Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 29: Rezeki dari Allah, Makhluk Sebatas Wasilah



Senin , 28 April 2025



Telah dibaca :  617

Mempraktekan bahwa Allah yang memberi rezeki kepada seluruh manusia dalam kehidupan sehari-hari sangat sulit. Menata hati jauh sangat sulit. Selalu saja muncul ketakutan-ketakutan akibat dari berbagai fenomena yang terjadi pada akhir-akhir ini. Di luar negeri negara-negara yang kuat seperti AS dan China sedang “gontok-gontokan”, “sikut-sikutan” dan sama-sama “ngambek” gara-gara belum ada win-win solution persoalan tarif dagang. Sebelah nya lagi ada Ukraina dan AS yang belum akur. Akibatnya, muncul konflik geopolitik, memicu inflasi, dan tinggi nya harga energi dan pangan. Dua negara yang tidak mau “menyambung silaturahim”, getah nya kemana-mana hingga ke Indonesia. di Timur Tengah di negara yaman terus perang saudara, juga di afganistan. Ke tetangga sebelah nya lagi, Israel dan Palestina tidak pernah berhenti bermusuhan. Berkelahi. Perang. Damai. Genjatan senjata. Kambuh lagi, perang lagi dan pembantaian kemanusiaan pun terjadi tidak pernah berhenti.

Semua peristiwa di atas-masih banyak lagi, yang menyebabkan kondisi sosial, politik dan kemapanan ekonomi masyarakat Indonesia “horeg” seperti “lindu”, bergerak-gerak, bergoyang-goyang seperti ada daerah yang mengalami bencana gempa. Orang-orang yang sudah bekerja di kantor goyang-goyang, pengusaha goyang-goyang, rakyat biasa malah terkadang goyangan nya lebih kencang lagi.

Manusia hari ini mulai dari pemimpin sampai masyarakat biasa harus bisa berdiri kuat agar tidak terpengaruh oleh goyangan ekonomi dunia yang merambah di kampung kita. Sekuat tenaga berdiri kokoh. Namun seberapa kuat menahannya, tergantung pribadi masing-masing.

Mungkin yang tidak ikut goyang dan tetap happy adalah makhluk-makhluk Allah selain manusia. Kerbau, Kambing enjoy saja, makan rumput dengan happy. Burung-burung pagi hari sudah bangun penuh kebahagiaan mencari rezeki dan pulang dengan perut sudah kenyang. Terlihat bahagia, makhluk-makhluk tersebut tidak perlu memikirkan sekolah dan mencari pekerjaan. Rezeki datang ketika ia mau berusaha mencari rezeki.

Allah memberi tamsil alam semesta ini. Sang maha pendidik juga telah mendidik manusia dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 29 sebagai berikut:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌࣖ ۝٢٩

Artinya:

Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke (penciptaan) langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Allah telah menciptakan fasilitas dunia segala isinya untuk manusia. ada yang memberi manfaat secara langsung, ada yang memberi madzarat juga secara langsung. Ada makanan-makanan dan minuman yang memberi kesehatan agar kita memanfaatkan sebaik-baiknya. Ada makanan yang baik dan juga menyehatkan, tetapi Allah memberi rambu-rambu untuk meninggalkannya. Ada makanan dan minuman yang membahayakan ketika dikonsumi, maka ini juga harus ditinggalkan. Semua mengandung suatu rahasia kebaikan (Qurthubi, 2015). Pemanfaatan ciptaan Allah bisa dilihat secara materil bisa dilihat secara maknawi dengan mengambil pelajaran-pelajaran dari semua ciptaan tersebut sehingga memberi kemanfaat untuk diri sendiri (Az-Zuhaili, 2013). Tidak semua apa yang dilihat di alam semesta ini harus kita nikmati, ada yang hanya ditampilkan oleh Allah sebagai pelajaran kehidupan untuk mengambil nilai-nilai kebaikan.

Kenikmatan yang diberikan oleh Allah berbeda-beda. Ada yang diberi kenikmatan berupa kekayaan yang melimpah, Ada juga kenikmatan berupa karir jabatan yang sangat cepat menanjak sampai puncak tertinggi. Anda mungkin ingin meniru mereka tidak bisa sepanjang hayat nya. penghasilan mungkin terasa stagnan. Segala usaha sudah dilakukan, Tapi terasa bahwa rezeki anda seolah-olah tidak ada perubahan sama sekali. Akibatnya, kadang jiwa anda tidak kuat melihat diri sendiri. lalu ada rasa iri terhadap orang-orang lain yang semua seolah-olah terlihat membahagiakan.

Krisis ekonomi atau kemiskinan sudah sejak ada manusia sudah terjadi persoalan tersebut. Para nabi hadir bukan mempunyai tujuan mengentaskan kemiskinan. Para nabi dan rasul hadir untuk memberikan pemahaman hidup bahwa manusia harus membangun kekayaan spiritual untuk bisa melintasi ujian kehidupan yang terkadang sangat melelahkan. Sebab persoalan hidup manusia sebenarnya bukan sebatas pada jabatan dan kekayaan. Banyak orang-orang yang sudah mapan dari segi ekonomi dan sudah sukses dari segi jabatan, tetapi pada sisi moralitas dan spiritualitas terjadi degradasi yang sangat akut. Mereka benar-benar dalam kondisi “asfalasaafiliin”.

Setiap manusia selalu saja melalui beragam fase zaman yang sering disebut “wolak-walike zaman”. Ada fase dimana pada dirinya ada kekayaan dan keagungan serta punya pengaruh besar. Ini pernah dialami oleh Nabi Ayub. Ia adalah seorang nabi yang mempunyai status milyader. Kaya raya. Paras wajah nya sangat tampan. Istrinya sangat cantik. Lalu tuhan mendatangkan ujian hidup. Harta kekayaan ludes. Dirinya sendiri sakit-sakitan. Hingga dalam kitab duratunasihin digambarkan seluruh kulitnya habis terkelupas, rambutnya rontok karena terlalu banyak bakteri-bakteri yang memakan nya. Tetangga memandangnya sebagai manusia yang tidak berguna sama sekali.

Ada juga kisah seorang anak kecil hidup sendiri di tengah hutan karena kedengkian dari saudara-saudaranya. Mereka mengharapkan kematian nya. Namun Tuhan selalu saja memberi jalan bagi orang-orang yang selalu berbuat baik. Saudara-saudaranya mendzalimin nya, tapi melalui proses ini Tuhan sedang menempa kesabaran dan ketangguhan diri. Saat dirinya sudah tangguh, Tuhan pun mendatangkan pertolongan. Ia akhirnya diangkat menjadi perdana menteri. Anak kecil yang menyedihkan tersebut berubah menjadi seorang pemimpin. Namanya Nabi Yusuf, as.

Ada juga ahli agama yang sangat luarbiasa kecerdasannya. Jika dirangking, kehebatan pemahaman agama di bawah Nabi Musa dan Nabi Harun. Namanya Qarun. Kondisi kemiskinan akut yang menyerang keluarganya telah “menggedor-gedor” pintu keimanannya. Nafsu yang begitu kuat ingin memperbaiki kualitas diri dalam hal beribadah dan beramal Sholeh setelah menjadi orang kaya adalah alasan terindah yang disampaikan oleh Qarun kepada Nabi Musa. Sebagai seorang nabi yang sering diberikan kemulyaan oleh Allah bisa mengetahui dhohir dan batin, memberikan suatu wejangan kehidupan kepada Qorun: “Syukuri apa yang ada pada dirimu, meskipun kurang menyenangkan. Bisa jadi itu lebih baik untuk mu menurut Allah SWT.

Namun alasan spiritual Nabi Musa tidak diterima oleh Qarun. Bagi Qarun, kebutuhan dan kemapanan ekonomi merupakan jalan untuk semakin tenang dalam beribadah dan semakin luas jangkauan untuk berdakwah dalam dimensi sosial. Akhirnya, Nabi Musa pun diam lalu mendoakannya. Ia pun menjadi kaya raya. Saat kondisi seperti itu,  ia pun mulai melupakan program yang telah dikampanyekan di depan Nabi Musa. Ia mulai ketinggalan ibadahnya, mulai sibuk mengumpulkan kekayaannya dan akhirnya ia benar-benar telah hilang sejatine manusia, yaitu sudah tidak lagi mengenal Allah SWT.

Saat ini kita mempunyai negara yang disebut negara Indonesia. Kita harus membiasakan diri menyebutnya dengan negara Indonesia, bukan negara Konoha atau sebutan-sebutan yang tidak pantas. sebab menyebut hal-hal yang jelek sedang mentransfer aura negatif untuk bangsa dan negara. Sebagaimana dalam kehidupan ada problematika dengan pasangan kita, mertua kita. kita tidak perlu menyebut istri kita dengan nama-nama yang tidak baik dan merendahkan derajatnya seperti “Si Hidung Pesek, Si Bibir Ndower dan sejenisnya”. Benar pasangan kita ada banyak kekurangan, tapi itu adalah pasangan kita. Cermin hidup kita. Jika kita menyebut istrinya dengan “Si Ndower” paling tidak cermin diri kita sendiri sudah tidak mencerminkan hal-hal yang positif. Mengkritik boleh, menghina jangan.

Kita mungkin benci dengan kondisi saat sekarang ini. Kita mungkin merasa terdzalimi oleh orang-orang dzalim. Namun bagaimana indah nya Tuhan memberikan gambaran ucapan yang sangat indah ketika Nabi Musa bertemu dengan Raja Fir’aun: ucapankan lah dengan ucapan yang baik dan lemah lembut.

Mari kita belajar bersama mengasah spiritual kita untuk semakin terang melihat alam semesta yang terlihat gelap. Mari kita belajar bersama-sama melihat kegelapan dengan belajar menjadikan semua menjadi terang. Paling tidak prinsip hidup kita dulu, bukan orang lain. Meskipun sama-sama gelap mungkin saya dan anda sedang gelap. Tapi jangan menjerit dulu. Duduk lah di lantai. Tenangkan hati dan hadirkan tuhan dengan menyebut: allah, allah, allah. Biarkan gelap terjadi, maka kita akan semakin bisa terbiasa melihat dalam kegelapan.

Belajar mengenal diri, jangan-jangan persoalan yang komplek karena datang dari komulatif dari persoalan kita yang yang tidak disadarinya. Jangan-jangan kita terlalu peduli mencurahkan ucapan, dan pikiran untuk mengkritik orang lain atau menghina orang lain, sedangkan kekurangan diri kita sampai tidak terlihat lagi.

Semoga saja kita semakin bisa melihat diri sendiri, men-syukuri kenikmatan yang besar sekali yaitu nikmat umur, kesehatan, iman dan Islam. Itulah jalan kebahagiaan sejati.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872