Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 74 : Melembutkan Hati Yang Telah Membatu



Sabtu , 13 Desember 2025



Telah dibaca :  301

Sifat kaum Yahudi sejak dulu sampai datangnya Nabi Muhammad seperti batu. Keras. Suka melawan dan tidak mau menerima nasihat ajaran-ajaran Tuhan-baik pada masa Nabi Musa hingga Nabi Muhammad saw. Salah satu suku yang selalu memusuhinya yaitu Bani Qainuqa. Disisi lain, provokasi kaum Yahudi juga hampir memecah belah umat Islam kala itu. Untung Nabi segera mengetahui hal tersebut. Nabi berkata, "Wahai kaum Muslimin, apakah kamu sekalian akan tetap dengan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah, padahal saya masih berada di tengah-tengah kalian? Bukankah Allah telah menunjukkan kepada kalian jalan yang lurus? Dengan Islam, Allah telah memuliakan kalian, memisahkan kalian dari tradisi-tradisi jahiliyah, dan melunakkan hati kalian. Apakah kalian akan kembali kepada kekufuran yang lama?"

Apakah Nabi memutuskan hubungan dengan kaum Yahudi? Tidak. Ia selalu menjalin hubungan. Sebab pada masa Nabi hidup tidak semua watak yahudi sama. Ada Yahudi yang mewarisi ajaran kitab taurat hingga berpegang teguh terhadap ajaran-ajaran ketuhanan dan kemanusiaan. Ada Yahudi yang membanggakan suku nya dan ada Yahudi yang mempunyai cita-cita politik. Kedua golongan tersebut terakhir ini yang sering melakukan provokasi kepada umat Islam. Ini yang dalam Al-Qur’an dikatakan sebagai manusia yang mempunyai hati keras sekeras batu sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah ayat 74 sebagai berikut:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةًۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ۝٧٤

Artinya:

Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga ia (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.

Allah telah menjelaskan watak kaum Yahudi laksana batu-bahkan lebih keras lagi. Padahal sekeras-keras batu, ia bisa terbelah atau berlobang oleh tetesan air hujan, bisa hancur oleh aliran Sungai. Dua fakta yang sangat bertentangan. Hati kaum yahudi seperti batu dalam kerasnya, tapi dalam proses nya justru lebih keras dari batu dan tidak bisa menerima perubahan ketika mendapatkan nasehat.

Tugas Nabi Muhammad adalah menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada seluruh umat manusia. Sebab visi besar umat Islam yaitu melahirkan peradaban yang rahmatal lil ‘alamin.

Peradaban yang menjadi rahmat semesta alam didapat dengan pola-pola humanis, rukun dan jauh dari kebencian. Nilai-nilai peradaban terletak pada musyawarah yang menjadi tradisi Nabi dan para khulafaurasydin. Pada musyawarah tersebut dipola tersebut terangkum di dalam nya.

Betapa tinggi kedudukan musyawarah,”sampai-sampai” persoalan kebutuhan rumah tangga dan dapur pun nabi dan para sahabat bermusyawarah. Sebab sejelek apapun hasilnnya, musyawarah selalu saja melahirkan sisi-sisi kebaikan. Salah satu sisi kebaikan yaitu ada ikatan batin yang mengikat menerima segala resiko dengan penuh tanggung jawab dan kesatria. Musyawarah menjadi energi yang sangat besar dalam upaya menggapai suatu tujuan. Apapun tujuannya. Bahkan jika tujuan jahat pun akan mencapai keberhasilan, apalagi jika tujuan untuk kebaikan.

Tradisi musyawarah merupakan cermin dari hati yang lembut, penuh dengan kedamaian dan ketawadhu’an. Pada tradisi ini akal dan kasih sayang di atas nafsu. Ide-ide terbentuk tidak selalu dalam seminar yang ada di hotel-hotel atau Gedung-gedung megah yang menghabiskan ratusan juta rupiah. Ide-ide bernas lahir kadang melalui tradisi “cangkruaan” atau “jagongan” di emper rumah, di gardu ronda sambil minum kopi dan menikmati jagung bakar.

Ide-ide cemerlang juga tidak perlu juga harus dibalut dengan bahasa-bahasa ilmiah yang sulit dicerna oleh masyarakat umum yang hanya menghabiskan kertas dan biaya, tapi minim manfaat. Ide-ide cemerlang justru lahir dari bahasa sederhana yang bisa dipahami oleh masyarakat segala level status sosial.

Pola musyawarah seperti itu yang dicontohkan oleh kanjeng Nabi Muhammad saw. Semua kalangan memahami dengan jelas apa yang diucapkan tanpa merasa lawan bicara dikhotbaih atau didikte. Suasana diskusi yang melahirkan simpati penuh dengan ketulusan hati.

Suatu saat ada ahli ibadah bertanya kepada Nabi tentang amal sholeh terbaik, dia menjawab dengan sangat bijak,”qiyamul lail”. Ketika ada seorang pedagang bertanya tentang amal sholeh yang terbaik, nabi menjawab,”menjadi pedagang yang jujur”, ketika ada sahabat yang sangat berbakti kepada orang tua, nabi menjawab, “birrul walidain” sebagai amalan terbaiknya.

Tradisi musyawarah nabi telah diikuti oleh para sahabat, tabi’in, tabi’in tabi’in, dan para ulama-ulama nusantara yang telah mendirikan lembaga pendidikan ratusan tahun lalu-hingga kini masih ekssis- senantiasa men-dawam-kan musyawarah. Karena berkah musyawarah yang penuh dengan kelembutan hati, Islam bisa diterima dengan lapang dada. Islam masuk di Indonesia dengan musyawarah bukan dengan cacian dan perang.

Walhasil, musyawarah merupakan obat mujarab dalam konteks kehidupan sosial. Ketika kita punya masalah dengan pasangan, dengan anak, dengan organisasi, solusi yang terbaik adalah musyawarah. Dari situ akan lahir mufakat. Musyawarah untuk mencapai kata mufakat. Jika tradisi ini terjaga, ada suasana hati yang terbuka, inklusif dan siap menerima kebaikan dari manapun datangnya.

Kadang sangat pahit hasil musyawarah. Tapi sekali lagi ini jauh lebih baik daripada memutuskan dengan jalan sendiri-sendiri. Sebab bisikan lubuk dari dalam hati setiap insan selalu menginginkan hidup bersama-zoon politicon atau madaniyun bitab’i. lubuk hati ini tentu saja wujudnya musyawarah, dan musyawarah perlu modal utama yaitu ketulusan hati.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871