Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Puasa dan kearifan lokal masyarakat Indonesia



Rabu , 13 Maret 2024



Telah dibaca :  1035

Saat sirine berbunyi di masjid dan mushola, saya masih di depan Laptop. Saya ingin mempraktekan tausiah para ustadz. Katanya bulan puasa adalah bulan etos kerja, dimana pada bulan yang agung ini seharusnya sebagai bulan peningkatan dan prestasi. Untuk memperkuat argument, biasanya para ustadz mengutip beberapa kisah peperangan pada masa nabi yang dimenangkan pada bulan ramadhan. Begitu juga hari kemerdekaan Indonesia, juga terjadi di bulan ramadhan.

Kelihatanya saya gagal mempraktekan tausiah para ustadz. Mungkin saya termasuk orang yang rugi di bulan ramadhan. Buktinya, saya biasa-biasa saja. Rasa ‘ngantuk’ dan rasanya ingin “tidur” serta etos bekerja turun. Apakah ustadz yang ceramah tadi merasakan seperti yang saya alami, atau telah mencapai maqam ‘etos kerja’ penuh kesukesan?. Wallahu a’lam.

Penulis belum bisa melihat puasa dari sudut perubahan dalam meningkatkan etos kerja. Dalam kehidupan sehari-hari penulis menjumpai masyarakat dengan beragam pekerjaan. Orang-orang yang bekerja di perkantoran kemungkinan tidak mengalami persoalan rasa lapar yang ekstrem dan membahayakan bagi jiwa nya. Begitu juga orang-orang yang bekerja dengan tidak menguras energi sangat berat seperti guru, dosen dan sejenisnya. Entah kalau guru PAUD dan tK.  Kedua jenis guru ini biasanya sangat agresif dan menguras energi dengan menyanyikan lagu-lagu tanpa henti agar anak-anaknya aktif dan suasana sekolah menjadi hidup. Apakah di bulan puasa masih menggunakan pola sama seperti hari-hari biasa atau merubah pola belajar dengan selalu “mengheningkan cipta” atau menyanyikan lagu “hymne guru”. Atau jangan-jangan malah diliburkan, lalu pihak sekolah mengirim pesan melalui “WA Grup Wali Murid”. Isinya: “Assalamu’alaikum wr.wb. Para bunda yang baik hati, tolong putra-putrinya diajari doa sahur dan berbuka puasa ya?”.

Bisa jadi libur. Anak saya nomor tiga masih SD kelas 2 libur, nomor 4 masih TK libur. yang kelas dua SD sudah mulai puasa. Sahur jam 04.00 WIB dinihari. Anak nomor 4 katanya puasa, sahur jam 08.00 WIB pagi hari. Sedangkan murid-murid kelas 3 keatas masuk, tapi jam nya dikurangi. Hal sama juga di Perguruan Tinggi ada perubahan jam mengajar. Di perkantoran juga ada perubahan-perubahan. Rata-rata durasi kerjanya dikurangi. Hal ini tentu berkaitan pada fisik orang yang berpuasa tidak sama dengan orang-orang yang tidak berpuasa. Maka pemerintah membuat kebijakan bahwa aktivitas dikurangi pada bulan ramadhan. Berbeda di pesantren tradisional, di bulan ramadhan malah semakin padat. Hampir seluruh waktu untuk sholat dan ngaji atau hapalan. Istirahat biasanya jam 23.30, dan bangun lagi jam 03.00 dinihari.

Bagaimana orang-orang yang bekerja yang harus mengeluarkan energi cukup besar seperti buruh di pelabuhan, penambang pasir, bongkar muat barang dan kerja bangunan dan sejenisnya. Kelompok orang yang bekerja pada wilayah seperti ini biasanya bukan hanya persoalan makan yang harus teratur, tetapi juga biasanya dibarengi dengan makanan dan jamu tambahan. Saya pernah bertanya kepada seeorang yang bekerja di bidang bongkar muat barang di pelabuhan tentang rahasia tenaganya bisa kuat mengangkat barang. Katanya, “ Tiap hari harus minum jamu dan telor ayam kampung tiga biji”. Saya jadi mikir, jika siang hari tanpa makan, minum dan tanpa jamu telor, apa dia mempunyai tenaga?.

Persoalan para pekerja tersebut memang telah menjadi pembahasan para ulama fiqh. Mereka  mempunyai pandangan berbeda-beda. Ada yang berpandangan orang yang bekerja berat seperti orang yang dalam keadaan sakit yang tidak sembuh atau orang yang sudah tua, tidak puasa tapi tetap  membayar fidyah. Ada juga berpendapat tetap menjalankan ibadah puasa. jika tidak mampu saat proses pelaksanaannya, maka boleh membatalkan puasa dan mengganti di lain waktu. Perbedaan pandangan tersebut menunjukan bahwa persoalan puasa sangat mempengaruhi pada persoalan kerja yang dilakukan oleh orang yang berpuasa.

Kembali lagi persoalan puasa, ketika saya mampir di pesantren pernah melakukan puasa selama 40 hari.  Puasa untuk “nirakati” kitab Alfiyah Ibn Malik. Temanku ada puasa ngrowot, pati geni, senin-kamis, daud, ngebleng dan lain-lain. Sedang temanku berpuasa selama 4 tahun, yaitu puasa dalail khairat. Saya melihatnya biasa-biasa saja, badan tetap kuat, tidak sakit dan semangat kerja normal seperti orang yang tidak berpuasa.

Jika merujuk kisah kecil di atas, saya menilai bahwa pada masa nabi Muhammad telah menjadikan ibadah puasa sebagai ibadah yang bergengsi. Selain karena perintah Allah, juga puasa menjadi ritual olah batin para sahabat agar mampu mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan segala emosi dari segala sifat tercela pada masa itu. Tidak hanya puasa ramadhan, tapi nabi memperkenalkan puasa-puasa selain itu seperti puasa di bulan haji, puasa daud, puasa senin-kamis, puasa diawal bulan dan lain-lain. Bahkan ketika melakukan kesalahan yang dilakukan oleh pasangan suami-istri di bulan ramadhan, salah satu denda yang harus dilakukan yaitu puasa dua bulan berturut-turut. Sebanyak amalan puasa tersebut, para sahabat berlomba-lomba melaksanakannya sebagai bukti kecintaan kepada Rasulullah saw. Wajar sekali, jika ritual puasa sudah menjadi kebiasaan para sahabat rasul dan melakukan aktivitas di bulan ramadhan pun terlihat menjadi lebih ringan. Ketika menghadapi peperangan, maka kekuatan bertambah. Selain karena sudah mempunyai kekuatan mengelola kondisi spiritualnya, juga mempunyai keyakinan bahwa Allah akan menolong hamba-hamba-Nya.

Kondisi sama ketika Indonesia masih dalam masa penjajahan. Kondisi masyarakat Indonesia sebagian besar dalam garis kemiskinan. Para orang tua dulu sering menceritakan betapa sedihnya menjalani hidup hari demi hari untuk bisa perut terisi makanan. Saking tidak ada, kadang “bonggol pisang” dimakan. Bahkan jika ditarik lebih jauh lagi pada masa tahun 80-an, saya masih menemukan sulitnya pagi hari bisa sarapan nasi. Paling sering sarapan ubi rebus dengan dicampur garam agar terasa asin. Pulang sekolah, belum tentu orang tua masak. Jika masih ada ubi rebus  sisa pagi hari di meja, maka siang hari juga makan ubi rebus. Tidak ada lauk. Biasanya cukup dengan sayur santan daun ubi atau sayur santan jantung pisang.

Bisa diambil suatu kesimpulan bahwa puasa menghasilkan energi luar biasa dalam menumbuhkan perjuangan sepanjang perjalanan sejarah peradaban masyarakat islam. pertama, melalui tradisi puasa, para santri mampu meneruskan perjuangan para masyayikh dengan mendirikan pesantren pesantren sebagai bentuk ‘tafaulan’ atau mengharakan keberkahan atas ilmu yang telah ia dapat di pesantren. Salah satunya yaitu kemampuan merintis  pesantren dari nol dengan mengadopsi kurikulum pesantren induk. Konon pada masa penjajah belanda, sudah ada ratusan pesantren tersebar di pelosok nusantara. Tradisi kemandirian pesantren tumbuh secara alamiah disebabkan para pendirinya telah menerapkan ilmu ikhlas dan hanya mencari ridha Allah swt. tanpa bekal selembar ijasah dan titel, mereka bersama masyarakat mendirikan masjid dan asrama yang menjadi cikal bakal pesantren dikemudian hari.

Itu sebabnya, salah satu lembaga pendidikan yang sangat ditakuti oleh para penjajah adalah pesantren tradisional. Mereka berjuang dan melawan penjanjah hanya mengharakan ridha Allah swt. Salah satu cikal bakal lahirnya kemerdekaan Indonesia adalah berkah perjuangan para ulama dan santri yang memunyai tradisi puasa dengan beragam bentuk puasa sebagai wujud pendekatan diri keada Allah SWT. Kedua, ada masa nabi puasa telah menjadi materi pendidikan yang komprehensif. Ia bukan hanya mengajarkan tentang kemanusiaan, tetapi juga mengajarkan tentang arti kehidupan setelah kematian. Masyarakat Arab sebelum Islam datang, perutnya penuh dengan makanan dan minuman sehingga mengalami rasa letih dan lemah ketika melakukan perjalanan dan senantiasa tergantung kepada makanan dan minuman sangat besar. Hidup materalistik, ingin mengharapkan kekayaan yang melimpah dan jabatan yang mulia, tetapi disisi lain mereka takut akan kematian. Ketika Islam datang, jiwa ketergantungan dirubah hanya kepada Allah swt. Motor penggerak dari dalam jiwa ini menyebabkan energi para sahabat nabi melimpah. Hidup menjadi jelas tujuannya, yaitu mendapatkan kemulyaan kampung akherat. Kekayaan, kekuatan dan kemulyaan di dunia benar-benar digunakan untuk meraih kemulyaan di kemudian hari (akherat).

Dari nabi, sahabat, ulama dan santri penulis bisa belajar bahwa ketika prespektif kehidupan mulai bergeser kearah mahabah kepada Allah dan Rasul semakin baik, maka jasmani dan ruhani orang yang berpuasa secara pelan-pelan akan mengengrucut pada sistem kehidupan semakin terarah dengan baik dan jelas hanya mengharap ridha-Nya. Konsekuensinya dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya secara totalitas tanpa adanya keraguan. Ketika sudah dalam kondisi seperti ini, maka energi besar untuk melakukan perubahan sudah dekat. Itu yang sering dikatakan puasa sebagai motor penggerak prestasi.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876