
Ketika kaum Bani Israel mengklaim dirinya
mendapatkan keistimewaan dari Tuhan, mereka berbuat semaunya dalam menjalankan
syariat dan hukum-hukum sosial yang tertulis dalam Kitab Taurat. Kebenaran itu didasarkan
pada tafsir-tafsir kepentingan para ulama dan para pemimpin-pemimpin kaum
mereka. Klaim kebenaran atas nama tuhan adalah klaim sepihak. Sehingga Tuhan
pun telah membantah klaim tersebut dan menjelaskan hukum akibat perbuatan
mereka sebagaimana penjelasan Allah dalam ayat 81-82 sebagai berikut:
بَلٰى مَنْ
كَسَبَ سَيِّئَةً وَّاَحَاطَتْ بِهٖ خَطِيْۤــَٔـتُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ
النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ٨١
Artinya:
Bukan
demikian! Siapa yang berbuat keburukan dan dosanya telah menenggelamkannya,
mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.
وَالَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِۚ هُمْ فِيْهَا
خٰلِدُوْنَࣖ ٨٢
Artinya:
Adapun
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah penghuni surga.
Mereka kekal di dalamnya.
Syeikh Wahbah
az-Zuhaili menafsiri ayat tersebut bahwa setiap orang akan mendapatkan
balasannya. Perbuatan sayyi’ah -jelek-adalah perbuatan menyekutukan Allah SWT. Selain
itu, Tuhan juga memberikan suatu penjelasan dari dampak perbuatan sayyi’ah
dan hasanah. Kedua-duanya mendapatkan balasan.
Ayat tersebut
menegaskan status kaum Bani Israel yang telah melakukan berbagai perbuatan sayyi’ah
seperti mengaku diri mereka sebagai anak Tuhan dan mendapatkan keistimewaan
khusus. Mereka juga telah melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang lainnya
seperti membunuh para nabi, sumpah palsu dan melakukan perbuatan-perbuatan
jelek lainnya dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
perbuatan-perbuatan tersebut yang mengantarkan kedudukan mereka sebagai
orang-orang yang mendapatkan hukuman masuk neraka selama-lamanya.
Pada ayat 82
Allah telah menjelaskan balasan orang-orang beriman dan beramal sholeh sebagai
penghuni Surga kekal di dalamnya. Siapapun yang memenuhi kriteria tersebut.
termasuk orang-orang yahudi yang konsisten masih mengikuti Kitab Taurat yang
ada pada masa Nabi Musa dan orang-orang muslim yang berpegang teguh terhadap
syariat-syariat Allah dan Rasul-Nya.
Dua ayat
tersebut telah memberi penjelasan tentang dua pembatas yang berbeda. kedua nya
telah memilih jalan sendiri-sendiri menuju pada kehidupan terakhirnya-Hari
Kiamat. Kedua nya akan menanggung efek dari segala perbuatannya.
Ayat tersebut
berbicara cara pandang keduanya dalam melihat suatu kebenaran. seperti melihat
sebilah pisau. Orang baik akan menggunakannya untuk kebaikan, orang jahat akan
menggunakan untuk perbuatan jahat.
Standar sholeh
sebagai ahli surga merujuk pada perbuatan yang sesuai dengan aturan-aturan Tuhan.
Aturan-aturan tersebut, berlandaskan pada kalimat tauhid. Sepanjang aturan-aturan
secara filosofis tidak bertentangan dengan kalimat tauhid dalam kontek
kehidupan sosial, maka segala perbuatan akan bernilai sholeh dan bisa
dipertanggungjawabkan dalam syariat Tuhan.
Namun ketika dasar
utama telah bertentangan dengan kalimat tauhid-seperti mengaku sebagai anak Tuhan-maka
seluruh aturan turunan syariat yang dibuatnya dianggap sebagai peraturan yang
batal.
Ukuran perilaku
buruk sebagaimana disebutkan pada ayat 81 di atas, bukan sebatas pada segala
perbuatan yang bertentangan dengan moral sosial, tapi juga lebih dalam lagi
bertentangan dengan kebenaran status keimanan kepada Allah SWT.
Pada kasus
kaum Bani Israel, kesalahan utama telah terjadi yaitu mengaku dirinya sebagai
anak Tuhan dan melakukan perubahan-perubahan prinsip ketuhanan dalam Kitab
Taurat. Pondasi utama tauhid telah dihancurkan oleh tangan-tangan para pendeta
dan ulama mereka. Ini yang kemudian orang-orang yahudi yang mengikuti kitab taurat
versi ini dianggap segala ibadah dan amal sosial batal dan masuk pada status
perbuatan yang mengantarkan mereka masuk ke dalam neraka.
Pada ayat 82
menggambarkan tentang suatu kaum-baik Yahudi, Nasrani dan Islam-yang masih
berpegang teguh pada dasar tauhid yang berada dalam kitab suci para nabi nya-Nabi
Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad- maka kelompok ini mendapatkan balasan surga. Sebab
keyakinan tauhid yang benar akan mempertegas segala perbuatan sosial-sepanjang
tidak bertentangan dengan syariat-akan menjadi perbuatan sosial yang bernilai
amal sholeh. Dari sini segala inovasi sosial dalam rangka memberi konstribusi
kebaikan kepada masyarakat akan dianggap sebagai amal sholeh dan mendapatkan
balasan surga.
Tentu saja
dalam pandangan syariat Islam keyakinan tauhid pada dua hal yang tidak boleh
dipisahkan “ لا اله الا الله محمد
رسول الله“, dan syariat yang termaktub dalam al-Qur’an,
as-Sunnah dan ijtihad para ulama. Inovasi-inovasi sosial tentu saja harus
merujuk pada nilai-nilai tauhid tersebut.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   80
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870