
Memasuki hari tenang, saya tidak akan
menyinggung politik praktis. Membahas yang ringan-ringan saja. Meskipun ringan,
semoga bermanfaat. Sebab kata orang bijak “jika anda ingin naik tangga yang lebih
tinggi, harus melalui tangga yang lebih rendah dulu”. Itu aturan ideal sehingga
mengetahui secara berjenjang proses yang kita lalui. Tanpa adanya proses,
prestasi yang kita dapat sering menjadi beban diri sendiri, bukan sebagai solving
problem terhadap institusi, organisasi dan sebagainya.
Ini lanjutan tulisan saya pada judul
sebelumnya: “Saya Iri Sama Prof Inung”. Entah kenapa kalau saya menulis
kata “iri” selalu saja keluar hurus “sh” menjadi “irish”. Padahal
saya tidak pernah kepikiran sama Irish Bella. Gara-gara huruf “sh” jadi ingat
artis Irish Bella.
Dalam berbagai pertemuan Prof Inung selalu
menekankan pentingnya makna istiqomah yaitu grafik kegiatan mempunyai trend
menanjak. Istilah sederhana jika mengacu hadist Nabi: “hari ini lebih baik
dari hari kemaren”. Jika anda seorang penulis, berarti kualitas tulisan semakin
baik. Jika anda orang tua, hari ini semakin baik dari hari kemaren. Jika anda
seorang pemimpin dalam sekala apapun, lebih baik dari hari kemaren. Kata “password”
tersebut selalu diulang-ulang agar dalam kehidupan sosial kita bisa lebih
terlihat bermartabat dari orang lain atau malah bangsa lain. Tentu hal ini
dalam kontek pendidikan. Jika diperkecil lagi dalam pendidikan perguruan
tinggi.
Saya sudah beberapa kali mengikuti acara
dan kebetulan beberapa kali ia menjadi narasumber. Harapan terbesar yang ia
inginkan yaitu pendidikan mempunyai derajat yang agung. Memang untuk mencapai
derajat “ya’ulu wala yu’la ‘alaihi”, “tertinggi dari yang tinggi”, “terhebat
dari yang hebat” belum bisa dan belum mampu. Itu jawaban realistis, bukan
pesimis.
Orang sehebat Erick Thohir yang sudah
melalangbuana menangani klub sepak bola di Eropa pun berfikir realistis ketika
melihat kondisi PSSI. Pada tahun 2018, Indonesia di peringkat 159 pada tahun
2024 informasinya sudah berada di peringkat 124. Kenaikan angka tersebut
merupakan realita persepakbolaan Indonesia yang dulu sering diledek “walayamutu
wala yahya” yang merupakan plesetan dari kalimat “tidak bermutu dan tidak
punya biaya”. Jika kurang bermutu mungkin iya, tapi jika tidak punya biaya
belum tentu. Ada kepentingan-kepentingan politik saat itu sehingga tujuan utama
dari visi-misi persepakbolaan Indonesia terkubur. Seolah-olah berjalan tanpa
arah yang jelas.
Saya sudah beberapa kali menulis langkah strategis
Erick Thohir saat terpilih menjadi ketua PSSI. Saya menyakini ia berhasil
membawa pssi lebih terhormat dari sebelumnya. Terbukti. Paling tidak media
massa dan media sosial dunia mulai memperhitungkan persepakbolaan yang dulu
nyaris menjadi bahan tertawaan dan ledekan negara tetangga.
Dalam hal ini saya menilai antara Prof
Inung dan Erick Thohir mempunyai kesamaan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Buahnya mulai terlihat. PSSI semakin baik dan perguruan tinggi di kementrian
agama pun semakin baik. Saya telah mengikuti perkembangan melalui WA, Perguruan
Tinggi di Kementrian Agama sudah mulai bersemai ke tingkat “ya’ulu” atau
unggul.
Memang dalam pengalaman kehidupan keberagaman
sudah menjadi sunatullah. Dunia harus ada keseimbangan. Ada lawan kata, ada
tinggi ada rendah, ada unggul ada yang belum unggul. Ada cantik ada tidak
cantik. Ada yang “anak yang bongsor” karena gen orang tua atau karena pengarus
makanan, ada juga yang “kunteten”, “ora modod-modod”. Istilah sekarang
stunting. Semua keberagaman jenis adalah wujud keseimbangan agar kita
mengambil pelajaran.
Saya tidak tahu, apakah dalam dunia pendidikan
itu adalah istilah “bongsor” dan “kunteten”, “longgor” dan “stunting”.
Jika memang ada istilah itu, kirannya pemerintah perlu mulai membuat program
pengentasan “stunting” di perguruan tinggi agar lembaga tinggi yang masih “kunteten”
bisa sedikit bertambah tinggi. Tidak tinggi sekali seperti pemain sepak bola
tak masalah, bahkan bertambah 5 centimenter pun alhamdulilah. Tujuannya satu:
agar para pemuda tidak minder melihat cewek dan dan calon mertua karena “kuntet”,
sudah “kuntet”, “mangku langit” lagi, kwkwek.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3565
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2946
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875