Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S.Al-Baqarah Ayat 34: Sujud Sebagai Etika Sosial



Selasa , 20 Mei 2025



Telah dibaca :  495

Tanda ternyata sangat penting. Ia bisa menjadi pembeda satu dengan lainnya. ada hari kebangkitan nasional dan hari-hari lainnya merupakan tanda dari suatu kejadian atau peristiwa yang menyertainya pada masa lalu. Tanda menjadi sangat spesial suatu kenikmatan, kadang juga menjadi peringatan terhadap peristiwa-peristiwa tertentu. Semua harus ada tanda dan ada tujuan kebaikan untuk menjalankan atau meninggalkannya. Maka menghormati tanda tersebut menjadi penting. Sebab mampu mengingatkan segala kejadian disebalik tanda yang ada.

Manusia mempunyai beragam tanda. Dalam kehidupan sosial, manusia bukan sebatas punya naluri beragama (gharizah tadayyun), juga sebagai manusia berbudaya (al-insan madaniyun bitab’i). Naluri-naluri tersebut terkadang membentuk perilaku manusia yang terkadang mempunyai kemiripan dalam tataran etika, tapi berbeda pada tujuan nya. Contoh seperti dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 34 sebagai berikut:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ ۝٣٤

Artinya:

(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.

Ada etika sosial yang menjadi budaya masa lalu seperti yang tertulis dalam Q.S. Yusuf ayat 4 sebagai berikut:

اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ ۝٤

Artinya:

(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya (Ya‘qub), “Wahai ayahku, sesungguhnya aku telah (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Aku melihat semuanya sujud kepadaku.

Dua ayat tersebut merupakan desain bagian etika sosial yang mempunyai penafsiran-penafsiran yang disepakati bersama oleh masyarakat tersebut. Penulis juga bisa memahami bahwa “kemiripan ritual” dengan “penghormatan sosial” pada masa dulu dalam wujud “sujud” tidak menjadi persoalan. Sebab mereka mempunyai kecerdasan tinggi untuk membedakan wilayah sosial dan wilayah ubudiyah atau ibadah. Sama bentuknya tidak menjadi persoalan. Sebab keduanya berbeda tujuan. Sujud yang dilakukan keluarga Nabi Yusuf kepada Nabi Yusuf dan Malaikat kepada Nabi Adam merupakan sujud penghormatan. Sedangkan saat ritual seperti sujud saat sholat, mempunyai maksud sebagai wujud penghambaan manusia kepada Allah. Dua dimensi yang sangat jauh perbedaannya, tapi ada kemiripan sangat dekat.

Kemiripan perilaku manusia sebagai bagian dari kesepakatan dalam konstitusi tidak tertulis di tengah-tengah masyarakat banyak beragam. Pada era Nabi Adam, Nabi Yusuf (dan bisa jadi tradisi kerajaan pada masa nabi dulu) sudah terbiasa memberi penghormatan dengan cara sujud. Al-Qur’an telah mengabadikan sebagain tradisi tersebut. dan tuhan malah menyuruh malaikat dan iblis melakukan sujud.

Kerajaan-kerajaan Islam yang pernah jaya di nusantara mempunyai tradisi penghormatan sebagaimana yang kita lihat kerajaan yang ada di Yogyakarta dan Surakarta. Itu sudah menjadi tradisi jauh sebelum zaman kerajaan mataram Islam. dan kita mengetahui, dari kerajaan-kerajaan Islam tersebut ada para ulama-ulama yang diantara ulama tersebut sering disebut dengan Wali Songo. Tradisi penghormatan dengan model membungkuk di depan raja atau orang tua.

Hal yang sama juga pola penghormatan masyarakat di berbagai belahan dunia mempunyai beragam bentuk. Ada sebagian orang Arab yang memberi penghormatan dengan orang yang lebih mulia dengan jabat tangan dan memegang jenggotnya. Ada sebagian orang di Jepang dan masyarakat Asia Tenggara dengan sedikit membungkukan tubuh nya. Artinya, pertumbuhan budaya masyarakat dalam mewujudkan penghormatan kepada sesama manusia beragam.

Dalam konteks Islam, bentuk penghormatan ditinjau dari segi etika bahwa orang tersebut telah mengimplementasikan rasa kemanusiaan yang luhur kepada orang lain. Penekanan ajaran Islam pada maqasid nya, bukan pada bentuknya. Bentuk penghormatan berbeda-beda, tapi maksud nya sama yaitu memulyakan sesama manusia. Barangsiapa yang memulyakan manusia, maka ia akan dimulyakan oleh orang lain.

Tentu saja penghormatan harus dibebaskan dari unsur-unsur ritual. Penghormatan juga jangan dikait-kaitkan dengan ritual. Itu tidak boleh, sebab ritual mempunyai aturan tersendiri dari masing-masing agama. Dalam Islam ritual sholat dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Itu sebabnya, tidak boleh berprasangkan negatif bahwa apa-apa yang mirip dengan ritual lalu dianggap perbuatan tersebut haram. Jelas cara berfikir yang sangat terburu-buru dan menurut ku terlalu sempit melihat dinamika kehidupan manusia yang beragam di dunia.

Setiap masyarakat atau bangsa punya cara memberi penghormatan yang berbeda-beda. Kita bisa melihat keberagaman semua itu untuk melakukan kajian lebih mendalam  atau “lita’arafu”. Tujuannya agar kita mengetahui filosofis masing-masing pola penghormatan yang beragam tersebut. Semakin memahami dengan baik, maka semakin bijaksana  dan dewasa dalam mengambil suatu keputusan.

Walhasil, penghormatan kepada Allah berarti melakukan sesembahan kepada-Nya dengan rangkaian ritual yang sudah diatur dengan jelas. Penghormatan kepada sesama manusia yaitu merealisasikan sikap, ucapan dan perbuatan baik dengan kesepakatan-kesepakatan yang hidup di masyarakat. Kedua nya punya wilayah yang berbeda, meskipun terkadang ada kemiripan bentuk. Tidak mengapa. Cuma mirip. Serupa tapi tidak sama.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872