Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 31: Ijtihad Politik dan Ijtihad Ilmu



Rabu , 30 April 2025



Telah dibaca :  455

Suatu hari Ali bin Abi Thalib menangis tersedu-sedu. Bukan karena persoalan politik. Bukan juga karena persoalan tidak mendapatkan bagian khumus dari ghonimah atau harta rampasan perang, mulai dari pemerintahan era Abu Bakar sampai pada era Utsman bin Affan. Bukan persoalan tersebut. Ia menangis karena membaca Surat Al-Baqarah ayat 31 yang berbunyi sebagai berikut:

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝٣١

Artinya:

Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!”

Mengapa menangis. Sebab Nabi telah mentasbih nya sebagai “babul ‘ilmi”, pintu nya ilmu. Ali merasa belum mempunyai ilmu sama sekali. Padahal, ia sahabat yang sangat cerdas, ilmuwan, zuhud, dan hidup penuh kesederhanaan dan semua sahabat mengakui kesempurnaan nya masih merasa belum punya ilmu. Ia membandingkan dengan Nabi Adam, betapa luasnya. Seluruh ilmu pengetahuan berada dalam genggamannya.

Para Sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan merupakan sahabat yang paripurna dalam hal kesempurnaan fisik, ilmu, amal dan ketakwaan kepada Allah serta keikhlasan dalam berjuang menegakan agama Islam. tidak ada orang yang menentang akan hujah-hujah nya. Ketika mereka melakukan ijtihad politik, tidak semua umat Islam saat itu menerima nya.

Abu Bakar mengalami traumatik saat pemilihannya menjadi khalifah. Ia melihat dengan mata dan kepala sendiri, betapa mengerikan persoalan suksesi kepemimpinan pasca meninggalnya nabi. Hingga pada saat menjelang akhir hidupnya, ia menunjuk Umar bin Khatab menjadi khalifah. Alasanya sederhana: jangan sampai gejolak politik terjadi lagi pada masa saat ia dipilih menjadi khalifah.

Penggantinya, Umar bin Khatab adalah administrator dan jendral perang sekaligus ilmuwan yang sangat mendalami persoalan agama dan politik. Lagi-lagi, ia meninggal dibunuh akibat persoalan politik internal.

Saat sebelum meninggal, Umar bin Khatab melakukan ijtihad politik. Ia membentuk ahlu hall wa al-aqd. Pilihan jatuh pada Utsman bin Affan. Semua menilai, hanya Utsman bin Affan yang pantas menggantikannya. Sahabat paripurna. rupawan, dermawan, ilmuwan dan golongan kaum bangsawan. Tidak boleh dilupakan lagi, dia juga menantu Nabi Muhammad yang menikahi dua putri yang cantik rupawan.

Apa yang terjadi. Kebijakan politiknya dikritik habis-habisan. Tuduhan rival politik sangat luarbiasa. Hingga berakhir dengan kematian yang sangat mengenaskan. Ia di bunuh di rumahnya sendiri. keluarganya secara diam-diam menguburkan jenazah di tengah malam. Khawatir musuhnya mengetahui pemakamannya.

Saat Utsman bin Affan meninggal, terjadilah kekosongan kekuasaan (vocum of power). Berbagai kelompok saling klaim sebagai penggantinya. Pendukung Ali bin Abi Thalib melakukan ikrar secara demokrasi. Di depan masjid para jamaah berbaiat kepada Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.

Lagi-lagi Ali bin Abi Thalib yang paling ditakuti oleh musuh dalam medan pertempuran, yang lidah nya sangat fasih berargumentasi mendapatkan kritikan yang sangat mengerikan. Jika dibandingkan dengan pemerintah sebelumnya, hanya pada masa Ali bin Abi Thalib terjadi demonstrasi dan kudeta dari kelompok-kelompok yang tidak menyukai kebijakan politiknya. Justru orang-orang yang memimpin perang melawannya adalah dari keluarganya dan keluarga sahabat-sahabatnya seperti Perang Jamal dan Perang Siffin.

Di tubuh internal pendukung Ali pun terbelah. Pasukan Ali terbelah menjadi dua: Syiah dan Khawarij. Lebih menyedihkan lagi, sahabat Ali bin Abi Thalib meninggal karena di bunuh. Sangat jelas, konspirasi politik pada era klasik sudah lama terjadi. Disini bukan persoalan sama-sama satu agama, tapi sama-sama satu kepentingan bisa mengabaikan persoalan yang sangat prinsipil sekali seperti agama dan persaudaraan satu keluarga besar.

Jadi dalam dunia politik, teori-teori politik yang ditawarkan oleh Al-Farabi dan Al-Ghozali sering tidak berbanding lurus dengan realita kehidupan. Syarat bahwa seorang kepala negara harus bertakwa tidak menjadi jaminan tercipta kedamaian suatu bangsa. Selain karena batas-batas makna takwa yang terlihat abstrak, juga tuntutan masyarakat yang sangat komplek sekali. Pada persoalan-persoalan tersebut, kepala negara selain membutuhkan perangkat agama, juga membutuhkan perangkat yang lengkap dan cerdas untuk mengurai berbagai persoalan-persoalan yang bersifat operasional tadi. Jika tidak mampu, sehebat apapun dan sedalam apapun ilmu agama nya, maka ia akan dihujat oleh masyarakatnya sendiri. tidak peduli apa agamanya dan apa sukunya.

Dalam dunia politik yang baik sebenarnya mampu memanusiakan manusia. Siapapun pemimpin dan seperti apapun ibadahnya sering tidak menjadi indikator bahwa ia benar-benar mempunyai kesholehan sosial. Di berbagai daerah ada beragam kepala daerah yang telah menginspirasi. Ia benar-benar melayani masyarakatnya dengan setulus hati. Meskipun oleh kelompok tertentu dianggap tidak jelas status agamanya, masyarakat sangat senang dan nyaman atas kebijakan-kebijakan yang sangat pro pada kepentingan masyarakat.

Di Negara Indonesia tentu saja idealnya seorang pemimpin selain mempunyai kemulyaan spiritual keagamaan, juga mempunyai kejeniusan mengelola daerah yang dipimpinnya. Dan saya melihat sudah cukup banyak kepala-kepala daerah yang mempunyai kemampuan keduanya. Jika toh pas-pasan pemahaman agamanya, paling tidak ilmu “ngurus” masyarakat cukup matang. Ma’lum, masyarakat beragam latarbelakang.

Tentu saja, selain ijtihad politik yang dilakukan oleh para politikus, para ilmuwan dan orang-orang yang diberi pemahaman baik tentang agama juga tidak boleh berdiam diri. Mereka mempunyai fungsi penjaga nilai-nilai keagungan. Cerewetnya para ilmuwan merupakan tanda bahwa negara masih sehat. Tapi saat ilmuwan diam dan agamawan tidak peduli, saya khawatir bangsa dan negara ini bertambah sakit keras. Tentu saja, cerewetnya tidak boleh menghilangkan moralitas yang agung.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872