Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 54 : Sesembahan Bani Israel dan Implikasinya Terhadap Peradaban



Kamis , 21 Agustus 2025



Telah dibaca :  460

Ayat ini masih membahas perilaku kaum Bani Israel. Sebagaimana ayat sebelum nya yang telah membahas panjang lebar sepak terjang mereka, Ayat 54 juga menceritakan fakta-fakta sejarah betapa keras kepala keturunan Bani Israel sebagai berikut:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰى بَارِىِٕكُمْ فَاقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْۗ فَتَابَ عَلَيْكُمْۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ۝٥

Artinya:

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan). Oleh karena itu, bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu dalam pandangan Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

Ayat sebelumnya -ayat 53 -tentang harapan-harapan tuhan agar kaum Bani Israel mendapatkan petunjuk kebenaran kekuasaan-nya dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akherat. Ayat ini sebagai jawaban bahwa potensi akal pikiran kaum bani israel ternyata tidak digunakan untuk melihat segala kebenaran tuhan. mereka terus menentang dengan melawan ayat-ayat seperti menjadikan patung anak sapi sebagai sesembahan. Perbuatan tersebut merupakan pelanggaran tertinggi, yaitu menjadikan makhluk sebagai tandingan Tuhan.

Para mufasirin dalam berbagai kitab tafsirnya -yang telah penulis kutip sebelum nya – sudah menjelaskan panjang lebar kejahatan dan arogansi kaum Bani Israel menurut pandangan keilmuwan mereka masing-masing. Tidak ada kelompok manusia yang mempunyai kesombongan melebihi Bani Israel. Bukan hanya sombong kepada manusia, tapi kepada Sang Pencipta. Mereka berani menyembah selain Allah -menyembah sapi – ketika sebelum nya sudah mengenal-Nya melalui Rasulullah yaitu Nabi Musa AS.

Jika penulis mempelajari sejarah perkembangan agama, masyarakat mengenal agama melalui pencarian dengan cara mereka masing-masing. Masyarakat Indonesia melakukan pencarian Sang Penguasa melalui presepsi-presepsi sumber kekuatan yang dianggap mistis seperti batu-batu besar, pohon-pohon sebagai tempat persemayamnya kekuatan ghaib. Ini kemudian melahirkan paham animisme dan dinamisme. Setelah datang para pendakwah dari berbagai agama, sebagian penganut animisme dan dinamisme masuk agama pendatang seperti Hindu, Budha, Islam dan Kristen.

Sebagian kaum Bani Israel melakukan ritual justru zig-zaq. Dari sudah mengenal Tuhan, kemudian mencari Tuhan lain. Ironisnya Tuhan baru yang disembah adalah patung sapi terbuat dari emas. Para mufasirin menjelaskan hal ini karena pengaruh budaya Bangsa Mesir yang masih belum menerima agama tauhid. Karena para penguasa mereka adalah para penguasa penyembah berhala.

Tentu saja sangat ironis sekali hal ini terjadi. nenek moyang Bani Israel adalah Nabi Ya’qub dan kemudian Tuhan menurunkan beberapa Nabi dan Rasul untuk membimbing risalah tauhid. Namun tradisi ketauhidan yang diajarkan oleh nenek moyang mereka terhempas oleh suatu kejadian yang dianggap sangat luarbiasa, yaitu Patung Sapi yang bisa bersuara. Padahal semua itu merupakan rekayasa dari seorang pembuat patung bernama Samiri.

Apakah hal ini karena pengaruh pergaulan dengan bangsa mesir yang saat itu sudah mengalami kemajuan peradaban. Pendapat  Bisa jadi iya. Naluri manusia memang selalu senang melihat hal-hal yang bersifat menyenangkan dan hal-hal yang terlihat hebat, modern dan berperadaban yang bersifat duniawiyah. Manusia sering melihat diri dan orang di sekitarnya. Saat melihat diri biasa-biasa saja dan orang lain terlihat lebih hebat, maka akan muncul rasa iri dan ingin meniru seperti mereka.

Anak-anak muda Indonesia pada era 70-an hingga 90 an sangat gandrung terhadap tokoh politik Irak dan Iran yaitu Sadam Husein dan Ayatollah Khomeini. Dua tokoh yang mencerminkan pemimpin negara yang sangat maskulin, berwibawa dan berani menentang Israel dan AS. Gambar-gambar nya dijual di berbagai tempat, di toko buku, di pinggir-pinggir jalan dan di dekat-dekat kampus besar.

Sedangkan anak-anak kaum elit sangat gandrung terhadap Jerman dan AS. Anak-anak mereka kirim ke sekolah-sekolah bergengsi di kedua negara tersebut. Mereka pulang dan menjadi ekonom dan para pejabat negara. Ini yang kemudian meletakan dasar-dasar pemikiran ekonomi dan politik di Indonesia pada era Orde Baru.

Penulis juga berpandangan bahwa Bani Israel melakukan pembangkangan terhadap ajaran tauhid para nabi disebabkan karena kental nya pandangan materialisme yang sangat mengakar. Jika merujuk kepada sejarah masa lalu, kisah-kisah rencana pembunuhan terhadap Nabi Yusuf bagian dari ketidakmampuan saudara Yusuf bersaing dengannya pada hal-hal yang bersifat dunia seperti ketampanan, kecerdasan dan kelebihan-kelebihan lainnya. ini terlihat sederhana dan sepele, tapi faktanya sekarang bisa terlihat dengan jelas. Peristiwa perselingkuhan, perkelahian, pembunuhan dan perceraian tidak lepas karena dari faktor paras wajah seseorang. Dan ini juga dibuktikan saat para wanita bangsawan melihat ketampanan Nabi Yusuf, mereka melukai tangannya dan darah menetes ke lantai tidak terasa. Jari-jari putus tidak merasakan sakit. Keindahan wajah Yusuf telah menutup akal pikiran mereka sehingga rasa sakit pada diri mereka tidak ada. Ketampanan dan kecantikan sering hadir laksana ganja yang menghilangkan kesadaran akal manusia.

Pada masa Nabi Daud, sebagian kaum nya tidak patuh untuk beribadah di hari sabtu. Mereka tetap pergi ke laut. Saat berada di laut, mereka melihat sekumpulan ikan sangat banyak dan tidak terjadi pada hari-hari selain hari sabtu. Mereka kemudian berfikir bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Daud tidak mendatangkan keuntungan dunia. Mereka kemudian meninggalkan ajaran tuhan, dan setiap hari sabtu mereka selalu pergi ke laut mencari penghidupan.

Wajah-wajah Bani Israel adalah cermin dari wajah manusia yang mudah kagum terhadap orang lain, masyarakat lain atau peradaban bangsa lain. pada sisi positif, kaum Bani Israel tidak hanya kagum dan mengagumi bangsa lain, tapi berjuang untuk mengungguli nya dalam segala aspek kehidupan. Bahkan bukan hanya mengungguli, mereka bahkan melakukan langkah yang lebih ekstrim lagi yaitu menguasai bangsa-bangsa lain dalam genggaman kekuasaannya.

Pada sisi positif ini kelihatannya selain Bani Israel masih harus realistis mengakui kehebatan dan kegigihan mereka. Generasi Islam kelihatannya harus terbuka belajar etos kerja dan semangat belajar seperti kaum Bani Israel. Apalagi jika dilihat dari ajaran Islam yang sudah ya’ulu wala yu’la ‘alaihi sangat memenuhi perangkat untuk mencapai peradaban yang bisa melebihi dari Bani Israel. Tapi kapan waktunya, tentu saja semua ini berangkat dari kesadaran kolektif umat Islam untuk melakukan ijtihad-ijtihad ilmu pengetahuan, sanit dan teknologi.

Sebagai penutup tulisan ini yang menjadi menarik ayat tersebut di atas terletak pada kalimat terakhir yaitu “اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ “, Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat Lagi Maha Penyayang.

Kita sudah ma’lum bahwa kejahatan Bani Israel sudah mashur di seluruh muka bumi, tapi Tuhan tetap memberi peluang kepada mereka untuk kembali ke ajaran Islam yaitu ajaran Islam yang dibawa oleh para Rasul mereka yang telah diteruskan oleh Rasul penutup para Rasul yaitu Nabi Muhammad SAW.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875