Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Raja dan Tukang Mancing



Selasa , 05 November 2024



Telah dibaca :  556

Ada cerita inspiratif tentang kisah seorang raja dan tukang mancing. Suatu hari seorang raja liburan di hutan. Ia beserta pengawal berburu binatang buruan. Mereka semakin asyik. Tak terasa semakin masuk ke dalam hutan. Sehingga tanpa disadari, mereka pun lupa jalan untuk pulang.

Saat asyik berburu, tiba-tiba ada suara auman harimau menggelegar, sangat keras. Sontak semua kaget. Para pengawal pun cepat melesat meninggalkan sang raja. Ironisnya lagi, kuda sang raja pun kaget ketakutan luarbiasa. Sehingga kuda pun melarikan diri dengan sekuat tenaga. Sehingga sang raja terlempar di sungai yang arus airnya sangat deras dan ia terbawa arus sungai tersebut.

Nun jauh di sana, ada seorang pemuda kampung yang sedang memancing ikan di pinggir Sungai. Ia seorang diri dengan sabar menunggu di pinggir Sungai. Tiba-tiba terdengar ada suara meminta tolong dari tengah sungai. Sepontan, pemuda tersebut langsung melompat dan sekuat tenaga menarik orang tersebut ke pinggir Sungai. Ketika sudah berada di daratan, orang tersebut tidak lain  adalah seorang raja yang terlempar ke sungai karena kudanya ketakutan mendengar suara auman harimau.

Sanga raja sangat senang dirinya selamat. Ia pun berjanji akan memberikan apapun yang diinginkan oleh pemuda kampung sebagai wujud terima kasih dan balas budi. Sanga raja meminta keinginan pemuda. Apapun yang diinginkan akan dikabulkan oleh raja.

Sang pemuda berkata: “Wahai Tuan Raja, saya ada satu permintaan saja. Saya minta kepada raja agar jangan sampai ada orang yang tahu bahwa saya yang menolong dan menyelamatkan raja”.

Sanga raja sangat terkejut mendengar permintaan tersebut. ia sangat heran. Saat orang-orang disekitarnya mengharapkan kebaikan darinya, justru ada orang yang telah menyelamatkan dirinya tidak minta apa-apa. Malah dia minta agar tidak ada satupun orang mengetahui jika ia yang menyelamatkannya.

Ada pelajaran dari cerita tersebut di atas. Kehidupan dulu dan sekarang sebenarnya sama saja; pertarungan kebaikan dan keburukan. Dulu ada orang baik, sekarang juga ada. Dulu ada orang jahat, sekarang juga ada. Sama. Dunia ribet bukan pada persoalan politik, ekonomi, rendah nya pendidikan. Tidak sama sekali. Dunia ribet dan kondisi tidak menentu disebabkan sebagian manusia mengharapkan keinginan yang terlalu berlebih pada sesuatu yang bersifat fana. Kadang ingin disanjung oleh manusia, kadang ini dipuji oleh atasan dan bawahan, kadang ingin dihargai sebagai orang baik dan berprestasi. Saat semua itu tidak didapat, maka ia merasa menderita. Akibatnya, ia terbiasa hidup oleh sanjungan manusia. Lambat laun lupa kepada pengharapan kepada Ridha Allah swt. Hati menjadi setipis tisu saat bertemu dengan manusia, hati menjadi setebal papan kayu ketika berdialog dengan Tuhan.

Sikap sang raja merupakan fenomena hukum sosial. Ada sistem timbal-balik dari setiap pekerjaan. Ada reward dan punishment. Sebab memang sistem kehidupan demikian diatur dalam syariat-syariat islam. saat anda sholat, puasa dan zakat serta amal sholeh lain, tuhan menyediakan pahala. Begitu juga sebaliknya.

Namun hidup tidak melulu sistem transaksional. Ada seorang pemuda yang telah mengajarkan bahwa ada nilai-nilai lebih tinggi dari sebatas mendapat pahala, yaitu mengharapkan ridha Allah Swt. Pemuda tadi tahu bahwa hidup ini membutuhkan kebahagiaan dan segala asesorisnya. Tapi pemuda tersebut menggunakan parameter kebahagiaan tidak melulu pada sandaran yang bersifat fana. Ia menyadari, bahwa segala sesuatu harus bersandar pada Yang Maha Kekal. Bahkan segala amal ibadah dan amal sholeh pun senantiasa mengacu kepada kesadaran totalitas hanya mengharap keridhoan-Nya. Sandaran-sandaran yang demikian, menyebabkan manusia semakin tangguh dalam menghadapi segala gelombang kehidupan yang begitu dahsyat sekalipun.

Saya dan (mungkin) anda sering mengalami lemah, letih dan terasa tidak mempunyai energi. Mungkin bukan karena kurang makan, kurang vitamin, kurang jabatan, kurang harta. Mungkin kita lemah dan tidak mempunyai gairah karena ruhaniah kita telah dipenuhi oleh kulkas, kendaraan, jabatan, dan segala macam nya. Tuhan telah terlempar dari tujuan hidup kita.

Astaghfirullahal ‘adzim. Tuhan ku, ampunilah diriku atas segala kealpaan dan kejahilanku selama ini. Berilah cahaya keagungan-Mu agar kami kuat untuk senantiasa mencintai-Mu setulus hati.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1076

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   642

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   824

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   801

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   931

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13820


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4868


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3272