
Saat sirine berbunyi di
masjid dan mushola, saya masih di depan Laptop. Saya ingin mempraktekan tausiah
para ustadz. Katanya bulan puasa adalah bulan etos kerja, dimana pada bulan
yang agung ini seharusnya sebagai bulan peningkatan dan prestasi. Untuk memperkuat
argument, biasanya para ustadz mengutip beberapa kisah peperangan pada masa
nabi yang dimenangkan pada bulan ramadhan. Begitu juga hari kemerdekaan
Indonesia, juga terjadi di bulan ramadhan.
Kelihatanya saya gagal mempraktekan
tausiah para ustadz. Mungkin saya termasuk orang yang rugi di bulan ramadhan.
Buktinya, saya biasa-biasa saja. Rasa ‘ngantuk’ dan rasanya ingin “tidur” serta etos bekerja turun. Apakah ustadz yang ceramah tadi merasakan
seperti yang saya alami, atau telah mencapai maqam ‘etos kerja’ penuh
kesukesan?. Wallahu a’lam.
Penulis belum bisa melihat puasa
dari sudut perubahan dalam meningkatkan etos kerja. Dalam kehidupan sehari-hari
penulis menjumpai masyarakat dengan beragam pekerjaan. Orang-orang yang bekerja
di perkantoran kemungkinan tidak mengalami persoalan rasa lapar yang ekstrem dan
membahayakan bagi jiwa nya. Begitu juga orang-orang yang bekerja dengan tidak
menguras energi sangat berat seperti guru, dosen dan sejenisnya. Entah kalau
guru PAUD dan tK. Kedua jenis guru ini
biasanya sangat agresif dan menguras energi dengan menyanyikan lagu-lagu tanpa
henti agar anak-anaknya aktif dan suasana sekolah menjadi hidup. Apakah di
bulan puasa masih menggunakan pola sama seperti hari-hari biasa atau merubah
pola belajar dengan selalu “mengheningkan cipta” atau menyanyikan lagu “hymne
guru”. Atau jangan-jangan malah diliburkan, lalu pihak sekolah mengirim
pesan melalui “WA Grup Wali Murid”. Isinya: “Assalamu’alaikum wr.wb.
Para bunda yang baik hati, tolong putra-putrinya diajari doa sahur dan berbuka
puasa ya?”.
Bisa jadi libur. Anak saya nomor
tiga masih SD kelas 2 libur, nomor 4 masih TK libur. yang kelas dua SD sudah
mulai puasa. Sahur jam 04.00 WIB dinihari. Anak nomor 4 katanya puasa, sahur
jam 08.00 WIB pagi hari. Sedangkan murid-murid kelas 3 keatas masuk, tapi jam
nya dikurangi. Hal sama juga di Perguruan Tinggi ada perubahan jam mengajar. Di
perkantoran juga ada perubahan-perubahan. Rata-rata durasi kerjanya dikurangi.
Hal ini tentu berkaitan pada fisik orang yang berpuasa tidak sama dengan
orang-orang yang tidak berpuasa. Maka pemerintah membuat kebijakan bahwa
aktivitas dikurangi pada bulan ramadhan. Berbeda di pesantren tradisional, di
bulan ramadhan malah semakin padat. Hampir seluruh waktu untuk sholat dan ngaji
atau hapalan. Istirahat biasanya jam 23.30, dan bangun lagi jam 03.00 dinihari.
Bagaimana orang-orang yang bekerja
yang harus mengeluarkan energi cukup besar seperti buruh di pelabuhan,
penambang pasir, bongkar muat barang dan kerja bangunan dan sejenisnya.
Kelompok orang yang bekerja pada wilayah seperti ini biasanya bukan hanya
persoalan makan yang harus teratur, tetapi juga biasanya dibarengi dengan
makanan dan jamu tambahan. Saya pernah bertanya kepada seeorang yang bekerja di
bidang bongkar muat barang di pelabuhan tentang rahasia tenaganya bisa kuat
mengangkat barang. Katanya, “ Tiap hari harus minum jamu dan telor ayam kampung
tiga biji”. Saya jadi mikir, jika siang hari tanpa makan, minum dan tanpa jamu
telor, apa dia mempunyai tenaga?.
Persoalan para pekerja tersebut memang
telah menjadi pembahasan para ulama fiqh. Mereka mempunyai pandangan berbeda-beda. Ada yang
berpandangan orang yang bekerja berat seperti orang yang dalam keadaan sakit
yang tidak sembuh atau orang yang sudah tua, tidak puasa tapi tetap membayar fidyah. Ada juga berpendapat tetap
menjalankan ibadah puasa. jika tidak mampu saat proses pelaksanaannya, maka
boleh membatalkan puasa dan mengganti di lain waktu. Perbedaan pandangan
tersebut menunjukan bahwa persoalan puasa sangat mempengaruhi pada persoalan
kerja yang dilakukan oleh orang yang berpuasa.
Kembali lagi persoalan puasa, ketika
saya mampir di pesantren pernah melakukan puasa selama 40 hari. Puasa untuk “nirakati” kitab Alfiyah
Ibn Malik. Temanku ada puasa ngrowot, pati geni, senin-kamis, daud, ngebleng dan lain-lain. Sedang
temanku berpuasa selama 4 tahun, yaitu puasa dalail khairat. Saya
melihatnya biasa-biasa saja, badan tetap kuat, tidak sakit dan semangat kerja
normal seperti orang yang tidak berpuasa.
Jika merujuk kisah kecil di atas,
saya menilai bahwa pada masa nabi Muhammad telah menjadikan ibadah puasa
sebagai ibadah yang bergengsi. Selain karena perintah Allah, juga puasa menjadi
ritual olah batin para sahabat agar mampu mengendalikan hawa nafsu,
mengendalikan segala emosi dari segala sifat tercela pada masa itu. Tidak hanya
puasa ramadhan, tapi nabi memperkenalkan puasa-puasa selain itu seperti puasa
di bulan haji, puasa daud, puasa senin-kamis, puasa diawal bulan dan lain-lain.
Bahkan ketika melakukan kesalahan yang dilakukan oleh pasangan suami-istri di
bulan ramadhan, salah satu denda yang harus dilakukan yaitu puasa dua bulan
berturut-turut. Sebanyak amalan puasa tersebut, para sahabat berlomba-lomba
melaksanakannya sebagai bukti kecintaan kepada Rasulullah saw. Wajar sekali,
jika ritual puasa sudah menjadi kebiasaan para sahabat rasul dan melakukan
aktivitas di bulan ramadhan pun terlihat menjadi lebih ringan. Ketika
menghadapi peperangan, maka kekuatan bertambah. Selain karena sudah mempunyai
kekuatan mengelola kondisi spiritualnya, juga mempunyai keyakinan bahwa Allah
akan menolong hamba-hamba-Nya.
Kondisi sama ketika Indonesia masih
dalam masa penjajahan. Kondisi masyarakat Indonesia sebagian besar dalam garis
kemiskinan. Para orang tua dulu sering menceritakan betapa sedihnya menjalani
hidup hari demi hari untuk bisa perut terisi makanan. Saking tidak ada, kadang
“bonggol pisang” dimakan. Bahkan jika ditarik lebih jauh lagi pada masa
tahun 80-an, saya masih menemukan sulitnya pagi hari bisa sarapan nasi. Paling
sering sarapan ubi rebus dengan dicampur garam agar terasa asin. Pulang
sekolah, belum tentu orang tua masak. Jika masih ada ubi rebus sisa pagi hari di meja, maka siang hari juga
makan ubi rebus. Tidak ada lauk. Biasanya cukup dengan sayur santan daun ubi
atau sayur santan jantung pisang.
Bisa diambil suatu kesimpulan bahwa puasa
menghasilkan energi luar biasa dalam menumbuhkan perjuangan sepanjang perjalanan
sejarah peradaban masyarakat islam. pertama, melalui tradisi puasa, para santri
mampu meneruskan perjuangan para masyayikh dengan mendirikan pesantren pesantren
sebagai bentuk ‘tafaulan’ atau mengharakan keberkahan atas ilmu yang
telah ia dapat di pesantren. Salah satunya yaitu kemampuan merintis pesantren dari nol dengan mengadopsi kurikulum
pesantren induk. Konon pada masa penjajah belanda, sudah ada ratusan pesantren
tersebar di pelosok nusantara. Tradisi kemandirian pesantren tumbuh secara
alamiah disebabkan para pendirinya telah menerapkan ilmu ikhlas dan hanya
mencari ridha Allah swt. tanpa bekal selembar ijasah dan titel, mereka bersama
masyarakat mendirikan masjid dan asrama yang menjadi cikal bakal pesantren
dikemudian hari.
Itu sebabnya, salah satu lembaga pendidikan
yang sangat ditakuti oleh para penjajah adalah pesantren tradisional. Mereka berjuang
dan melawan penjanjah hanya mengharakan ridha Allah swt. Salah satu cikal bakal
lahirnya kemerdekaan Indonesia adalah berkah perjuangan para ulama dan santri
yang memunyai tradisi puasa dengan beragam bentuk puasa sebagai wujud pendekatan
diri keada Allah SWT. Kedua, ada masa nabi puasa telah menjadi materi pendidikan
yang komprehensif. Ia bukan hanya mengajarkan tentang kemanusiaan, tetapi juga
mengajarkan tentang arti kehidupan setelah kematian. Masyarakat Arab sebelum Islam
datang, perutnya penuh dengan makanan dan minuman sehingga mengalami rasa letih
dan lemah ketika melakukan perjalanan dan senantiasa tergantung kepada makanan
dan minuman sangat besar. Hidup materalistik, ingin mengharapkan
kekayaan yang melimpah dan jabatan yang mulia, tetapi disisi lain mereka takut
akan kematian. Ketika Islam datang, jiwa ketergantungan dirubah hanya kepada Allah
swt. Motor penggerak dari dalam jiwa ini menyebabkan energi para sahabat nabi
melimpah. Hidup menjadi jelas tujuannya, yaitu mendapatkan kemulyaan kampung akherat.
Kekayaan, kekuatan dan kemulyaan di dunia benar-benar digunakan untuk meraih kemulyaan
di kemudian hari (akherat).
Dari nabi, sahabat, ulama dan santri
penulis bisa belajar bahwa ketika prespektif kehidupan mulai bergeser kearah
mahabah kepada Allah dan Rasul semakin baik, maka jasmani dan ruhani orang yang
berpuasa secara pelan-pelan akan mengengrucut pada sistem kehidupan semakin
terarah dengan baik dan jelas hanya mengharap ridha-Nya. Konsekuensinya dalam
melaksanakan perintah-perintah-Nya secara totalitas tanpa adanya keraguan. Ketika
sudah dalam kondisi seperti ini, maka energi besar untuk melakukan perubahan
sudah dekat. Itu yang sering dikatakan puasa sebagai motor penggerak prestasi.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876