
Mempraktekan bahwa Allah yang memberi
rezeki kepada seluruh manusia dalam kehidupan sehari-hari sangat sulit. Menata
hati jauh sangat sulit. Selalu saja muncul ketakutan-ketakutan akibat dari
berbagai fenomena yang terjadi pada akhir-akhir ini. Di luar negeri
negara-negara yang kuat seperti AS dan China sedang “gontok-gontokan”,
“sikut-sikutan” dan sama-sama “ngambek” gara-gara belum ada win-win solution
persoalan tarif dagang. Sebelah nya lagi ada Ukraina dan AS yang belum akur.
Akibatnya, muncul konflik geopolitik, memicu inflasi, dan tinggi nya harga
energi dan pangan. Dua negara yang tidak mau “menyambung silaturahim”, getah
nya kemana-mana hingga ke Indonesia. di Timur Tengah di negara yaman terus perang
saudara, juga di afganistan. Ke tetangga sebelah nya lagi, Israel dan Palestina
tidak pernah berhenti bermusuhan. Berkelahi. Perang. Damai. Genjatan senjata.
Kambuh lagi, perang lagi dan pembantaian kemanusiaan pun terjadi tidak pernah
berhenti.
Semua peristiwa di atas-masih banyak lagi,
yang menyebabkan kondisi sosial, politik dan kemapanan ekonomi masyarakat
Indonesia “horeg” seperti “lindu”, bergerak-gerak,
bergoyang-goyang seperti ada daerah yang mengalami bencana gempa. Orang-orang
yang sudah bekerja di kantor goyang-goyang, pengusaha goyang-goyang, rakyat
biasa malah terkadang goyangan nya lebih kencang lagi.
Manusia hari ini mulai dari pemimpin sampai
masyarakat biasa harus bisa berdiri kuat agar tidak terpengaruh oleh goyangan
ekonomi dunia yang merambah di kampung kita. Sekuat tenaga berdiri kokoh. Namun
seberapa kuat menahannya, tergantung pribadi masing-masing.
Mungkin yang tidak ikut goyang dan tetap
happy adalah makhluk-makhluk Allah selain manusia. Kerbau, Kambing enjoy saja,
makan rumput dengan happy. Burung-burung pagi hari sudah bangun penuh
kebahagiaan mencari rezeki dan pulang dengan perut sudah kenyang. Terlihat bahagia,
makhluk-makhluk tersebut tidak perlu memikirkan sekolah dan mencari pekerjaan. Rezeki
datang ketika ia mau berusaha mencari rezeki.
Allah memberi tamsil alam semesta ini. Sang
maha pendidik juga telah mendidik manusia dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 29 sebagai
berikut:
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى
اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيْمٌࣖ ٢٩
Artinya:
Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang
ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke (penciptaan) langit, lalu Dia
menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Allah telah menciptakan fasilitas dunia
segala isinya untuk manusia. ada yang memberi manfaat secara langsung, ada yang
memberi madzarat juga secara langsung. Ada makanan-makanan dan minuman yang memberi
kesehatan agar kita memanfaatkan sebaik-baiknya. Ada makanan yang baik dan juga
menyehatkan, tetapi Allah memberi rambu-rambu untuk meninggalkannya. Ada makanan
dan minuman yang membahayakan ketika dikonsumi, maka ini juga harus
ditinggalkan. Semua mengandung suatu rahasia kebaikan
Kenikmatan yang diberikan oleh Allah
berbeda-beda. Ada yang diberi kenikmatan berupa kekayaan yang melimpah, Ada
juga kenikmatan berupa karir jabatan yang sangat cepat menanjak sampai puncak
tertinggi. Anda mungkin ingin meniru mereka tidak bisa sepanjang hayat nya.
penghasilan mungkin terasa stagnan. Segala usaha sudah dilakukan, Tapi terasa
bahwa rezeki anda seolah-olah tidak ada perubahan sama sekali. Akibatnya,
kadang jiwa anda tidak kuat melihat diri sendiri. lalu ada rasa iri terhadap
orang-orang lain yang semua seolah-olah terlihat membahagiakan.
Krisis ekonomi atau kemiskinan sudah sejak
ada manusia sudah terjadi persoalan tersebut. Para nabi hadir bukan mempunyai
tujuan mengentaskan kemiskinan. Para nabi dan rasul hadir untuk memberikan
pemahaman hidup bahwa manusia harus membangun kekayaan spiritual untuk bisa
melintasi ujian kehidupan yang terkadang sangat melelahkan. Sebab persoalan
hidup manusia sebenarnya bukan sebatas pada jabatan dan kekayaan. Banyak orang-orang
yang sudah mapan dari segi ekonomi dan sudah sukses dari segi jabatan, tetapi pada
sisi moralitas dan spiritualitas terjadi degradasi yang sangat akut. Mereka
benar-benar dalam kondisi “asfalasaafiliin”.
Setiap manusia selalu saja melalui beragam
fase zaman yang sering disebut “wolak-walike zaman”. Ada fase dimana pada
dirinya ada kekayaan dan keagungan serta punya pengaruh besar. Ini pernah
dialami oleh Nabi Ayub. Ia adalah seorang nabi yang mempunyai status milyader. Kaya
raya. Paras wajah nya sangat tampan. Istrinya sangat cantik. Lalu tuhan
mendatangkan ujian hidup. Harta kekayaan ludes. Dirinya sendiri sakit-sakitan. Hingga
dalam kitab duratunasihin digambarkan seluruh kulitnya habis terkelupas,
rambutnya rontok karena terlalu banyak bakteri-bakteri yang memakan nya. Tetangga
memandangnya sebagai manusia yang tidak berguna sama sekali.
Ada juga kisah seorang anak kecil hidup
sendiri di tengah hutan karena kedengkian dari saudara-saudaranya. Mereka mengharapkan
kematian nya. Namun Tuhan selalu saja memberi jalan bagi orang-orang yang
selalu berbuat baik. Saudara-saudaranya mendzalimin nya, tapi melalui proses
ini Tuhan sedang menempa kesabaran dan ketangguhan diri. Saat dirinya sudah tangguh,
Tuhan pun mendatangkan pertolongan. Ia akhirnya diangkat menjadi perdana menteri.
Anak kecil yang menyedihkan tersebut berubah menjadi seorang pemimpin. Namanya Nabi
Yusuf, as.
Ada juga ahli agama yang sangat luarbiasa
kecerdasannya. Jika dirangking, kehebatan pemahaman agama di bawah Nabi Musa dan
Nabi Harun. Namanya Qarun. Kondisi kemiskinan akut yang menyerang keluarganya
telah “menggedor-gedor” pintu keimanannya. Nafsu yang begitu kuat ingin memperbaiki
kualitas diri dalam hal beribadah dan beramal Sholeh setelah menjadi orang kaya
adalah alasan terindah yang disampaikan oleh Qarun kepada Nabi Musa. Sebagai seorang
nabi yang sering diberikan kemulyaan oleh Allah bisa mengetahui dhohir dan
batin, memberikan suatu wejangan kehidupan kepada Qorun: “Syukuri apa yang ada
pada dirimu, meskipun kurang menyenangkan. Bisa jadi itu lebih baik untuk mu
menurut Allah SWT.
Namun alasan spiritual Nabi Musa tidak
diterima oleh Qarun. Bagi Qarun, kebutuhan dan kemapanan ekonomi merupakan
jalan untuk semakin tenang dalam beribadah dan semakin luas jangkauan untuk
berdakwah dalam dimensi sosial. Akhirnya, Nabi Musa pun diam lalu mendoakannya.
Ia pun menjadi kaya raya. Saat kondisi seperti itu, ia pun mulai melupakan program yang telah
dikampanyekan di depan Nabi Musa. Ia mulai ketinggalan ibadahnya, mulai sibuk
mengumpulkan kekayaannya dan akhirnya ia benar-benar telah hilang sejatine manusia,
yaitu sudah tidak lagi mengenal Allah SWT.
Saat ini kita mempunyai negara yang disebut
negara Indonesia. Kita harus membiasakan diri menyebutnya dengan negara Indonesia,
bukan negara Konoha atau sebutan-sebutan yang tidak pantas. sebab menyebut
hal-hal yang jelek sedang mentransfer aura negatif untuk bangsa dan negara. Sebagaimana
dalam kehidupan ada problematika dengan pasangan kita, mertua kita. kita tidak
perlu menyebut istri kita dengan nama-nama yang tidak baik dan merendahkan
derajatnya seperti “Si Hidung Pesek, Si Bibir Ndower dan sejenisnya”. Benar
pasangan kita ada banyak kekurangan, tapi itu adalah pasangan kita. Cermin
hidup kita. Jika kita menyebut istrinya dengan “Si Ndower” paling tidak
cermin diri kita sendiri sudah tidak mencerminkan hal-hal yang positif. Mengkritik
boleh, menghina jangan.
Kita mungkin benci dengan kondisi saat
sekarang ini. Kita mungkin merasa terdzalimi oleh orang-orang dzalim. Namun bagaimana
indah nya Tuhan memberikan gambaran ucapan yang sangat indah ketika Nabi Musa bertemu
dengan Raja Fir’aun: ucapankan lah dengan ucapan yang baik dan lemah lembut.
Mari kita belajar bersama mengasah
spiritual kita untuk semakin terang melihat alam semesta yang terlihat gelap. Mari
kita belajar bersama-sama melihat kegelapan dengan belajar menjadikan semua
menjadi terang. Paling tidak prinsip hidup kita dulu, bukan orang lain. Meskipun
sama-sama gelap mungkin saya dan anda sedang gelap. Tapi jangan menjerit dulu. Duduk
lah di lantai. Tenangkan hati dan hadirkan tuhan dengan menyebut: allah, allah,
allah. Biarkan gelap terjadi, maka kita akan semakin bisa terbiasa melihat dalam
kegelapan.
Belajar mengenal diri, jangan-jangan
persoalan yang komplek karena datang dari komulatif dari persoalan kita yang
yang tidak disadarinya. Jangan-jangan kita terlalu peduli mencurahkan ucapan,
dan pikiran untuk mengkritik orang lain atau menghina orang lain, sedangkan
kekurangan diri kita sampai tidak terlihat lagi.
Semoga saja kita semakin bisa melihat diri
sendiri, men-syukuri kenikmatan yang besar sekali yaitu nikmat umur, kesehatan,
iman dan Islam. Itulah jalan kebahagiaan sejati.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872