Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Puasa dan Tafsir lain dari Jihad



Senin , 18 Maret 2024



Telah dibaca :  510

Perang badar bagi sahabat-sahabat nabi mempunyai kenangan tersendiri yang sulit dilupakan. Mereka menyaksikan sendiri kedahsyatan perang badar dan menjadi bagian pelakunya sehingga memenangkan peperangan tersebut sebagai prestasi yang sangat agung. Sebenarnya secara strategi peperangan, umat Islam pada dua situasi yang kurang menguntungkan; pertama peperangan tersebut terjadi di bulan ramadhan saat umat nabi dalam keadaan puasa; kedua jumlah pasukan Islam hanya sepertiga dari pasukan orang kafir Qurayis. Maka, para sahabat melihat peristiwa tersebut sebagai jihad yang mempunyai prestasi  sangat spektakuler. Laksana film Rambo melawan pasukan Viet Cong Vietnam.  Jelas tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang Rambo bisa mengalahkan puluhan pasukan Viet Cong Vietnam yang sudah terlatih di rawa-rawa dan ia mampu membunuh seluruh pasukan Vietnam dengan hanya satu senapan panjang laras. Jangan-jangan Rambo pernah belajar Ajian Brajamusti  sama  Arya Kamandanu atau Joko Tingkir. Sekali bentak, pasukan Vietnam mati semua.  Atau bisa jadi, ia pernah belajar  Ajian Pancasona  warisan Raja Dasamuka yang dipanah oleh Ramajaya tidak mati-mati. Meskipun kepalanya lepas dari tubuhnya, tapi ia bisa menyatu lagi dengan tubuhnya. 

Padahal realitanya tidak demikian. Medan perangnya yang didominasi oleh hutan hujan yang lebat dan rawa-rawa, sekalipun ada tanah yang lapang, biasanya didominasi oleh padang sabana yang terkoneksi dengan lahan gambut dan rawa-rawa khas daerah tropis. Atau juga areal persawahan yang luas karena memang kultur masyarakat Vietnam saat itu yang memang agraris. Kondisi medan yang sangat menguntungkan pasukan Vietnam. Dalam catatan sejarah, ada sekitar 15.000 pasukan AS mati. Namun media massa AS telah menguasai dunia. Meskipun AS mengklaim menang, realita sejarah menguak perang tersebut sebagai perang yang sangat memalukan tentara AS. 

Kembali lagi pada persoalan perang badar. Ketika para sahabat merasa ada suatu kebanggaan yang menyelinap dalam hati pada diri mereka, maka nabi Muhammad mengatakan bahwa ada jihad yang lebih besar lagi dari perang badar. Para sahabat bertanya tentang gerangan tersebut. Nabi menjawab, “jihad melawan hawa nafsu”. Perkataan kanjeng nabi Muhammad menunjukan bahwa hakikat kekuatan manusia pada nafsu dan akalnya. Sedangkan jasad tubuh hanya sebatas rongsokan yang akan mengikuti arah keduanya. Mana yang dominan menguasai tubuhnya, ke arah itu juga tubuh akan berlabuh. Manusia terlihat hebat karena akal nya. ia juga bisa terpuruk karena nafsunya. Seseorang secara formalitas bisa saja memenuhi kualifikasi menjadi seorang pemenang, namun karena terlalu bertumpu pada arogansi nafsu, maka akal pikiran tidak bisa berjalan dengan normal. Sehingga keseimbangan jalan berfikirnya tidak utuh. Akibatnya, ketika terjadi suatu peristiwa mengenai dirinya, ia tidak mempunyai kesiapan secara sempurna. Maka, kekalahan pun bisa terjadi.

Saat ini penulis membaca dan menyaksikan kejadian-kejadian yang menceritakan kekalahan akal oleh nafsu. Penulis telah menyaksikan dalam alam nyata dan media dengan beragam warna telah mencatat para pejabat dan orang-orang yang terkenal di sekitar kita dari berbagai kalangan profesi. Saat masa jayanya, hampir semua melihat sebagai orang yang sangat beruntung. Dunia seolah-olah tunduk pada dirinya. Namun tidak disangka, pada saat tertentu muncul serangan nafsu menyelinap dalam hatinya. Seluruh hatinya, sudah diselimuti oleh bunga-bunga manisnya dunia dan sejenisnya. Akhirnya ia hancur lebur oleh pelukan nafsu.

Padahal orang-orang sukses di atas yang kini hancur adalah dulu orang-orang yang mampu melawan nafsu dengan sangat hebat. Saat masih menjadi manusia biasa-biasa saja, pintu langit selalu diketuk setiap saat. Sandaran kepada-Nya secara totalitas.  Rasa ketidakperdayaan di hadapan Allah benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya, Tuhan pun mengangkat derajatnya dengan sedikit kenikmatan yang diberikan oleh-Nya berupa harta, jabatan dan kekuasaan. Perhiasan dunia benar-benar sering menjadi manusia kehilangan cahaya-cahaya ilahiyah dalam hatinya. Ia redup oleh cahaya-cahaya palsu dari kerlap-kerlip perhiasan dunia.

Perkataan nabi bahwa “jihad terbesar yaitu melawan hawa nafsu” adalah suatu pesan penting bagi umat Islam. Puasa sebagai training center untuk mencapai tingkatan nafsu yang mahmudah atau mutmainah merupakan proses jihad yang sangat berat dan harus terus-menerus dilanjutkan sampai kapanpun. Puasa hanya tempat latihan. Hakikat perjuangan atau jihad sebenarnya pasca puasa. jika hari ini kita bisa melawan hawa nafsu karena kondisi-situasi, dan lingkungan mendukung. Berbeda ketika di luar puasa, karakter seseorang lebih terlihat keasliannya terhadap segala respon yang ada pada dirinya. Ketika seseorang berhasil, maka jihad seseorang berhasil menundukan hawa nafsunya.

Jihad merupakan bagian dari wasilah bukan suatu tujuan. Dalam tulisannya yang sedikit panjang, Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyati Asy-Syafi’i berkata di dalam kitab Hasyiyah ‘Ianatut Thalibin mengatakan: “Kewajiban jihad adalah washilah (perantara) bukan tujuan, karena tujuan perang aslinya adalah memberi hidayah/petunjuk kebenaran. Oleh sebab itu membunuh orang-orang kafir bukanlah tujuan yang sebenarnya sehingga seandainya hidayah bisa disampaikan dan dihasilkan dengan menunjukan dalil-dalil tanpa berperang, maka hal ini lebih utama daripada berperang”,

Perkataan Sayyid Dimyati tersebut menarik perhatian. Penulis menilai bahwa paradigma jihad yang sering dimaknai oleh sebagian kelompok sebagai “qital ‘ala kufar” untuk seluruh manusia yang tidak sependapat dengannya merupakan pemahaman keliru. Mereka memandang bahwa allah memerintah jihad merupakan tujuan yang harus dilakukan dengan melakukan pengrusakan, pemaksaan kehendak, dan persekusi atau peperangan terhadap kelompok-kelompok yang tidak sependapat dengan mereka.

Sayyid Dimyati memberi paradigma sangat modern tentang makna jihad sebagai metode untuk berdakwah. Karena ia sebagai metode berdakwah, maka seorang mujahid harus bisa sebagai seorang mujtahid yaitu kemampuan yang baik dalam menjelaskan argumentasi-argumentasi tentang agama Islam. Sehingga non-muslim mampu melihat Islam sebagai solusi segala kehidupan baik urusan berkaitan dengan ibadah maupun dengan masalah muamalah atau sosial-kemasyarakatan.  Tapi ironisnya, sebagian umat Islam lebih mahir memahami persoalan-persoalan lorong-lorong langit dan bingung memahami jalan-jalan di dunia. Perilaku yang sangat ironis sekali yang terjadi dalam dunia Islam saat sekarang ini.

Syeikh zainuddin al-malibari dalam kitab fathul mu’in dia menjelaskan tentang hukum jihad adalah fardhu kifayah. Diantara jihad yang berdimensi fardhu kifayah yaitu: pertama kaqiyaamin bihujajji diiniyyati (menegakan argumentasi yang dengan hujah yang bersumber dari ajaran Islam). Argumentasi sebagai metode mendapatkan suatu kebenaran harus bersumber dari ajaran Islam. Seorang muslim ketika memberikan pandangan-pandangan tentang persoalan-persoalan kehidupan yang begitu luas harus bisa menerapkan rahasia-rahasia Al-Qur’an dari setiap pendapat yang terangkum dalam tulisan di berbagai media ataupun di mimbar-mimbar dalam beragam forum. Sehingga orang bisa melihat perbedaan argumentasi yang berasal dari wahyu tuhan dan hanya sebatas permainan akal semata. Tradisi ini yang senantiasa dilakukan oleh para ulama pada masa dulu. Kedua, wa’ulumi syar’iyatin (memperdalam ilmu-ilmu agama). Islam memperkenalkan konsep ilmu agama (‘ulumuddin) tidak sebatas pada persoalan ibadah, tapi juga berkaitan dengan persoalan sosial-kemasyarakatan yang mencakup beragam aspek seperti pendidikan, ekonomi, politik dan lain-lain. Tentu saja, Al-Qur’an tidak menyediakan seperangkat struktur ilmu sosial-kemasyarakatan secara lengkap. Namun Islam telah memberikan suatu perintah untuk senantiasa melakukan kajian-kajian ilmiah berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut persoalan yang bersifat duniawiyyah. Ketiga, wadaf’i dhararin ma’sumin (menjadi solusi dalam menolak madharat bagi masyarakat luas). Islam sebagai agama solusi. Namun sebagian dari mereka melihat solusi hanya sebatas pada persoalan hubungan dengan sang pencipta. Betapa banyak persoalan yang terjadi senantiasa melihat dari perspektif spiritual dan mengabaikan hal-hal yang bersifat operasional. Akibatnya, umat Islam senantiasa mengalami traumatic sepanjang sejarah. Persaingan peradaban yang pernah diraih oleh umat Islam bergeser ke barat dan asia seperti cina, jepang dan korea. Negara-negara tersebut yang sebelumnya belajar ke negara Islam kini telah menjadi kekuatan besar dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi. Sehingga ajaran Islam di dunia Islam sendiri sebagai suatu kajian yang indah tapi tidak bisa secara luas sebagai solving problem permasalahan umat modern dewasa ini.

Walhasil, dari paparan pendapat kedua kitab klasik penulis bisa memahami bahwa puasa sebenarnya memperkenalkan jihad versi modern yaitu kemampuan melahirkan manusia-manusia baru dalam melihat jihad sebagai perjuangan dalam membangun peradaban. Jika ini berhasil, maka sudah tidak perlu lagi tentang peperangan dan penaklukan umat manusia. Sebab dengan kekuatan ilmu dan teknologi, seluruh manusia akan takluk dengan sendirinya. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876