
Sebenarnya saya sudah sering bertemu dengan
Prof.Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag (Prof Inung). Saya mengenalnya dengan baik.
Ide-idenya senantiasa progresif dan mencerahkan. Hal tersebut saya catat paling
tidak pada dua moment yang berbeda.
Pertama, pada pertemuan sindikasi media
masa pada tahun lalu, ia memberikan wejangan kepada sahabat-sahabat
media dari berbagai perguruan tinggi PTKIN. Isinya sangat bernas. Ia ingin
benar-benar media massa atau media online kampus di kelola secara professional
berbasis Islam. Istilah sederhananya media yang mampu menjadi uswatun
khasanah, pada saat beberapa media terjebak oleh kepentingan pragmatisme
dan meninggalkan profesionalisme.
Kedua, pada pertemuan warek III/waket III seluruh
PTKIN di hotel. Pada acara yang bertajuk “Koordinasi Warek/Wakil Ketua Bidang
Kemahasiswaan PTKIN”, Prof Inung langsung “gaspol”. Tendang sana,
tendang sini. Saya tidak tahu, apakah rem nya “blong” dan memuntahkan
seluruh unek-uneknya, atau lagi kena marah (maaf) istrinya karena cintanya terlalu memikirkan PTKIN
daripada istrinya, atau dia sedang reinkarnasi
seorang Krisna dengan kalam-kalam nasehat kepada para Pandawa saat akan
menghadapi Perang Barathayuda, saya tidak tahu. Tapi malam itu memang, semua
peserta dibuat tidak bisa berbicara. Persis seperti kena ilmu sirep
megananda, semua terdiam. Ada tepokan tangan, tapi kering antara “iya” dan
“tidak”. Sebab situasinya memang serba membingungkan. Jangan-jangan Prof Inung
lagi marah. Jangan-jangan Ketika sudah tepuk tangan, ia pula tidak berkenan.
Sedikit serba salah juga.
Malam tersebut Prof Inung menyampaikan
sangat subtantif. Yang disampaikan olehnya semua daging, ada yang kenyal
lembut, ada juga yang sudah sedikit keras. Tapi, persoalannya tidak semua
peserta membutuhkan daging. Bisa jadi karena tidak memahami fungsi daging bagi
kesehatan, atau mengerti tapi mempunyai riwayat penyakit darah tinggi,
kolestrol dan asam urat, bisa dipastikan sedikit berhati-hati mengkonsumsi
daging. Saya masih beruntung hanya mempunyai Riwayat darah rendah, jadi daging
yang disuguhkan oleh Prof Inung terasa nikmat.
Mengapa Prof Inung melakukan shock
therapy sedemikian serius? Tentu saja karena rasa sayang yang mendalam
terhadap teman-teman di PTIKN. Persoalannya, makna “kasih sayang” yang telah
menjadi tradisi masyarakat sebatas pada pada ucapan dan perilaku yang
lemah-lembut dan memberi fasilitas dengan segala apa yang diminta oleh
orang-orang yang disayang. Kasih sayang yang berkembang di masyarakat masih
menganut kasih sayang pola seorang ibu kepada anak-anaknya. Sang ibu sering
menangis ketika anak-anak nya belajar di tempat jauh, lalu ia meminta kepada
suaminya untuk menjenguk dan mengantar semua keperluan hidupnya. Jika tidak
diturutinya, maka suaminya akan menjadi sasaran kemarahan.
Prof Inung kelihatannya ingin menerapkan
kembali makna kasih sayang pola ayah terhadap anak-anaknya pada masa dulu;
tegas, tanggap, dan langsung kerja. Ia mencoba memahami makna kasih sayang
tidak harus dengan sebatas kelembutan bicara dan perilaku. Ia menginginkan
kasih sayang yang membentuk kemandirian, etos kerja tinggi dan mampu memberi
konstribusi positif kepada diri sendiri dan orang disekitarnya.
Meskipun secara lahiriyah sang ayah
diasumsikan sebagai bapak yang kurang peduli terhadap anak, dan sering
membatasi mereka bermain dan sering memerintah kepada anak-anaknya untuk
melakukan pekerjaan menguras energi, justru kemudian hari membentuk anak-anak
menjadi mandiri dan tanggungjawab terhadap apa yang ia kerjakan.
Penulis tidak tahu apakah Prof Inung penganut
madzhab Donnie Yen (Ip Man) dan terinspirasi pada filmnya yang berjudul “big
brother” yang mampu mengubah Lembaga Pendidikan yang terperosok di lembang keterpurukan
menjadi Lembaga yang bermarbat. Apakah juga ia suka menonton “mission
imposible” nya Tom Cruise tentang misi yang sangat imposible, tapi berhasil
diwujudkan. Tapi yang jelas, ia tidak menyukai madzhab film “shaolin soccer”
Stephen Chow yang sukses juara sepakbola dunia tapi pemain dan penjaga gawan
lawanya kehilangan baju dan celana. Ia ingin maju Bersama-sama agar PTKIN yang
usianya sudah cukup tua semakin matang dan semakin menebarkan rahmatal lil
‘alamin.
Dari sekian banyak yang disampaikan oleh
Prof Inung, penulis sangat tertarik pada satu kalimat yang berbunyi lebih
kurang begini, “Kita harus bisa mewarisi peradaban positif untuk generasi masa
depan, jangan menghitung berapa lama lagi kita menjabat, tapi seberapa banyak
yang sudah disumbangkan untuk peradaban Islam”.
Penulis memahami pesan tersebut sebagai harapan besar agar PTKIN harus berlari kencang agar bisa sejajar dengan perguruan di luar PTKIN, kalau bisa di depan nya lebih sedikit.
Namun yang belum bisa dipahami oleh ku, adalah wajah Prof Inung terlihat selalu
muda. Wajah nya sering serius, kalau bicara seperti Bung Tomo, menggelegar,
mirip orang lagi marah. Tapi saya heran juga, wajah terlihat tidak berubah
sejak dulu. Selalu awet muda. Sebenarnya saya ingin tanya resepnya apa, kok awet muda. Sebab kalau saya lagi marah di depan istriku, katanya saya lebih cepat tua,“Mas jangan
marah-marah terus, nanti cepat tua”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2952
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876