
Dulu saat saya pernah sering main-main di
pesantren tradisional kira-kira berumur 13 tahunan sering mendengar para santri
menghapalkan kitab gramatikal bahasa arab seperti Kitab Jurmiyah, Imriti dan
yang paling fenomenal yaitu Kitab Al-Fiyah Ibnu
Malik. Saya senang mendengarkan mereka mengahapalkan kitab-kitab tersebut.
sebab saat mereka sama-sama menghafalkan, suara serentak, irama nya sama dan
dilagukan khas pesantren serta diiringi alat musik asal-asalan berasal dari
piring seng, tempurung atau ember yang sudah berlubang. Asik sekali. Mereka bahagia
dalam lautan ilmu pengetahuan. Mereka penerus generasi ilmu yang Insya allah bagian
dari generasi pembawa obor warosatul anbiya.
Ilmu merupakan cahaya yang datang dari Allah
dan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Jika Allah menghendaki
suatu pemahaman luas kepada hamba-hamba-Nya, maka tidak ada yang tidak mungkin
bagi-Nya. Allah yang telah menitipkan ilmu kepada hamba-hamba-Nya yang
terpilih. Semua ilmu tersebut agar manusia sadar dan tawadhu atas dirinya
sendiri di hadapan-Nya.
Penulis teringat firman Allah swt dalam Q.S.
Al-Baqarah ayat 32 sebagai berikut:
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ
أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Artinya:
Mereka berkata, “maha suci engkau, tiada
ilmu pada kami kecuali yang engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya, engkau
maha mengetahui lagi maha bijaksana.
Menurut Syeikh Jalaludin dalam Tafsir
Jalalain, firman tersebut sebagai bentuk pensucian para Malaikat akan fakta
diri mereka dihadapan Nabi Adam, dan atas keagungan Allah atas segala
pengetahuan-Nya. Malaikat menyadari dengan sepenuh hati mengakui keluasan ilmu Nabi Adam. Saat Allah memerintah sujud, malaikat dengan spontanitas sujud. Iblis
tidak mau. Hatinya tertutup oleh nafsu. cahaya kebenaran di depan mata tertutup
oleh kabut kesombongan yang sangat parah. Ia terus marah, emosi, dan dendam
sepanjang hayat kepada adam dan keturunannya.
Syeikh Al-Baidhawi melihat ayat tersebut
sebagai wujud dari kelembutan hati malaikat dan ketulusannya mengakui segala
kekurangan. Dua sikap yang sangat menginspirasi bagi manusia bagi orang yang
sedang merambah jalan mencari jalan-jalan ilmu pengetahuan. Sebab ilmu
pengetahuan ketika semakin dalam pemahamannya, maka akan semakin menemukan
titik temu keindahan sikap, ucapan dan perilaku dalam kehidupan bermuamalah.
Dalam tradisi pesantren, ada kalimat yang
sering menjadi jimat tentang ilmu laduni seperti dalam Kitab Al-Fiyah Ibnu
Malik sebagai berikut:
وَفِى لَدُنِّى لَدُنِى قَلَّ وَفِى قَدْنِى وَقَطْنِى الْحَذْفُ اَيْضًا
قَدْ يَفِى
Bahwa ilmu laduni itu sangat sedikit dan untuk mencapainya harus dengan usaha
secara maksimal. Namun ada juga melalui proses yang dikehendaki oleh Allah
sebagaimana yang penulis terangkan di atas. Semua itu saya rangkum dari
pendapat para ulama yang telah mendapatkan ilmu-ilmu dan pemahaman-pemahaman
yang sangat luas.
Saya sebagai penulis artikel ini tentu saja jauh dari pemahaman hakikat
dari ilmu tersebut. terlalu kotor untuk membicarakan rahasia-rahasia yang
mungkin hanya di dapat oleh orang-orang khawasul khawas. Saya dan sebagian dari
para pembaca artikel ini yang masih banyak debu-debu maksiat tentu saja terus berharap
agar senantiasa mendapatkan hidayah dan petunjuk-petunjuk dari-Nya.
Saya dan mungkin anda masih dalam kebimbangan terhadap perbagai kisah baik
dalam Al-Qur’an maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kebimbangan bukan tidak percaya.
Tapi kebimbangan melihat kebenaran yang terlihat kontradiktif. Kita sering kebingungan
mencerna kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Keduanya kekasih Allah. Namun dalam
kasat mata, ada kontradiktif dalam ilmu-ilmu syariat. Namun saat ini dibawa ke
ranah filosofisnya, perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Khidr ternyata juga bisa
dibenarkan dalam hakikat nya.
Saya dan anda juga melihat fenomena kehidupan kekinian. Para ilmuwan melihat
berbagai persoalan politik, konflik sosial dan juga agama telah melibatkan
orang-orang yang dianggap sebagai orang-orang hebat saling serang menyerang,
konflik yang ditampakan di media sosial secara terbuka. Caci maki dan saling
menjatuhkan telah menjadi hiasan setiap saat.
Apakah peristiwa tersebut merupakan suatu contoh dari runtutan kisah
dalam al-Qur’an tentang hakikat dari suatu kebenaran yang tidak hanya dibatasi
pada satu dimensi dan kita harus bisa menerima dari perspektif yang berbeda.
sebagaimana ketika kita melihat pada kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr?
Melihat fenomena di Media Sosial atau fakta di lapangan sering terasa
sangat sedih. Kadang bertanya-tanya, dimana letak ilmu tersebut?. Apakah ilmu sebagai
cahaya harus berubah menjadi bara api dalam perjalanan sejarah manusia?. Ternyata
akal manusia tidak mampu menyelesaikan dengan hitungan-hitungan rasional
manusia.
Sedih melihatnya. Tapi akal tidak mampu menjelaskan secara rinci untuk
menjawab semua itu. Ada pro dan kontra dalam kehidupan sosial.
Sebagai penutup tulisan ini, saya menghibur diri dengan sebuah dialog
dua ulama besar KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Hamim Tohari Jazuli
(Gus Miek) suatu hari berdialog tentang kondisi bangsa Indonesia sebagai
berikut:
Gus Dur : Gus Miek, pemerintah saat ini dalam kondisi
tidak jelas.
Gus Miek : Mboten nopo-nopo
Gus Dur : Tapi kemiskinan,
konflik atas nama agama dan suku masih
terus terjadi.
Gus Miek : Mboten nopo-nopo
Gus Dur : Tapi pemerintah masih bermasalah, hukum
belum bisa ditegakan.
Gus Miek : Mboten nopo-nopo.
Gus Dur : Kok mboten nopo-nopo
terus, Gus (kok tidak ada masalah terus gus).
Gus Miek : Iya tidak jadi masalah, yang masalah kita berdua.
Gus Dur : Kok bisa begitu Gus !
Gus Miek : Sebab kita sibuk melihat kejelekan orang lain, dan orang lain
sudah berbuat tapi sampai hari ini kita belum berbuat apa-apa.
Gus Dur terdiam. Ia semakin menyadari bahwa mengurus bangsa tidak mudah dan pasti banyak persoalan. Meskipun demikian, mereka telah berbuat baik. Akhirnya, Gus Dur melihat semua ini berhusnudhon kepada Allah akan seluruh kejadian ini. Tapi disisi lain, ia tetap terus mengawal kebenaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam perbuatan nyata. Sikap Gus Dur seperti saya nilai sebagai bagian dari wujud ilmu laduni, yaitu semakin melihat seluruh kejadian menjadi semakin mendekatkan diri kepada Allah swt dengan terus berbuat kebaikan sesuai dengan tugas masing-masing.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   90
Kesuksesan di Antara Ujian, Keterbatasan dan Konsisten Terus Berkarya
30 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   140
Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   135
Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   229
Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13818
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3863
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3266