Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 55 : Kebencian Bisa Menutup Kebenaran



Sabtu , 23 Agustus 2025



Telah dibaca :  415

Ayat ini merupakan lanjutan bagian dari kedurhakaan kaum Bani Israel. Selain mereka menyembah Patung Sapi buatan Samiri -pada ayat 54 -pada ayat 55 menantang secara nyata kepada Nabi Musa agar menunjukan eksistensi Tuhan ke hadapan mereka. Allah telah berfirman sebagai berikut:

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْكُمُ الصّٰعِقَةُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ ۝٥٥

Artinya:

(Ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum melihat Allah dengan jelas.” Maka, halilintar menyambarmu dan kamu menyaksikan(-nya).

Kaum Bani Israel berkata kepada Nabi Musa dengan menyebut nama langsung  “Musa”. Fakta tersebut menunjukan etika kaum Bani Israel yang sangat rendah dan merendahkan status kenabian dan kerasulannya. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjukan keakraban tidak menjadi persoalan serius. Tapi dalam kontek Bani Israel di atas menunjukan suatu panggilan menujukan pada perilaku tidak sopan, kemarahan, dan ketidakpercayaan mereka kepada Musa sebagai Nabi dan Rasulullah dan tidak percaya terhadap Tuhan nya yang pantas disembah oleh nya dan kaum nya.

Ayat ini sebenarnya mengajarkan kepada manusia tentang etika dari realita kehidupan sosial bahwa sebesar apapun kebencian seseorang kepada orang lain tidak boleh meruntuhkan nilai-nilai etika sebagai ciri khas dari ajaran Islam. Hal ini telah dicontohkan tentang  etika Nabi Musa kepada Raja Fir’aun dan etika Nabi Muhammad SAW kepada paman-pamannya dan para pembencinya. Para Utusan Allah tersebut telah menunjukan kualitas etika yang sangat agung terhadap para pembencinya.

Ayat ini juga membuka suatu realita sejarah tentang watak seseorang atau suatu kelompok yang mempunyai kebencian mendarah daging pada dirinya. Jika dalam kontek ayat tersebut bahwa Allah tidak mengabulkan permintaan mereka sebagai suatu pembelajaran agar mereka berfikir bahwa Allah itu ada. Kebencian kepada Musa menyebabkan hati dan akal mereka tidak menerima suatu kebenaran. Padahal jika bisa menerima fakta-fakta tersebut, mereka akan mendapatkan suatu kenikmatan yang sangat agung dengan bisa melihat kebenaran yang telah ditampakan kepada mereka.

Hal sama juga terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Dua paman nya Abu Jahal dan Abu Lahab tidak bisa menerima kebenaran. Keduanya berpandangan bahwa suatu kebenaran lahir dari kekuasaan, kekayaan dan kekuatan. Bagi mereka apa artinya suatu kebenaran jika tidak memberi manfaat terhadap kejayaan dan kemuliaan dunia, maka kebenaran tersebut tidak berguna.

Para bangsawan Arab dan para tokoh masyarakat pada masa dulu telah menjadi rujukan sumber kebenaran. mereka membuat aturan-aturan sosial sebagai konstitusi yang harus ditaati. Meskipun para bangsawan telah menyadari kekeliruan dan bertentangan dengan naluri mereka, namun karena egoisme dan nafsu untuk selalu mendapatkan kekuasaan dan kejayaan harus membuat aturan-aturan yang merugikan masyarakat.

Ketika Islam datang di tanah Jazirah Arab, manusia mulai terbelah dalam melihat suatu kebenaran. Sebagian para pembenci Rasulullah berfikir kritis dan melihat kebenaran dengan akal sehat dan kejernihan hati. lalu mereka pun menjadi pengikutnya. Ada sebagian para pembenci benar-benar menutup kebenaran. beragam argumentasi dilontarkan kepada seluruh khalayak ramai. mereka melakukan kajian ilmiah dan berargumentasi di forum-forum pertemuan, tempat umum, pasar dan lain-lain. Tujuanya hanya satu yaitu bahwa status agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah hanya rekayasa nya semata.

Para pembenci Nabi tidak hanya dengan orasi dan pertemuan-pertemuan di tempat umum sebagaimana di atas, tetapi juga menggunakan kekuatan-kekuatan politik. Sudah beberapa kali melakukan percobaan pembunuhan kepada nya, mulai melakukan pendekatan dengan keluarga dekatnya sampai secara terang-terangan melakukan kekuatan pasukan. Semua fakta ini adalah bukti, bahwa suatu kebenaran selalu saja dianggap salah di mata orang-orang yang benci. Para pembenci bukan karena tidak mengerti suatu fakta kebenaran, tapi ia terus membangun opini untuk mengatakan bahwa kebenaran tersebut adalah batal dan tidak perlu ditiru.

Di era digital saat sekarang ini, para pembenci telah menemukan suatu panggung yang sangat strategis. Para pembenci apa saja, bisa pada ranah politik, agama, ormas, budaya, pendidikan, ekonomi, etnis, suku, keluarga dan sebagainya. Mereka mempunyai panggung untuk memutarbalikan fakta sesuai dengan kehendaknya. Kebenaran sering menjadi kabur, kesalahan seolah-olah sebuah kebenaran yang terang benderang.

Seringnya para pembenci mengalami kegagalan. Meskipun terkadang di permukaan terlihat ramai dan sudah eforia memperlihatkan kemenangan. Tapi mereka lupa, bahwa orang-orang yang dibenci selalu menyusun strategi dalam senyap. Mereka membangun militansi sebagai sebuah gerakan politik bawah tanah, tidak terlihat gerakannya tapi terbukti hasilnya. Itu sebabnya, para pembenci sering tertipu di penghujung jalan.

Padahal apa yang tidak disukai atau yang dibenci sebenarnya sangat bermanfaat untuk orang tersebut, tapi ia tidak menyadari. Seperti sebuah jamu yang sangat pahit, ia tidak minum. Padahal ketika ia minum jamu herbal tersebut setiap pagi, nyamuk tidak akan menggigit nya, sehingga terjaga dari demam berdarah.

Ayat tersebut di atas memberi pelajaran kebenaran ditunjukan di depan mata sekalipun, selalu saja mencari alasan untuk tidak mengakui kebenaran. Ayat tersebut juga memberikan pelajaran bahwa orang yang kita benci sebenarnya sedang memberi ilmu yang sangat luas terhadap diri kita sendiri, sehingga kita belajar agar bisa bangkit dari keterpurukan. Itu sebabnya kita harus tetap membukan hati dan pikiran kepada orang yang kita benci agar kita bisa mendapatkan dan menemukan ilmu dari sudut positifnya.

Musuh adalah karunia Tuhan dalam bentuk yang berbeda. Belajar lah darinya tentang hikmah-hikmah tersembunyi dari kelam dan kejam nya musuh mu.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875