
Dalam pandangan Islam, Allah senantiasa
campur tangan dalam proses kehidupan. Ketika datang suatu kesulitan, Allah
sebenarnya tidak sedang membiarkan manusia dalam penderitaan. Ia sedang memberikan
pembelajaran kepada manusia untuk bisa mengambil hikmah di dalam nya sehingga ia
mempunyai kreatifitas dan inovasi-inovasi menyelesaikan persoalan-persoalan
tersebut. Allah mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa hidup penuh dengan
progresifitas tanpa meninggalkan identitas sebagai seorang hamba. Identitas seorang
hamba Allah sejati yaitu berfikir, berbuat, berkarya semata-semata mencari ridha-Nya.
Allah mengajarkan kepada umat Nabi Muhammad
agar jangan sampai umatnya melakukan kesalahan sebagaimana yang telah dilakukan
oleh sebagian kaum Bani Israel. Allah telah mengabadikan perilaku mereka dalam Q.S.
Al-Baqarah ayat 49-52 sebagai berikut:
وَاِذْ
نَجَّيْنٰكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِ
يُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْۗ وَفِيْ ذٰلِكُمْ
بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ ٤٩
Artinya:
(Ingatlah)
ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun.
Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih
anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Pada yang
demikian terdapat cobaan yang sangat besar dari Tuhanmu.
وَاِذْ
فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ
وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ ٥٠
Artinya:
(Ingatlah)
ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan
(Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya).
وَاِذْ
وٰعَدْنَا مُوْسٰىٓ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ
بَعْدِهٖ وَاَنْتُمْ ظٰلِمُوْنَ ٥١
Artinya:
(Ingatlah)
ketika Kami menjanjikan (petunjuk Taurat) kepada Musa (melalui munajat selama)
empat puluh malam. Kemudian, kamu (Bani Israil) menjadikan (patung) anak sapi
(sebagai sembahan) setelah (kepergian)-nya, dan kamu (menjadi) orang-orang
zalim.
ثُمَّ
عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٥٢
Artinya:
Setelah itu,
Kami memaafkan kamu agar kamu bersyukur.
Ayat-ayat
tersebut di atas menggambarkan realita kenikmatan dan pertolongan Allah kepada Bani
Israel. Namun kemudian hari mereka tidak mensyukuri atas kenikmatan-kenikmatan
tersebut. Saat mereka mendapatkan ujian, mereka minta pertolongan kepada Allah,
tapi saat pertolongan datang, mereka melupakan Allah.
Allah maha
pengampun. Meskipun mereka sering melakukan kesalahan, Allah memberi maaf
kepada mereka agar mereka bisa mensyukuri kenikmatan tersebut. Meminjam
pendapat dari Sahl bin Abdullah, syukur berarti berusaha keras untuk
mencurahkan ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat baik sendiri maupun
bersama-sama
Kenyataannya kaum
Bani Israel tidak menyadari kesalahan tersebut. Ia terus melakukan kesalahan-kesalahan.
Mereka semakin jauh dari tuntutan dasar syariat dalam Kitab Taurat yaitu tidak
mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dan menganggap diri mereka bagian
dari anak Tuhan. Hal ini yang membuat sebagian sebagian dari kaum Bani Israel tidak
bisa memaknai syukur atas kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Hati
mereka tertutup dan tidak mendapatkan hidayah dari-Nya.
Menurut al-Ghazali
ada tiga macam hidayah, yaitu: pertama, mengenali jalan kebaikan dan kejahatan.
Hal ini diperoleh melalui akal. Tuhan memberi akal kepada manusia guna mengenali
hal tersebut. Kedua, meningkatkan ilmu dan amal sholeh. ketiga, merupakan cahaya
ilahiyah yang dapat memberikan petunjuk terhadap sesuatu yang tidak dapat
dicapai oleh akal
Salah satu
penyebab tertutupnya hidayah karena ada kesombongan pada diri kaum bani israel.
Kenikmatan sangat berlimpah yang diberikan kepada mereka telah membuat sombong
dan semakin angkuh. Hingga pada akhirnya melupakan allah swt.
Kasus terjadi
pada Bani Israel di atas sebagai pembelajaran umat Nabi Muhammad SAW. Kenikmatan
satu sisi sebagai bagian dari kasih sayang Allah, tapi pada sisi lain bagian
dari ujian manusia yang sangat berat. Bani Israel adalah sebuah contoh yang
bisa saja terjadi kepada umat Nabi Muhammad. Mereka lupa dan semakin jauh
kadang disebabkan karena kenikmatan dunia yang melimpah. Akibatnya mengalami
kehancuran dan kehinaan: bisa di dunia dan akherat, bisa juga kehinaan di
akherat nanti.
Seorang ulama agung
bernama Hasan Basri
Ya Allah,
bersihkan hati kami dari sombong, nifak, riya, sum’ah dan dari ragu pada
agama Mu. Ya Allah, tetapkan hati kami pada agama Mu jadikalah agama kami,
agama yang kuat”.
Doa Hasan Basri
tersebut menggambar realita manusia yang sangat sulit menghindari sifat-sifat
tersebut yang bisa terjadi sama siapa saja, baik para pejabat, ulama dan
masyarakat umum. Doa tersebut juga menggambarkan bahwa sifat-sifat negatif
tersebut seperti penyakit kanker yang terus menyerang seluruh organ tubuh
secara masih. Kita tidak menyadarinya, hingga kemudian hari kita baru tahu
bahwa kanker tersebut sudah masuk stadium 4. Saat ini terjadi, maka tidak ada
lagi kekuatan untuk melakukan penyembuhan.
Kita harus
hati-hati terhadap virus penyakit tersebut. ia bergerak sangat halus dan kadang
kita tidak menyadarinya bahwa kita telah terjangkit. Kesibukan kita melihat
segala kelebihan diri dan kesibukan kita melihat kekurangan orang lain
menyebabkan kita lupa untuk muhasabah binafsih. Itu sangat berpotensi sekali
terjadi pada sebagian dari umat Rasulullah SAW.
Kesadaran atas
bahaya tersebut, Syeikh Hasan Basri seorang ulama yang sudah mencapai tingkat mujtahid,
dan sudah mencapai kesufian tingkat tinggi menyadari dengan setulus hati bahwa
berdoa untuk meneguhkan diri dari sifat-sifat penyakit hati tersebut sangat
penting untuk selalu dipanjatkan kepada-Nya. Ini sebagai upaya untuk serius
dalam memperbaiki diri semakin hari semakin baik.
Saya -dan
mungkin anda -mungkin belum mencapai puncak kealiman, kekhusu’an, dan keikhlasan
seperti Syeikh Hasan Basri. Masih sangat jauh. Tapi bukan berarti kita tidak
bisa memanjatkan doa dan meneguhkan hati untuk konsisten menjauhi segala
penyakit hati tersebut di atas. Semua tergantung kepada diri kita sendiri untuk
berusaha memperbaiki diri. Jika kita terus-menerus merendahkan diri dihadapan-Nya
dengan terus mendawamkan -membiasakan -berdoa kepada-Nya, Insya Allah kita pun akan
menjadi kekasih-Nya.
Daftar Pustaka
al-Ghazali,
A. H. (1989). Mizan al-'Amal. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah .
al-Ghozali,
I. (2023). Mizanul Amal . Beirut: Darul Minhaj.
al-Qurtubi,
A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .
an-Naisabury,
I. a.-Q. (1987). Risalatul Qusairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya :
Risalah Gusti.
Imam Ghozali,
E. P. (2025). Puasa, Jihad dan Cinta . Banyumas: CV.Rizquna.
Jabali, F.
(2010). Sahabat Nabi, Siapa, Kemana, dan Bagaimana . Jakarta Selatan :
Mizan Publika.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875