
Ayat ini merupakan lanjutan bagian dari
kedurhakaan kaum Bani Israel. Selain mereka menyembah Patung Sapi buatan Samiri
-pada ayat 54 -pada ayat 55 menantang secara nyata kepada Nabi Musa agar
menunjukan eksistensi Tuhan ke hadapan mereka. Allah telah berfirman sebagai
berikut:
وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ
لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْكُمُ الصّٰعِقَةُ وَاَنْتُمْ
تَنْظُرُوْنَ ٥٥
Artinya:
(Ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan
beriman kepadamu sebelum melihat Allah dengan jelas.” Maka, halilintar
menyambarmu dan kamu menyaksikan(-nya).
Kaum Bani
Israel berkata kepada Nabi Musa dengan menyebut nama langsung “Musa”. Fakta tersebut menunjukan etika kaum Bani Israel yang sangat rendah dan merendahkan status kenabian
dan kerasulannya. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjukan keakraban tidak menjadi persoalan serius. Tapi dalam kontek Bani Israel di atas menunjukan suatu panggilan menujukan pada perilaku tidak sopan, kemarahan, dan ketidakpercayaan mereka kepada Musa sebagai Nabi dan
Rasulullah dan tidak percaya terhadap Tuhan nya yang pantas disembah oleh nya
dan kaum nya.
Ayat ini
sebenarnya mengajarkan kepada manusia tentang etika dari realita kehidupan sosial bahwa sebesar apapun
kebencian seseorang kepada orang lain tidak boleh meruntuhkan nilai-nilai etika
sebagai ciri khas dari ajaran Islam. Hal ini telah dicontohkan tentang etika Nabi Musa kepada Raja
Fir’aun dan etika Nabi Muhammad SAW kepada paman-pamannya dan para pembencinya. Para Utusan Allah tersebut telah menunjukan kualitas etika yang sangat agung terhadap para pembencinya.
Ayat ini juga
membuka suatu realita sejarah tentang watak seseorang atau suatu kelompok yang
mempunyai kebencian mendarah daging pada dirinya. Jika dalam kontek ayat
tersebut bahwa Allah tidak mengabulkan permintaan mereka sebagai suatu
pembelajaran agar mereka berfikir bahwa Allah itu ada. Kebencian kepada Musa menyebabkan
hati dan akal mereka tidak menerima suatu kebenaran. Padahal jika bisa menerima
fakta-fakta tersebut, mereka akan mendapatkan suatu kenikmatan yang sangat
agung dengan bisa melihat kebenaran yang telah ditampakan kepada mereka.
Hal sama juga
terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Dua paman nya Abu Jahal dan Abu Lahab
tidak bisa menerima kebenaran. Keduanya berpandangan bahwa suatu kebenaran
lahir dari kekuasaan, kekayaan dan kekuatan. Bagi mereka apa artinya suatu
kebenaran jika tidak memberi manfaat terhadap kejayaan dan kemuliaan dunia,
maka kebenaran tersebut tidak berguna.
Para bangsawan
Arab dan para tokoh masyarakat pada masa dulu telah menjadi rujukan sumber
kebenaran. mereka membuat aturan-aturan sosial sebagai konstitusi yang harus
ditaati. Meskipun para bangsawan telah menyadari kekeliruan dan bertentangan
dengan naluri mereka, namun karena egoisme dan nafsu untuk selalu mendapatkan
kekuasaan dan kejayaan harus membuat aturan-aturan yang merugikan masyarakat.
Ketika Islam datang
di tanah Jazirah Arab, manusia mulai terbelah dalam melihat suatu kebenaran. Sebagian
para pembenci Rasulullah berfikir kritis dan melihat kebenaran dengan akal
sehat dan kejernihan hati. lalu mereka pun menjadi pengikutnya. Ada sebagian
para pembenci benar-benar menutup kebenaran. beragam argumentasi dilontarkan
kepada seluruh khalayak ramai. mereka melakukan kajian ilmiah dan berargumentasi
di forum-forum pertemuan, tempat umum, pasar dan lain-lain. Tujuanya hanya satu
yaitu bahwa status agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah hanya
rekayasa nya semata.
Para pembenci Nabi
tidak hanya dengan orasi dan pertemuan-pertemuan di tempat umum sebagaimana di
atas, tetapi juga menggunakan kekuatan-kekuatan politik. Sudah beberapa kali
melakukan percobaan pembunuhan kepada nya, mulai melakukan pendekatan dengan
keluarga dekatnya sampai secara terang-terangan melakukan kekuatan pasukan. Semua
fakta ini adalah bukti, bahwa suatu kebenaran selalu saja dianggap salah di
mata orang-orang yang benci. Para pembenci bukan karena tidak mengerti suatu
fakta kebenaran, tapi ia terus membangun opini untuk mengatakan bahwa kebenaran
tersebut adalah batal dan tidak perlu ditiru.
Di era digital
saat sekarang ini, para pembenci telah menemukan suatu panggung yang sangat
strategis. Para pembenci apa saja, bisa pada ranah politik, agama, ormas,
budaya, pendidikan, ekonomi, etnis, suku, keluarga dan sebagainya. Mereka
mempunyai panggung untuk memutarbalikan fakta sesuai dengan kehendaknya. Kebenaran
sering menjadi kabur, kesalahan seolah-olah sebuah kebenaran yang terang
benderang.
Seringnya para
pembenci mengalami kegagalan. Meskipun terkadang di permukaan terlihat ramai
dan sudah eforia memperlihatkan kemenangan. Tapi mereka lupa, bahwa orang-orang
yang dibenci selalu menyusun strategi dalam senyap. Mereka membangun militansi sebagai
sebuah gerakan politik bawah tanah, tidak terlihat gerakannya tapi terbukti
hasilnya. Itu sebabnya, para pembenci sering tertipu di penghujung jalan.
Padahal apa
yang tidak disukai atau yang dibenci sebenarnya sangat bermanfaat untuk orang
tersebut, tapi ia tidak menyadari. Seperti sebuah jamu yang sangat pahit, ia
tidak minum. Padahal ketika ia minum jamu herbal tersebut setiap pagi, nyamuk
tidak akan menggigit nya, sehingga terjaga dari demam berdarah.
Ayat tersebut
di atas memberi pelajaran kebenaran ditunjukan di depan mata sekalipun, selalu
saja mencari alasan untuk tidak mengakui kebenaran. Ayat tersebut juga
memberikan pelajaran bahwa orang yang kita benci sebenarnya sedang memberi ilmu
yang sangat luas terhadap diri kita sendiri, sehingga kita belajar agar bisa
bangkit dari keterpurukan. Itu sebabnya kita harus tetap membukan hati dan
pikiran kepada orang yang kita benci agar kita bisa mendapatkan dan menemukan
ilmu dari sudut positifnya.
Musuh adalah
karunia Tuhan dalam bentuk yang berbeda. Belajar lah darinya tentang
hikmah-hikmah tersembunyi dari kelam dan kejam nya musuh mu.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875