
Sifat kaum Yahudi sejak dulu sampai
datangnya Nabi Muhammad seperti batu. Keras. Suka melawan dan tidak mau
menerima nasihat ajaran-ajaran Tuhan-baik pada masa Nabi Musa hingga Nabi
Muhammad saw. Salah satu suku yang selalu memusuhinya yaitu Bani Qainuqa.
Disisi lain, provokasi kaum Yahudi juga hampir memecah belah umat Islam kala
itu. Untung Nabi segera mengetahui hal tersebut. Nabi berkata, "Wahai kaum
Muslimin, apakah kamu sekalian akan tetap dengan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah,
padahal saya masih berada di tengah-tengah kalian? Bukankah Allah telah
menunjukkan kepada kalian jalan yang lurus? Dengan Islam, Allah telah
memuliakan kalian, memisahkan kalian dari tradisi-tradisi jahiliyah, dan
melunakkan hati kalian. Apakah kalian akan kembali kepada kekufuran yang
lama?"
Apakah Nabi memutuskan hubungan dengan kaum
Yahudi? Tidak. Ia selalu menjalin hubungan. Sebab pada masa Nabi hidup tidak
semua watak yahudi sama. Ada Yahudi yang mewarisi ajaran kitab taurat hingga
berpegang teguh terhadap ajaran-ajaran ketuhanan dan kemanusiaan. Ada Yahudi
yang membanggakan suku nya dan ada Yahudi yang mempunyai cita-cita politik.
Kedua golongan tersebut terakhir ini yang sering melakukan provokasi kepada
umat Islam. Ini yang dalam Al-Qur’an dikatakan sebagai manusia yang mempunyai
hati keras sekeras batu sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah ayat 74 sebagai
berikut:
ثُمَّ قَسَتْ
قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةًۗ
وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُۗ وَاِنَّ مِنْهَا
لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ
مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ٧٤
Artinya:
Setelah itu,
hatimu menjadi keras sehingga ia (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras.
Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar. Ada
pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur
jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu
kerjakan.
Allah telah
menjelaskan watak kaum Yahudi laksana batu-bahkan lebih keras lagi. Padahal
sekeras-keras batu, ia bisa terbelah atau berlobang oleh tetesan air hujan,
bisa hancur oleh aliran Sungai. Dua fakta yang sangat bertentangan. Hati kaum
yahudi seperti batu dalam kerasnya, tapi dalam proses nya justru lebih keras
dari batu dan tidak bisa menerima perubahan ketika mendapatkan nasehat.
Tugas Nabi Muhammad
adalah menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada seluruh umat manusia. Sebab visi
besar umat Islam yaitu melahirkan peradaban yang rahmatal lil ‘alamin.
Peradaban yang
menjadi rahmat semesta alam didapat dengan pola-pola humanis, rukun dan
jauh dari kebencian. Nilai-nilai peradaban terletak pada musyawarah yang
menjadi tradisi Nabi dan para khulafaurasydin. Pada musyawarah tersebut
dipola tersebut terangkum di dalam nya.
Betapa tinggi kedudukan
musyawarah,”sampai-sampai” persoalan kebutuhan rumah tangga dan dapur
pun nabi dan para sahabat bermusyawarah. Sebab sejelek apapun hasilnnya,
musyawarah selalu saja melahirkan sisi-sisi kebaikan. Salah satu sisi kebaikan
yaitu ada ikatan batin yang mengikat menerima segala resiko dengan penuh
tanggung jawab dan kesatria. Musyawarah menjadi energi yang sangat besar dalam upaya
menggapai suatu tujuan. Apapun tujuannya. Bahkan jika tujuan jahat pun akan
mencapai keberhasilan, apalagi jika tujuan untuk kebaikan.
Tradisi musyawarah
merupakan cermin dari hati yang lembut, penuh dengan kedamaian dan ketawadhu’an.
Pada tradisi ini akal dan kasih sayang di atas nafsu. Ide-ide terbentuk tidak
selalu dalam seminar yang ada di hotel-hotel atau Gedung-gedung megah yang
menghabiskan ratusan juta rupiah. Ide-ide bernas lahir kadang melalui tradisi “cangkruaan”
atau “jagongan” di emper rumah, di gardu ronda sambil minum kopi dan menikmati
jagung bakar.
Ide-ide
cemerlang juga tidak perlu juga harus dibalut dengan bahasa-bahasa ilmiah yang
sulit dicerna oleh masyarakat umum yang hanya menghabiskan kertas dan biaya,
tapi minim manfaat. Ide-ide cemerlang justru lahir dari bahasa sederhana yang
bisa dipahami oleh masyarakat segala level status sosial.
Pola musyawarah
seperti itu yang dicontohkan oleh kanjeng Nabi Muhammad saw. Semua kalangan
memahami dengan jelas apa yang diucapkan tanpa merasa lawan bicara dikhotbaih
atau didikte. Suasana diskusi yang melahirkan simpati penuh dengan ketulusan
hati.
Suatu saat ada
ahli ibadah bertanya kepada Nabi tentang amal sholeh terbaik, dia menjawab
dengan sangat bijak,”qiyamul lail”. Ketika ada seorang pedagang bertanya
tentang amal sholeh yang terbaik, nabi menjawab,”menjadi pedagang yang jujur”, ketika
ada sahabat yang sangat berbakti kepada orang tua, nabi menjawab, “birrul
walidain” sebagai amalan terbaiknya.
Tradisi musyawarah
nabi telah diikuti oleh para sahabat, tabi’in, tabi’in tabi’in, dan para ulama-ulama
nusantara yang telah mendirikan lembaga pendidikan ratusan tahun lalu-hingga kini
masih ekssis- senantiasa men-dawam-kan musyawarah. Karena berkah
musyawarah yang penuh dengan kelembutan hati, Islam bisa diterima dengan lapang
dada. Islam masuk di Indonesia dengan musyawarah bukan dengan cacian dan
perang.
Walhasil,
musyawarah merupakan obat mujarab dalam konteks kehidupan sosial. Ketika kita
punya masalah dengan pasangan, dengan anak, dengan organisasi, solusi yang
terbaik adalah musyawarah. Dari situ akan lahir mufakat. Musyawarah untuk mencapai
kata mufakat. Jika tradisi ini terjaga, ada suasana hati yang terbuka, inklusif
dan siap menerima kebaikan dari manapun datangnya.
Kadang sangat
pahit hasil musyawarah. Tapi sekali lagi ini jauh lebih baik daripada
memutuskan dengan jalan sendiri-sendiri. Sebab bisikan lubuk dari dalam hati
setiap insan selalu menginginkan hidup bersama-zoon politicon atau madaniyun
bitab’i. lubuk hati ini tentu saja wujudnya musyawarah, dan musyawarah perlu
modal utama yaitu ketulusan hati.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871