
Tulisan ini lanjutan dari tulisan pertama
yang berjudul, “Polri, Gus Ulil Dan Revitalisasi Budaya”. Kelihatannya, ada
pembahasan yang belum tuntas pada pembahasan pertama tentang perilaku muslim
ke-Indonesia-an, terutama para ulama pada masa dulu yang berfikir out the
box. Itu sebabnya orang-orang seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari NU
dan Syafi’i Maarif (Buya Syafi’i) dari Muhammadiyah melihat Al-Qur’an tidak
sebatas pada tinjauan hukum, tapi juga pada aspek filosofis-sosiologis. Pemikiran-pemikiran
intelektual ini adalah warisan dari para ulama yang terkenal dengan sebutan Wali
Sanga telah memperkenalkan suatu sistem kehidupan kompromis yaitu tidak
bertentangan dengan syariat Islam dan bisa diterima adat-istiadat setempat. Para
pendakwah tersebut adalah ulama yang secara geneologis mempunyai sambungan
intelektual yang sangat erat dengan ulama besar di Hadramaut dan secara
silsilah mempunyai hubungan dengan tabi’in-tabi’in, tabi’in, sahabat nabi dan
nabi Muhammad s.a.w. Meskipun demikian, mereka menyebarkan agama dengan sangat
mudah dan mampu membaur dengan adat-istiadat masyarakat setempat dengan tidak
merusaknya. Kelembutan dalam menyampaikan pesan-pesan Tuhan telah membentuk
suatu komunitas masyarakat dan kemudian melahirkan karakter masyarakat Islam
yang berbeda dengan masyarakat muslim di belahan negara lain.
Kita bisa melihat fakta-fakta kehidupan
beragama bisa menjaga keharmonisan dengan keberagaman masyarakat yang plural. Contoh
kecil di Daerah Kudus sebagaimana tulisan sebelumnya. Pada masa Sunan Kudus,
Daerah Kudus Islam masih minoritas dan umat Hindu mayoritas. Hal ini paling
tidak bisa dilihat dari peninggalan Masjid Menara Kudus yang bentuk nya masih
mirip seperti Pura atau tempat ibadahnya orang Hindu. Ini adalah bukti betapa
kuat nya orang-orang kudus terhadap agama Hindu. Mereka sangat religious dan
menyakini akan eksistensi para dewa sebagai unsur yang memberikan kebahagian
abadi. Salah satu yang dianggap suci yaitu Binatang Sapi. Sunan Kudus sebagai
ulama islam mengajak kepada pengikutnya untuk menghargai dan menghormati agama
lain dan tidak boleh menyinggung perasaan mereka apalagi menyakiti hati nya
berkaitan dengan sesembahan. Salah satu penghormatan dan penghargaan sebagai
manifestasi hablu min-nass, dia melarang umat islam berkurban dengan binatang Sapi.
Bagi umat Islam yang melihat al-qur’an sebagai sumber hukum semata, bisa
jadi akan mendebat keputusan Sunan Kudus yang dianggap bertentangan dengan
syariat Islam. Mereka dengan sangat mudah mengatakan keputusan Sunan Kudus sebuah
kesalahan fatal. Sebab ia melarang menyembelih binatang yang secara hukum tidak
diharamkan dalam Islam. Apalagi saat sekarang ini, kehidupan telah
diformalitaskan menjadi serba syariat, sehingga sesuatu yang sebenarnya sesuatu
yang bersifat mubah dikapitalisasi menjadi seolah-olah syariat yang harus
dijalankan. Jika ditinggalkan seolah-oleh iman dan kedekatan dengan Allah masih
diragukan kesholehanya. Orang yang memakai jubah, baju putih dipresepsikan
kelompok yang lebih suci, sholeh dan dekat dengan Allah ketimbang orang-orang
yang memakai baju batik, pakai topi kaos oblong dan sebagainya. Akibatnya kadang
membuat lucu dan mencederai ajaran Islam ketika sesuatu yang tidak sakral dibuat
menjadi sakral sebagaimana di atas. Orang-orang diluar sana akhirnya melihat
sinis saat rombongan yang dianggap Islami dengan asesoris baju dan sejenisnya
telah melakukan perbuatan asusial atau melakukan perbuatan yang diluar keumuman
masyarakat. Agama yang sakral ternodai oleh para penganutnya yang kadang tidak
mencerminkan subtansi agama dan hanya berhenti pada formalitas.
Sunan Kudus melarang masyarakat muslim
daerah kudus agar tidak menyembelih sapi bukan melawan syariat Islam. Toh dalam
hal ibadah kurban, banyak pilihan-pilihan yang tidak harus binatang Sapi, tapi
bisa juga Kerbau, Kambing dan lain-lain yang diperolehkan dalam syariat Islam. Sunan
kudus juga memahami bahwa dalam kontek berkurban jenis binatang bukan bagian
dari ta’abud yang harus berkurban dengan binatang-binatang tertentu. Buktinya,
saat nabi berkurban dengan binatang unta, masyarakat muslim Indonesia bisa
berkurban dengan sapi, kerbau, dan kambing. Sebab nilai-nilai ta’abud pada
berkurbannya, bukan pada jenis binatangnya. Maka dari sini jelas, kebijakan
sunan kudus sebagai ulama tanah jawa saat itu jelas suatu kebijakan yang tidak
bertentangan dengan syariat dan tidak melukai sesembahan agama lain. hal ini
merupakan implementasi dari firman Allah, “lakum dienukum wali yadien”.
Pandangan-pandangan keagamaan seperti itu
juga mempengaruhi cara pandang politik. Para sunan atau para wali menilai bahwa
sepanjang penguasa tidak melarang umat lain beribadah sesuai dengan agama nya
masing-masing maka tidak ada alasan untuk melakukan pemberontakan. Itu sebabnya,
dalam sejarah Islam tidak pernah tercatat suatu pemberontakan terhadap para
penguasa non-muslim pada masa nya. pandangan seperti ini saat umat Hindu atau
Budha berkuasa di Nusantara sampai pada kekuasaan bangsa barat. Islam melakukan
perlawanan saat persoalan kebebasan beragama diintervensi dan dipinggirkan. Maka
perlawanan umat islam terhadap penjajah Belanda atau Jepang, tidak semata-mata
pada persoalan ekonomi, tapi juga persoalan-persoalan keyakinan kebebasan
menjalankan ibadah. Para penjajah telah melakukan berbagai kebijakan yang
membelenggu kebebasan beragama umat iIlam, akibatnya umat Islam melakukan
perlawanan.
Pandangan flesibel politik umat Islam seperti
ini yang jutru menjadi umat Islam tetap eksis dan mengalami perkembangan yang
sangat pesat. Bahkan konon umat Islam di Indonesia mencapai sekitar 88%-90%
masyarakat Indonesia. Para penjajah menekan kekuatan islam tidak mampu. Salah satu
penyebabnya, keyakinan umat islam dibangun oleh dua unsur; unsur keyakinan
kepada allah sebagai seorang muslim dan unsur budaya keindonesia yang telah
melahirkan sikap toleransi dan kesiapan bersatu melawan segala kedzaliman
sebagaimana yang telah dilakukan oleh para penjajah pada masa lalu.
Ironisnya pandangan-pandangan para ulama
dan masyarakat muslim pada masa lalu mulai terkikis pada generasi Islam saat
sekarang ini. Semangat beragama lebih difokuskan pada tataran kesempurnaan
ibadah dan kurang diperhatikan pada ibadah hati. Akibatnya, sering kehilangan
nilai-nilai yang melekat umat Islam Indonesia seperti adanya tepo seliro, andap
asor, toleransi, tawadhu, dan tidak suka mengusik atau menilai keimanan orang
lain serta tidak pernah mengkafirkan kepada sesama muslim. kini sebagian umat
islam mudah tersinggung oleh simbol dan perbedaan. Kini umat Islam telah menempatkan
diri sebagai wakil Tuhan di dunia. Mereka sudah mudah mengkafirkan sesama muslim
tanpa merasa berdosa. Atas nama syariat mereka berbicara di podium,
mimbar-mimbar, grup-grup wa untuk melakukan konsolidasi syahwat politik berbaju
agama. agama telah ditempatkan menjadi sub-bagian kajian, dan politik telah
mendominasi jalan berfikirnya. Siapapun yang berbeda pandangan politiknya, maka
statusnya sudah dianggap su’ul khotimah, kafir dan masuk neraka.
Sungguh sangat ironis. Para ulama walisongo
merajut masyarakat nusantara dengan penuh kelembutan sehingga merubah wajah
masyarakat Indonesia menjadi mayoritas muslim. mereka telah mengajarkan arti
penting perbedaan, senyum kedamaian, menghormati sesama manusia sehingga umat Islam
tertarik masuk dan mengikrarkan diri menjadi muslim. Kini, sebagian umat Islam
telah berubah menjadi umat yang berwajah tegang, garang dan tidak ramah dengan
lingkungan. Atas dasar menegakan syariat Islam mereka melakukan legitimasi
sepihak bahwa apa yang dilakukan nya adalah sebuah kebenaran mutlak dan yang
lain salah. Sebuah pemikiran yang jelas bukan asli dari produk masyarakat Indonesia
yang santun dan ramah terhadap keberagaman. Apakah bukti-bukti ini menunjukan
bahwa umat islam telah mendapatkan
apakah ini merupakan bagian dari infiltrasi ideologi transnasional untuk
merubah wajah masyarakat muslim Indonesia dari ramah menjadi suka marah? Wallahu
a’lam.
Dumai Line, 2 Juli 2023
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879