Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Qurban, Tradisi dan Infiltrasi Ideologi



Minggu , 02 Juli 2023



Telah dibaca :  409

Tulisan ini lanjutan dari tulisan pertama yang berjudul, “Polri, Gus Ulil Dan Revitalisasi Budaya”. Kelihatannya, ada pembahasan yang belum tuntas pada pembahasan pertama tentang perilaku muslim ke-Indonesia-an, terutama para ulama pada masa dulu yang berfikir out the box. Itu sebabnya orang-orang seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari NU dan Syafi’i Maarif (Buya Syafi’i) dari Muhammadiyah melihat Al-Qur’an tidak sebatas pada tinjauan hukum, tapi juga pada aspek filosofis-sosiologis. Pemikiran-pemikiran intelektual ini adalah warisan dari para ulama yang terkenal dengan sebutan Wali Sanga telah memperkenalkan suatu sistem kehidupan kompromis yaitu tidak bertentangan dengan syariat Islam dan bisa diterima adat-istiadat setempat. Para pendakwah tersebut adalah ulama yang secara geneologis mempunyai sambungan intelektual yang sangat erat dengan ulama besar di Hadramaut dan secara silsilah mempunyai hubungan dengan tabi’in-tabi’in, tabi’in, sahabat nabi dan nabi Muhammad s.a.w. Meskipun demikian, mereka menyebarkan agama dengan sangat mudah dan mampu membaur dengan adat-istiadat masyarakat setempat dengan tidak merusaknya. Kelembutan dalam menyampaikan pesan-pesan Tuhan telah membentuk suatu komunitas masyarakat dan kemudian melahirkan karakter masyarakat Islam yang berbeda dengan masyarakat muslim di belahan negara lain.

Kita bisa melihat fakta-fakta kehidupan beragama bisa menjaga keharmonisan dengan keberagaman masyarakat yang plural. Contoh kecil di Daerah Kudus sebagaimana tulisan sebelumnya. Pada masa Sunan Kudus, Daerah Kudus Islam masih minoritas dan umat Hindu mayoritas. Hal ini paling tidak bisa dilihat dari peninggalan Masjid Menara Kudus yang bentuk nya masih mirip seperti Pura atau tempat ibadahnya orang Hindu. Ini adalah bukti betapa kuat nya orang-orang kudus terhadap agama Hindu. Mereka sangat religious dan menyakini akan eksistensi para dewa sebagai unsur yang memberikan kebahagian abadi. Salah satu yang dianggap suci yaitu Binatang Sapi. Sunan Kudus sebagai ulama islam mengajak kepada pengikutnya untuk menghargai dan menghormati agama lain dan tidak boleh menyinggung perasaan mereka apalagi menyakiti hati nya berkaitan dengan sesembahan. Salah satu penghormatan dan penghargaan sebagai manifestasi hablu min-nass, dia melarang umat islam berkurban dengan binatang Sapi.

Bagi umat Islam yang melihat al-qur’an sebagai sumber hukum semata, bisa jadi akan mendebat keputusan Sunan Kudus yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Mereka dengan sangat mudah mengatakan keputusan Sunan Kudus sebuah kesalahan fatal. Sebab ia melarang menyembelih binatang yang secara hukum tidak diharamkan dalam Islam. Apalagi saat sekarang ini, kehidupan telah diformalitaskan menjadi serba syariat, sehingga sesuatu yang sebenarnya sesuatu yang bersifat mubah dikapitalisasi menjadi seolah-olah syariat yang harus dijalankan. Jika ditinggalkan seolah-oleh iman dan kedekatan dengan Allah masih diragukan kesholehanya. Orang yang memakai jubah, baju putih dipresepsikan kelompok yang lebih suci, sholeh dan dekat dengan Allah ketimbang orang-orang yang memakai baju batik, pakai topi kaos oblong dan sebagainya. Akibatnya kadang membuat lucu dan mencederai ajaran Islam ketika sesuatu yang tidak sakral dibuat menjadi sakral sebagaimana di atas. Orang-orang diluar sana akhirnya melihat sinis saat rombongan yang dianggap Islami dengan asesoris baju dan sejenisnya telah melakukan perbuatan asusial atau melakukan perbuatan yang diluar keumuman masyarakat. Agama yang sakral ternodai oleh para penganutnya yang kadang tidak mencerminkan subtansi agama dan hanya berhenti pada formalitas.

Sunan Kudus melarang masyarakat muslim daerah kudus agar tidak menyembelih sapi bukan melawan syariat Islam. Toh dalam hal ibadah kurban, banyak pilihan-pilihan yang tidak harus binatang Sapi, tapi bisa juga Kerbau, Kambing dan lain-lain yang diperolehkan dalam syariat Islam. Sunan kudus juga memahami bahwa dalam kontek berkurban jenis binatang bukan bagian dari ta’abud yang harus berkurban dengan binatang-binatang tertentu. Buktinya, saat nabi berkurban dengan binatang unta, masyarakat muslim Indonesia bisa berkurban dengan sapi, kerbau, dan kambing. Sebab nilai-nilai ta’abud pada berkurbannya, bukan pada jenis binatangnya. Maka dari sini jelas, kebijakan sunan kudus sebagai ulama tanah jawa saat itu jelas suatu kebijakan yang tidak bertentangan dengan syariat dan tidak melukai sesembahan agama lain. hal ini merupakan implementasi dari firman Allah, “lakum dienukum wali yadien”.

Pandangan-pandangan keagamaan seperti itu juga mempengaruhi cara pandang politik. Para sunan atau para wali menilai bahwa sepanjang penguasa tidak melarang umat lain beribadah sesuai dengan agama nya masing-masing maka tidak ada alasan untuk melakukan pemberontakan. Itu sebabnya, dalam sejarah Islam tidak pernah tercatat suatu pemberontakan terhadap para penguasa non-muslim pada masa nya. pandangan seperti ini saat umat Hindu atau Budha berkuasa di Nusantara sampai pada kekuasaan bangsa barat. Islam melakukan perlawanan saat persoalan kebebasan beragama diintervensi dan dipinggirkan. Maka perlawanan umat islam terhadap penjajah Belanda atau Jepang, tidak semata-mata pada persoalan ekonomi, tapi juga persoalan-persoalan keyakinan kebebasan menjalankan ibadah. Para penjajah telah melakukan berbagai kebijakan yang membelenggu kebebasan beragama umat iIlam, akibatnya umat Islam melakukan perlawanan.

Pandangan flesibel politik umat Islam seperti ini yang jutru menjadi umat Islam tetap eksis dan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bahkan konon umat Islam di Indonesia mencapai sekitar 88%-90% masyarakat Indonesia. Para penjajah menekan kekuatan islam tidak mampu. Salah satu penyebabnya, keyakinan umat islam dibangun oleh dua unsur; unsur keyakinan kepada allah sebagai seorang muslim dan unsur budaya keindonesia yang telah melahirkan sikap toleransi dan kesiapan bersatu melawan segala kedzaliman sebagaimana yang telah dilakukan oleh para penjajah pada masa lalu.

Ironisnya pandangan-pandangan para ulama dan masyarakat muslim pada masa lalu mulai terkikis pada generasi Islam saat sekarang ini. Semangat beragama lebih difokuskan pada tataran kesempurnaan ibadah dan kurang diperhatikan pada ibadah hati. Akibatnya, sering kehilangan nilai-nilai yang melekat umat Islam Indonesia seperti adanya tepo seliro, andap asor, toleransi, tawadhu, dan tidak suka mengusik atau menilai keimanan orang lain serta tidak pernah mengkafirkan kepada sesama muslim. kini sebagian umat islam mudah tersinggung oleh simbol dan perbedaan. Kini umat Islam telah menempatkan diri sebagai wakil Tuhan di dunia. Mereka sudah mudah mengkafirkan sesama muslim tanpa merasa berdosa. Atas nama syariat mereka berbicara di podium, mimbar-mimbar, grup-grup wa untuk melakukan konsolidasi syahwat politik berbaju agama. agama telah ditempatkan menjadi sub-bagian kajian, dan politik telah mendominasi jalan berfikirnya. Siapapun yang berbeda pandangan politiknya, maka statusnya sudah dianggap su’ul khotimah, kafir dan masuk neraka.

Sungguh sangat ironis. Para ulama walisongo merajut masyarakat nusantara dengan penuh kelembutan sehingga merubah wajah masyarakat Indonesia menjadi mayoritas muslim. mereka telah mengajarkan arti penting perbedaan, senyum kedamaian, menghormati sesama manusia sehingga umat Islam tertarik masuk dan mengikrarkan diri menjadi muslim. Kini, sebagian umat Islam telah berubah menjadi umat yang berwajah tegang, garang dan tidak ramah dengan lingkungan. Atas dasar menegakan syariat Islam mereka melakukan legitimasi sepihak bahwa apa yang dilakukan nya adalah sebuah kebenaran mutlak dan yang lain salah. Sebuah pemikiran yang jelas bukan asli dari produk masyarakat Indonesia yang santun dan ramah terhadap keberagaman. Apakah bukti-bukti ini menunjukan bahwa umat islam telah mendapatkan  apakah ini merupakan bagian dari infiltrasi ideologi transnasional untuk merubah wajah masyarakat muslim Indonesia dari ramah menjadi suka marah? Wallahu a’lam.

Dumai Line, 2 Juli 2023



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879