
Perang badar bagi sahabat-sahabat nabi mempunyai kenangan tersendiri yang sulit dilupakan. Mereka menyaksikan sendiri
kedahsyatan perang badar dan menjadi bagian pelakunya sehingga memenangkan peperangan
tersebut sebagai prestasi yang sangat agung. Sebenarnya secara strategi peperangan, umat Islam pada dua situasi yang kurang menguntungkan; pertama peperangan
tersebut terjadi di bulan ramadhan saat umat nabi dalam keadaan puasa; kedua
jumlah pasukan Islam hanya sepertiga dari pasukan orang kafir Qurayis. Maka, para
sahabat melihat peristiwa tersebut sebagai jihad yang mempunyai prestasi sangat spektakuler. Laksana film Rambo melawan pasukan Viet Cong Vietnam. Jelas tidak masuk akal. Bagaimana bisa
seorang Rambo bisa mengalahkan puluhan pasukan Viet Cong Vietnam yang sudah
terlatih di rawa-rawa dan ia mampu membunuh seluruh pasukan Vietnam dengan
hanya satu senapan panjang laras. Jangan-jangan Rambo pernah belajar Ajian Brajamusti sama Arya Kamandanu atau Joko Tingkir. Sekali
bentak, pasukan Vietnam mati semua. Atau
bisa jadi, ia pernah belajar Ajian Pancasona warisan Raja Dasamuka yang dipanah
oleh Ramajaya tidak mati-mati. Meskipun kepalanya lepas dari tubuhnya, tapi ia bisa menyatu lagi
dengan tubuhnya.
Padahal realitanya tidak demikian. Medan perangnya yang didominasi oleh hutan hujan yang lebat dan
rawa-rawa, sekalipun ada tanah yang lapang, biasanya didominasi oleh padang
sabana yang terkoneksi dengan lahan gambut dan rawa-rawa khas daerah tropis.
Atau juga areal persawahan yang luas karena memang kultur masyarakat Vietnam
saat itu yang memang agraris. Kondisi medan yang sangat menguntungkan pasukan
Vietnam. Dalam catatan sejarah, ada sekitar 15.000 pasukan AS mati. Namun media
massa AS telah menguasai dunia. Meskipun AS mengklaim menang, realita sejarah menguak perang tersebut sebagai perang yang sangat memalukan tentara AS.
Kembali lagi pada persoalan perang
badar. Ketika para sahabat merasa ada suatu kebanggaan yang menyelinap dalam
hati pada diri mereka, maka nabi Muhammad mengatakan bahwa ada jihad yang lebih
besar lagi dari perang badar. Para sahabat bertanya tentang gerangan tersebut.
Nabi menjawab, “jihad melawan hawa nafsu”. Perkataan kanjeng nabi Muhammad
menunjukan bahwa hakikat kekuatan manusia pada nafsu dan akalnya. Sedangkan
jasad tubuh hanya sebatas rongsokan yang akan mengikuti arah keduanya. Mana
yang dominan menguasai tubuhnya, ke arah itu juga tubuh akan berlabuh. Manusia
terlihat hebat karena akal nya. ia juga bisa terpuruk karena nafsunya.
Seseorang secara formalitas bisa saja memenuhi kualifikasi menjadi seorang
pemenang, namun karena terlalu bertumpu pada arogansi nafsu, maka akal pikiran
tidak bisa berjalan dengan normal. Sehingga keseimbangan jalan berfikirnya
tidak utuh. Akibatnya, ketika terjadi suatu peristiwa mengenai dirinya, ia
tidak mempunyai kesiapan secara sempurna. Maka, kekalahan pun bisa terjadi.
Saat ini penulis membaca dan menyaksikan
kejadian-kejadian yang menceritakan kekalahan akal oleh nafsu. Penulis telah menyaksikan dalam alam nyata dan media dengan beragam warna telah mencatat para pejabat dan orang-orang yang terkenal di sekitar
kita dari berbagai kalangan profesi. Saat masa jayanya, hampir semua melihat
sebagai orang yang sangat beruntung. Dunia seolah-olah tunduk pada dirinya.
Namun tidak disangka, pada saat tertentu muncul serangan nafsu menyelinap dalam
hatinya. Seluruh hatinya, sudah diselimuti oleh bunga-bunga manisnya dunia dan
sejenisnya. Akhirnya ia hancur lebur oleh pelukan nafsu.
Padahal orang-orang sukses di atas
yang kini hancur adalah dulu orang-orang yang mampu melawan nafsu dengan sangat
hebat. Saat masih menjadi manusia biasa-biasa saja, pintu langit selalu diketuk
setiap saat. Sandaran kepada-Nya secara totalitas. Rasa ketidakperdayaan di hadapan Allah
benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya, Tuhan pun
mengangkat derajatnya dengan sedikit kenikmatan yang diberikan oleh-Nya berupa
harta, jabatan dan kekuasaan. Perhiasan dunia benar-benar sering menjadi manusia
kehilangan cahaya-cahaya ilahiyah dalam hatinya. Ia redup oleh cahaya-cahaya
palsu dari kerlap-kerlip perhiasan dunia.
Perkataan nabi bahwa “jihad terbesar
yaitu melawan hawa nafsu” adalah suatu pesan penting bagi umat Islam. Puasa
sebagai training center untuk mencapai tingkatan nafsu yang mahmudah
atau mutmainah merupakan proses jihad yang sangat berat dan harus
terus-menerus dilanjutkan sampai kapanpun. Puasa hanya tempat latihan. Hakikat
perjuangan atau jihad sebenarnya pasca puasa. jika hari ini kita bisa melawan
hawa nafsu karena kondisi-situasi, dan lingkungan mendukung. Berbeda ketika di
luar puasa, karakter seseorang lebih terlihat keasliannya terhadap segala
respon yang ada pada dirinya. Ketika seseorang berhasil, maka jihad seseorang berhasil
menundukan hawa nafsunya.
Jihad merupakan bagian dari wasilah
bukan suatu tujuan. Dalam tulisannya yang sedikit panjang, Sayyid Bakri bin
Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyati Asy-Syafi’i berkata di dalam kitab Hasyiyah
‘Ianatut Thalibin mengatakan: “Kewajiban jihad adalah washilah (perantara)
bukan tujuan, karena tujuan perang aslinya adalah memberi hidayah/petunjuk
kebenaran. Oleh sebab itu membunuh orang-orang kafir bukanlah tujuan yang
sebenarnya sehingga seandainya hidayah bisa disampaikan dan dihasilkan dengan
menunjukan dalil-dalil tanpa berperang, maka hal ini lebih utama daripada
berperang”,
Perkataan Sayyid Dimyati tersebut
menarik perhatian. Penulis menilai bahwa paradigma jihad yang sering dimaknai
oleh sebagian kelompok sebagai “qital ‘ala kufar” untuk seluruh manusia
yang tidak sependapat dengannya merupakan pemahaman keliru. Mereka memandang
bahwa allah memerintah jihad merupakan tujuan yang harus dilakukan dengan
melakukan pengrusakan, pemaksaan kehendak, dan persekusi atau peperangan
terhadap kelompok-kelompok yang tidak sependapat dengan mereka.
Sayyid Dimyati memberi paradigma
sangat modern tentang makna jihad sebagai metode untuk berdakwah. Karena ia
sebagai metode berdakwah, maka seorang mujahid harus bisa sebagai seorang
mujtahid yaitu kemampuan yang baik dalam menjelaskan argumentasi-argumentasi
tentang agama Islam. Sehingga non-muslim mampu melihat Islam sebagai solusi
segala kehidupan baik urusan berkaitan dengan ibadah maupun dengan masalah
muamalah atau sosial-kemasyarakatan. Tapi
ironisnya, sebagian umat Islam lebih mahir memahami persoalan-persoalan
lorong-lorong langit dan bingung memahami jalan-jalan di dunia. Perilaku yang
sangat ironis sekali yang terjadi dalam dunia Islam saat sekarang ini.
Syeikh zainuddin al-malibari dalam
kitab fathul mu’in dia menjelaskan tentang hukum jihad adalah fardhu kifayah. Diantara
jihad yang berdimensi fardhu kifayah yaitu: pertama kaqiyaamin bihujajji
diiniyyati (menegakan argumentasi yang dengan hujah yang bersumber dari
ajaran Islam). Argumentasi sebagai metode mendapatkan suatu kebenaran harus bersumber
dari ajaran Islam. Seorang muslim ketika memberikan pandangan-pandangan tentang
persoalan-persoalan kehidupan yang begitu luas harus bisa menerapkan
rahasia-rahasia Al-Qur’an dari setiap pendapat yang terangkum dalam tulisan di
berbagai media ataupun di mimbar-mimbar dalam beragam forum. Sehingga orang
bisa melihat perbedaan argumentasi yang berasal dari wahyu tuhan dan hanya
sebatas permainan akal semata. Tradisi ini yang senantiasa dilakukan oleh para
ulama pada masa dulu. Kedua, wa’ulumi syar’iyatin (memperdalam ilmu-ilmu
agama). Islam memperkenalkan konsep ilmu agama (‘ulumuddin) tidak sebatas pada
persoalan ibadah, tapi juga berkaitan dengan persoalan sosial-kemasyarakatan
yang mencakup beragam aspek seperti pendidikan, ekonomi, politik dan lain-lain.
Tentu saja, Al-Qur’an tidak menyediakan seperangkat struktur ilmu
sosial-kemasyarakatan secara lengkap. Namun Islam telah memberikan suatu
perintah untuk senantiasa melakukan kajian-kajian ilmiah berkaitan dengan
hal-hal yang menyangkut persoalan yang bersifat duniawiyyah. Ketiga, wadaf’i
dhararin ma’sumin (menjadi solusi dalam menolak madharat bagi masyarakat
luas). Islam sebagai agama solusi. Namun sebagian dari mereka melihat solusi
hanya sebatas pada persoalan hubungan dengan sang pencipta. Betapa banyak
persoalan yang terjadi senantiasa melihat dari perspektif spiritual dan
mengabaikan hal-hal yang bersifat operasional. Akibatnya, umat Islam senantiasa
mengalami traumatic sepanjang sejarah. Persaingan peradaban yang pernah
diraih oleh umat Islam bergeser ke barat dan asia seperti cina, jepang dan korea.
Negara-negara tersebut yang sebelumnya belajar ke negara Islam kini telah
menjadi kekuatan besar dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi. Sehingga
ajaran Islam di dunia Islam sendiri sebagai suatu kajian yang indah tapi tidak
bisa secara luas sebagai solving problem permasalahan umat modern dewasa
ini.
Walhasil, dari paparan pendapat
kedua kitab klasik penulis bisa memahami bahwa puasa sebenarnya memperkenalkan
jihad versi modern yaitu kemampuan melahirkan manusia-manusia baru dalam
melihat jihad sebagai perjuangan dalam membangun peradaban. Jika ini berhasil,
maka sudah tidak perlu lagi tentang peperangan dan penaklukan umat manusia. Sebab
dengan kekuatan ilmu dan teknologi, seluruh manusia akan takluk dengan
sendirinya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876