
Puasa adalah ibadah yang diapit dua kata
penting; iman dan taqwa. Iman sebagai input, puasa proses dan taqwa adalah out
put. Seseorang dianggap punya lisensi sah secara syariat ketika dia telah
menyatakan diri atas persaksian kepada Allah dan rasul-Nya, maka ketika dia
berpuasa otomasi telah teregister secara adminstrasi keimanan dan keislaman.
Puasa berarti kemampuan menahan sesuatu.
Sebagaimana Maryam dijelaskan dalam Q.S.
Maryam mengatakan, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang
Maha Pemurah”. Puasa disini yakni menahan dari berbicara kepada siapapun. Nabi
Muhammad bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang mungkar
dan melakukan perbuatan mungkar, maka Allah tidak akan memperdulikan rasa haus
dan lapar yang dirasakannya”. Hikmahnya dijelaskan dalam Hadist Qudsi, “Allah
Swt berfirman, setiap perbuatan anak cucu adam adalah untuk mereka sendiri, berbeda
dengan puasa itu untuk-Ku dan aku lah yang akan memberi ganjarannya”.
Puasa sebagai proses pendewasaan manusia
telah diperintahkan Allah jauh sebelum umat nabi Muhammad s.a.w. Pertama, pendapat Asy-Sya’bi, Qatadah bahwa
umat sebelum nabi Muhammad (Musa, Isa) diwajibkan puasa di bulan Ramadhan satu
bulan penuh. Namun mereka mengubahnya karena nadzar dan karena kondisi bulan Ramadhan
sangat panas dipindah di musim semi. Sehingga jumlah menjadi 50 hari. Kedua,
pendapat As-Suddi, Abu Aliyah ada persamaan pada puasa itu sendiri, yaitu
menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa. Umat sebelum Nabi
Muhammad siang malam tidak boleh berhubungan dengan istrinya. Sedangkan umat Nabi
Muhammad malam hari boleh berhubungan. Ketiga, pendapat Mu’ad bin Jabal dan
Atha persamaan pada ajaran puasa itu sendiri, bukan pada sifat dan
perhitungannya. Jika Islam diperintahkan pada bulan Ramadhan penuh. Sebelum
umat nabi, yaitu puasa tiga hari setiap awal bulan.
Karena puasa sebagai proses, kemampuan
orang berpuasa mempunyai daya tangkap dan analisis berbeda-beda baik tentang
hakikat puasa dan implementasinya dalam kehidupan lebih luas. Puasa sebagai
gambaran kualitas intelektual ruhaniahnya. Perbedaan ini akhirnya melahirkan
klasifikasi secara alamiah stratifikasi status takwa nya. ada rangking 1, 2, 3
dan seterusnya. Karena puasa sebagai wujud intelektual ruhaniyah, maka rangking
nya tidak bisa dilihat secara kwantitatif dengan angka-angka. Tuhan yang menilai
sendiri prestasi hamba-hamba-Nya. Kita mungkin bisa mengklaim kesolehan kita
sendiri. Boleh-boleh saja merasa khusu’, bagus ibadah puasanya. Tapi itu klaim
sepihak. Otoritas penilaian hanya Allah s.w.t. Itu sebabnya, klaim diri kita
sudah baik jangan sampai merendahkan orang lain dalam hal ibadah puasa. Sebab
klaim kita adalah klaim pada tataran “koma”, belum sampai pada titik. Dari sini
Islam mengajarkan pentingnya tawadhu dalam kehidupan sehari-hari.
Nabi Muhammad yang agung mengatakan, “Betapa
banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya
tersebut, kecuali mendapatkan lapar dan dahaga”.
Hadist ini ada munasabah dengan Surat
Al-Baqarah ayat 183 tentang perintah puasa. Jika ayat tersebut menjelaskan
secara umum tentang takwa, maka hadist ini membuka sedikit operasional puasa,
yaitu puasa bukan sebatas menahan lapar dan dahaga, tapi juga mampu menyelami
makna puasa dalam kontek kehidupan sosial. Status orang berpuasa adalah status
hamba dalam menjalankan perintah-perintah-Nya. dari segi hukum, semua terkena
aturan puasa. Pada tataran hukum-hukum lain berhubungan dengan puasa seperti
zakat fitrah, mulai terbelah. Orang yang berpuasa statusnya mempunyai kemampuan
harta disuruh untuk mengeluarkan zakat, dan orang-orang fuqara-masakiin disuruh
untuk menerima pemberian atau zakat dari orang-orang kaya.
Dari sini mulai terlihat bahwa dalam kontek
puasa, ada tugas yang berbeda-beda dalam kehidupan sosial. Satu sisi sebagai
orang yang berkewajiban mengeluarkan sebagian rizkinya, sebagian yang lain
menerima pemberian tersebut. ketika kedua ini tidak berjalan, maka esensi puasa
menjadi kehilangan ruh ibadahnya.
Bagi orang-orang miskin puasa romadhan
selain ibadah, juga realita pengulangan aktivitas sehari-hari. Ia adalah cermin
kehidupannya. Di bulan-bulan selain Romadhan, mereka sudah biasa menahan lapar
dan dahaga. Mungkin kita tidak menjadi bagian mereka hari ini. Kita masih bisa
merasakan nikmat nasi dengan lauk dan ta’jilan berupa kueh, kurma dan air es
dengan berbagai merk. Dua peristiwa ini wujud dari kehidupan yang kontras. Lalu
Tuhan menginginkan kedua bertemu dalam satu titik yaitu adanya saling pengertian
sebagai sama-sama hamba-Nya. bahkan untuk menyakinkan hal tersebut, nabi yang
agung telah menjelaskan kedudukan ibadah puasa sebagai otoritas Tuhan untuk
menilai-nya.
Mempertemukan kedua dalam satu titik dalam
kondisi saling pengertian secara naluriah manusia sangat susah. Manusia
mempunyai nafsu keakuan diri saat berada dalam kondisi the have. Orang
kaya secara alamiah akan mencari orang-orang yang sederajat dengannya baik
dalam bidang sama atau berbeda-beda dalam bidang-bidang lain yang dianggap
mempunyai status sosial yang lebih tinggi atau stara dengannya. Orang-orang
miskin terkena penyakit inferior, dan merasa sebagai kelompok kaum pinggiran
dan kondisi tangan selalu berada di bawah. Ini yang menyebabkan kelompok ini
tidak bisa berdiri tegak dan senantiasa menunduk saat berada di depan
orang-orang yang dianggap secara sosial sudah baik dan mapan. Akibatnya tradisi
hubungan kedua nya sebatas hubungan antara majikan dan buruh, bukan statusnya
hubungan antar sesama manusia yang diikat dengan sebutan ‘abdullah atau
hamba allah.
Alhasil, puasa sebenarnya mengajarkaan
ketakwaan yang sangat adil. Kita tidak bisa mengukur kesuksesan karena banyak
zakat, tahajud, dan ibadah-ibadah sunnah serta amal sholeh lainya. Tuhan tetap
merahasiakan semua status tersebut agar hilang keakuan diri, sehingga
benar-benar imajiner kasta yang diciptakan atas keakuan tersebut benar-benar
hancur dan melahirkan saling pengertian atas dasar kasih-sayang sebagai sesama hamba
Allah. Apakah bisa berhasil atau sebaliknya, semua kembali kepada pribadi
masing-masing manusia itu sendiri. Bukankah demikian?
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2981
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884