
Media Sosial sebelum nya mempunyai tujuan untuk menyambung silaturahim
tanpa batas. Ia mampu mendekatkan yang jauh. Ini sangat bermafaat. Ketika kita
tidak bisa berinteraksi di dunia nyata karena persoalan “cupet” nya
keuangan dan padatnya aktivitas, media sosial menjadi solusi efektif sebagai
pengobat kerinduan.
Media sosial mulai menggeser hubungan sosial. Dulu sebatas sebagai
platform “Mendekatkan yang jauh dan semakin dekat yang dekat” ternyata gagal.
Mungkin sama gagalnya slogan pegadean: “Menyelesaikan masalah tanpa masalah”.
Medsos telah menciptakan warna baru hubungan sosial yang berdampak pada” menjauhkan
yang dekat” dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks hubungan sosial, mulai dari unit terkecil hingga lebih
besar sebenarnya ada pondasi yang tidak boleh dihilangkan yaitu menciptakan
suasana laksana surga. Kata Nabi “rumah ku adalah surga ku”.
Untuk membahas selanjutnya, penulis menampilkan dulu Q.S. Al-Baqarah ayat
35 sebagai berikut:
وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا
رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ
الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ٣٥
Artinya:
Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam
surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan
janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!”
Para mufasir telah membahas ayat tersebut tentang kehidupan nabi adam
dan istrinya hawa. Tentang larangan mendekati pohon yang sering disebut pohon
khuldi atau pohon kekekalan dan akibat kesalahan memakan buah pohon tersebut.
Penulis mulai membahas dari hadist nabi dulu tentang makna rumah sebagai
surga. Tentu sabda nabi bermakna majazi. Metafor. Sebab secara dhohir, rumah
nabi sangat jauh dari surga. Di rumahnya sering tidak ada makanan. Di rumahnya
juga hanya ada tempat tidur yang sangat sederhana, ada karpet terbuat dari
pelepah kurma.
Padahal para sahabat-sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman mempunyai
tempat tidur dan karpet yang sangat bagus. Mereka sudah terbiasa melakukan
perjalanan dan interaksi di pasar-pasar dengan para penjual dari China dan India
serta Persia. Ada banyak keperluan rumah tangga yang bisa dibeli dengan mudah.
Surga rumah nabi letaknya dimana. Penulis memahami letaknya pada kekuatan
hati dalam mengendalikan seluruh fenomena kehidupan dan perilaku keluarganya. Hatinya
benar-benar menjadi pengendali sangat kuat dan mampu menundukan kemarahan,
salah presepsi, konflik dan keterbatasan kebutuhan hidup menjadi bernilai
ibadah kepada Allah SWT. Sehingga tidak ada sisa sampah di rumah nya. Semua
berubah bernilai ibadah dan kecintaan kepada-Nya.
Umat Nabi berharap ingin seperti nya. Keterbatasan ekonomi tidak menjadi
penghalang tercipta keluarga laksana surga di dunia. Ada komunikasi yang hidup,
senyuman yang menyejukan hati, canda tawa bahagia, dan ada juga kesedihan yang
selalu mengingatkan kepada Sang Pencipta. Semua tercipta karena proses
interaksi sosial di unit terkecil berjalan dengan baik. Pola interaksi ini
kemudian diperluas oleh nabi seperti layaknya keluarga. Maka tercipta kehidupan
sosial dengan nama madinah al-munawarah.
Kini kehidupan keluarga sudah berubah secara pelan-pelan. Memang masih
ada unsur terpenting: ayah, ibu dan anak, dan cucu serta mertua. Masih utuh. Tapi
bungkusnya sudah bermacam-macam. Pola makannya sudah berubah. Dulu bisa masak
bersama-sama dan makan pun bersama-sama. Kini cukup dengan sekali “klik”,
dan nunggu beberapa menit makanan sudah datang.
Dunia benar-benar sudah sangat dimanjakan. Jika surga isinya hiburan,
maka saat sekarang ini sudah berisi hiburan. Suami menghadap ke barat, istri ke
timur, menantu ke selatan, dan anak-anak menghadap ke atas. Semua nya sama-sama
sedang menghibur diri dengan Iphone atau Android.
Media sosial sebagai jalan untuk saling interaksi sosial agar semakin
hangat persaudaraan akan berubah menjadi media sosial berbasis algoritma. Sang pemilik
platform media sosial yang berpusat di AS sudah tidak lagi peduli dengan
silaturahim dan pahala. Mereka telah kelebihan keduanya. Benar-benar surga
dunia. Media sosial sudah didesain menjadi media algoritma, yaitu berlandaskan
pada serangkaian langkah-langkah dan perhitungan yang digunakan platform media
sosial untuk menentukan konten apa yang akan ditampilkan kepada pengguna. Semakin
banyak dilihat, semakin muncul maka semakin untung.
Kini prinsip media sosial sudah berbasis ekonomi. Ironisnya sering
mengabaikan nilai-nilai moral dan agama. Konten mana yang sering muncul, itulah
yang akan mendapatkan keuntungan.
Tentu sebagai seorang muslim harus ingat potongan firman Allah di atas “
وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ “, jangan mendekati pada pohon yang membawa kekekalan
(pada penderitaan selama-samanya yaitu neraka). Sebab pohon algoritma
bukan tujuan hidup kita, tapi sebagai wasilah untuk mencapai kebahagiaan abadi.
Sebagai umat rasul, kita memang selalu diingatkan tentang asal kehidupan
manusia yang berada di surga penuh dengan ketenangan. Kita harus belajar dan
menundukan pola algoritma media sosial dengan tetap mengacu dari azas
kemanfaatan dan juga jauh dari kemadharatan. Jangan sampai kita terjebak pada
pohon algoritma yang fana, tapi penderitaan kekal selamanya. Jadikan pohon
tersebut sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872