
Alhamdulillah siang ini bisa silaturahim
dengan Prof Dr. H. Gamal Abdul Nasir di Ruang Ketua STAIN Bengkalis. Pertemuan ini
diabadikan oleh Dr. Jarir, Waket 1 Bidang Akademik. Ia secara diam diam mengambil
gambar kami. Meskipun tidak serius, tapi agak lumayan bagus hasilnya. Hasil jepretannya
terlihat natural. Sisa sisa keahliannya sebagai fotografer saat di Riau Pos masih
terlihat dengan baik, kini Mas Jarir sudah
konsentrasi mengabdi di STAIN Bengkalis.
Prof Gamal Abdul Nasir adalah guru besar Institut Pendidikan Sultan Hasanal Bolkiah, Universiti Brunei
Darussalam. Dulu, saya agak sering membaca tulisan tulisan karya ilmiahnya. Kajiannya
bagus dan mendalam. Tentu saja yang menjadi bertambah kagum ku terhadap profesor
pendidikan ini adalah sifat tawadhu luarbiasa. Ia benar benar menerapkan
ilmu padi. Semakin dalam ilmunya, semakin bersahaja cara berbicara dan tawadhu
dalam sikap dan perbuatannya. Wajahnya bersih dan bersinar. Rambutnya sudah
memutih. Karena pengaruh rambut yang sudah memutih ini justru semakin terlihat
wibawa ketika berbicara. Setiap kalimat
selalu mengandung ilmu. Sekitar satu jam saya mengobrol denganya, rasa-rasanya
semua berisi untaian ilmu.
Apakah memang ciri khas dari guru
besar selalu menerapkan ilmu padi?. Saya dalam hidup ini selalu ditemukan para
guru besar dan ulama yang mempunyai sifat tawadhu luarbiasa. Kadang saya dibuat
bingung olehnya. Ada seorang guru besar sangat produktif sekali menulis di buku dan
tulisan lepas di berbagai media massa. Ketika saya sowan kepadanya, dia
selalu meminta kepadaku untuk menilai isi tulisan-tulisannya. Hati saya kadang menolaknya,
bagaimana mungkin saya harus menilai karya karya nya sering saya kutip dalam buku atau tulisan tulisanku dalam bentuk
artikel atau lainnya. Hebatnya lagi, ia sangat senang sekali menerima masukanku
dan ingin memperbaiki tulisannya dimasa-masa akan datang. Tentu terdengar lucu,
tapi itulah guru besar yang telah saya temui dalam hidupku.
Ada juga guru besar yang kerjanya minta doa
kepadaku. Setiap ketemu dan mengobrol tentang persoalan kuliah dan kehidupan,
kadang ia menyelipkan permintaan agar saya mendoakan nya dan
keluarga-keluarganya. Ada juga guru besar yang melihat tulisanku dan saya
meminta untuk memeriksa tulisan-tulisanku yang amburadul, ternyata dia malah
biang “Tulisanmu sudah bagus”. Saya bingung. Saya sendiri kadang ragu
terhadap kualitas tulisanku sendiri. Namun guru besar tersebut malah mengatakan
begini;”Sepanjang kamu terus menulis, maka selama itu tulisanmu bagus. Sebab
tidak ada penulis lahir langsung menjadi penulis, mereka selalu latihan secara
terus-menerus”.
Bagi saya para guru besar yang mampir dalam
kehidupanku merupakan berkah tersendiri bagi saya. selain saya belajar dari
mereka tentang ilmu nurul yaqin, juga belajar tentang ilmu ‘ainul
yakin. Mereka bagian dari orang-orang yang mendapatkan amanah dari Allah
untuk menebarkan ilmu-ilmu-nya dalam perspektif keilmuan yang beragam. Mereka
bagian dari ulama dan ulama adalah pewaris para nabi. Maka belajar dari para
ilmuwan berarti belajar mengenal agama yang sesungguhnya. Melalui mereka, kita
bisa menerima tafsir-tafsir ayat-ayat Tuhan semakin luas dan indah.
Namun ada juga seorang ulama yang sangat
unik menurutku. Sungguh sangat unik. Ketika saya nyantri di Pesantren Darussalam
Banyuwangi Jawa Timur, sang ulama tadi selalu melarang saya ikut ngaji kitab
kuning denganya. Uniknya, yang lain boleh sedangkan saya dilarang mengaji Kitab
Kuning. Saya bingung dan gelisah jika pulang tidak bisa membaca kitab kuning. Tapi
perintah guru juga tidak boleh ditolak. Akhirnya, saya pun menuruti perintah
ulama tersebut.
Setelah pulang dari pesantren, saya terasa
sangat tidak mengetahui apa-apa. Saya sedih. Umur sudah beranjak dewasa, tapi
belum mengetahui agama secara benar. Akhirnya saya mulai belajar dari nol dan
dari guru-guru yang sebenarnya pantas menjadi adik-adiku nomor 5. Meskipun mereka
masih mudah umur belasan tahun, dan saya sudah dua puluh lebih, tetap mereka
ditempatkan sebagai seorang guru. Saya tetap mencium tangannya dan mendoakan
mereka dengan senantiasa mengirim fatehah untuk kebaikan hidupnya di dunia dan
di akherat nanti.
Akhirnya saya mulai belajar mengerti
hakikat hidup, bahwa ilmu tidak sebatas pada tataran nurul yakin dan ainul
yaqin, tapi haqqul yaqin; yaitu ilmu mengenal diri sendiri. semakin
mengenal diri sendiri semakin mengenal Allah swt. Ketika semakin mengenal Allah,
maka hidup semakin indah dalam setiap masa dan keadaan. Sebab orang-orang yang
sudah mengenal-Nya senantiasa berfikir positif atas segala karya dan ketentuan-Nya.
Sebagai penutup, saya sebagai orang yang
lebih mudah sudah sepantasnya meminta doa restu kepada profesor gamal abdul
nasir. Saya meminta keberkahan melimpah pada diriku, untuk istriku dan
anak-anakku. Alhamdulillah, doa ketulusan yang luarbiasa dilimpahkan untuk ku
dan keluargaku.
Terima kasih Prof Gamal Abdul Nasir, semoga
senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah dan juga senantiasa mendapatkan
keberkahan hidup yang melimpah.
Penulis : Imam Ghozali
Drs.Husnan
Semoga yg dilakukan ini selalu bermanfaat bagi ummat
???? Reminder- + 1.0015 BTC. Verify >> https://out
kd4amq
???? Ticket: You got a transfer NoRH79. GET >> htt
0x5tyb
???? Email; Process NoWZ24. CONTINUE => https://te
276csi
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1020
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   613
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   784
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   761
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   886
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12929
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4045
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3111
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2351