Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 49-52: Sombong Stadium 4



Selasa , 05 Agustus 2025



Telah dibaca :  376

Dalam pandangan Islam, Allah senantiasa campur tangan dalam proses kehidupan. Ketika datang suatu kesulitan, Allah sebenarnya tidak sedang membiarkan manusia dalam penderitaan. Ia sedang memberikan pembelajaran kepada manusia untuk bisa mengambil hikmah di dalam nya sehingga ia mempunyai kreatifitas dan inovasi-inovasi menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Allah mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa hidup penuh dengan progresifitas tanpa meninggalkan identitas sebagai seorang hamba. Identitas seorang hamba Allah sejati yaitu berfikir, berbuat, berkarya semata-semata mencari ridha-Nya.

Allah mengajarkan kepada umat Nabi Muhammad agar jangan sampai umatnya melakukan kesalahan sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian kaum Bani Israel. Allah telah mengabadikan perilaku mereka dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 49-52 sebagai berikut:

وَاِذْ نَجَّيْنٰكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْۗ وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ ۝٤٩

Artinya:

(Ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Pada yang demikian terdapat cobaan yang sangat besar dari Tuhanmu.

وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ ۝٥٠

Artinya:

(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya).

وَاِذْ وٰعَدْنَا مُوْسٰىٓ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَنْتُمْ ظٰلِمُوْنَ ۝٥١

Artinya:

(Ingatlah) ketika Kami menjanjikan (petunjuk Taurat) kepada Musa (melalui munajat selama) empat puluh malam. Kemudian, kamu (Bani Israil) menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan) setelah (kepergian)-nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zalim.

ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝٥٢

Artinya:

Setelah itu, Kami memaafkan kamu agar kamu bersyukur.

Ayat-ayat tersebut di atas menggambarkan realita kenikmatan dan pertolongan Allah kepada Bani Israel. Namun kemudian hari mereka tidak mensyukuri atas kenikmatan-kenikmatan tersebut. Saat mereka mendapatkan ujian, mereka minta pertolongan kepada Allah, tapi saat pertolongan datang, mereka melupakan Allah.

Allah maha pengampun. Meskipun mereka sering melakukan kesalahan, Allah memberi maaf kepada mereka agar mereka bisa mensyukuri kenikmatan tersebut. Meminjam pendapat dari Sahl bin Abdullah, syukur berarti berusaha keras untuk mencurahkan ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat baik sendiri maupun bersama-sama (Qurthubi, 2015). Dzun-Nun Al-Mashri Abu Al-Faidh berkata: “Syukur terhadap orang yang ada di atasmu adalah ketaatan, terhadap orang sebanding dengan mu adalah pencukupan, dan terahadap orang yang ada di bawah mu adalah dengan kebaikan dan keutamaan”.

Kenyataannya kaum Bani Israel tidak menyadari kesalahan tersebut. Ia terus melakukan kesalahan-kesalahan. Mereka semakin jauh dari tuntutan dasar syariat dalam Kitab Taurat yaitu tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dan menganggap diri mereka bagian dari anak Tuhan. Hal ini yang membuat sebagian sebagian dari kaum Bani Israel tidak bisa memaknai syukur atas kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Hati mereka tertutup dan tidak mendapatkan hidayah dari-Nya.

Menurut al-Ghazali ada tiga macam hidayah, yaitu: pertama, mengenali jalan kebaikan dan kejahatan. Hal ini diperoleh melalui akal. Tuhan memberi akal kepada manusia guna mengenali hal tersebut. Kedua, meningkatkan ilmu dan amal sholeh. ketiga, merupakan cahaya ilahiyah yang dapat memberikan petunjuk terhadap sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh akal (al-Ghazali, 1989).

Salah satu penyebab tertutupnya hidayah karena ada kesombongan pada diri kaum bani israel. Kenikmatan sangat berlimpah yang diberikan kepada mereka telah membuat sombong dan semakin angkuh. Hingga pada akhirnya melupakan allah swt.

Kasus terjadi pada Bani Israel di atas sebagai pembelajaran umat Nabi Muhammad SAW. Kenikmatan satu sisi sebagai bagian dari kasih sayang Allah, tapi pada sisi lain bagian dari ujian manusia yang sangat berat. Bani Israel adalah sebuah contoh yang bisa saja terjadi kepada umat Nabi Muhammad. Mereka lupa dan semakin jauh kadang disebabkan karena kenikmatan dunia yang melimpah. Akibatnya mengalami kehancuran dan kehinaan: bisa di dunia dan akherat, bisa juga kehinaan di akherat nanti.

Seorang ulama agung bernama Hasan Basri (Imam Ghozali, 2025) dalam hidupnya selalu memanjatkan doa sebagai berikut:

Ya Allah, bersihkan hati kami dari sombong, nifak, riya, sum’ah dan dari ragu pada agama Mu. Ya Allah, tetapkan hati kami pada agama Mu jadikalah agama kami, agama yang kuat”.

Doa Hasan Basri tersebut menggambar realita manusia yang sangat sulit menghindari sifat-sifat tersebut yang bisa terjadi sama siapa saja, baik para pejabat, ulama dan masyarakat umum. Doa tersebut juga menggambarkan bahwa sifat-sifat negatif tersebut seperti penyakit kanker yang terus menyerang seluruh organ tubuh secara masih. Kita tidak menyadarinya, hingga kemudian hari kita baru tahu bahwa kanker tersebut sudah masuk stadium 4. Saat ini terjadi, maka tidak ada lagi kekuatan untuk melakukan penyembuhan.

Kita harus hati-hati terhadap virus penyakit tersebut. ia bergerak sangat halus dan kadang kita tidak menyadarinya bahwa kita telah terjangkit. Kesibukan kita melihat segala kelebihan diri dan kesibukan kita melihat kekurangan orang lain menyebabkan kita lupa untuk muhasabah binafsih. Itu sangat berpotensi sekali terjadi pada sebagian dari umat Rasulullah SAW.

Kesadaran atas bahaya tersebut, Syeikh Hasan Basri seorang ulama yang sudah mencapai tingkat mujtahid, dan sudah mencapai kesufian tingkat tinggi menyadari dengan setulus hati bahwa berdoa untuk meneguhkan diri dari sifat-sifat penyakit hati tersebut sangat penting untuk selalu dipanjatkan kepada-Nya. Ini sebagai upaya untuk serius dalam memperbaiki diri semakin hari semakin baik.

Saya -dan mungkin anda -mungkin belum mencapai puncak kealiman, kekhusu’an, dan keikhlasan seperti Syeikh Hasan Basri. Masih sangat jauh. Tapi bukan berarti kita tidak bisa memanjatkan doa dan meneguhkan hati untuk konsisten menjauhi segala penyakit hati tersebut di atas. Semua tergantung kepada diri kita sendiri untuk berusaha memperbaiki diri. Jika kita terus-menerus merendahkan diri dihadapan-Nya dengan terus mendawamkan -membiasakan -berdoa kepada-Nya, Insya Allah kita pun akan menjadi kekasih-Nya.

Daftar Pustaka

al-Ghazali, A. H. (1989). Mizan al-'Amal. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah .

al-Ghozali, I. (2023). Mizanul Amal . Beirut: Darul Minhaj.

al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .

an-Naisabury, I. a.-Q. (1987). Risalatul Qusairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti.

Imam Ghozali, E. P. (2025). Puasa, Jihad dan Cinta . Banyumas: CV.Rizquna.

Jabali, F. (2010). Sahabat Nabi, Siapa, Kemana, dan Bagaimana . Jakarta Selatan : Mizan Publika.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875