Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Puasa Bersama Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari



Rabu , 29 Maret 2023



Telah dibaca :  361

Puasa Ramadhan kala itu memang serba sulit. Namun santri Pesantren Tebuireng Jombang tidak begitu memikirkan kesulitan persoalan ekonomi. Apalagi sebagai seorang santri yang didesain laksana seorang Cantrik, yaitu orang-orang yang hidup nya untuk memperdalam ilmu agama dan merealisasikan sikap hidup model para orang-orang sholeh; mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela, menghidupkan hari-hari melakukan riyadhoh, dan menghabiskan waktu untuk mengkaji ilmu-ilmu agama.

Siang dan malam, Mbah Hasyim [Hadratusyeih Hasyim Asy’ari] memberikan kuliah atau kajian kitab Bukhari-Muslim. Metode nya model bandongan. Mbah Kiai membaca kitab gundul[tanpa harokat] dan para santri senior dari seluruh pelosok nusantara, bahkan dari berbagai manca Negara datang bertabarukan. Pendopo masjid benar-benar menjadi lautan manusia. Tidak ada suara, hanya suara Mbah Hasyim terdengar keras tapi berwibawa. Membaca nya fasih dan runtut tentang”utawi, iki, iku” model metode pendidikan klasik. Ribuan santri bisa mendengar dengan jelas. Seolah-olah semua bisa terbaca dan paham semua artinya. Walaupun kadang mereka setelah selesai ngaji, dan mencoba mengartikan kitab model mbah hasyim ada juga yang bingung. Namun, para santri senior yang rata-rata sudah menjadi pemimpin pesantren bersikap tawadhu. Mereka meminjam kitab teman nya yang mempunyai arti lengkap, lalu mereka “nambal” atau melengkapi arti yang bolong-bolong. Jika terasa kitabnya terisi penuh arti, maka itu puncak kebahagiaan dari para santri. Sebab di kalangan santri ada suatu ungkapan yang sangat mashur, “gelapnya kitab, menjadi terang nya hati”. Gelap nya kitab karena penuh arti, sehingga mudah dibacanya dengan baik dan benar.

Mulai pagi sampai menjelang siang hari, tamu-tamu sudah banyak yang datang dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka antri untuk menyampaikan berbagai persoalan penting mulai dari masyarakat kecil tentang persoalan keluarga nya yang sakit, anak-anak mereka yang akan menikah dan mengharapkan keberkahan doa sampai pada para tokoh nasional tentang persoalan keadaan negara yang saat itu belum stabil. Mbah Hasyim pada moment tertentu biasanya ditemani oleh putra nya yaitu Gus Wahid [K.H.Wahid Hasyim]. Pemuda ini terkenal berpakaian prelente, rapih dan sangat modern. Namun kecerdasan sangat luarbiasa. Umur 5 tahun sudah mampu menghatamkan Al-Qur’an. Umar 12-an tahun, Gus Wahid sudah menghatamkan kitab-kitab klasik, mulai dari kitab-kitab tipis seperti Safinatu Najah, Fathul Qarib, sampai Pada Kitab-Kitab Tebal seperti Fathul Mu’in, I’anatutholibin dan lain-lain.Selain itu, dia juga sangat senang membaca buku-buku dari barat. Kemampuan menguasai tiga bahasa asing[Arab, Inggris, Belanda] mempermudah untuk menyerap ilmu-ilmu dari belahan dunia barat. Karena sering bertemu dengan para tokoh nasional, gus wahid semakin sering terlibat pada diskusi-diskusi penting tentaang keberadaan Negara saat itu yang memang sedang membutuhkan pemuda-pemuda untuk ikut membereskan rumah besar nkri yang masih seumur jagung.

Tahun 1945 kondisi Negara belum menentu. Perpindahan penjajah Belanda ke tangan penjajah Jepang memang sangat menyakitkan. Walaupun Jepang dari Negara Asia, tapi kekejamanan sangat dirasakan oleh masyarakat, baik dalam kebijakan ekonomi, politik dan militer. Namun melawan tidak mungkin. Mbah Hasyim berfikir bahwa menjaga eksistensi agama jauh lebih penting daripada harus menabrak tembok kekuatan Jepang yang jelas tidak memungkinkan. Maka, Mbah Hasyim mengubah strategi politik. Dia menerima kerjasama dengan Jepang pada bagian-bagian tertentu seperti perekrutan pemuda masuk pada pelatihan tentara. Sedangkan kebijakan Jepang untuk membungkukan tubuh kearah matahari terbit [upacara seikerei], Mbah Hasyim menolak. Sebab itu perbuatan syirik bagian dari ajaran yang bertentangan dengan Islam. Sikap tegas ini membuat Mbah Hasyim saat itu benar-benar menjadi kiblat para pemimpin pergerakan kemerdekaan dan para Ulama. Itu sebabnya, dia kemudian hari mendapatkan gelar “hadratusyeikh” sebagai suatu penghargaan atas kepakaran ilmu agama dan keberhasilannya melahirkan para ulama-ulama di bumi Nusantara yang saat ini telah melahirkan ribuan pesantren dengan santri ratusan ribu an santri.

Pada bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, atas rekomendasi Mbah Hasyim dan para ulama lainnya, Soekarno-Hata memprokamasikan kemerdekaan Indonesia. Mbah Hasyim sujud syukur dan memuji kepada Allah s.w.t atas kenikmatan yang sangat agung. Kenikmatan ini harus dipertahankan. Kenikmatan ini harus dijaga. Menjaga kedaulatan negara bagian dari iman. Hubbul wathan min al-iman.

Mbah Hasyim bahagia Indonesia merdeka di bulan puasa. Dia melangkah kaki nya dengan senyum kebahagiaan menuju Pendopo Masjid mbalah Kitab Hadist Bukhari-Mushlim. Para santri yang saat itu telah menjadi ulama-ulama di daerah nya masing-masing juga menjadi bagian dari pengurus organisasi NU di seluruh Indonesia. Namun ada juga bukan ulama, tapi para pengusaha dan tokoh di daerah masing-masing. Itu sebabnya, Mbah Hasyim kemudian dawuh kepada siapa saja baik yang ngaji langsung atau tidak langsung dengan kalimat yang sangat terkenal, “Siapa saja yang menghidupkan NU, maka saya anggap sebagai santriku. Barangsiapa yang jadi santriku, kudoakan husnul khotimah beserta cucu-cucunya”.

Wallahu a’lam.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895