
Sekitar jam 6.55 WIB saya sudah sampai di Kampus.
Melalui WA warga IAIN Datuk Laksemana, saya ngajak Dr. Nasrun Harahap ngopi. Ingin
saya traktir dosen yang jenggotnya sudah memutih dan cukup panjang tertata rapi.Tapi
tidak ada respon. Mungkin sibuk lagi meditasi memikirkan “semrawute dunya”.
Mungkin juga pagi ini lagi uzlah, wiridan agar mendapatkan pencerahan
mata batin.
Tidak lama kemudian, HP ku berdering. Pak Imam
Hakim ngajak ngopi. Sekalian saya mengajak tetangga sebelah-mas chanif-
untuk ikut sarapan.
Saya bersyukur dan heran. Bersyukur karena
ada yang ngajak ngopi plus sarapan. heran atas responsif Ketua Senat ini. “Kok
ngerti, nek aku urung sarapan”. Jangan-jangan Ketua Senat sudah ma’rifat
membaca “kekarepanku”. Mungkin ini yang kata ulama dulu:”niatul mu’min khairun
min ‘amalihi”, niat e bagus, balasannya bagus. Niat e traktir ngopi,
malah ditraktir ngopi plus sarapan.
Lhoo kenapa harus kopi. Saya sebenarnya minum
apa saja cocok. Apalagi susu, sangat cocok. Minum teh kurang. Es juga kurang. Kopi
kemasan juga tidak suka. Saya hanya suka kopi asli. Pahit. Kadang dikasih gula,
manis. Supaya hidup terlihat beragam. Kadang pahit, kadang manis. Itu aturan
hidup. Hidup manis terus tidak baik, khawatir jadi jumawa. Hidup pahit
terus juga tidak baik, khawatir tidak tahu makna syukur.
Manusia jika dipikir-pikir laksana segelas
kopi. Jika anda masih bisa menikmati kopi dengan tidak ada rasa takut, berarti
anda dalam kondisi sehat. Segelas kopi menjadi simbol, bahwa di dunia ini
kenikmatan yang paling agung sebenarnya sehat.
Sebagian manusia sering melupakan hal
tersebut. Saat masih menjadi manusia biasa, minuman nya biasa-biasa saja. Makanannya
pun apa adanya, nasi, daun ubi rebus, ikan laut bakar, tempe dan tahu goreng. Sudah
cukup. Murah dan terjangkau.
Budaya kesederhaan seperti ini terkadang
ditinggalkan saat orang tersebut sudah naik derajatnya satu level di atas. permintaan
aneh-aneh. Biasa makan nasi goreng biasa, selera berubah: nasi goreng spesial. Minum
yang terkadang cukup dengan segelas kopi dan segelas air putih hangat mengalami
perubahan jadi segelas Es Susu campur Kuku Bima. Rasa Nasi Goreng biasa sudah
mulai hambar. Rasa kopi sudah tidak merasa bukan level nya. Ia sudah naik pada
level nasi goreng spesial dan minum Es Susu Kuku Bima.
Setelah menjadi penggede, ada jadi pejabat,
eksekutif, legislatif, yudikatif, pengusaha, atau tokoh yang disekitarnya bersliweran
kenikmatan dunia, identitas manusia kopi sudah hilang sama sekali. ia sudah
menempatkan diri dengan gaya hidup yang dianggap elit dan berkelas.
Pola makan bergeser. Dulu cukup nasi putih,
lauknya telor ceplok. Kini sudah berubah: Caviar Almas. Sudah tidak cocok sama
telor ayam. Cari telor ikan laut. Dulu suka memburu daging kurban sebagai lauk
spesial dan mewah, setelah jadi pejabat dan kaum richt man sudah alergi. Katanya
daging sapi lokal kurang baik untuk kesehatan. Cari daging ekspor dari luar
negeri: Daging Sapi Kobe dari Amerika Serikat.
Apa yang saya ceritakan di atas sebenarnya
fenomena yang sudah lama terjadi. Semakin tinggi jabatan, permintaan jabatan
terkadang semakin aneh-aneh. Ia terkadang melupakan esensi dari makan dan minum
sebagai bagian dari ibadah. Ia lebih memilih makan dan minum dalam membentuk
kelas tersendiri. Pola makan dan minum harus berubah, harus berbeda dari
kebanyakan manusia pada umumnya.
Manusia saat sekarang ini menyangga status
kelas elit dengan pola makan. Semakin tinggi status kelasnya [menurut
perasaannya], maka semakin menuntut makan dan minum yang aneh-aneh. Jadi,
semakin elit status manusia malah menjadi seperti anak-anak. Apa-apa minta
ini-itu. Tidak dituruti nesu, marah-marah dan merasa tidak dihormati.
Pola pikiran seperti ini bahaya. Ia tidak
menyadari bahwa dirinya adalah manusia yang ada siklus kehidupan berubah-rubah.
Tubuhnya yang dulu kuat saat masih muda akan menurut saat usia sudah mulai tua.
Kata orang kampung “sudah mulai banyak pantangan, pantang makan ini dan itu,
pantang minum ini dan itu”. Konsep aji mumpung sangat membahayakan sekali.
seperti bahaya nya pilot pesawat terbang saat landing. Tidak hati-hati, landing
nya membayakan jiwa dirinya dan penumpangnya.
Kini kita melihat terlalu banyak penyakit muncul
yang dulu belum ada. Saat kita dan orang tua kita masih membudayakan makan nasi
putih dan telor ceplok serta sayur daun ubi santan, penyakit masih sederhana:
kudisen, gatal-gatal, flu, malaria, bisul dan sakit gigi.
Kini setelah ada makanan beragam selera dan
semakin aneh-aneh jenisnya, semakin aneh juga penyakitnya. Dan jenis keanehan
penyakit saat sekarang ini sudah booming dimana-mana.
Apakah hal ini berarti perilaku manusia
semakin aneh? Iya. Prinsip hidup mulai bergeser. Dari hidup bersosial, kini
mulai berkapital. Dari hidup berlandaskan silaturahmi,berubah berlandaskan
komisi. Dari hidup yang selalu berlandas kepada Tuhan Yang Maha Esa, sudah
berubah kepada Siapa Yang Berkuasa.
Ada pergeseran nilai etika dan perilaku
manusia. Prinsip hidup agama-Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah-
melalui pola hidup model orang tua kita dulu, kakek-nenek dan terus ke atas
mulai luntur.
Generasi dulu mengajarkan pola makan agar
bisa beribadah dan bekerja. Generasi dulu saat di pagi hari sarapan ubi goreng
dan segelas kopi sebagai bekal bekerja di sawah dan ladang. Maka, hasil nya
berkah. Saat mereka sukses, pola makan dan minum tetap terjaga.
Kini mungkin sudah mulai berubah. Kerja untuk
makan. Semakin tingga status sosialnya, semakin tinggi juga jenis dan selera
makan. Semakin tinggi jenis makanan, semakin banyak bahan-bahan dan bumbu-bumbu
yang tidak cocok dengan kondisi tubuh anda. Tapi anda mungkin tidak menyadari
tersebut. sebab kenikmatan memang selalu bikin “ketagihan” untuk terus mencoba,
hingga kemudian kita baru menyadari saat sudah sakit. Jika ini datang, seluruh
kekayaan dan jabatan dikerahkan untuk mengobati penyakit anda. Hingga akhirnya kita
sadar, bahwa uang yang dikumpulkan bertahun-tahun ludes hanya sakit yang kita
derita.
Segelas Kopi Gula Aren sebatas pengingat
agar kita memperhatikan firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 168 sebagai
berikut: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang
terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena
sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Hadist Nabi Muhammad SAW:
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali
yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin
sebagaimana Dia memerintahkan kepada para rasul: ‘Makanlah dari makanan yang
baik-baik dan kerjakanlah amal yang saleh.’” (HR. Muslim).
Makanan tidak sebatas halal karena kerja
keras anda. Ada unsur yang sangat penting yaitu toyibah [baik] bagi kesehatan anda
dan baik terhadap penyakit yang anda derita. Jika anda bisa mengelola hal
demikian, maka anda menemukan kebahagiaan meskipun anda bukan pejabat negara
atau pengusaha besar. Sebab sebesar apapun pengusaha dan jabatan, tetap yang
dibutuhkan sepiring makanan yang menyehatkan dan menyembuhkan penyakit di
badan.
Saat kita bersyukur atas kenikmatan makan
dan minum, saat itu juga makan dan minum menjadi nilai ibadah setiap hari. Itulah
hakikat kita telah menemukan kebahagiaan sejati.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Imam Hakim
Kehidupan bisa membuat manusia mengalami metamorfosis phisik dan phsikologis..tansah kudu eling..sejatine mengkor koyo ngene..
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2945
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874