Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Puasa dan Mengintip Rahasia Ilmu Laduni



Sabtu , 06 April 2024



Telah dibaca :  1807

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan dialog saya dengan Prof Dr. H. Gamal Abdul Nasir Zakaria yang diberi judul “puasa dan ilmu padi”. Saya kemudian hari baru tahu bahwa nama yang paling belakangnya adalah nama orang tuanya. Penulis artikel ini jadi teringat dengan Presiden Mesir kedua bernama Gamal Abdul Naseer. Ia  presiden yang paripurna dalam karir  dan pemikiran politiknya dalam membangun modernisasi Mesir. Bisa jadi, orang tua dari Prof Gamal “tafaulan”atau berharap berkah dari nama presiden Mesir. Sama seperti orang tua saya memberi nama Imam Ghozali juga tafaulan dari seorang ulama besar Islam yang bergelar hujatul Islam.

Setelah pertemuan hari kedua di STAIN Bengkalis ada keinginan untuk menulis hasil dialog dengannya. Namun setelah pertemuan tersebut, saya masuk ke ruang kerja dan tertidur. Setelah bangun disibukan lagi beberapa pertemuan dengan sahabat sahabat saya yang hebat-hebat yaitu  dua pimpinan jurusan syariah dan ekonomi Islam dan tarbiyah dan pendidikan Islam. Kami mendiskusikan persoalan sekitar pendidikan. Akhirnya pagi hari setelah sholat subuh (Sabtu, 06 April 2204) saya menulis sebagian isi dari pertemuan dengan nya.

Pada pertemuan kedua saya sedikit kaget. sebab pertemuan kedua merupakan subtansi dari pertemuan pertama. Sebagaimana tulisan pertama, saya menerangkan tentang sifat tawadhu dari Prof Gamal dan para Profesor yang pernah saya temui beberaa waktu yang lalu. Uniknya, Ia pada pertemuan kedua menceritakan tentang doa yang ia panjatkan setelah mendapatkan gelar doktor di UKM. Isi doa nya kurang lebih begini, “Ya Allah setelah kami lulus dari program doktor, jadikanlah kami hamba yang senantiasa tawadhu atas karunia yang engkau berikan”. Saya kaget, ucapan ini seolah olah ada hubungan spiritual antara tulisan saya dengan pengalaman sepiritualnya. Laksana aliran listrik yang saling mempertemukan keduanya dan hasil energi berupa tulisan yang memancarkan nilai nilai tersebut. Apakah ini sebuah kebetulan, wallahu alam. Sebab Tuhan menciptakan segala sesuatu tidak ada yang kebetulan. Semua telah dirancang sesusai dengan aturan aturannya.

Pada pertemuan kedua, kami fokus membahas pendidikan dan ilmu. pendidikan merupakan “sebagai sebuah proses perubahan”. Ada perubahan secara evolusi, ada evolusi dipercepat, ada juga perubahan secara revolusi. Orang tua kita dulu memandang pendidikan sebagai evolusi; yaitu perubahan secara pelan-pelan dan konsisten sehingga menemukan suatu kesempurnaan. Pada zaman dulu, anak anak sejak kecil telah mendapatkan pendidikan moral atau akhlak. Para orang tua dulu telah memperkenalkan secara praktek tentang cara berbicara dihadapan orang tua, berjalan di depan orang lebih mulia, sikap ketika berdiri di tengah pintu, dan lain-lain. orang tua kita dulu jarang sekali berbicara dalil ketika mendidik anak-anaknya. Perilaku orang tuanya atau gurunya sudah menjadi dalil tersendiri. Guru berarti “digugu” dan “ditiru”. Ketika mereka melintas di depan kita, maka ada rasa kagum, hormat dan malu menjadi satu.

Kini para pendidik kelihatannya mengalami kesusahan ketika semua referensi kehidupan yang bersumber dari syariat Islam sudah terbentang luas di hadapan mereka. para peserta didik dan bahkan bisa jadi sebagian dari anak-anak kita sudah tidak lagi mencerminkan moralitas yang agung. Padahal, para pendidik telah mendapatkan lisensi sebagai seorang sarjana pendidikan atau sudah mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi. mereka mengalami kebingungan, mengapa mereka bisa gagal mendidik anak-anak nya dan para peserta didik, sedangkan orang tua dulu bisa berhasil mendidik anak-anaknya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh nya.

“Mengapa bisa demikian” saya mengajukan pertanyaan kepada Prof Gamal. “Itulah keberkahan” jawabnya singkat. Dia merasakan tentang keberkahan pendidikan yang diberikan oleh para guru dan orang tua nya saat masih remaja. Saya setuju pendapatnya. Kata “berkah” adalah jawaban tepat untuk menyederhanakan penjelasan proses pendidikan yang dilakukan orang tua pada masa dulu. Penulis menilai bahwa keberkahan muncul disebabkan adanya “pengakuan diri” atas segala kekurangan dan “ketulusan diri” dalam melaksanakan proses pendidikan dan transfer ilmu pengetahuan. Dua sikap yang dimiliki oleh para pendidik dan orang tua dulu lahir dari pengakuan diri merasa keterbatasan diri ilmu pengetahuan dan jeritan hati ingin mendidikan anak-anaknya agar menjadi manusia yang sesungguhnya. Luapan hati yang suci ini kemudian hari melahirkan apa yang disebut “ilmu laduni”, yaitu terbukanya (futuh) hati dari dari nur-nur ilmu pengetahuan yang suci. Sehingga sikap, ucapan dan perbuatannya telah berwujud menjadi ilmu pengetahuan. Duduk, diam dan bicaranya telah menjadi ilmu.

Saya menilai bahwa orang tua kita dalam mendidik anak-anaknya atau guru-guru kita dalam mendidik murid-muridnya menggunakan tiga pendekatan; pertama, pendekatan mahabah kepada Tuhannya (aamanu); kedua pendekatan pendidikan berbasis inovasi yang memberi kemanfaatan (amalun sholihun); dan ketiga adanya budaya akademik yang terbuka, yaitu saling diskusi secara berkualitas (tawasaubil haq wa sabr).

Pertama berkaitan pendekatan mahabbah adalah Konsep pendidikan yang menempatkan dasar iman sebagai pusat segala visi pendidikan universal. Visi tersebut sangat jelas dan menukik yaitu memurnikan atau pengesaan kepada Allah swt.  Ketika manusia telah memantapkan keimanan hanya kepada-Nya, maka ia telah mempunyai tujuan hidup yang jelas yaitu beribadah, bekerja, dan beraktivitas hanya semata mata mencari ridha Allah swt.

Berbeda dengan kapitalisme dan sosialisme. Meskipun keduanya mempunyai visi yang jelas yaitu materialisme dan mampu menyusun kurikulum pendidikan yang berkualitas saat sekarang ini serta mampu melahirkan out put pendidikan yang sempurna dalam keduniaan. Namun hakikatnya mereka menuju pada perjalanan kehidupan penuh dengan  kebingungan dan kehilangan kebahagiaan hakiki.

Hari kita menemukan kekeringan jiwa melanda. Saat mereka telah mendapat kenikmatan dunia dengan sangat bebas, jiwa-jiwa mereka menangis sedih dan tidak menemukan jawaban yang tepat. Hal ini berangkat dari kesalahan pada visi nya yaitu kebahagiaan diletakan hanya pada dunia. padahal dunia sebenarnya bagian dari kebahagiaan yang bersifat fana. Maka siapapun yang sudah mendapatkan kebahagiaan karena dunia, maka ia akan mengalami suatu kekosongan jiwa dan berdampak pada gangguan-gangguan kejiwaan.  

Kedua, pendekatan pendidikan berbasis inovasi yang memberi manfaat. Islam meletakan prestasi setelah iman. Konsekuensi logisnya, bahwa prestasi-prestasi kehidupan yang dihasilkan seyogyanya bersandar kepada iman yang kuat dan melahirkan dua kebahagiaan; pertama kebahagiaan atas prestasi yang optimal dan kedua kebahagiaan atas ketenangan hati yang benar. Kebahagiaan merupakan kebutuhan dasar manusia. Kebahagiaan yang selalu dibutuhkan oleh manusia tidak boleh bertentangan dengan naluri manusia yang senantiasa menginginkan kehadiran Tuhan. Sebab hanya bersandar kepada-Nya, manusia bisa mendapatkan hakikat kebahagiaan. Pola kebahagiaan seperti ini yang kemudian melahirkan sifat tawadhu’ seseorang ketika mendapatkan kenikmatan yang melimpah di dunia. Semakin banyak kenikmatan dicurahkan kepada orang tersebut, maka semakin tinggi tawadhu kepada-Nya. Tuhan telah berfirman,”Barangsiapa yang bersyukur kepada-ku niscaya akan kami tambah nikmat Mu”.

Ketiga, pendekatan diskusi. Pendidikan sebenarnya dialog, bukan sebatas monolog. Islam mengajarkan bahwa antara pendidik dan peserta didik sama-sama aktif. Konsepnya jelas, “wasafirhum fil amri”. Para sahabat nabi dan para tabi’in serta para ilmuwan yang pernah lahir pada masanya lahir dari forum-forum dialog ilmiah. Mereka memastikan bahwa dialog mempunyai potensi pendapat berbeda, namun dialog yang diasari argument-argumen ilmiah sebagaimana yang dilakukan oleh para ilmuan madzab empat, adalah sebuah kekayaan intelektual yang agung. Mereka bisa mempunyai kebebasan untuk mengkaji ilmu dari segala aspek dengan berdialog, sehingga ilmu akan terus berkembang. Namun ketika forum dialog buntu, kemunduran secara pelan tapi pasti akan terjadi dengan sendirinya.

Ketika asyik berdialog, tiba-tiba ketua STAIN Bengkalis, Dr. Abu Anwar datang di forum diskusi. Saya pun menghentikan dialog. Acara visiting profesor pun segera dimulai. Saya mempersilahkan kepada Prof Gamal untuk menempatkan tempat yang telah disediakan. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1074

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   641

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   821

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   796

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   927

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13790


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4834


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3212