Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 32: Kisah Ilmu Laduni, Gus Dur dan Gus Miek



Selasa , 06 Mei 2025



Telah dibaca :  675

Dulu saat saya pernah sering main-main di pesantren tradisional kira-kira berumur 13 tahunan sering mendengar para santri menghapalkan kitab gramatikal bahasa arab seperti Kitab Jurmiyah, Imriti dan yang paling fenomenal yaitu Kitab Al-Fiyah Ibnu  Malik. Saya senang mendengarkan mereka mengahapalkan kitab-kitab tersebut. sebab saat mereka sama-sama menghafalkan, suara serentak, irama nya sama dan dilagukan khas pesantren serta diiringi alat musik asal-asalan berasal dari piring seng, tempurung atau ember yang sudah berlubang. Asik sekali. Mereka bahagia dalam lautan ilmu pengetahuan. Mereka penerus generasi ilmu yang Insya allah bagian dari generasi pembawa obor warosatul anbiya.

Ilmu merupakan cahaya yang datang dari Allah dan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Jika Allah menghendaki suatu pemahaman luas kepada hamba-hamba-Nya, maka tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Allah yang telah menitipkan ilmu kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Semua ilmu tersebut agar manusia sadar dan tawadhu atas dirinya sendiri di hadapan-Nya.

Penulis teringat firman Allah swt dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 32 sebagai berikut:

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Artinya:

Mereka berkata, “maha suci engkau, tiada ilmu pada kami kecuali yang engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya, engkau maha mengetahui lagi maha bijaksana.

Menurut Syeikh Jalaludin dalam Tafsir Jalalain, firman tersebut sebagai bentuk pensucian para Malaikat akan fakta diri mereka dihadapan Nabi Adam, dan atas keagungan Allah atas segala pengetahuan-Nya. Malaikat menyadari dengan sepenuh hati mengakui keluasan ilmu Nabi Adam. Saat Allah memerintah sujud, malaikat dengan spontanitas sujud. Iblis tidak mau. Hatinya tertutup oleh nafsu. cahaya kebenaran di depan mata tertutup oleh kabut kesombongan yang sangat parah. Ia terus marah, emosi, dan dendam sepanjang hayat kepada adam dan keturunannya.

Syeikh Al-Baidhawi melihat ayat tersebut sebagai wujud dari kelembutan hati malaikat dan ketulusannya mengakui segala kekurangan. Dua sikap yang sangat menginspirasi bagi manusia bagi orang yang sedang merambah jalan mencari jalan-jalan ilmu pengetahuan. Sebab ilmu pengetahuan ketika semakin dalam pemahamannya, maka akan semakin menemukan titik temu keindahan sikap, ucapan dan perilaku dalam kehidupan bermuamalah.

Dalam tradisi pesantren, ada kalimat yang sering menjadi jimat tentang ilmu laduni seperti dalam Kitab Al-Fiyah Ibnu Malik sebagai berikut:

وَفِى لَدُنِّى لَدُنِى قَلَّ وَفِى قَدْنِى وَقَطْنِى الْحَذْفُ اَيْضًا قَدْ يَفِى

Bahwa ilmu laduni itu sangat sedikit dan untuk mencapainya harus dengan usaha secara maksimal. Namun ada juga melalui proses yang dikehendaki oleh Allah sebagaimana yang penulis terangkan di atas. Semua itu saya rangkum dari pendapat para ulama yang telah mendapatkan ilmu-ilmu dan pemahaman-pemahaman yang sangat luas.

Saya sebagai penulis artikel ini tentu saja jauh dari pemahaman hakikat dari ilmu tersebut. terlalu kotor untuk membicarakan rahasia-rahasia yang mungkin hanya di dapat oleh orang-orang khawasul khawas. Saya dan sebagian dari para pembaca artikel ini yang masih banyak debu-debu maksiat tentu saja terus berharap agar senantiasa mendapatkan hidayah dan petunjuk-petunjuk dari-Nya.

Saya dan mungkin anda masih dalam kebimbangan terhadap perbagai kisah baik dalam Al-Qur’an maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kebimbangan bukan tidak percaya. Tapi kebimbangan melihat kebenaran yang terlihat kontradiktif. Kita sering kebingungan mencerna kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Keduanya kekasih Allah. Namun dalam kasat mata, ada kontradiktif dalam ilmu-ilmu syariat. Namun saat ini dibawa ke ranah filosofisnya, perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Khidr ternyata juga bisa dibenarkan dalam hakikat nya.

Saya dan anda juga melihat fenomena kehidupan kekinian. Para ilmuwan melihat berbagai persoalan politik, konflik sosial dan juga agama telah melibatkan orang-orang yang dianggap sebagai orang-orang hebat saling serang menyerang, konflik yang ditampakan di media sosial secara terbuka. Caci maki dan saling menjatuhkan telah menjadi hiasan setiap saat.

Apakah peristiwa tersebut merupakan suatu contoh dari runtutan kisah dalam al-Qur’an tentang hakikat dari suatu kebenaran yang tidak hanya dibatasi pada satu dimensi dan kita harus bisa menerima dari perspektif yang berbeda. sebagaimana ketika kita melihat pada kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr?

Melihat fenomena di Media Sosial atau fakta di lapangan sering terasa sangat sedih. Kadang bertanya-tanya, dimana letak ilmu tersebut?. Apakah ilmu sebagai cahaya harus berubah menjadi bara api dalam perjalanan sejarah manusia?. Ternyata akal manusia tidak mampu menyelesaikan dengan hitungan-hitungan rasional manusia.

Sedih melihatnya. Tapi akal tidak mampu menjelaskan secara rinci untuk menjawab semua itu. Ada pro dan kontra dalam kehidupan sosial.

Sebagai penutup tulisan ini, saya menghibur diri dengan sebuah dialog dua ulama besar KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Hamim Tohari Jazuli (Gus Miek) suatu hari berdialog tentang kondisi bangsa Indonesia sebagai berikut:

Gus Dur   : Gus Miek, pemerintah saat ini dalam kondisi tidak jelas.

Gus Miek : Mboten nopo-nopo

Gus Dur   : Tapi kemiskinan, konflik atas nama agama  dan suku masih terus terjadi.

Gus Miek : Mboten nopo-nopo

Gus Dur   : Tapi pemerintah masih bermasalah, hukum belum bisa ditegakan.

Gus Miek : Mboten nopo-nopo.

Gus Dur   : Kok mboten nopo-nopo terus, Gus (kok tidak ada masalah terus gus).

Gus Miek : Iya tidak jadi masalah, yang masalah kita berdua.

Gus Dur   : Kok bisa begitu Gus !

Gus Miek : Sebab kita sibuk melihat kejelekan orang lain, dan orang lain sudah berbuat tapi sampai hari ini kita belum berbuat apa-apa.

Gus Dur terdiam. Ia semakin menyadari bahwa mengurus bangsa tidak mudah dan pasti banyak persoalan. Meskipun demikian, mereka telah berbuat baik. Akhirnya, Gus Dur melihat semua ini berhusnudhon kepada Allah akan seluruh kejadian ini.  Tapi disisi lain, ia tetap terus mengawal kebenaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam perbuatan nyata. Sikap Gus Dur seperti saya nilai sebagai bagian dari wujud ilmu laduni, yaitu semakin melihat seluruh kejadian menjadi semakin mendekatkan diri kepada Allah swt  dengan terus berbuat kebaikan sesuai dengan tugas masing-masing. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872