
Kaum yang kurang atau malah tidak percaya
sama Tuhan pada hari ini memang sedang berpesta pora atas penemuan atau
inovasi-inovasi pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sangat luarbiasa. Bergerak jauh meninggalkan kaum yang sangat menyakini adanya Tuhan.
Kaum yang tidak atau kurang percaya pada
agama mempunyai prinsip bahwa perubahan ada di tangan nya. “Mereka berfikir,
maka mereka ada”. Apa yang mereka inginkan, akan terwujud. Dunia
benar-benar menjadi Surga. Mereka telah menempatkan diri sebagai kasta
tertinggi di planet bumi. Mereka telah memegang remot kehidupan. Semua bangsa
secara pelan-pelan tapi pasti tunduk kepada aturan mereka.
Negara Timur Tengah seperti Arab Saudi sangat
akrab dengan negara-negara (mohon maaf) berpaham atheis atau liberal.
Pemerintah setempat telah mewajibkan bahasa mandarin menjadi kurikulum bahasa
wajib untuk sekolah dasar dan menengah. Sebanyak 175 pendidik mengajar bahasa
mandari di Arab Saudi sesuai dengan perjanjian pendidikan yang ditandatangani
oleh Arab Saudi dan Tiongkok
Saya tidak akan mempersoalkan kebijakan
negara arab tersebut. Pemerintah Arab berfikir realistis,
bahwa dari sisi modernisasi kehidupan mereka merasa kalah dan harus bisa
mengejar atau paling tidak berjalan di belakang nya tidak terlalu jauh. Salah
satunya yaitu mendidik warga negara nya dengan dua bahasa sebagai pusat ilmu pengetahuan
dan teknologi yaitu Inggris dan Mandarin.
Sebagaimana saya katakan, selain
negara-negara Timur Tengah, negara-negara Islam lain nya pun ma’mun. Apakah
akan mendapatkan pahala dunia 27 derajat atau malah mendapat sampah nya. Sebab
jika tidak hati-hati dan tidak melakukan filterisasi yang kuat, bisa jadi akan
terjadi mega-bencana peradaban yang berasal dari negara-negara berpaham atheis
dan liberalisme. Hal yang sudah terasa saat sekarang ini yaitu adanya perubahan
cara pandang dan perilaku generasi muda bangsa Indonesia saat sekarang ini.
Silahkan anda lihat di media sosial. Para ahli
agama, pendidik dan para orang tua ikut prihatin muncul suatu fenomena
kehidupan yang mampir di beranda media sosial. Semua itu sangat jauh dari watak
dan perilaku masyarakat Indonesia yang terkenal sangat adiluhung.
Penulis mencoba mengkritisi kehebatan akal mereka dengan pandangan mereka terhadap alam semesta yang terlihat sangat jomplang sekali. absurd. Satu sisi mereka mengakui perubahan terjadi pada diri mereka, tapi saat mereka melihat jagat raya justru mengatakan bahwa ia tercipta melalui proses secara alami. Tiba-tiba ada bintang kembar seperti Big-Bang. Tabrakan. Pecah-pecah satu persatu, lalu membentuk Tata Surya yang sangat rapih. Bagaimana mungkin bisa terjadi Jagat Raya yang terdiri dari beragam Galaksi yang berisi milyaran bintang dan planet-planet terjadi dengan sendirninya. Mereka percaya pesawat terbang ada yang membuat. Mereka percaya bahwa robot yang membuat adalah manusia. Tapi mereka tidak bisa menerima bahwa bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan. Justru mereka lebih percaya manusia terjadi secara alamiah dan mengalami evolusi yang membutuhkan waktu sangat panjang. Padahal usia dunia sudah cukup lama. dari dulu seperti ini juga, begitu juga makhluk lainnya.
Maka tepat jika Allah berfirman dalam Q.S.
Al-Baqarah ayat 28 sebagai berikut:
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ
يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya:
“Bagaimana kalian dapat mengingkari Allah. Sedangkan kalian sebelumnya
tidak ada, kemudian Allah menghidupkan kalian, lalu Dia mematikan kalian,
selanjutnya Dia menghidupkan kalian kembali, kemudian kepada-Nya kalian
dikembalikan.”
Syeikh Wahbah Az-Zuhaili menafsiri ayat tersebut sebagai wujud keanehan
dari orang-orang kafir mekah terhadap hakikat kehidupan mereka yang statusnya
sebagai manusia. Mereka tidak menyadari atas sikap durhaka kepada Allah dan Nabi-Nya
adalah manusia-manusia yang baru. Dulu nya tidak ada, lalu ada. Dan akan kembali
tidak ada, lalu dihidupkan kembali besok di Hari Kiamat. Mereka akan diminta
pertanggungjawaban atas perbuatan ingkar tersebut
Para kaum kafir mekah adalah gambaran manusia yang durhaka kepada Allah saat sekarang
ini. Mereka tidak menyadari tentang proses kehidupan manusia dari yang ada jadi ada dan
akan kembali tidak ada lagi. Dulu tidak ada, lalu lahir, besar, tua dan mati. Proses kehidupan
yang disederhanakan seperti ini bagi kaum kafirin sebagai proses alamiah
semata. Seolah-olah kematian adalah sesuatu yang wajar-wajar saja. Mereka tidak merasa ada
tanggungjawab sama sekali di hadapan Tuhan.
Padahal kalau berfikir secara jernih, kaum kafirin akan melihat suatu
fenomena yang sangat ajaib tentang penciptaan manusia berbeda dengan makhluk
lain. Jika menuruti pemikiran orang kafirin, bahwa dunia tercipta secara
alamiah, pertanyaan yang harus dijawab dengan rasional adalah : “Kenapa penciptaan
manusia berbeda dengan makhluk lain. Kenapa manusia punya akal, punya rasa malu
dan bisa menciptakan suatu budaya. Sedangkan makhluk selain manusia tidak bisa
melakukan sesempurna seperti manusia. Dimana letak proses alamiah tersebut?”.
Kenapa ada ada jutaan makhluk di dunia punya keberagaman. Apakah ini
juga proses secara alamiah. Kenapa begitu sempurna sekali. Kenapa hasil pikiran
mereka justru kalah sempurnnya dengan yang bersifat alamiah. Mereka membuat
karya yang kalah sempurna alam seisinya, apakah mungkin yang begitu besar dan
dahsyat nya jagat raya tercipta secara alamiah tanpa ada yang menciptakan?. Sampai
disini mereka tidak bisa menjawab. Mereka terus mencari jawaban dengan kekuatan
akal pikiran. Tentu saja mereka tidak akan menemukan jawaban. Sebab mereka
telah melakukan kesalahan dalam memberi standar kebenaran yaitu sebatas bisa
dibuktikan dengan akal pikiran dan bisa dilihat dengan mata telanjang. Jika eksistensi
Tuhan tidak bisa dibuktikan dengan akal pikiran dan dilihat dengan panca Indera,
maka Tuhan itu tidak ada.
Tradisi berfikir kritis, rasional dan aplikatif ini memang telah membuat
mereka menjadi manusia yang mempunyai kekuatan ilmu pengetahuan, teknologi,
ekonomi dan politik saat sekarang ini. Mereka telah menciptakan agama baru pada
unsur-unsur tersebut. Mereka mengukur kebahagiaan dan kesejahteraan dengan
ukuran-ukuran tersebut. Itu sebabnya, ketika kelompok ini melihat kaum beragama
dan kehidupan di bawah standar mereka, maka mereka semakin angkuh, gumede, congkak
dan sombong. Itu watak dasar suatu kaum yang mempunyai senjata kekuasaan, dan
kekayaan yang kuat. Mudah sekali menjatuhkan suatu kaum yang standar
kehidupannya di bawah mereka.
Apakah bangsa dan negara Indonesia sedang menuju proses dihancurkan oleh
negara dan bangsa yang kuat. Silahkan kita menilai masing-masing situasi
kehidupan saat sekarang ini. Kita sebagai bangsa dalam level apa dalam bidang
politik, ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Apakah kita sudah sederajat dengan
mereka? Silahkan kita melihat realita kehidupan di dunia yang maha luas ini.
Jika ingin hebat, mau tidak mau kita harus belajar atau ngangsu
ilmu kepada mereka meskipun mereka dicap sebagai kelompok ateis dan liberal. Tidak
apa-apa belajar. Ma’lum kondisi umat Islam itu di tengah-tengah. Sering disebut
sebagai ummatan wasathon. Idealnya posisi di tengah sangat baik sebagai
penyeimbang. Hanya saja saat sekarang ini dua tetangga umat Islam level nya
sudah di atas rata-rata. Ibarat kita nginceng lewat jendela, kita selalu
melihat tetangga selalu beli mobil dan perhiasan. Sedangkan kita masih “ngelus”
dada terus dan baru sampai level “ingin” dan sampai hari ini belum keturutan.
Meniru sisi positif dari bangsa manapun boleh-boleh saja. Bahkan terkadang
hukum nya wajib jika niatnya untuk ibadah. Jadi serius belajarnya, tidak
main-main. Meniru kebaikan dari suatu kaum sangat diperboleh. Tapi menjaga
identitas sebagai seorang muslim juga hukum nya wajib. Meminjam istilah
almarhum BJ Habibie: “Otak Jerman, Hati Tetap Mekah”.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872