Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 67-71 : Belajar Dari Musuh



Selasa , 18 November 2025



Telah dibaca :  374

Apakah Tuhan menghadirkan sejarah Bani Israel sedemikian mendetail dalam Al-Qur’an hanya sebatas cerita saja. Apakah Tuhan menghadirkan Bani Israel agar umat Islam membenci keberadaan nya. Apakah Tuhan menghadirkan mereka sebatas untuk terus berkelahi dan bermusuhan sampai akhir zaman?.

Ada banyak variabel jawaban dari kisah panjang sejarah perjalanan Bani Israel dalam Al-Qur’an. Kita bisa membaca tentang bagaimana mereka teraniaya dalam kekejaman penjajah Fir’aun, kita bisa membaca saat mereka lepas dari penjajahan, kita membaca saat mereka mendapatkan kemakmuran, saat mereka mendapatkan kutukan dari Tuhan, saat mereka kehilangan negara dan berdiaspora ke daerah barat dan saat mereka kembali ke tanah leluhurnya -tanah palestina- mendirikan negara yang dikenal dengan Negara Israel.

Setiap firman Allah selalu mengandung kebaikan sebagai jalan umat Islam untuk memperbaiki kualitas hidup dan karya nya. Sejarah Bani Israel merupakan menu kehidupan umat Islam untuk mengambil sesuatu pelajaran tentang bagaimana mengisi perjalanan sejarah dengan kemampuan meninggalkan sesuatu yang muspro-bahkan juga yang lebih ekstrem lagi sesuatu yang dilarang oleh syariat-Nya. Disisi lain, juga umat Islam harus mengambil sisi positif dari Bani Israel. Pada diri mereka ada hikmah nya. Pada diri musuh selalu ada pembelajaran sangat berharga untuk bisa seperti mereka-dalam pengertian positif-tanpa harus menjadi mereka. Bahkan kalau memungkinkan harus bisa melebihi kualitas dari musuh nya.

Berikut ini saya akan menampilkan tentang tradisi Bani Israel dari dulu hingga sekarang ini. Tradisi kritis menganalisis suatu persoalan yang terus dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, yaitu tradisi bertanya secara mendalam tentang berbagai persoalan kehidupan.

Meskipun saya tidak selalu setuju dengan kebiasaan Bani Israel bertanya terlalu liberal sebagaimana yang dikatakan oleh Gilad Atzmon tentang gerakan kelompok Yahudi pengikut Taurat sebenarnya. Menurut kelompok ini kaum Bani Israel-saat ini sebagai zionis aksi pembangkangan terhadap Tuhan. Kelompok ini menyakini mereka bisa kembali ke tanah asalnya karena penyelamatan dari Tuhan. Menurut mereka kaum zionis menyangkal penyelamatan Tuhan dan menjadikan agama Yahudi sebagai ajaran sekuler, materalisme dan nasionalisme dalam pengertian sempit. Itu sebabnya kelompok ini menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan politiknya.

Terlepas dari pro dan kontra di tubuh kaum Yahudi dengan peragam pemikiran dan aliran agama, saya bisa mengambil pelajaran penting tentang tradisi dasar lahirnya ilmu pengetahuan yaitu selalu bertanya mencari hakikat kebenaran. Berikut gambaran yang terekam dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 67-71 :

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةًۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًاۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ ۝٦٧

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَّنَا مَا هِيَۗ قَالَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَارِضٌ وَّلَا بِكْرٌۗ عَوَانٌۢ بَيْنَ ذٰلِكَۗ فَافْعَلُوْا مَا تُؤْمَرُوْنَ ۝٦٨

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَّنَا مَا لَوْنُهَاۗ قَالَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاۤءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النّٰظِرِيْنَ ۝٦٩

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَّنَا مَا هِيَۙ اِنَّ الْبَقَرَ تَشٰبَهَ عَلَيْنَاۗ وَاِنَّآ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَمُهْتَدُوْنَ ۝٧٠

قَالَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُوْلٌ تُثِيْرُ الْاَرْضَ وَلَا تَسْقِى الْحَرْثَۚ مُسَلَّمَةٌ لَّاشِيَةَ فِيْهَاۗ قَالُوا الْـٰٔنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ فَذَبَحُوْهَا وَمَا كَادُوْا يَفْعَلُوْنَࣖ ۝٧١

Artinya:

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang jahil.”

Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi) itu.” Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman bahwa sapi itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu. Maka, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya.” Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman bahwa (sapi) itu adalah sapi yang warnanya kuning tua, yang menyenangkan orang-orang yang memandang(-nya).”

Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi) itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami, dan jika Allah menghendakinya, niscaya kami mendapat petunjuk.”

Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman bahwa (sapi) itu adalah sapi yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.” Mereka berkata, “Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya.” Lalu, mereka menyembelihnya, dan hampir saja mereka tidak melaksanakan (perintah) itu.

Dari paparan ayat-ayat tersebut di atas betapa aktifnya kaum Bani Israel terhadap satu pokok persoalan. Mulai dari yang umum hingga pada persoalan yang mendetail. Hingga pada titik memberi suatu pencerahan, kaum bani israel pun menerima jawaban nabi musa. Meskipun menerima masih dalam tanda petik ( “…”).

Para ahli filsafat telah menempatkan kebiasaan bertanya sebagai alat untuk menemukan kebenaran. Dari pertanyaan, orang menjadi berfikir untuk menemukan beragam kebenaran. Dari nya melahirkan jawaban-jawaban, memperbaiki pola hidup, menjadi pembuka lahirnya ilmu pengetahuan dan bahkan bisa menemukan kebenaran dalam wujud keimanan.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am ada kebiasaan bertanya untuk mendapatkan kebenaran sejati pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim sebagai berikut:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًاۗ قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ ۝٧٦

فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ ۝٧٧

فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ ۝٧٨

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ ۝٧

Artinya:

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.”

Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.”

Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

Ada berbedaan output pertanyaan antara Nabi Ibrahim dan Bani Israel. Pertanyaan Nabi Ibrahim dalam upaya mencari kebenaran dan sekaligus memperkuat keimanan kepada Allah SWT. Sedangkan Bani Israel hanya memperkuat ilmu pengetahuan semata. Pada sisi ilmu pengetahuan, umat Islam tidak salah menerapkan pola kritis kaum Bani Israel dalam mentradisikan kajian mendalam dalam berbagai kajian ilmu dan teknologi. Dalam sisi keimanan, umat Islam harus mencontoh Nabi Ibrahim yang mempunyai pengetahuan luas, semakin luas ilmu nya semakin dekat dengan Tuhan nya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

FAZIA MAULINI ( ABI 1 A ) 5404250065

1. Pertanyaan Nabi Ibrahim AS Nabi Ibrahim bertanya bukan karena ragu, tetapi untuk meneguhkan dan memperkuat keimanan. Beliau menggunakan akal, pengamatan alam, dan perenungan mendalam untuk menemukan kebenaran dan menegaskan tauhid. Semakin luas ilmu beliau, semakin kuat hubungan dan kedekatannya dengan Allah SWT. 2. Pertanyaan Bani Israel Pertanyaan mereka lebih bersifat kritis terhadap penjelasan wahyu, namun tidak selalu didasari niat beriman. Mereka sering bertanya untuk kepastian ilmiah, untuk menguji, atau bahkan untuk menghindari ketaatan. Orientasinya lebih pada pengetahuan lahiriah, bukan penguatan iman. 3. Pelajaran bagi Umat Islam Dalam ilmu pengetahuan, umat Islam boleh dan tepat menerapkan pola kritis seperti Bani Israel: meneliti, menganalisis, dan menggali ilmu secara mendalam dalam sains, teknologi, dan kajian ilmiah. Dalam keimanan, umat Islam harus meneladani Nabi Ibrahim: menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat kepada Allah, bukan menjauh. Semakin luas ilmu yang dimiliki seorang mukmin, seharusnya semakin kuat keyakinannya kepada Allah dan semakin dalam pemahamannya tentang kebesaran-Nya.

Avatar

Nafisa Alya

Perbedaan pertanyaan antara Nabi Ibrahim AS dan Bani Israel menunjukkan dua orientasi yang berbeda dalam pencarian kebenaran. Pertanyaan Nabi Ibrahim muncul dari dorongan untuk menemukan hakikat ketuhanan dan sekaligus memperkokoh keimanannya kepada Allah SWT. Ia menggunakan akal, pengamatan, dan kontemplasi sebagai jalan menuju keyakinan yang lebih kuat. Semakin luas ilmu yang dimiliki Nabi Ibrahim, semakin besar pula ketundukan dan kedekatannya kepada Tuhan. Sementara itu, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Bani Israel lebih banyak berorientasi pada penguatan aspek pengetahuan semata, bukan penguatan iman. Mereka menuntut penjelasan yang bersifat empiris dan rasional, sering kali tanpa diiringi ketundukan hati atau ketaatan kepada perintah Allah. Dalam ranah ilmu pengetahuan, umat Islam tidak keliru bila meniru pola kritis Bani Israel dalam hal kecermatan, penelitian, dan kajian mendalam terhadap berbagai bidang ilmu dan teknologi. Sikap kritis dan analitis diperlukan untuk memajukan pengetahuan. Namun dalam aspek keimanan, umat Islam perlu meneladani Nabi Ibrahim: menggunakan ilmu untuk semakin mengenal dan mendekat kepada Allah, bukan semakin jauh dari-Nya. Dengan demikian, ilmu dan iman tidak berjalan terpisah, tetapi saling menguatkan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS.

   Berita Terkait

Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   90

Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   135

Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   229

Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   266

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13818


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3266