
Suatu hari Ali bin Abi Thalib menangis
tersedu-sedu. Bukan karena persoalan politik. Bukan juga karena persoalan tidak
mendapatkan bagian khumus dari ghonimah atau harta rampasan perang, mulai dari
pemerintahan era Abu Bakar sampai pada era Utsman bin Affan. Bukan persoalan
tersebut. Ia menangis karena membaca Surat Al-Baqarah ayat 31 yang berbunyi
sebagai berikut:
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى
الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ
صٰدِقِيْنَ ٣١
Artinya:
Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya
berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!”
Mengapa menangis. Sebab Nabi telah
mentasbih nya sebagai “babul ‘ilmi”, pintu nya ilmu. Ali merasa belum
mempunyai ilmu sama sekali. Padahal, ia sahabat yang sangat cerdas, ilmuwan,
zuhud, dan hidup penuh kesederhanaan dan semua sahabat mengakui kesempurnaan
nya masih merasa belum punya ilmu. Ia membandingkan dengan Nabi Adam, betapa
luasnya. Seluruh ilmu pengetahuan berada dalam genggamannya.
Para Sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar bin
Khatab, Utsman bin Affan merupakan sahabat yang paripurna dalam hal
kesempurnaan fisik, ilmu, amal dan ketakwaan kepada Allah serta keikhlasan
dalam berjuang menegakan agama Islam. tidak ada orang yang menentang akan hujah-hujah
nya. Ketika mereka melakukan ijtihad politik, tidak semua umat Islam saat itu
menerima nya.
Abu Bakar mengalami traumatik saat
pemilihannya menjadi khalifah. Ia melihat dengan mata dan kepala sendiri,
betapa mengerikan persoalan suksesi kepemimpinan pasca meninggalnya nabi. Hingga
pada saat menjelang akhir hidupnya, ia menunjuk Umar bin Khatab menjadi
khalifah. Alasanya sederhana: jangan sampai gejolak politik terjadi lagi pada
masa saat ia dipilih menjadi khalifah.
Penggantinya, Umar bin Khatab adalah
administrator dan jendral perang sekaligus ilmuwan yang sangat mendalami
persoalan agama dan politik. Lagi-lagi, ia meninggal dibunuh akibat persoalan
politik internal.
Saat sebelum meninggal, Umar bin Khatab melakukan
ijtihad politik. Ia membentuk ahlu hall wa al-aqd. Pilihan jatuh pada Utsman
bin Affan. Semua menilai, hanya Utsman bin Affan yang pantas menggantikannya. Sahabat
paripurna. rupawan, dermawan, ilmuwan dan golongan kaum bangsawan. Tidak boleh
dilupakan lagi, dia juga menantu Nabi Muhammad yang menikahi dua putri yang
cantik rupawan.
Apa yang terjadi. Kebijakan politiknya dikritik
habis-habisan. Tuduhan rival politik sangat luarbiasa. Hingga berakhir dengan
kematian yang sangat mengenaskan. Ia di bunuh di rumahnya sendiri. keluarganya
secara diam-diam menguburkan jenazah di tengah malam. Khawatir musuhnya
mengetahui pemakamannya.
Saat Utsman bin Affan meninggal, terjadilah
kekosongan kekuasaan (vocum of power). Berbagai kelompok saling klaim sebagai
penggantinya. Pendukung Ali bin Abi Thalib melakukan ikrar secara demokrasi. Di
depan masjid para jamaah berbaiat kepada Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.
Lagi-lagi Ali bin Abi Thalib yang paling
ditakuti oleh musuh dalam medan pertempuran, yang lidah nya sangat fasih berargumentasi
mendapatkan kritikan yang sangat mengerikan. Jika dibandingkan dengan
pemerintah sebelumnya, hanya pada masa Ali bin Abi Thalib terjadi demonstrasi
dan kudeta dari kelompok-kelompok yang tidak menyukai kebijakan politiknya. Justru
orang-orang yang memimpin perang melawannya adalah dari keluarganya dan keluarga
sahabat-sahabatnya seperti Perang Jamal dan Perang Siffin.
Di tubuh internal pendukung Ali pun
terbelah. Pasukan Ali terbelah menjadi dua: Syiah dan Khawarij. Lebih menyedihkan
lagi, sahabat Ali bin Abi Thalib meninggal karena di bunuh. Sangat jelas,
konspirasi politik pada era klasik sudah lama terjadi. Disini bukan persoalan
sama-sama satu agama, tapi sama-sama satu kepentingan bisa mengabaikan
persoalan yang sangat prinsipil sekali seperti agama dan persaudaraan satu
keluarga besar.
Jadi dalam dunia politik, teori-teori
politik yang ditawarkan oleh Al-Farabi dan Al-Ghozali sering tidak berbanding
lurus dengan realita kehidupan. Syarat bahwa seorang kepala negara harus
bertakwa tidak menjadi jaminan tercipta kedamaian suatu bangsa. Selain karena
batas-batas makna takwa yang terlihat abstrak, juga tuntutan masyarakat yang
sangat komplek sekali. Pada persoalan-persoalan tersebut, kepala negara selain
membutuhkan perangkat agama, juga membutuhkan perangkat yang lengkap dan cerdas
untuk mengurai berbagai persoalan-persoalan yang bersifat operasional tadi. Jika
tidak mampu, sehebat apapun dan sedalam apapun ilmu agama nya, maka ia akan
dihujat oleh masyarakatnya sendiri. tidak peduli apa agamanya dan apa sukunya.
Dalam dunia politik yang baik sebenarnya
mampu memanusiakan manusia. Siapapun pemimpin dan seperti apapun ibadahnya
sering tidak menjadi indikator bahwa ia benar-benar mempunyai kesholehan
sosial. Di berbagai daerah ada beragam kepala daerah yang telah menginspirasi. Ia
benar-benar melayani masyarakatnya dengan setulus hati. Meskipun oleh kelompok
tertentu dianggap tidak jelas status agamanya, masyarakat sangat senang dan
nyaman atas kebijakan-kebijakan yang sangat pro pada kepentingan masyarakat.
Di Negara Indonesia tentu saja idealnya
seorang pemimpin selain mempunyai kemulyaan spiritual keagamaan, juga mempunyai
kejeniusan mengelola daerah yang dipimpinnya. Dan saya melihat sudah cukup
banyak kepala-kepala daerah yang mempunyai kemampuan keduanya. Jika toh
pas-pasan pemahaman agamanya, paling tidak ilmu “ngurus” masyarakat
cukup matang. Ma’lum, masyarakat beragam latarbelakang.
Tentu saja, selain ijtihad politik yang
dilakukan oleh para politikus, para ilmuwan dan orang-orang yang diberi pemahaman
baik tentang agama juga tidak boleh berdiam diri. Mereka mempunyai fungsi
penjaga nilai-nilai keagungan. Cerewetnya para ilmuwan merupakan tanda bahwa
negara masih sehat. Tapi saat ilmuwan diam dan agamawan tidak peduli, saya khawatir bangsa dan negara ini bertambah sakit keras. Tentu saja, cerewetnya tidak boleh menghilangkan
moralitas yang agung.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872