Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Realita hidup di Belakang Bak Truk



Senin , 03 Juni 2024



Telah dibaca :  737

Masyarakat Indonesia mungkin manusia yang paling kreatif di planet bumi. Semua bisa menjadi sumber kreasi, mulai dari benda-benda seperti kayu, batu sampai pada alat-alat perkakas atau barang-barang bekas. Benda-benda yang tadinya mungkin tidak berguna dan terlihat “nyemak” (berserakan tidak berguna) di sekitar kita, bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai seni dan ekonomis.

Apakah dunia kreasi merupakan dunia asli bangsa Indonesia? Bisa jadi iya. Penulis teringat saat masih duduk sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs), ada guru bidang karya tangan. Kami dilatih cara membuat karya tangan yang bisa diperjualbelikan di pasaran. Waktu itu kami lakukan, dan kami pun menjual hasil karya tangan tersebut di tempat-tempat wisata di Jawa seperti di daerah Malioboro Yogyakarta, Wisata Laut Petanahan Kebumen, Laut Kidul Widarapayung Cilacap dan Wisata Baturaden di Lereng Gunung Slamet Kabupaten Banyumas. Kami yang masih ditingkat MTs sudah mendapatkan pelajaran kewirausahaan dan sudah diperkenalkan bisnis meskipun hasilnya belum maksimal.

Penulis rindu Pendidikan seperti dulu. Menurutku Pendidikan tersebut mampu menumbuhkan kemandirian dan semangat etos kerja dalam mewujudkan manusia yang tangguh dan berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Seandainya pola Pendidikan tersebut dipertajam lagi, kemungkinan bangsa Indonesia menjadi negara yang mempunyai sumber daya manusia yang hebat. Meskpun mereka tidak kuliah, tapi mampu mandiri dari segi ekonomi. Bukankah negara yang kuat ketika masyarakat nya tidak terlalu tergantung ekonominya terhadap bantuan pemerintah?

Salah satu hasil kreasi tangan-tangan manusia made in Indonesia yaitu corat-coret tulisan di bak truk. Jika anda bisa bepergian ke berbagai daerah lintas kota atau provinsi, maka akan melihat di bagian belakang bak truk tulisan yang lucu, unik, menggemaskan, nasehat qalbu, dan pesan-pesan moral lainnya.

Berikut sebagian contoh tersebut:

“Kadang kebahagiaanmu datang kepadamu tanpa kau mengetahui sebabnya, yakinlah bahwa kebahagiaanmu datang dari orang-orang yang mencintaimu” (Gus Baha).

Kalimat tersebut merupakan luapan dari seseorang mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya tidak lepas dari doa-doa orang yang mencintainya. Ungkapan tersebut merupakan realita kehidupan dan keyakinan kita sebagai orang timur bahwa ada hubungan psikologis yang mendalam dari orang yang mencintai dan dicintai. Kita sebagai seorang anak mempercayai bahwa kesuksesan bukan semata-mata hasil dari kerja keras kita dengan mendapatkan nilai Pendidikan yang terbaik, tetapi juga bagian dari doa-doa orang yang mencintai kita seperti orang tua, pasangan hidup kita dan orang-orang yang telah mendapatkan kebaikan dari kita, sehingga mereka pun mengalirkan doa sepanjang hidupnya sehingga kita mendapatkan kebahagiaan.

Kita sering tidak menyadari hal tersebut. Terkadang egoisme muncul saat diri kita mempunyai kelebihan dan diangkat derajatnya setingkat lebih tinggi dari teman-teman bisa jadi bagian dari doa istri atau pasangan anda yang mungkin secara kasat mata hanya sebatas manusia biasa, kurang pendidikan, kurang pergaulan, kurang menarik perhatian dan banyak kekurangan lainnya. Namun dengan segala keterbatasannya, mereka mengirim doa-doa mustajab untuk masa depan kita.

Dan doa tersebut terbukti hasilnya. Maka wajar, jika Ketika sudah sukses lalu melupakan orang-orang yang telah berjasa, kesuksesan tersebut bisa hilang bak ditelan bumi.

“Kebodohan merusak, tapi keminter lebih merusak” (Gus Baha)

Tulisan ini merupakan ungkapan dari realita hidup saat sekarang ini. Adanya fenomena “orang pinter baru” sering meninggalkan etika dan moralitas saat mendapatkan posisi tertentu dan menganggap orang lain mempunyai kemampuan di bawah nya. Kesombongan tersebut telah menciptakan perbuatan-perbuatan yang justru mengabaikan nilai-nilai kebenaran, suka menabrak aturan dan sejenisnya. Sebab perilaku “keminter” adalah perilaku orang yang sangat sulit menerima nasihat atau ia mampu menampung “nasehat” hanya pada telinga kanan dan keluar pada telinga kiri. Perasaan merasa lebih “hebat” yang tertanam dalam hati sangat sulit dihilangkan bahkan akan terus melakukan segala upaya agar orang-orang mengikuti egoisme pemikiran.

“Juara sejati adalah orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri” Gus Mus

Tulisan ini sangat dalam maknanya. Mungkin pak supir sudah ngaji ilmu tasawuf dan menjadi bagian santri yang sedang mencari “ilmu tua” (ilmu kehidupan), sehingga perasaan di dalam hatinya diungkapkan dalam goresan kalimat yang sangat mengena pada dirinya. Jadi, potongan ucapan Gus Mus tadi sebenarnya adalah wujud interopeksi, bahwa ternyata hakikat dari sang juara sejati adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Dalam hidup kita sering melihat fenomena tersebut, bahkan bisa jadi kita sendiri merupakan pelaku tersebut. Kita betapa mudah memerintah orang lain atau memberi nasehat kepada orang lain tentang nilai-nilai Kebajikan, tetapi pada saat yang sama kita telah menutup kebajikan tersebut untuk diri sendiri. Orang lain sering menjadi obyek sasaran nasehat pada saat yang sama sebenarnya kita sendiri sangat membutuhkan nasehat tersebut.

“Bila mengubah sikapmu saja kau kesulitan, bagaimana engkau mau mengubah sikap orang lain” Gus Mus.

Ucapan Gus Mus kedua tersebut juga masih berkaitan tentang pentingnya “interopeksi diri” atas segala kekurangan yang ada pada diri sendiri. Kita sering mempunyai suatu rencana yang besar dalam pengertian yang luas (Perusahaan, Lembaga Pendidikan, politik, pemerintahan dan lain-lain), tapi rencana-rencana yang telah diletakan sebagai jalan mencapai suatu cita-cita sering tergilas oleh ketidakmampuan diri kita mengenal diri sendiri. Penulis menyakini bahwa setiap cita-cita baik juga membutuhkan SDM yang baik. SDM yang baik adalah sekelompok manusia yang mengenal diri sendiri dan menyadari atas kekurangan masing-masing lalu sama-sama melakukan suatu perubahan. Sebab suatu perubahan terjadi bukan karena terdiri dari kumpulan orang-orang hebat, tapi kumpulan dari orang-orang yang terbuka hatinya dengan tulus untuk maju bersama dalam segala keterbatasan yang ada pada diri mereka.

Selain pesan-pesan moral tentang kehidupan di atas, tulisan yang sering muncul di bagian belakang Bak Truk adalah persoalan cinta.

Berikut beberapa contoh yang pernah dibersliweran di depan mata ku:

“Aku kudu kerja keras soale pensil alis dan wedak mu orang ditanggung BPJS”

“Bukannya aku tak memperhatikanmu, tapi aku sibuk untuk membahagiakanmu”

Dua tulisan di Bak Truk tersebut sudah cukup mewakili bahwa cinta membutuhkan perjuangan untuk menciptakan kebahagiaan. Para supir menyadari bahwa persoalan kebutuhan hidup rumah tangga harus diperjuangkan meskipun sering berpisah dengan keluarga. Sebab tanpa adanya kerja keras, maka sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jadi, ungkapan tersebut sebagai pengingat kepada keluarga yang ditinggalkan untuk senantiasa menyadari kerja keras suaminya sebagai seorang Supir Truk.

Ada juga kalimat yang menunjukan ungkapan cinta terlalu mendalam. Mungkin ada romantisme yang sulit dilupakan dan ada semacam “MoU” untuk sehidup semati bersama sang kekasih. Namun perjalan hidup tidak seindah kenangannya lamanya. Keduanya harus berpisah oleh realita kehidupan. Berikut beberapa contoh kalimat tentang konsistensi cinta versi Supir:

“Bila single mu tak kudapat, jangan harap jandamu bisa lari dariku”

“Kutunggu jandamu”

Namun ada kalimat yang sangat radikal akibat putus cinta. Bisa jadi pengalaman supir berkaitan dengan “asmara” yang berawal sangat indah tetapi berakhir dengan penghianatan yang sangat membekas di dalam hati. Berikut satu contoh manusia menderita karena cinta.

“Terima jasa !, tabrak mantan”

Dari kalimat tersebut membuktikan bahwa mantan tidak selama nya bisa mengingatkan kembali kenangan indah pada masa lalu dengan pola “cinta lama bersemi kembali”, tapi ada juga justru membuka luka-luka lama kambuh kembali. Apapun namanya, keduanya sebenarnya tetap menyakitkan.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876