Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 35: Keluarga Algoritma



Minggu , 25 Mei 2025



Telah dibaca :  850

Media Sosial sebelum nya mempunyai tujuan untuk menyambung silaturahim tanpa batas. Ia mampu mendekatkan yang jauh. Ini sangat bermafaat. Ketika kita tidak bisa berinteraksi di dunia nyata karena persoalan “cupet” nya keuangan dan padatnya aktivitas, media sosial menjadi solusi efektif sebagai pengobat kerinduan.

Media sosial mulai menggeser hubungan sosial. Dulu sebatas sebagai platform “Mendekatkan yang jauh dan semakin dekat yang dekat” ternyata gagal. Mungkin sama gagalnya slogan pegadean: “Menyelesaikan masalah tanpa masalah”. Medsos telah menciptakan warna baru hubungan sosial yang berdampak pada” menjauhkan yang dekat” dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks hubungan sosial, mulai dari unit terkecil hingga lebih besar sebenarnya ada pondasi yang tidak boleh dihilangkan yaitu menciptakan suasana laksana surga. Kata Nabi “rumah ku adalah surga ku”.

Untuk membahas selanjutnya, penulis menampilkan dulu Q.S. Al-Baqarah ayat 35 sebagai berikut:

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۝٣٥

Artinya:

Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!”

Para mufasir telah membahas ayat tersebut tentang kehidupan nabi adam dan istrinya hawa. Tentang larangan mendekati pohon yang sering disebut pohon khuldi atau pohon kekekalan dan akibat kesalahan memakan buah pohon tersebut.

Penulis mulai membahas dari hadist nabi dulu tentang makna rumah sebagai surga. Tentu sabda nabi bermakna majazi. Metafor. Sebab secara dhohir, rumah nabi sangat jauh dari surga. Di rumahnya sering tidak ada makanan. Di rumahnya juga hanya ada tempat tidur yang sangat sederhana, ada karpet terbuat dari pelepah kurma.

Padahal para sahabat-sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman mempunyai tempat tidur dan karpet yang sangat bagus. Mereka sudah terbiasa melakukan perjalanan dan interaksi di pasar-pasar dengan para penjual dari China dan India serta Persia. Ada banyak keperluan rumah tangga yang bisa dibeli dengan mudah.

Surga rumah nabi letaknya dimana. Penulis memahami letaknya pada kekuatan hati dalam mengendalikan seluruh fenomena kehidupan dan perilaku keluarganya. Hatinya benar-benar menjadi pengendali sangat kuat dan mampu menundukan kemarahan, salah presepsi, konflik dan keterbatasan kebutuhan hidup menjadi bernilai ibadah kepada Allah SWT. Sehingga tidak ada sisa sampah di rumah nya. Semua berubah bernilai ibadah dan kecintaan kepada-Nya.

Umat Nabi berharap ingin seperti nya. Keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang tercipta keluarga laksana surga di dunia. Ada komunikasi yang hidup, senyuman yang menyejukan hati, canda tawa bahagia, dan ada juga kesedihan yang selalu mengingatkan kepada Sang Pencipta. Semua tercipta karena proses interaksi sosial di unit terkecil berjalan dengan baik. Pola interaksi ini kemudian diperluas oleh nabi seperti layaknya keluarga. Maka tercipta kehidupan sosial dengan nama madinah al-munawarah.

Kini kehidupan keluarga sudah berubah secara pelan-pelan. Memang masih ada unsur terpenting: ayah, ibu dan anak, dan cucu serta mertua. Masih utuh. Tapi bungkusnya sudah bermacam-macam. Pola makannya sudah berubah. Dulu bisa masak bersama-sama dan makan pun bersama-sama. Kini cukup dengan sekali “klik”, dan nunggu beberapa menit makanan sudah datang.

Dunia benar-benar sudah sangat dimanjakan. Jika surga isinya hiburan, maka saat sekarang ini sudah berisi hiburan. Suami menghadap ke barat, istri ke timur, menantu ke selatan, dan anak-anak menghadap ke atas. Semua nya sama-sama sedang menghibur diri dengan Iphone atau Android.

Media sosial sebagai jalan untuk saling interaksi sosial agar semakin hangat persaudaraan akan berubah menjadi media sosial berbasis algoritma. Sang pemilik platform media sosial yang berpusat di AS sudah tidak lagi peduli dengan silaturahim dan pahala. Mereka telah kelebihan keduanya. Benar-benar surga dunia. Media sosial sudah didesain menjadi media algoritma, yaitu berlandaskan pada serangkaian langkah-langkah dan perhitungan yang digunakan platform media sosial untuk menentukan konten apa yang akan ditampilkan kepada pengguna. Semakin banyak dilihat, semakin muncul maka semakin untung.

Kini prinsip media sosial sudah berbasis ekonomi. Ironisnya sering mengabaikan nilai-nilai moral dan agama. Konten mana yang sering muncul, itulah yang akan mendapatkan keuntungan.

Tentu sebagai seorang muslim harus ingat potongan firman Allah di atas “ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ “, jangan mendekati pada pohon yang membawa kekekalan (pada penderitaan selama-samanya yaitu neraka). Sebab pohon algoritma bukan tujuan hidup kita, tapi sebagai wasilah untuk mencapai kebahagiaan abadi.

Sebagai umat rasul, kita memang selalu diingatkan tentang asal kehidupan manusia yang berada di surga penuh dengan ketenangan. Kita harus belajar dan menundukan pola algoritma media sosial dengan tetap mengacu dari azas kemanfaatan dan juga jauh dari kemadharatan. Jangan sampai kita terjebak pada pohon algoritma yang fana, tapi penderitaan kekal selamanya. Jadikan pohon tersebut sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat.

 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872