Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 81-82 : Ketika Hukum Tuhan Dirubah Menjadi Hukum Rimba



Rabu , 14 Januari 2026



Telah dibaca :  315

Ketika kaum Bani Israel mengklaim dirinya mendapatkan keistimewaan dari Tuhan, mereka berbuat semaunya dalam menjalankan syariat dan hukum-hukum sosial yang tertulis dalam Kitab Taurat. Kebenaran itu didasarkan pada tafsir-tafsir kepentingan para ulama dan para pemimpin-pemimpin kaum mereka. Klaim kebenaran atas nama tuhan adalah klaim sepihak. Sehingga Tuhan pun telah membantah klaim tersebut dan menjelaskan hukum akibat perbuatan mereka sebagaimana penjelasan Allah dalam ayat 81-82 sebagai berikut:

بَلٰى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَّاَحَاطَتْ بِهٖ خَطِيْۤــَٔـتُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ۝٨١

Artinya:

Bukan demikian! Siapa yang berbuat keburukan dan dosanya telah menenggelamkannya, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَࣖ ۝٨٢

Artinya:

Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.

Syeikh Wahbah az-Zuhaili menafsiri ayat tersebut bahwa setiap orang akan mendapatkan balasannya. Perbuatan sayyi’ah -jelek-adalah perbuatan menyekutukan Allah SWT. Selain itu, Tuhan juga memberikan suatu penjelasan dari dampak perbuatan sayyi’ah dan hasanah. Kedua-duanya mendapatkan balasan.

Ayat tersebut menegaskan status kaum Bani Israel yang telah melakukan berbagai perbuatan sayyi’ah seperti mengaku diri mereka sebagai anak Tuhan dan mendapatkan keistimewaan khusus. Mereka juga telah melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang lainnya seperti membunuh para nabi, sumpah palsu dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek lainnya dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. perbuatan-perbuatan tersebut yang mengantarkan kedudukan mereka sebagai orang-orang yang mendapatkan hukuman masuk neraka selama-lamanya.

Pada ayat 82 Allah telah menjelaskan balasan orang-orang beriman dan beramal sholeh sebagai penghuni Surga kekal di dalamnya. Siapapun yang memenuhi kriteria tersebut. termasuk orang-orang yahudi yang konsisten masih mengikuti Kitab Taurat yang ada pada masa Nabi Musa dan orang-orang muslim yang berpegang teguh terhadap syariat-syariat Allah dan Rasul-Nya.

Dua ayat tersebut telah memberi penjelasan tentang dua pembatas yang berbeda. kedua nya telah memilih jalan sendiri-sendiri menuju pada kehidupan terakhirnya-Hari Kiamat. Kedua nya akan menanggung efek dari segala perbuatannya.

Ayat tersebut berbicara cara pandang keduanya dalam melihat suatu kebenaran. seperti melihat sebilah pisau. Orang baik akan menggunakannya untuk kebaikan, orang jahat akan menggunakan untuk perbuatan jahat.

Standar sholeh sebagai ahli surga merujuk pada perbuatan yang sesuai dengan aturan-aturan Tuhan. Aturan-aturan tersebut, berlandaskan pada kalimat tauhid. Sepanjang aturan-aturan secara filosofis tidak bertentangan dengan kalimat tauhid dalam kontek kehidupan sosial, maka segala perbuatan akan bernilai sholeh dan bisa dipertanggungjawabkan dalam syariat Tuhan.

Namun ketika dasar utama telah bertentangan dengan kalimat tauhid-seperti mengaku sebagai anak Tuhan-maka seluruh aturan turunan syariat yang dibuatnya dianggap sebagai peraturan yang batal.

Ukuran perilaku buruk sebagaimana disebutkan pada ayat 81 di atas, bukan sebatas pada segala perbuatan yang bertentangan dengan moral sosial, tapi juga lebih dalam lagi bertentangan dengan kebenaran status keimanan kepada Allah SWT.

Pada kasus kaum Bani Israel, kesalahan utama telah terjadi yaitu mengaku dirinya sebagai anak Tuhan dan melakukan perubahan-perubahan prinsip ketuhanan dalam Kitab Taurat. Pondasi utama tauhid telah dihancurkan oleh tangan-tangan para pendeta dan ulama mereka. Ini yang kemudian orang-orang yahudi yang mengikuti kitab taurat versi ini dianggap segala ibadah dan amal sosial batal dan masuk pada status perbuatan yang mengantarkan mereka masuk ke dalam neraka.

Pada ayat 82 menggambarkan tentang suatu kaum-baik Yahudi, Nasrani dan Islam-yang masih berpegang teguh pada dasar tauhid yang berada dalam kitab suci para nabi nya-Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad- maka kelompok ini mendapatkan balasan surga. Sebab keyakinan tauhid yang benar akan mempertegas segala perbuatan sosial-sepanjang tidak bertentangan dengan syariat-akan menjadi perbuatan sosial yang bernilai amal sholeh. Dari sini segala inovasi sosial dalam rangka memberi konstribusi kebaikan kepada masyarakat akan dianggap sebagai amal sholeh dan mendapatkan balasan surga.

Tentu saja dalam pandangan syariat Islam keyakinan tauhid pada dua hal yang tidak boleh dipisahkan “ لا اله الا الله محمد رسول الله, dan syariat yang termaktub dalam al-Qur’an, as-Sunnah dan ijtihad para ulama. Inovasi-inovasi sosial tentu saja harus merujuk pada nilai-nilai tauhid tersebut.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   80

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870