Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Prof Inung, Pendidikan dan Stunting



Senin , 25 November 2024



Telah dibaca :  613

Memasuki hari tenang, saya tidak akan menyinggung politik praktis. Membahas yang ringan-ringan saja. Meskipun ringan, semoga bermanfaat. Sebab kata orang bijak “jika anda ingin naik tangga yang lebih tinggi, harus melalui tangga yang lebih rendah dulu”. Itu aturan ideal sehingga mengetahui secara berjenjang proses yang kita lalui. Tanpa adanya proses, prestasi yang kita dapat sering menjadi beban diri sendiri, bukan sebagai solving problem terhadap institusi, organisasi dan sebagainya.

Ini lanjutan tulisan saya pada judul sebelumnya: “Saya Iri Sama Prof Inung”. Entah kenapa kalau saya menulis kata “iri” selalu saja keluar hurus “sh” menjadi “irish”. Padahal saya tidak pernah kepikiran sama Irish Bella. Gara-gara huruf “sh” jadi ingat artis Irish Bella.

Dalam berbagai pertemuan Prof Inung selalu menekankan pentingnya makna istiqomah yaitu grafik kegiatan mempunyai trend menanjak. Istilah sederhana jika mengacu hadist Nabi: “hari ini lebih baik dari hari kemaren”. Jika anda seorang penulis, berarti kualitas tulisan semakin baik. Jika anda orang tua, hari ini semakin baik dari hari kemaren. Jika anda seorang pemimpin dalam sekala apapun, lebih baik dari hari kemaren. Kata “password” tersebut selalu diulang-ulang agar dalam kehidupan sosial kita bisa lebih terlihat bermartabat dari orang lain atau malah bangsa lain. Tentu hal ini dalam kontek pendidikan. Jika diperkecil lagi dalam pendidikan perguruan tinggi.

Saya sudah beberapa kali mengikuti acara dan kebetulan beberapa kali ia menjadi narasumber. Harapan terbesar yang ia inginkan yaitu pendidikan mempunyai derajat yang agung. Memang untuk mencapai derajat “ya’ulu wala yu’la ‘alaihi”, “tertinggi dari yang tinggi”, “terhebat dari yang hebat” belum bisa dan belum mampu. Itu jawaban realistis, bukan pesimis.

Orang sehebat Erick Thohir yang sudah melalangbuana menangani klub sepak bola di Eropa pun berfikir realistis ketika melihat kondisi PSSI. Pada tahun 2018, Indonesia di peringkat 159 pada tahun 2024 informasinya sudah berada di peringkat 124. Kenaikan angka tersebut merupakan realita persepakbolaan Indonesia yang dulu sering diledek “walayamutu wala yahya” yang merupakan plesetan dari kalimat “tidak bermutu dan tidak punya biaya”. Jika kurang bermutu mungkin iya, tapi jika tidak punya biaya belum tentu. Ada kepentingan-kepentingan politik saat itu sehingga tujuan utama dari visi-misi persepakbolaan Indonesia terkubur. Seolah-olah berjalan tanpa arah yang jelas.

Saya sudah beberapa kali menulis langkah strategis Erick Thohir saat terpilih menjadi ketua PSSI. Saya menyakini ia berhasil membawa pssi lebih terhormat dari sebelumnya. Terbukti. Paling tidak media massa dan media sosial dunia mulai memperhitungkan persepakbolaan yang dulu nyaris menjadi bahan tertawaan dan ledekan negara tetangga.

Dalam hal ini saya menilai antara Prof Inung dan Erick Thohir mempunyai kesamaan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Buahnya mulai terlihat. PSSI semakin baik dan perguruan tinggi di kementrian agama pun semakin baik. Saya telah mengikuti perkembangan melalui WA, Perguruan Tinggi di Kementrian Agama sudah mulai bersemai ke tingkat “ya’ulu” atau unggul.

Memang dalam pengalaman kehidupan keberagaman sudah menjadi sunatullah. Dunia harus ada keseimbangan. Ada lawan kata, ada tinggi ada rendah, ada unggul ada yang belum unggul. Ada cantik ada tidak cantik. Ada yang “anak yang bongsor” karena gen orang tua atau karena pengarus makanan, ada juga yang “kunteten”, “ora modod-modod”. Istilah sekarang stunting. Semua keberagaman jenis adalah wujud keseimbangan agar kita mengambil pelajaran.

Saya tidak tahu, apakah dalam dunia pendidikan itu adalah istilah “bongsor” dan “kunteten”, “longgor” dan “stunting”. Jika memang ada istilah itu, kirannya pemerintah perlu mulai membuat program pengentasan “stunting” di perguruan tinggi agar lembaga tinggi yang masih “kunteten” bisa sedikit bertambah tinggi. Tidak tinggi sekali seperti pemain sepak bola tak masalah, bahkan bertambah 5 centimenter pun alhamdulilah. Tujuannya satu: agar para pemuda tidak minder melihat cewek dan dan calon mertua karena “kuntet”, sudah “kuntet”, “mangku langit” lagi, kwkwek.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875