Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Puasa dan Dominasi Liberalisme Pendidikan



Rabu , 20 Maret 2024



Telah dibaca :  909

Para ilmuwan, guru besar dan praktisi pendidikan telah melakukan rekayasa pendidikan melalui lembaga formal dengan mendirikan lembaga pendidikan dari jenjang perguruan tinggi sampai ketingkat paling rendah, pendidikan vokasi, lembaga lembaga kursus yang orientasinya mencitakan lapangan kerja. Jumlah nya sudah tidak terhitung lagi. Mulai dari kelas elit sampai pada level popular education yang hanya bisa menampung dari kelompok petani dan buruh yang jumlahnya masih besar pada masyarakat Indonesia. Lembaga pendidikan formal telah menjadi industri yang mengukur keberhasilan secara formalistic dan  sangat matematis. Indicator dari keberhasilan pendidikan diletakan seberapa banyak alumni yang masuk di dunia kerja. Semakin besar diterima berarti semakin baik lembaga pendidikan tersebut.

Penulis dalam beberapa waktu lalu sering ditemui oleh orang orang dari kelas menengah. Mereka datang kepadaku karena mengingingkan secarik kertas rekomendasi dari organisasi kebetulan penulis artikel ini sebagai ketua di dalamnya. Mereka rata rata ingin kuliah ke luar negeri dengan fasilitas pendidikan dan peluang kerja. Ada juga beberapa yang kuliah di dalam negeri dengan jurusan yang cukup bergengsi seperti jurusan kedokteran. Beberaa fakta ini menunjukan bahwa liberalisasi pendidikan telah merambah ke seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya di perkotaan, tapi juga telah mewabah di pedesaan. Bukan hanya pada golongan priyayi atau kaum abangan yang sudah mapan, juga kaum santri yang berbasis kalangan pesantren.

Jika ada tahun 1980 an, penulis masih melihat semangat orang tua di kalangan pedesaan dari kalangan petani dan kaum buruh mengirim anak-anaknya ke pesantren. Orang tua sangat mengharapkan putra-putrinya bisa mengerti agama dan pulang bisa mengembangkan agamanya kepada masyarakat. Memasuki tahun 1990-an, sudah mulai mengalami pergeseran orientasi pendidikan. Mereka mulai memasukan anak-anaknya ke lembaga pendidikan tinggi dan berharap bisa menjadi pegawai dan masuk pada lembaga-lembaga pemerintah.

Lembaga pendidikan terjadi persaingan yang semakin lama sepertinya sudah tidak sehat. Berbagai peraturan yang bertumpuk-tumpuk dari para pembuat kebijakan dan persoalan internal lembaga pendidikan serta letak geografis sering menjadi persoalan serius dan terkadang dilihat sebagai persoalan sentralistik. Kurikulum telah dirancang melahirkan output pekerja dan pegawai. Nilai-nilai pendidikan yang diajarkan oleh para leluhur tentang konsep “tut wuri handayani” telah dihempas oleh liberalisme yang menitik beratkan pada kebebasan dan kemerdekaan individual, serta tidak lagi terikat pada nilai-niilai yang hidup di masyarakat. Ia bersifat individualistic dan materialistic, tapi pengaruhnya justru meng-global dan menjadi identitas baru masyarakat dunia saat ini.

Persoalan pendidikan sebenarnya bukan pada benda-benda fisik yang megah, tapi pada hubungan batin antara pendidik dan peserta didik. Jika hanya pendekatan fisik, maka lembaga pendidikan yang berada di daerah terpencil sampai hari kiamat kurang satu hari tidak bisa bersaing dengan lembaga pendidikan yang berada di pusat perkotaan yang telah mapan dari segi SDM dan sarana prasarananya. Ironisnya, penilaian fisik justru sering menjadi bagian indikator untuk menentukan dan mengkatrol lembaga pendidikan seperti bursa saham yang mudah saja berubah-rubah statusnya.

Liberalisasi pendidikan dalam Islam tidak sebatas menciptakan manusia robot yang cerdas dan mempunyai skill, tapi mati pada aspek sosial dan spiritual. Liberalisasi pendidikan   bukan hanya pada lembaga pendidikan formal, juga non-formal seperti pesantren tidak bisa dihindari. Secara pelan tapi pasti mulai melupakan aspek spiritual dan kehilangan rasa empati yang menjadi ciri khas pendidikan itu sendiri. Pendidikan Islam merupakan gabungan dari makna tarbiyah, ta’dzib, ta’lim. Semua itu sebenarnya mengacu kepada hadist nabi “Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak”.

Ketika pendidikan telah begitu bebas tanpa kendali, maka salah satu yang tidak boleh dibiarkan liar yaitu ruh pendidikan. Jika sistem operasional pendidikan bisa menerima darimanapun berada, tapi tidak boleh melupakan subtansi pendidikan Islam yang menekankan pada moralitas agung tidak boleh ditinggalkan, yang sering dikenal dengan kalimat al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al akhdu bi’ al jadid ashlah. Sesuatu yang lama dan baik harus dipertahankan, dan menerima hal yang baru yang lebih baik. Maka sebaik apapun hari ini, sebenarnya sebagai estafet masa lalu yang tidak boleh putus dengan terus-menerus melakukan perbaikan-perbaikan agar lebih baik di masa sekarang dan masa datang.

Puasa dan Liberalisasi Terbatas

Puasa merupakan metode pendidikan yang secara formalistik kurang atau malah tidak diperhatikan sebagai suatu metode pendidikan di dunia barat atau negara-negara yang menganut sistem materalisme. Jika kaum materialisme dan liberalisme mutlak melihat pendidikan hanya pada satu aspek, yaitu keberhasilan mengentaskan persoalan kemiskinan. Kebahagiaan diletakan pada benda. Padahal, realita kehidupan melimpahnya harta benda hanya bisa menyelesaikan sebagian dari sisi kebahagiaan yang bersifat semu. Mereka mengantungkan kebahagiaan pada kemewahan dan keagungan dunia. Mereka sebenarnya menyadari kelemahan tersebut, tapi saat menyadari hal tersebut, mereka tidak mengetahui jalan-jalan ke arah tersebut. Sehingga mereka menutup kebahagiaan dengan cara-cara yang bertentangan dengan moralitas yang agung. Bahkan lebih jauh lagi, sistem pendidikan ini melahirkan gejala mental health dan menghabiskan biaya pengobatan yang menyedot biaya sangat besar. Mereka adalah generasi kaum modern yang dihancurkan oleh sistem mereka sendiri yang selalu disembah sebagai hal terbaik dalam menciptakan kemajuan dan peradaban.

Puasa telah melahirkan liberalisasi terbatas, yaitu dibatasi oleh wahyu Tuhan. Secara operasional, pendidikan Islam menerima model pendidikan dengan segala sistemnya sebagai wujud kemerdekaan manusia dalam melakukan kreasi pendidikan. Namun lembaga dan sistem pendidikan tersebut harus melahirkan manusia yang mutaqin yaitu manusia yang senantiasa melakukan kreasi-kreasi peradaban tanpa merusak peradaban itu sendiri dengan ucapan, perbuatan dan pemikirannya. Sebab pendidikan yang baik dalam kontek nilai-nilai puasa yaitu pendidikan yang mampu melahirkan kreatifitas dan keahlian yang agung dengan tetap membangun hubungan mereka dengan Sang Pencipta dengan sangat mesra. Dan Islam telah memperkenalkan kemesraan hubungan Tuhan dengan manusia dan manusia dengan manusia lain melalui nilai-nilai puasa. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876