
Ada cerita inspiratif tentang kisah seorang
raja dan tukang mancing. Suatu hari seorang raja liburan di hutan. Ia beserta
pengawal berburu binatang buruan. Mereka semakin asyik. Tak terasa semakin
masuk ke dalam hutan. Sehingga tanpa disadari, mereka pun lupa jalan untuk
pulang.
Saat asyik berburu, tiba-tiba ada suara
auman harimau menggelegar, sangat keras. Sontak semua kaget. Para pengawal pun
cepat melesat meninggalkan sang raja. Ironisnya lagi, kuda sang raja pun kaget
ketakutan luarbiasa. Sehingga kuda pun melarikan diri dengan sekuat tenaga. Sehingga
sang raja terlempar di sungai yang arus airnya sangat deras dan ia terbawa arus
sungai tersebut.
Nun jauh di sana, ada seorang pemuda
kampung yang sedang memancing ikan di pinggir Sungai. Ia seorang diri dengan
sabar menunggu di pinggir Sungai. Tiba-tiba terdengar ada suara meminta tolong
dari tengah sungai. Sepontan, pemuda tersebut langsung melompat dan sekuat
tenaga menarik orang tersebut ke pinggir Sungai. Ketika sudah berada di
daratan, orang tersebut tidak lain adalah
seorang raja yang terlempar ke sungai karena kudanya ketakutan mendengar suara auman
harimau.
Sanga raja sangat senang dirinya selamat. Ia
pun berjanji akan memberikan apapun yang diinginkan oleh pemuda kampung sebagai
wujud terima kasih dan balas budi. Sanga raja meminta keinginan pemuda. Apapun yang
diinginkan akan dikabulkan oleh raja.
Sang pemuda berkata: “Wahai Tuan Raja, saya
ada satu permintaan saja. Saya minta kepada raja agar jangan sampai ada orang
yang tahu bahwa saya yang menolong dan menyelamatkan raja”.
Sanga raja sangat terkejut mendengar
permintaan tersebut. ia sangat heran. Saat orang-orang disekitarnya
mengharapkan kebaikan darinya, justru ada orang yang telah menyelamatkan
dirinya tidak minta apa-apa. Malah dia minta agar tidak ada satupun orang
mengetahui jika ia yang menyelamatkannya.
Ada pelajaran dari cerita tersebut di atas.
Kehidupan dulu dan sekarang sebenarnya sama saja; pertarungan kebaikan dan
keburukan. Dulu ada orang baik, sekarang juga ada. Dulu ada orang jahat,
sekarang juga ada. Sama. Dunia ribet bukan pada persoalan politik,
ekonomi, rendah nya pendidikan. Tidak sama sekali. Dunia ribet dan kondisi
tidak menentu disebabkan sebagian manusia mengharapkan keinginan yang terlalu
berlebih pada sesuatu yang bersifat fana. Kadang ingin disanjung oleh manusia,
kadang ini dipuji oleh atasan dan bawahan, kadang ingin dihargai sebagai orang
baik dan berprestasi. Saat semua itu tidak didapat, maka ia merasa menderita. Akibatnya,
ia terbiasa hidup oleh sanjungan manusia. Lambat laun lupa kepada pengharapan
kepada Ridha Allah swt. Hati menjadi setipis tisu saat bertemu dengan
manusia, hati menjadi setebal papan kayu ketika berdialog dengan Tuhan.
Sikap sang raja merupakan fenomena hukum
sosial. Ada sistem timbal-balik dari setiap pekerjaan. Ada reward dan
punishment. Sebab memang sistem kehidupan demikian diatur dalam syariat-syariat
islam. saat anda sholat, puasa dan zakat serta amal sholeh lain, tuhan menyediakan
pahala. Begitu juga sebaliknya.
Namun hidup tidak melulu sistem
transaksional. Ada seorang pemuda yang telah mengajarkan bahwa ada nilai-nilai
lebih tinggi dari sebatas mendapat pahala, yaitu mengharapkan ridha Allah Swt. Pemuda
tadi tahu bahwa hidup ini membutuhkan kebahagiaan dan segala asesorisnya. Tapi pemuda
tersebut menggunakan parameter kebahagiaan tidak melulu pada sandaran yang
bersifat fana. Ia menyadari, bahwa segala sesuatu harus bersandar pada Yang
Maha Kekal. Bahkan segala amal ibadah dan amal sholeh pun senantiasa mengacu
kepada kesadaran totalitas hanya mengharap keridhoan-Nya. Sandaran-sandaran
yang demikian, menyebabkan manusia semakin tangguh dalam menghadapi segala
gelombang kehidupan yang begitu dahsyat sekalipun.
Saya dan (mungkin) anda sering mengalami lemah,
letih dan terasa tidak mempunyai energi. Mungkin bukan karena kurang makan,
kurang vitamin, kurang jabatan, kurang harta. Mungkin kita lemah dan tidak
mempunyai gairah karena ruhaniah kita telah dipenuhi oleh kulkas, kendaraan,
jabatan, dan segala macam nya. Tuhan telah terlempar dari tujuan hidup kita.
Astaghfirullahal ‘adzim. Tuhan ku,
ampunilah diriku atas segala kealpaan dan kejahilanku selama ini. Berilah cahaya
keagungan-Mu agar kami kuat untuk senantiasa mencintai-Mu setulus hati.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1076
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   642
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   824
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   801
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   931
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13820
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4868
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3863
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3272