Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Puasa di antara Tanaman Padi dan Pakis; Puasa Hari Ke-2



Jumat , 24 Maret 2023



Telah dibaca :  334

Puasa adalah ibadah yang diapit dua kata penting; iman dan taqwa. Iman sebagai input, puasa proses dan taqwa adalah out put. Seseorang dianggap punya lisensi sah secara syariat ketika dia telah menyatakan diri atas persaksian kepada Allah dan rasul-Nya, maka ketika dia berpuasa otomasi telah teregister secara adminstrasi keimanan dan keislaman.

Puasa berarti kemampuan menahan sesuatu. Sebagaimana  Maryam dijelaskan dalam Q.S. Maryam mengatakan, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah”. Puasa disini yakni menahan dari berbicara kepada siapapun. Nabi Muhammad bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang mungkar dan melakukan perbuatan mungkar, maka Allah tidak akan memperdulikan rasa haus dan lapar yang dirasakannya”. Hikmahnya dijelaskan dalam Hadist Qudsi, “Allah Swt berfirman, setiap perbuatan anak cucu adam adalah untuk mereka sendiri, berbeda dengan puasa itu untuk-Ku dan aku lah yang akan memberi ganjarannya”.

Puasa sebagai proses pendewasaan manusia telah diperintahkan Allah jauh sebelum umat nabi Muhammad s.a.w.  Pertama, pendapat Asy-Sya’bi, Qatadah bahwa umat sebelum nabi Muhammad (Musa, Isa) diwajibkan puasa di bulan Ramadhan satu bulan penuh. Namun mereka mengubahnya karena nadzar dan karena kondisi bulan Ramadhan sangat panas dipindah di musim semi. Sehingga jumlah menjadi 50 hari. Kedua, pendapat As-Suddi, Abu Aliyah ada persamaan pada puasa itu sendiri, yaitu menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa. Umat sebelum Nabi Muhammad siang malam tidak boleh berhubungan dengan istrinya. Sedangkan umat Nabi Muhammad malam hari boleh berhubungan. Ketiga, pendapat Mu’ad bin Jabal dan Atha persamaan pada ajaran puasa itu sendiri, bukan pada sifat dan perhitungannya. Jika Islam diperintahkan pada bulan Ramadhan penuh. Sebelum umat nabi, yaitu puasa tiga hari setiap awal bulan.

Karena puasa sebagai proses, kemampuan orang berpuasa mempunyai daya tangkap dan analisis berbeda-beda baik tentang hakikat puasa dan implementasinya dalam kehidupan lebih luas. Puasa sebagai gambaran kualitas intelektual ruhaniahnya. Perbedaan ini akhirnya melahirkan klasifikasi secara alamiah stratifikasi status takwa nya. ada rangking 1, 2, 3 dan seterusnya. Karena puasa sebagai wujud intelektual ruhaniyah, maka rangking nya tidak bisa dilihat secara kwantitatif dengan angka-angka. Tuhan yang menilai sendiri prestasi hamba-hamba-Nya. Kita mungkin bisa mengklaim kesolehan kita sendiri. Boleh-boleh saja merasa khusu’, bagus ibadah puasanya. Tapi itu klaim sepihak. Otoritas penilaian hanya Allah s.w.t. Itu sebabnya, klaim diri kita sudah baik jangan sampai merendahkan orang lain dalam hal ibadah puasa. Sebab klaim kita adalah klaim pada tataran “koma”, belum sampai pada titik. Dari sini Islam mengajarkan pentingnya tawadhu dalam kehidupan sehari-hari.

Nabi Muhammad yang agung mengatakan, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya tersebut, kecuali mendapatkan lapar dan dahaga”.

Hadist ini ada munasabah dengan Surat Al-Baqarah ayat 183 tentang perintah puasa. Jika ayat tersebut menjelaskan secara umum tentang takwa, maka hadist ini membuka sedikit operasional puasa, yaitu puasa bukan sebatas menahan lapar dan dahaga, tapi juga mampu menyelami makna puasa dalam kontek kehidupan sosial. Status orang berpuasa adalah status hamba dalam menjalankan perintah-perintah-Nya. dari segi hukum, semua terkena aturan puasa. Pada tataran hukum-hukum lain berhubungan dengan puasa seperti zakat fitrah, mulai terbelah. Orang yang berpuasa statusnya mempunyai kemampuan harta disuruh untuk mengeluarkan zakat, dan orang-orang fuqara-masakiin disuruh untuk menerima pemberian atau zakat dari orang-orang kaya.

Dari sini mulai terlihat bahwa dalam kontek puasa, ada tugas yang berbeda-beda dalam kehidupan sosial. Satu sisi sebagai orang yang berkewajiban mengeluarkan sebagian rizkinya, sebagian yang lain menerima pemberian tersebut. ketika kedua ini tidak berjalan, maka esensi puasa menjadi kehilangan ruh ibadahnya.

Bagi orang-orang miskin puasa romadhan selain ibadah, juga realita pengulangan aktivitas sehari-hari. Ia adalah cermin kehidupannya. Di bulan-bulan selain Romadhan, mereka sudah biasa menahan lapar dan dahaga. Mungkin kita tidak menjadi bagian mereka hari ini. Kita masih bisa merasakan nikmat nasi dengan lauk dan ta’jilan berupa kueh, kurma dan air es dengan berbagai merk. Dua peristiwa ini wujud dari kehidupan yang kontras. Lalu Tuhan menginginkan kedua bertemu dalam satu titik yaitu adanya saling pengertian sebagai sama-sama hamba-Nya. bahkan untuk menyakinkan hal tersebut, nabi yang agung telah menjelaskan kedudukan ibadah puasa sebagai otoritas Tuhan untuk menilai-nya.

Mempertemukan kedua dalam satu titik dalam kondisi saling pengertian secara naluriah manusia sangat susah. Manusia mempunyai nafsu keakuan diri saat berada dalam kondisi the have. Orang kaya secara alamiah akan mencari orang-orang yang sederajat dengannya baik dalam bidang sama atau berbeda-beda dalam bidang-bidang lain yang dianggap mempunyai status sosial yang lebih tinggi atau stara dengannya. Orang-orang miskin terkena penyakit inferior, dan merasa sebagai kelompok kaum pinggiran dan kondisi tangan selalu berada di bawah. Ini yang menyebabkan kelompok ini tidak bisa berdiri tegak dan senantiasa menunduk saat berada di depan orang-orang yang dianggap secara sosial sudah baik dan mapan. Akibatnya tradisi hubungan kedua nya sebatas hubungan antara majikan dan buruh, bukan statusnya hubungan antar sesama manusia yang diikat dengan sebutan ‘abdullah atau hamba allah.

Alhasil, puasa sebenarnya mengajarkaan ketakwaan yang sangat adil. Kita tidak bisa mengukur kesuksesan karena banyak zakat, tahajud, dan ibadah-ibadah sunnah serta amal sholeh lainya. Tuhan tetap merahasiakan semua status tersebut agar hilang keakuan diri, sehingga benar-benar imajiner kasta yang diciptakan atas keakuan tersebut benar-benar hancur dan melahirkan saling pengertian atas dasar kasih-sayang sebagai sesama hamba Allah. Apakah bisa berhasil atau sebaliknya, semua kembali kepada pribadi masing-masing manusia itu sendiri. Bukankah demikian?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884