIN. Isinya sangat bernas. Ia ingin benar-benar media massa atau media online kampus di kelola secara professional berbasis Islam. Istilah sederhananya media yang mampu menjadi uswatun khasanah, pada saat beberapa media terjebak oleh kepentingan pragmatisme dan meninggalkan profesionalisme.

Kedua, pada pertemuan warek III/waket III seluruh PTKIN di hotel. Pada acara yang bertajuk “Koordinasi Warek/Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan PTKIN”, Prof Inung langsung “gaspol”. Tendang sana, tendang sini. Saya tidak tahu, apakah rem nya “blong” dan memuntahkan seluruh unek-uneknya, atau lagi kena marah (maaf)  istrinya karena cintanya terlalu memikirkan PTKIN daripada istrinya, atau  dia sedang reinkarnasi seorang Krisna dengan kalam-kalam nasehat kepada para Pandawa saat akan menghadapi Perang Barathayuda, saya tidak tahu. Tapi malam itu memang, semua peserta dibuat tidak bisa berbicara. Persis seperti kena ilmu sirep megananda, semua terdiam. Ada tepokan tangan, tapi kering antara “iya” dan “tidak”. Sebab situasinya memang serba membingungkan. Jangan-jangan Prof Inung lagi marah. Jangan-jangan Ketika sudah tepuk tangan, ia pula tidak berkenan. Sedikit serba salah juga.

Malam tersebut Prof Inung menyampaikan sangat subtantif. Yang disampaikan olehnya semua daging, ada yang kenyal lembut, ada juga yang sudah sedikit keras. Tapi, persoalannya tidak semua peserta membutuhkan daging. Bisa jadi karena tidak memahami fungsi daging bagi kesehatan, atau mengerti tapi mempunyai riwayat penyakit darah tinggi, kolestrol dan asam urat, bisa dipastikan sedikit berhati-hati mengkonsumsi daging. Saya masih beruntung hanya mempunyai Riwayat darah rendah, jadi daging yang disuguhkan oleh Prof Inung terasa nikmat.

Mengapa Prof Inung melakukan shock therapy sedemikian serius? Tentu saja karena rasa sayang yang mendalam terhadap teman-teman di PTIKN. Persoalannya, makna “kasih sayang” yang telah menjadi tradisi masyarakat sebatas pada pada ucapan dan perilaku yang lemah-lembut dan memberi fasilitas dengan segala apa yang diminta oleh orang-orang yang disayang. Kasih sayang yang berkembang di masyarakat masih menganut kasih sayang pola seorang ibu kepada anak-anaknya. Sang ibu sering menangis ketika anak-anak nya belajar di tempat jauh, lalu ia meminta kepada suaminya untuk menjenguk dan mengantar semua keperluan hidupnya. Jika tidak diturutinya, maka suaminya akan menjadi sasaran kemarahan.

Prof Inung kelihatannya ingin menerapkan kembali makna kasih sayang pola ayah terhadap anak-anaknya pada masa dulu; tegas, tanggap, dan langsung kerja. Ia mencoba memahami makna kasih sayang tidak harus dengan sebatas kelembutan bicara dan perilaku. Ia menginginkan kasih sayang yang membentuk kemandirian, etos kerja tinggi dan mampu memberi konstribusi positif kepada diri sendiri dan orang disekitarnya.

Meskipun secara lahiriyah sang ayah diasumsikan sebagai bapak yang kurang peduli terhadap anak, dan sering membatasi mereka bermain dan sering memerintah kepada anak-anaknya untuk melakukan pekerjaan menguras energi, justru kemudian hari membentuk anak-anak menjadi mandiri dan tanggungjawab terhadap apa yang ia kerjakan.

Penulis tidak tahu apakah Prof Inung penganut madzhab Donnie Yen (Ip Man) dan terinspirasi pada filmnya yang berjudul “big brother” yang mampu mengubah Lembaga Pendidikan yang terperosok di lembang keterpurukan menjadi Lembaga yang bermarbat. Apakah juga ia suka menonton “mission imposible” nya Tom Cruise tentang misi yang sangat imposible, tapi berhasil diwujudkan. Tapi yang jelas, ia tidak menyukai madzhab film “shaolin soccer” Stephen Chow yang sukses juara sepakbola dunia tapi pemain dan penjaga gawan lawanya kehilangan baju dan celana. Ia ingin maju Bersama-sama agar PTKIN yang usianya sudah cukup tua semakin matang dan semakin menebarkan rahmatal lil ‘alamin.

Dari sekian banyak yang disampaikan oleh Prof Inung, penulis sangat tertarik pada satu kalimat yang berbunyi lebih kurang begini, “Kita harus bisa mewarisi peradaban positif untuk generasi masa depan, jangan menghitung berapa lama lagi kita menjabat, tapi seberapa banyak yang sudah disumbangkan untuk peradaban Islam”.

Penulis memahami pesan tersebut sebagai harapan besar agar PTKIN harus berlari kencang agar bisa sejajar dengan perguruan di luar PTKIN, kalau bisa di depan nya lebih sedikit.

Namun yang belum bisa dipahami oleh ku, adalah wajah Prof Inung terlihat selalu muda. Wajah nya sering serius, kalau bicara seperti Bung Tomo, menggelegar, mirip orang lagi marah. Tapi saya heran juga, wajah terlihat tidak berubah sejak dulu. Selalu awet muda. Sebenarnya saya ingin tanya resepnya apa, kok awet muda. Sebab kalau saya lagi marah di depan istriku, katanya saya lebih cepat tua,“Mas jangan marah-marah terus, nanti cepat tua”. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876