
Puasa Ramadhan kala itu memang serba sulit.
Namun santri Pesantren Tebuireng Jombang tidak begitu memikirkan kesulitan
persoalan ekonomi. Apalagi sebagai seorang santri yang didesain laksana seorang
Cantrik, yaitu orang-orang yang hidup nya untuk memperdalam ilmu agama dan
merealisasikan sikap hidup model para orang-orang sholeh; mengosongkan hati
dari sifat-sifat tercela, menghidupkan hari-hari melakukan riyadhoh, dan
menghabiskan waktu untuk mengkaji ilmu-ilmu agama.
Siang dan malam, Mbah Hasyim [Hadratusyeih
Hasyim Asy’ari] memberikan kuliah atau kajian kitab Bukhari-Muslim. Metode nya
model bandongan. Mbah Kiai membaca kitab gundul[tanpa harokat] dan para
santri senior dari seluruh pelosok nusantara, bahkan dari berbagai manca Negara
datang bertabarukan. Pendopo masjid benar-benar menjadi lautan manusia. Tidak
ada suara, hanya suara Mbah Hasyim terdengar keras tapi berwibawa. Membaca nya
fasih dan runtut tentang”utawi, iki, iku” model metode pendidikan
klasik. Ribuan santri bisa mendengar dengan jelas. Seolah-olah semua bisa
terbaca dan paham semua artinya. Walaupun kadang mereka setelah selesai ngaji,
dan mencoba mengartikan kitab model mbah hasyim ada juga yang bingung. Namun,
para santri senior yang rata-rata sudah menjadi pemimpin pesantren bersikap tawadhu.
Mereka meminjam kitab teman nya yang mempunyai arti lengkap, lalu mereka “nambal”
atau melengkapi arti yang bolong-bolong. Jika terasa kitabnya terisi penuh
arti, maka itu puncak kebahagiaan dari para santri. Sebab di kalangan santri
ada suatu ungkapan yang sangat mashur, “gelapnya kitab, menjadi terang nya
hati”. Gelap nya kitab karena penuh arti, sehingga mudah dibacanya dengan
baik dan benar.
Mulai pagi sampai menjelang siang hari,
tamu-tamu sudah banyak yang datang dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka
antri untuk menyampaikan berbagai persoalan penting mulai dari masyarakat kecil
tentang persoalan keluarga nya yang sakit, anak-anak mereka yang akan menikah
dan mengharapkan keberkahan doa sampai pada para tokoh nasional tentang
persoalan keadaan negara yang saat itu belum stabil. Mbah Hasyim pada moment
tertentu biasanya ditemani oleh putra nya yaitu Gus Wahid [K.H.Wahid Hasyim]. Pemuda
ini terkenal berpakaian prelente, rapih dan sangat modern. Namun
kecerdasan sangat luarbiasa. Umur 5 tahun sudah mampu menghatamkan Al-Qur’an. Umar
12-an tahun, Gus Wahid sudah menghatamkan kitab-kitab klasik, mulai dari
kitab-kitab tipis seperti Safinatu Najah, Fathul Qarib, sampai Pada Kitab-Kitab
Tebal seperti Fathul Mu’in, I’anatutholibin dan lain-lain.Selain itu, dia juga
sangat senang membaca buku-buku dari barat. Kemampuan menguasai tiga bahasa
asing[Arab, Inggris, Belanda] mempermudah untuk menyerap ilmu-ilmu dari belahan
dunia barat. Karena sering bertemu dengan para tokoh nasional, gus wahid
semakin sering terlibat pada diskusi-diskusi penting tentaang keberadaan Negara
saat itu yang memang sedang membutuhkan pemuda-pemuda untuk ikut membereskan
rumah besar nkri yang masih seumur jagung.
Tahun 1945 kondisi Negara belum menentu. Perpindahan
penjajah Belanda ke tangan penjajah Jepang memang sangat menyakitkan. Walaupun Jepang
dari Negara Asia, tapi kekejamanan sangat dirasakan oleh masyarakat, baik dalam
kebijakan ekonomi, politik dan militer. Namun melawan tidak mungkin. Mbah Hasyim
berfikir bahwa menjaga eksistensi agama jauh lebih penting daripada harus
menabrak tembok kekuatan Jepang yang jelas tidak memungkinkan. Maka, Mbah Hasyim
mengubah strategi politik. Dia menerima kerjasama dengan Jepang pada
bagian-bagian tertentu seperti perekrutan pemuda masuk pada pelatihan tentara. Sedangkan
kebijakan Jepang untuk membungkukan tubuh kearah matahari terbit [upacara
seikerei], Mbah Hasyim menolak. Sebab itu perbuatan syirik bagian dari ajaran yang
bertentangan dengan Islam. Sikap tegas ini membuat Mbah Hasyim saat itu
benar-benar menjadi kiblat para pemimpin pergerakan kemerdekaan dan para Ulama.
Itu sebabnya, dia kemudian hari mendapatkan gelar “hadratusyeikh”
sebagai suatu penghargaan atas kepakaran ilmu agama dan keberhasilannya melahirkan
para ulama-ulama di bumi Nusantara yang saat ini telah melahirkan ribuan
pesantren dengan santri ratusan ribu an santri.
Pada bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 17 Agustus
1945, atas rekomendasi Mbah Hasyim dan para ulama lainnya, Soekarno-Hata memprokamasikan
kemerdekaan Indonesia. Mbah Hasyim sujud syukur dan memuji kepada Allah s.w.t
atas kenikmatan yang sangat agung. Kenikmatan ini harus dipertahankan. Kenikmatan
ini harus dijaga. Menjaga kedaulatan negara bagian dari iman. Hubbul wathan
min al-iman.
Mbah Hasyim bahagia Indonesia merdeka di
bulan puasa. Dia melangkah kaki nya dengan senyum kebahagiaan menuju Pendopo
Masjid mbalah Kitab Hadist Bukhari-Mushlim. Para santri yang saat itu
telah menjadi ulama-ulama di daerah nya masing-masing juga menjadi bagian dari
pengurus organisasi NU di seluruh Indonesia. Namun ada juga bukan ulama, tapi
para pengusaha dan tokoh di daerah masing-masing. Itu sebabnya, Mbah Hasyim kemudian
dawuh kepada siapa saja baik yang ngaji langsung atau tidak langsung dengan
kalimat yang sangat terkenal, “Siapa saja yang menghidupkan NU, maka saya
anggap sebagai santriku. Barangsiapa yang jadi santriku, kudoakan husnul
khotimah beserta cucu-cucunya”.
Wallahu a’lam.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3591
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3008
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895