Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 36: Manusia Transformatif



Rabu , 28 Mei 2025



Telah dibaca :  711

Tidak ada kejelekan dan kebatilan. Semua ciptaan Allah baik. Tidak ada ciptaan Allah yang batil. Alkohol dan segala jenisnya baik. Di dalamnya ada kemanfaatan yang bisa digunakan untuk kebaikan-kebaikan. Seperti dalam kesehatan, ia berguna dalam peningkatan kadar kolesterol baik, perlindungan jantung, potensi mencegah Alzheimer dan Parkinson. Bahan anestesi sangat bermanfaat untuk bius agar anak-anak saat khitan tidak sakit. masih banyak lagi berbagai kekayaan alam yang dianggap tidak memberi manfaat kini mulai terbukti kemanfaatanya.

Kenapa ada manusia mabuk akibat minuman keras. Kesalahan bukan pada Sang Penciptanya, juga bukan pada bendanya, tapi terletak pada kesalahan pikiran manusia. ia membuat karya yang membuat ia sendiri rusak. Akibat akal tidak berjalan dengan baik. Jadi yang membuat kerusakan manusia adalah manusia sendiri.

Setiap ciptaan Allah memberi kemanfaatan untuk kehidupan dan pengembangkan karir manusia. Tapi ilmu manusia kadang belum sampai pada tataran tersebut. akibatnya, ia berfikir sempit, mudah termakan dogma, suka menyalahkan dan pada akhirnya terprovokasi untuk saling menyakiti satu dengan lainnya.

Berfikiran sempit dan saling menyalahkan sebenarnya juga bukan asli watak manusia. manusia secara penciptaan sebagai makhluk terbaik. Lalu sebagian menjadi makhluk terendah. Hal ini akibat mengikuti makhluk yang tidak sempurna yaitu Iblis. Gara-gara mengikuti bisikan-bisikan tersebut, manusia terprovokasi sangat hebat. laksana sebuah candu, manusia akan mudah terperosok oleh tipuan iblis meskipun ia sudah taubat. Hari berikutnya akan kembali lagi seperti semula.

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 36 sebagai berikut:

فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۚ وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ ۝٣٦

Artinya:

Lalu, setan menggelincirkan keduanya darinya sehingga keduanya dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.”

Para mufasirin menceritakan kondisi adam dan hawa. Kehidupan pertama berada di surga. Aman, nyaman dan tentram. Saat mereka berkenalan dengan iblis, kehidupan yang berlimpah kenikmatan berubah menjadi ujian dan penderitaan fisik dan psikis saat berada di dunia.

Allah secara tegas telah menjelaskan kepada manusia agar senantiasa selalu memohon perlindungan kepada-Nya atas bisikan-bisikan dari iblis dan manusia yang sudah dipengaruhi oleh watak iblis, sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S. An-Nash sebagai berikut:

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ۝١

مَلِكِ النَّاسِۙ ۝٢

اِلٰهِ النَّاسِۙ ۝٣

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ۝٤

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ۝٥

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِࣖ ۝٦

Permohonan perlindungan manusia kepada Allah sebenarnya wujud dari otoritas manusia untuk menentukan diri sendiri. Meskipun demikian, surat An-Nash ini juga memberikan semacam warning bahwa netralitas pikiran manusia dan keinginan-keinginannya tidak selama nya memberi kebahagiaan hakiki. Manusia mudah tertipu oleh situasi, kondisi dan segala sesuatu yang berada di sekitarnya. Pada saat seperti ini, yang mampu memberi solusi keamaan dan perlindungan sejati hanya Allah SWT. Manusia tidak mampu memberikan rasa nyaman atau kebahagian yang sempurna. Ada keterbatasan-keterbatasan pada diri manusia ketika ia bersandar kepada benda-benda yang bersifat fana. Manusia selalu saja berfikir secara mendalam bahwa dalam kondisi apapun ia menginginkan suatu kebahagiaan sejati. Ironisnya, kebahagiaan sejati hanya bisa diraih ketika manusia mampu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Apakah orang-orang yang sudah mendekatkan diri kepada Allah sudah hilang potensi-potensi kejahatan dan sifat-sifat yang tidak terpuji. Apakah ada jaminan orang-orang ahli ibadah mampu menjadi manusia yang paripurna dan menjadi uswatun khasanah.

Idealnya demikian, bahwa orang-orang yang sudah mendekatkan diri kepada Allah mempunyai moralitas yang agung sebagaimana yang diajarkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Kenyataan tidak demikian. Sebagian mereka melakukan pendekatan kepada Allah sebatas pendekatan transaksional, atau pendekatan seperti anak-anak kecil ketika ia takut kepada orang tua nya. Ia tidak berani bermain Android atau Iphone. Tapi saat orang tua nya tidak dirumah, maka anak-anak akan leluasa bermain tanpa batas.

Manusia transaksional adalah manusia yang beribadah sebatas mencari keberuntungan dunia. Islam telah mencotohkan dengan sosok bernama Qarun. Ia mencurahkan segala kemampuannya ilmu pengetahuannya semata-mata karena curahan hati yang paling dalam atas ketidaknyamanan atas kondisi ekonomi keluarganya. Ia merasa manusia rendahan saat berada berada di dekat para bangsawan dan hartawan. Maka, ia berusaha terus menerus dan selalu memohon kepada Nabi Musa untuk memberi doa kepada nya agar bisa menjadi seorang hartawan.

Sedangkan lawan transaksional adalah manusia transformasional, yaitu manusia yang mampu menjadikan ajaran Islam sebagai jalan untuk melakukan suatu perubahan hidup, memberi motivasi dan mampu menciptakan pola hidup yang mengacu kepada prestasi. Pola yang seperti ini adalah wujud hamba-hamba Allah yang telah berhasil mengukir prestasi di dunia dan digunakan prestasi tersebut untuk kemaslahatan manusia dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hamba-hamba jenis ini sangat banyak, seperti Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Muhammad Saw.

Perbedaan karakter dua jenis manusia ini pada sandarannya. Kaum transaksional meskipun rajin beribadah kepada Allah, tapi hatinya keropos dan mudah tertipu oleh keindahan dunia. Sedangkan manusia transformasional merupakan wujud hati sudah menjadi milik Allah SWT. Hatinya laksana samudera dzikrullah, sedangkan dunia dan segala asesorisnya hanya sebatas debu-debu yang menempel. Ia mudah hilang saat gelombang dzikir ruhaniah dan jasadiah bersenandung. Pandangan ilahiah hidup. Jabatan, kekayaan, dan seluruh fasilitas kemulyaan dunia berada dalam kendalinya menjadi bernilai ibadah.

Pada wilayah ini penulis semakin menyadari bahwa perbedaan manusia transaksional dan transformasional terletak pada tujuan meletakan antara Tuhan dan harta kekayaan. Jika manusia sudah mampu meletakan Tuhan sebagai spirit untuk memulyakan-Nya, maka jabatan dan kekayaan akan bertransformasi menjadi menjadi jalan menciptakan peradaban yang mengalami perubahan sangat cepat ke arah keagungan. Tapi jika Tuhan yang disembah dikalahkan oleh asesoris dunia, maka tidak ada perubahan secara signifikan. Bahkan terkadang segala perubahan dan sejenisnya selalu saja menjadi persoalan dan fitnah.

Jika kita pada titik yang kedua, berarti kita harus semakin intropeksi diri atas kesalahan orientasi ibadah kita kepada-Nya. Kita tidak bisa melakukan inovasi-inovasi progresif saat Tuhan sudah disandera oleh akal dan hati manusia itu sendiri. Apapun yang dilakukan saat pada kondisi ini, target orientasinya sebatas kepentingan yang bersifat pragmatis meskipun terkadang dibungkus dengan hal-hal yang bersifat religius. Wajar pada akhirnya terjadi disharmonisasi di tengah-tengah masyarakat. Sering berkelahi, saling menjatuhkan dan saling mencaci maki tanpa henti. Semua hanya sebatas mencari pembenaran diri.

Saya kira untuk membangkitkan energi kita bisa melimpah dan kecerdasan kita tetap meningkat salah satu nya yaitu membangun transformasi spiritual yang berorientasi pada pembangunan lautan hati pada sinar-sinar ilahiyah. Saat ini sudah ada pada diri kita, maka ia akan memancar dan menyatu menjadi satu kekuatan energi yang sangat besar dan terang. Saat ini terjadi, maka transformasi benar-benar segara terwujud dalam alam nyata.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874