
Tanda ternyata sangat penting. Ia bisa menjadi pembeda satu dengan
lainnya. ada hari kebangkitan nasional dan hari-hari lainnya merupakan tanda
dari suatu kejadian atau peristiwa yang menyertainya pada masa lalu. Tanda
menjadi sangat spesial suatu kenikmatan, kadang juga menjadi peringatan
terhadap peristiwa-peristiwa tertentu. Semua harus ada tanda dan ada tujuan
kebaikan untuk menjalankan atau meninggalkannya. Maka menghormati tanda
tersebut menjadi penting. Sebab mampu mengingatkan segala kejadian disebalik
tanda yang ada.
Manusia mempunyai beragam tanda. Dalam kehidupan sosial, manusia bukan
sebatas punya naluri beragama (gharizah tadayyun), juga sebagai manusia
berbudaya (al-insan madaniyun bitab’i). Naluri-naluri tersebut terkadang
membentuk perilaku manusia yang terkadang mempunyai kemiripan dalam tataran
etika, tapi berbeda pada tujuan nya. Contoh seperti dalam Q.S. Al-Baqarah ayat
34 sebagai berikut:
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ
اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ ٣٤
Artinya:
(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu
kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan
menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.
Ada etika sosial yang menjadi budaya masa lalu seperti yang tertulis
dalam Q.S. Yusuf ayat 4 sebagai berikut:
اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ
كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ ٤
Artinya:
(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya (Ya‘qub), “Wahai ayahku,
sesungguhnya aku telah (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan.
Aku melihat semuanya sujud kepadaku.
Dua ayat tersebut merupakan desain bagian etika sosial yang mempunyai
penafsiran-penafsiran yang disepakati bersama oleh masyarakat tersebut. Penulis
juga bisa memahami bahwa “kemiripan ritual” dengan “penghormatan sosial” pada
masa dulu dalam wujud “sujud” tidak menjadi persoalan. Sebab mereka mempunyai
kecerdasan tinggi untuk membedakan wilayah sosial dan wilayah ubudiyah atau
ibadah. Sama bentuknya tidak menjadi persoalan. Sebab keduanya berbeda tujuan.
Sujud yang dilakukan keluarga Nabi Yusuf kepada Nabi Yusuf dan Malaikat kepada
Nabi Adam merupakan sujud penghormatan. Sedangkan saat ritual seperti sujud
saat sholat, mempunyai maksud sebagai wujud penghambaan manusia kepada Allah.
Dua dimensi yang sangat jauh perbedaannya, tapi ada kemiripan sangat dekat.
Kemiripan perilaku manusia sebagai bagian dari kesepakatan dalam
konstitusi tidak tertulis di tengah-tengah masyarakat banyak beragam. Pada era Nabi
Adam, Nabi Yusuf (dan bisa jadi tradisi kerajaan pada masa nabi dulu) sudah
terbiasa memberi penghormatan dengan cara sujud. Al-Qur’an telah mengabadikan
sebagain tradisi tersebut. dan tuhan malah menyuruh malaikat dan iblis
melakukan sujud.
Kerajaan-kerajaan Islam yang pernah jaya di nusantara mempunyai tradisi
penghormatan sebagaimana yang kita lihat kerajaan yang ada di Yogyakarta dan
Surakarta. Itu sudah menjadi tradisi jauh sebelum zaman kerajaan mataram Islam.
dan kita mengetahui, dari kerajaan-kerajaan Islam tersebut ada para ulama-ulama
yang diantara ulama tersebut sering disebut dengan Wali Songo. Tradisi
penghormatan dengan model membungkuk di depan raja atau orang tua.
Hal yang sama juga pola penghormatan masyarakat di berbagai belahan
dunia mempunyai beragam bentuk. Ada sebagian orang Arab yang memberi
penghormatan dengan orang yang lebih mulia dengan jabat tangan dan memegang
jenggotnya. Ada sebagian orang di Jepang dan masyarakat Asia Tenggara dengan sedikit
membungkukan tubuh nya. Artinya, pertumbuhan budaya masyarakat dalam mewujudkan
penghormatan kepada sesama manusia beragam.
Dalam konteks Islam, bentuk penghormatan ditinjau dari segi etika bahwa
orang tersebut telah mengimplementasikan rasa kemanusiaan yang luhur kepada
orang lain. Penekanan ajaran Islam pada maqasid nya, bukan pada bentuknya. Bentuk
penghormatan berbeda-beda, tapi maksud nya sama yaitu memulyakan sesama
manusia. Barangsiapa yang memulyakan manusia, maka ia akan dimulyakan oleh
orang lain.
Tentu saja penghormatan harus dibebaskan dari unsur-unsur ritual. Penghormatan
juga jangan dikait-kaitkan dengan ritual. Itu tidak boleh, sebab ritual
mempunyai aturan tersendiri dari masing-masing agama. Dalam Islam ritual sholat
dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Itu sebabnya, tidak boleh
berprasangkan negatif bahwa apa-apa yang mirip dengan ritual lalu dianggap perbuatan
tersebut haram. Jelas cara berfikir yang sangat terburu-buru dan menurut ku
terlalu sempit melihat dinamika kehidupan manusia yang beragam di dunia.
Setiap masyarakat atau bangsa punya cara memberi penghormatan yang
berbeda-beda. Kita bisa melihat keberagaman semua itu untuk melakukan kajian
lebih mendalam atau “lita’arafu”. Tujuannya
agar kita mengetahui filosofis masing-masing pola penghormatan yang beragam
tersebut. Semakin memahami dengan baik, maka semakin bijaksana dan dewasa dalam mengambil suatu keputusan.
Walhasil, penghormatan kepada Allah berarti melakukan sesembahan kepada-Nya
dengan rangkaian ritual yang sudah diatur dengan jelas. Penghormatan kepada sesama
manusia yaitu merealisasikan sikap, ucapan dan perbuatan baik dengan
kesepakatan-kesepakatan yang hidup di masyarakat. Kedua nya punya wilayah yang
berbeda, meskipun terkadang ada kemiripan bentuk. Tidak mengapa. Cuma mirip. Serupa
tapi tidak sama.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872