
Para ilmuwan, guru besar dan praktisi
pendidikan telah melakukan rekayasa pendidikan melalui lembaga formal dengan
mendirikan lembaga pendidikan dari jenjang perguruan tinggi sampai ketingkat paling
rendah, pendidikan vokasi, lembaga lembaga kursus yang orientasinya mencitakan
lapangan kerja. Jumlah nya sudah tidak terhitung lagi. Mulai dari kelas elit sampai
pada level popular education yang hanya bisa menampung dari kelompok petani
dan buruh yang jumlahnya masih besar pada masyarakat Indonesia. Lembaga pendidikan
formal telah menjadi industri yang mengukur keberhasilan secara formalistic dan
sangat matematis. Indicator dari
keberhasilan pendidikan diletakan seberapa banyak alumni yang masuk di dunia
kerja. Semakin besar diterima berarti semakin baik lembaga pendidikan tersebut.
Penulis dalam beberapa waktu lalu
sering ditemui oleh orang orang dari kelas menengah. Mereka datang kepadaku
karena mengingingkan secarik kertas rekomendasi dari organisasi kebetulan penulis
artikel ini sebagai ketua di dalamnya. Mereka rata rata ingin kuliah ke luar
negeri dengan fasilitas pendidikan dan peluang kerja. Ada juga beberapa yang
kuliah di dalam negeri dengan jurusan yang cukup bergengsi seperti jurusan
kedokteran. Beberaa fakta ini menunjukan bahwa liberalisasi pendidikan telah
merambah ke seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya di perkotaan, tapi juga
telah mewabah di pedesaan. Bukan hanya pada golongan priyayi atau kaum abangan
yang sudah mapan, juga kaum santri yang berbasis kalangan pesantren.
Jika ada tahun 1980 an, penulis masih
melihat semangat orang tua di kalangan pedesaan dari kalangan petani dan kaum
buruh mengirim anak-anaknya ke pesantren. Orang tua sangat mengharapkan
putra-putrinya bisa mengerti agama dan pulang bisa mengembangkan agamanya
kepada masyarakat. Memasuki tahun 1990-an, sudah mulai mengalami pergeseran
orientasi pendidikan. Mereka mulai memasukan anak-anaknya ke lembaga pendidikan
tinggi dan berharap bisa menjadi pegawai dan masuk pada lembaga-lembaga
pemerintah.
Lembaga pendidikan terjadi
persaingan yang semakin lama sepertinya sudah tidak sehat. Berbagai peraturan
yang bertumpuk-tumpuk dari para pembuat kebijakan dan persoalan internal
lembaga pendidikan serta letak geografis sering menjadi persoalan serius dan
terkadang dilihat sebagai persoalan sentralistik. Kurikulum telah dirancang
melahirkan output pekerja dan pegawai. Nilai-nilai pendidikan yang diajarkan
oleh para leluhur tentang konsep “tut wuri handayani” telah dihempas
oleh liberalisme yang menitik beratkan pada kebebasan dan kemerdekaan
individual, serta tidak lagi terikat pada nilai-niilai yang hidup di
masyarakat. Ia bersifat individualistic dan materialistic, tapi pengaruhnya justru
meng-global dan menjadi identitas baru masyarakat dunia saat ini.
Persoalan pendidikan sebenarnya
bukan pada benda-benda fisik yang megah, tapi pada hubungan batin antara
pendidik dan peserta didik. Jika hanya pendekatan fisik, maka lembaga
pendidikan yang berada di daerah terpencil sampai hari kiamat kurang satu hari
tidak bisa bersaing dengan lembaga pendidikan yang berada di pusat perkotaan
yang telah mapan dari segi SDM dan sarana prasarananya. Ironisnya, penilaian
fisik justru sering menjadi bagian indikator untuk menentukan dan mengkatrol
lembaga pendidikan seperti bursa saham yang mudah saja berubah-rubah statusnya.
Liberalisasi pendidikan dalam Islam
tidak sebatas menciptakan manusia robot yang cerdas dan mempunyai skill, tapi
mati pada aspek sosial dan spiritual. Liberalisasi pendidikan bukan
hanya pada lembaga pendidikan formal, juga non-formal seperti pesantren tidak
bisa dihindari. Secara pelan tapi pasti mulai melupakan aspek spiritual dan
kehilangan rasa empati yang menjadi ciri khas pendidikan itu sendiri. Pendidikan
Islam merupakan gabungan dari makna tarbiyah, ta’dzib, ta’lim. Semua itu
sebenarnya mengacu kepada hadist nabi “Saya diutus untuk menyempurnakan
akhlak”.
Ketika pendidikan telah begitu bebas
tanpa kendali, maka salah satu yang tidak boleh dibiarkan liar yaitu ruh pendidikan.
Jika sistem operasional pendidikan bisa menerima darimanapun berada, tapi tidak
boleh melupakan subtansi pendidikan Islam yang menekankan pada moralitas agung
tidak boleh ditinggalkan, yang sering dikenal dengan kalimat al-muhafadzah
ala al-qadim al-shalih wa al akhdu bi’ al jadid ashlah. Sesuatu yang lama
dan baik harus dipertahankan, dan menerima hal yang baru yang lebih baik. Maka sebaik
apapun hari ini, sebenarnya sebagai estafet masa lalu yang tidak boleh putus
dengan terus-menerus melakukan perbaikan-perbaikan agar lebih baik di masa
sekarang dan masa datang.
Puasa dan
Liberalisasi Terbatas
Puasa merupakan metode pendidikan
yang secara formalistik kurang atau malah tidak diperhatikan sebagai suatu
metode pendidikan di dunia barat atau negara-negara yang menganut sistem materalisme.
Jika kaum materialisme dan liberalisme mutlak melihat pendidikan hanya pada
satu aspek, yaitu keberhasilan mengentaskan persoalan kemiskinan. Kebahagiaan diletakan
pada benda. Padahal, realita kehidupan melimpahnya harta benda hanya bisa
menyelesaikan sebagian dari sisi kebahagiaan yang bersifat semu. Mereka mengantungkan
kebahagiaan pada kemewahan dan keagungan dunia. Mereka sebenarnya menyadari
kelemahan tersebut, tapi saat menyadari hal tersebut, mereka tidak mengetahui
jalan-jalan ke arah tersebut. Sehingga mereka menutup kebahagiaan dengan
cara-cara yang bertentangan dengan moralitas yang agung. Bahkan lebih jauh
lagi, sistem pendidikan ini melahirkan gejala mental health dan
menghabiskan biaya pengobatan yang menyedot biaya sangat besar. Mereka adalah
generasi kaum modern yang dihancurkan oleh sistem mereka sendiri yang selalu
disembah sebagai hal terbaik dalam menciptakan kemajuan dan peradaban.
Puasa telah melahirkan liberalisasi
terbatas, yaitu dibatasi oleh wahyu Tuhan. Secara operasional, pendidikan Islam
menerima model pendidikan dengan segala sistemnya sebagai wujud kemerdekaan
manusia dalam melakukan kreasi pendidikan. Namun lembaga dan sistem pendidikan
tersebut harus melahirkan manusia yang mutaqin yaitu manusia yang
senantiasa melakukan kreasi-kreasi peradaban tanpa merusak peradaban itu
sendiri dengan ucapan, perbuatan dan pemikirannya. Sebab pendidikan yang baik
dalam kontek nilai-nilai puasa yaitu pendidikan yang mampu melahirkan
kreatifitas dan keahlian yang agung dengan tetap membangun hubungan mereka
dengan Sang Pencipta dengan sangat mesra. Dan Islam telah memperkenalkan
kemesraan hubungan Tuhan dengan manusia dan manusia dengan manusia lain melalui
nilai-nilai puasa.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876