
Tidak ada kejelekan dan kebatilan. Semua ciptaan Allah baik. Tidak ada ciptaan Allah yang batil. Alkohol dan segala jenisnya baik. Di dalamnya ada kemanfaatan yang bisa digunakan untuk kebaikan-kebaikan. Seperti dalam kesehatan, ia berguna dalam peningkatan kadar kolesterol baik, perlindungan jantung, potensi mencegah Alzheimer dan Parkinson. Bahan anestesi sangat bermanfaat untuk bius agar anak-anak saat khitan tidak sakit. masih banyak lagi berbagai kekayaan alam yang dianggap tidak memberi manfaat kini mulai terbukti kemanfaatanya.
Kenapa ada manusia mabuk akibat minuman keras. Kesalahan bukan pada Sang Penciptanya, juga bukan pada bendanya, tapi terletak pada kesalahan pikiran manusia. ia membuat karya yang membuat ia sendiri rusak. Akibat akal tidak berjalan dengan baik. Jadi yang membuat kerusakan manusia adalah manusia sendiri.
Setiap ciptaan Allah memberi kemanfaatan untuk kehidupan dan
pengembangkan karir manusia. Tapi ilmu manusia kadang belum sampai pada tataran
tersebut. akibatnya, ia berfikir sempit, mudah termakan dogma, suka menyalahkan
dan pada akhirnya terprovokasi untuk saling menyakiti satu dengan lainnya.
Berfikiran sempit dan saling menyalahkan sebenarnya juga bukan asli
watak manusia. manusia secara penciptaan sebagai makhluk terbaik. Lalu sebagian
menjadi makhluk terendah. Hal ini akibat mengikuti makhluk yang tidak sempurna
yaitu Iblis. Gara-gara mengikuti bisikan-bisikan tersebut, manusia terprovokasi
sangat hebat. laksana sebuah candu, manusia akan mudah terperosok oleh tipuan
iblis meskipun ia sudah taubat. Hari berikutnya akan kembali lagi seperti
semula.
Allah telah berfirman
dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 36 sebagai berikut:
فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِۖ
وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۚ وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ
مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ ٣٦
Artinya:
Lalu, setan menggelincirkan keduanya darinya sehingga keduanya
dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami
berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta
bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang
ditentukan.”
Para mufasirin menceritakan kondisi adam dan hawa. Kehidupan pertama
berada di surga. Aman, nyaman dan tentram. Saat mereka berkenalan dengan iblis,
kehidupan yang berlimpah kenikmatan berubah menjadi ujian dan penderitaan fisik
dan psikis saat berada di dunia.
Allah secara tegas telah menjelaskan kepada manusia agar senantiasa
selalu memohon perlindungan kepada-Nya atas bisikan-bisikan dari iblis dan
manusia yang sudah dipengaruhi oleh watak iblis, sebagaimana yang dijelaskan
dalam Q.S. An-Nash sebagai berikut:
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ١
مَلِكِ النَّاسِۙ ٢
اِلٰهِ النَّاسِۙ ٣
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ٤
الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ٥
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِࣖ ٦
Permohonan perlindungan manusia kepada Allah sebenarnya wujud dari otoritas
manusia untuk menentukan diri sendiri. Meskipun demikian, surat An-Nash ini
juga memberikan semacam warning bahwa netralitas pikiran manusia dan keinginan-keinginannya
tidak selama nya memberi kebahagiaan hakiki. Manusia mudah tertipu oleh
situasi, kondisi dan segala sesuatu yang berada di sekitarnya. Pada saat
seperti ini, yang mampu memberi solusi keamaan dan perlindungan sejati hanya Allah
SWT. Manusia tidak mampu memberikan rasa nyaman atau kebahagian yang sempurna. Ada
keterbatasan-keterbatasan pada diri manusia ketika ia bersandar kepada
benda-benda yang bersifat fana. Manusia selalu saja berfikir secara mendalam
bahwa dalam kondisi apapun ia menginginkan suatu kebahagiaan sejati. Ironisnya,
kebahagiaan sejati hanya bisa diraih ketika manusia mampu mendekatkan diri
kepada Allah SWT.
Apakah orang-orang yang sudah mendekatkan diri kepada Allah sudah hilang
potensi-potensi kejahatan dan sifat-sifat yang tidak terpuji. Apakah ada
jaminan orang-orang ahli ibadah mampu menjadi manusia yang paripurna dan
menjadi uswatun khasanah.
Idealnya demikian, bahwa orang-orang yang sudah mendekatkan diri kepada Allah
mempunyai moralitas yang agung sebagaimana yang diajarkan oleh Allah kepada
hamba-hamba-Nya.
Kenyataan tidak demikian. Sebagian mereka melakukan pendekatan kepada Allah
sebatas pendekatan transaksional, atau pendekatan seperti anak-anak kecil
ketika ia takut kepada orang tua nya. Ia tidak berani bermain Android atau
Iphone. Tapi saat orang tua nya tidak dirumah, maka anak-anak akan leluasa
bermain tanpa batas.
Manusia transaksional adalah manusia yang beribadah sebatas mencari
keberuntungan dunia. Islam telah mencotohkan dengan sosok bernama Qarun. Ia mencurahkan
segala kemampuannya ilmu pengetahuannya semata-mata karena curahan hati yang
paling dalam atas ketidaknyamanan atas kondisi ekonomi keluarganya. Ia merasa manusia
rendahan saat berada berada di dekat para bangsawan dan hartawan. Maka, ia berusaha
terus menerus dan selalu memohon kepada Nabi Musa untuk memberi doa kepada nya
agar bisa menjadi seorang hartawan.
Sedangkan lawan transaksional adalah manusia transformasional, yaitu
manusia yang mampu menjadikan ajaran Islam sebagai jalan untuk melakukan suatu
perubahan hidup, memberi motivasi dan mampu menciptakan pola hidup yang mengacu
kepada prestasi. Pola yang seperti ini adalah wujud hamba-hamba Allah yang
telah berhasil mengukir prestasi di dunia dan digunakan prestasi tersebut untuk
kemaslahatan manusia dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hamba-hamba jenis
ini sangat banyak, seperti Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Muhammad Saw.
Perbedaan karakter dua jenis manusia ini pada sandarannya. Kaum transaksional
meskipun rajin beribadah kepada Allah, tapi hatinya keropos dan mudah tertipu
oleh keindahan dunia. Sedangkan manusia transformasional merupakan wujud hati
sudah menjadi milik Allah SWT. Hatinya laksana samudera dzikrullah,
sedangkan dunia dan segala asesorisnya hanya sebatas debu-debu yang menempel. Ia
mudah hilang saat gelombang dzikir ruhaniah dan jasadiah bersenandung. Pandangan
ilahiah hidup. Jabatan, kekayaan, dan seluruh fasilitas kemulyaan dunia berada dalam
kendalinya menjadi bernilai ibadah.
Pada wilayah ini penulis semakin menyadari bahwa perbedaan manusia
transaksional dan transformasional terletak pada tujuan meletakan antara Tuhan
dan harta kekayaan. Jika manusia sudah mampu meletakan Tuhan sebagai spirit
untuk memulyakan-Nya, maka jabatan dan kekayaan akan bertransformasi menjadi
menjadi jalan menciptakan peradaban yang mengalami perubahan sangat cepat ke
arah keagungan. Tapi jika Tuhan yang disembah dikalahkan oleh asesoris dunia,
maka tidak ada perubahan secara signifikan. Bahkan terkadang segala perubahan
dan sejenisnya selalu saja menjadi persoalan dan fitnah.
Jika kita pada titik yang kedua, berarti kita harus semakin intropeksi
diri atas kesalahan orientasi ibadah kita kepada-Nya. Kita tidak bisa melakukan
inovasi-inovasi progresif saat Tuhan sudah disandera oleh akal dan hati manusia
itu sendiri. Apapun yang dilakukan saat pada kondisi ini, target orientasinya
sebatas kepentingan yang bersifat pragmatis meskipun terkadang dibungkus dengan
hal-hal yang bersifat religius. Wajar pada akhirnya terjadi disharmonisasi di
tengah-tengah masyarakat. Sering berkelahi, saling menjatuhkan dan saling
mencaci maki tanpa henti. Semua hanya sebatas mencari pembenaran diri.
Saya kira untuk membangkitkan energi kita bisa melimpah dan kecerdasan
kita tetap meningkat salah satu nya yaitu membangun transformasi spiritual yang
berorientasi pada pembangunan lautan hati pada sinar-sinar ilahiyah. Saat ini
sudah ada pada diri kita, maka ia akan memancar dan menyatu menjadi satu
kekuatan energi yang sangat besar dan terang. Saat ini terjadi, maka transformasi
benar-benar segara terwujud dalam alam nyata.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2945
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874