
Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan
dialog saya dengan Prof Dr. H. Gamal Abdul Nasir Zakaria yang diberi judul “puasa
dan ilmu padi”. Saya kemudian hari baru tahu bahwa nama yang paling belakangnya
adalah nama orang tuanya. Penulis artikel ini jadi teringat dengan Presiden
Mesir kedua bernama Gamal Abdul Naseer. Ia
presiden yang paripurna dalam karir
dan pemikiran politiknya dalam membangun modernisasi Mesir. Bisa jadi,
orang tua dari Prof Gamal “tafaulan”atau berharap berkah dari nama presiden
Mesir. Sama seperti orang tua saya memberi nama Imam Ghozali juga tafaulan
dari seorang ulama besar Islam yang bergelar hujatul Islam.
Setelah pertemuan hari kedua di STAIN
Bengkalis ada keinginan untuk menulis hasil dialog dengannya. Namun setelah pertemuan
tersebut, saya masuk ke ruang kerja dan tertidur. Setelah bangun disibukan lagi
beberapa pertemuan dengan sahabat sahabat saya yang hebat-hebat yaitu dua pimpinan jurusan syariah dan ekonomi Islam
dan tarbiyah dan pendidikan Islam. Kami mendiskusikan persoalan sekitar pendidikan.
Akhirnya pagi hari setelah sholat subuh (Sabtu, 06 April 2204) saya menulis sebagian
isi dari pertemuan dengan nya.
Pada pertemuan kedua saya sedikit kaget.
sebab pertemuan kedua merupakan subtansi dari pertemuan pertama. Sebagaimana
tulisan pertama, saya menerangkan tentang sifat tawadhu dari Prof Gamal dan para
Profesor yang pernah saya temui beberaa waktu yang lalu. Uniknya, Ia pada pertemuan
kedua menceritakan tentang doa yang ia panjatkan setelah mendapatkan gelar doktor
di UKM. Isi doa nya kurang lebih begini, “Ya Allah setelah kami lulus dari program
doktor, jadikanlah kami hamba yang senantiasa tawadhu atas karunia yang engkau
berikan”. Saya kaget, ucapan ini seolah olah ada hubungan spiritual antara
tulisan saya dengan pengalaman sepiritualnya. Laksana aliran listrik yang
saling mempertemukan keduanya dan hasil energi berupa tulisan yang memancarkan
nilai nilai tersebut. Apakah ini sebuah kebetulan, wallahu alam. Sebab Tuhan
menciptakan segala sesuatu tidak ada yang kebetulan. Semua telah dirancang
sesusai dengan aturan aturannya.
Pada pertemuan kedua, kami fokus membahas pendidikan
dan ilmu. pendidikan merupakan “sebagai sebuah proses perubahan”. Ada perubahan
secara evolusi, ada evolusi dipercepat, ada juga perubahan secara revolusi.
Orang tua kita dulu memandang pendidikan sebagai evolusi; yaitu perubahan
secara pelan-pelan dan konsisten sehingga menemukan suatu kesempurnaan. Pada
zaman dulu, anak anak sejak kecil telah mendapatkan pendidikan moral atau
akhlak. Para orang tua dulu telah memperkenalkan secara praktek tentang cara
berbicara dihadapan orang tua, berjalan di depan orang lebih mulia, sikap
ketika berdiri di tengah pintu, dan lain-lain. orang tua kita dulu jarang
sekali berbicara dalil ketika mendidik anak-anaknya. Perilaku orang tuanya atau
gurunya sudah menjadi dalil tersendiri. Guru berarti “digugu” dan “ditiru”.
Ketika mereka melintas di depan kita, maka ada rasa kagum, hormat dan malu
menjadi satu.
Kini para pendidik kelihatannya mengalami
kesusahan ketika semua referensi kehidupan yang bersumber dari syariat Islam
sudah terbentang luas di hadapan mereka. para peserta didik dan bahkan bisa
jadi sebagian dari anak-anak kita sudah tidak lagi mencerminkan moralitas yang agung.
Padahal, para pendidik telah mendapatkan lisensi sebagai seorang sarjana
pendidikan atau sudah mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi. mereka
mengalami kebingungan, mengapa mereka bisa gagal mendidik anak-anak nya dan
para peserta didik, sedangkan orang tua dulu bisa berhasil mendidik
anak-anaknya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh nya.
“Mengapa bisa demikian” saya mengajukan pertanyaan kepada Prof
Gamal. “Itulah keberkahan” jawabnya singkat. Dia merasakan tentang keberkahan
pendidikan yang diberikan oleh para guru dan orang tua nya saat masih remaja. Saya
setuju pendapatnya. Kata “berkah” adalah jawaban tepat untuk menyederhanakan
penjelasan proses pendidikan yang dilakukan orang tua pada masa dulu. Penulis menilai
bahwa keberkahan muncul disebabkan adanya “pengakuan diri” atas segala kekurangan
dan “ketulusan diri” dalam melaksanakan proses pendidikan dan transfer ilmu
pengetahuan. Dua sikap yang dimiliki oleh para pendidik dan orang tua dulu
lahir dari pengakuan diri merasa keterbatasan diri ilmu pengetahuan dan jeritan
hati ingin mendidikan anak-anaknya agar menjadi manusia yang sesungguhnya. Luapan
hati yang suci ini kemudian hari melahirkan apa yang disebut “ilmu laduni”,
yaitu terbukanya (futuh) hati dari dari nur-nur ilmu pengetahuan yang
suci. Sehingga sikap, ucapan dan perbuatannya telah berwujud menjadi ilmu
pengetahuan. Duduk, diam dan bicaranya telah menjadi ilmu.
Saya menilai bahwa orang tua kita dalam
mendidik anak-anaknya atau guru-guru kita dalam mendidik murid-muridnya
menggunakan tiga pendekatan; pertama, pendekatan mahabah kepada Tuhannya (aamanu);
kedua pendekatan pendidikan berbasis inovasi yang memberi kemanfaatan (amalun
sholihun); dan ketiga adanya budaya akademik yang terbuka, yaitu saling
diskusi secara berkualitas (tawasaubil haq wa sabr).
Pertama berkaitan pendekatan mahabbah
adalah Konsep pendidikan yang menempatkan dasar iman sebagai pusat segala visi
pendidikan universal. Visi tersebut sangat jelas dan menukik yaitu memurnikan atau
pengesaan kepada Allah swt. Ketika
manusia telah memantapkan keimanan hanya kepada-Nya, maka ia telah mempunyai
tujuan hidup yang jelas yaitu beribadah, bekerja, dan beraktivitas hanya semata
mata mencari ridha Allah swt.
Berbeda dengan kapitalisme dan sosialisme.
Meskipun keduanya mempunyai visi yang jelas yaitu materialisme dan mampu
menyusun kurikulum pendidikan yang berkualitas saat sekarang ini serta mampu
melahirkan out put pendidikan yang sempurna dalam keduniaan. Namun
hakikatnya mereka menuju pada perjalanan kehidupan penuh dengan kebingungan dan kehilangan kebahagiaan
hakiki.
Hari kita menemukan kekeringan jiwa melanda.
Saat mereka telah mendapat kenikmatan dunia dengan sangat bebas, jiwa-jiwa
mereka menangis sedih dan tidak menemukan jawaban yang tepat. Hal ini berangkat
dari kesalahan pada visi nya yaitu kebahagiaan diletakan hanya pada dunia.
padahal dunia sebenarnya bagian dari kebahagiaan yang bersifat fana. Maka
siapapun yang sudah mendapatkan kebahagiaan karena dunia, maka ia akan
mengalami suatu kekosongan jiwa dan berdampak pada gangguan-gangguan kejiwaan.
Kedua, pendekatan pendidikan berbasis
inovasi yang memberi manfaat. Islam meletakan prestasi setelah iman.
Konsekuensi logisnya, bahwa prestasi-prestasi kehidupan yang dihasilkan
seyogyanya bersandar kepada iman yang kuat dan melahirkan dua kebahagiaan;
pertama kebahagiaan atas prestasi yang optimal dan kedua kebahagiaan atas
ketenangan hati yang benar. Kebahagiaan merupakan kebutuhan dasar manusia.
Kebahagiaan yang selalu dibutuhkan oleh manusia tidak boleh bertentangan dengan
naluri manusia yang senantiasa menginginkan kehadiran Tuhan. Sebab hanya
bersandar kepada-Nya, manusia bisa mendapatkan hakikat kebahagiaan. Pola
kebahagiaan seperti ini yang kemudian melahirkan sifat tawadhu’ seseorang
ketika mendapatkan kenikmatan yang melimpah di dunia. Semakin banyak kenikmatan
dicurahkan kepada orang tersebut, maka semakin tinggi tawadhu kepada-Nya. Tuhan
telah berfirman,”Barangsiapa yang bersyukur kepada-ku niscaya akan kami tambah
nikmat Mu”.
Ketiga, pendekatan diskusi. Pendidikan sebenarnya
dialog, bukan sebatas monolog. Islam mengajarkan bahwa antara pendidik dan
peserta didik sama-sama aktif. Konsepnya jelas, “wasafirhum fil amri”. Para
sahabat nabi dan para tabi’in serta para ilmuwan yang pernah lahir pada masanya
lahir dari forum-forum dialog ilmiah. Mereka memastikan bahwa dialog mempunyai
potensi pendapat berbeda, namun dialog yang diasari argument-argumen ilmiah
sebagaimana yang dilakukan oleh para ilmuan madzab empat, adalah sebuah
kekayaan intelektual yang agung. Mereka bisa mempunyai kebebasan untuk mengkaji
ilmu dari segala aspek dengan berdialog, sehingga ilmu akan terus berkembang. Namun
ketika forum dialog buntu, kemunduran secara pelan tapi pasti akan terjadi
dengan sendirinya.
Ketika asyik berdialog, tiba-tiba ketua STAIN
Bengkalis, Dr. Abu Anwar datang di forum diskusi. Saya pun menghentikan dialog.
Acara visiting profesor pun segera dimulai. Saya mempersilahkan kepada Prof
Gamal untuk menempatkan tempat yang telah disediakan.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1074
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   641
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   821
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   796
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   927
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13790
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4834
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3824
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3493
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3212