
Masyarakat Indonesia mungkin manusia yang
paling kreatif di planet bumi. Semua bisa menjadi sumber kreasi, mulai dari
benda-benda seperti kayu, batu sampai pada alat-alat perkakas atau barang-barang
bekas. Benda-benda yang tadinya mungkin tidak berguna dan terlihat “nyemak”
(berserakan tidak berguna) di sekitar kita, bisa diubah menjadi sesuatu yang
bernilai seni dan ekonomis.
Apakah dunia kreasi merupakan dunia asli
bangsa Indonesia? Bisa jadi iya. Penulis teringat saat masih duduk sekolah Madrasah
Tsanawiyah (MTs), ada guru bidang karya tangan. Kami dilatih cara membuat karya
tangan yang bisa diperjualbelikan di pasaran. Waktu itu kami lakukan, dan kami
pun menjual hasil karya tangan tersebut di tempat-tempat wisata di Jawa seperti
di daerah Malioboro Yogyakarta, Wisata Laut Petanahan Kebumen, Laut Kidul
Widarapayung Cilacap dan Wisata Baturaden di Lereng Gunung Slamet Kabupaten
Banyumas. Kami yang masih ditingkat MTs sudah mendapatkan pelajaran kewirausahaan
dan sudah diperkenalkan bisnis meskipun hasilnya belum maksimal.
Penulis rindu Pendidikan seperti dulu. Menurutku
Pendidikan tersebut mampu menumbuhkan kemandirian dan semangat etos kerja dalam
mewujudkan manusia yang tangguh dan berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Seandainya
pola Pendidikan tersebut dipertajam lagi, kemungkinan bangsa Indonesia menjadi
negara yang mempunyai sumber daya manusia yang hebat. Meskpun mereka tidak kuliah,
tapi mampu mandiri dari segi ekonomi. Bukankah negara yang kuat ketika masyarakat
nya tidak terlalu tergantung ekonominya terhadap bantuan pemerintah?
Salah satu hasil kreasi tangan-tangan
manusia made in Indonesia yaitu corat-coret tulisan di bak truk. Jika anda bisa
bepergian ke berbagai daerah lintas kota atau provinsi, maka akan melihat di bagian
belakang bak truk tulisan yang lucu, unik, menggemaskan, nasehat qalbu, dan
pesan-pesan moral lainnya.
Berikut sebagian contoh tersebut:
“Kadang kebahagiaanmu datang kepadamu tanpa
kau mengetahui sebabnya, yakinlah bahwa kebahagiaanmu datang dari orang-orang
yang mencintaimu” (Gus Baha).
Kalimat tersebut merupakan luapan dari
seseorang mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya tidak lepas dari doa-doa orang
yang mencintainya. Ungkapan tersebut merupakan realita kehidupan dan keyakinan
kita sebagai orang timur bahwa ada hubungan psikologis yang mendalam dari orang
yang mencintai dan dicintai. Kita sebagai seorang anak mempercayai bahwa
kesuksesan bukan semata-mata hasil dari kerja keras kita dengan mendapatkan
nilai Pendidikan yang terbaik, tetapi juga bagian dari doa-doa orang yang
mencintai kita seperti orang tua, pasangan hidup kita dan orang-orang yang
telah mendapatkan kebaikan dari kita, sehingga mereka pun mengalirkan doa sepanjang
hidupnya sehingga kita mendapatkan kebahagiaan.
Kita sering tidak menyadari hal tersebut. Terkadang
egoisme muncul saat diri kita mempunyai kelebihan dan diangkat derajatnya
setingkat lebih tinggi dari teman-teman bisa jadi bagian dari doa istri atau
pasangan anda yang mungkin secara kasat mata hanya sebatas manusia biasa,
kurang pendidikan, kurang pergaulan, kurang menarik perhatian dan banyak
kekurangan lainnya. Namun dengan segala keterbatasannya, mereka mengirim
doa-doa mustajab untuk masa depan kita.
Dan doa tersebut terbukti hasilnya. Maka wajar,
jika Ketika sudah sukses lalu melupakan orang-orang yang telah berjasa,
kesuksesan tersebut bisa hilang bak ditelan bumi.
“Kebodohan merusak, tapi keminter lebih
merusak” (Gus Baha)
Tulisan ini merupakan ungkapan dari realita
hidup saat sekarang ini. Adanya fenomena “orang pinter baru” sering
meninggalkan etika dan moralitas saat mendapatkan posisi tertentu dan
menganggap orang lain mempunyai kemampuan di bawah nya. Kesombongan tersebut
telah menciptakan perbuatan-perbuatan yang justru mengabaikan nilai-nilai
kebenaran, suka menabrak aturan dan sejenisnya. Sebab perilaku “keminter”
adalah perilaku orang yang sangat sulit menerima nasihat atau ia mampu
menampung “nasehat” hanya pada telinga kanan dan keluar pada telinga kiri. Perasaan
merasa lebih “hebat” yang tertanam dalam hati sangat sulit dihilangkan bahkan
akan terus melakukan segala upaya agar orang-orang mengikuti egoisme pemikiran.
“Juara sejati adalah orang yang mampu
mengalahkan dirinya sendiri” Gus Mus
Tulisan ini sangat dalam maknanya. Mungkin pak
supir sudah ngaji ilmu tasawuf dan menjadi bagian santri yang sedang mencari “ilmu
tua” (ilmu kehidupan), sehingga perasaan di dalam hatinya diungkapkan dalam
goresan kalimat yang sangat mengena pada dirinya. Jadi, potongan ucapan Gus Mus
tadi sebenarnya adalah wujud interopeksi, bahwa ternyata hakikat dari sang juara
sejati adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Dalam hidup kita sering melihat fenomena
tersebut, bahkan bisa jadi kita sendiri merupakan pelaku tersebut. Kita betapa
mudah memerintah orang lain atau memberi nasehat kepada orang lain tentang
nilai-nilai Kebajikan, tetapi pada saat yang sama kita telah menutup kebajikan tersebut
untuk diri sendiri. Orang lain sering menjadi obyek sasaran nasehat pada saat
yang sama sebenarnya kita sendiri sangat membutuhkan nasehat tersebut.
“Bila mengubah sikapmu saja kau kesulitan,
bagaimana engkau mau mengubah sikap orang lain” Gus Mus.
Ucapan Gus Mus kedua tersebut juga masih
berkaitan tentang pentingnya “interopeksi diri” atas segala kekurangan
yang ada pada diri sendiri. Kita sering mempunyai suatu rencana yang besar
dalam pengertian yang luas (Perusahaan, Lembaga Pendidikan, politik,
pemerintahan dan lain-lain), tapi rencana-rencana yang telah diletakan sebagai
jalan mencapai suatu cita-cita sering tergilas oleh ketidakmampuan diri kita
mengenal diri sendiri. Penulis menyakini bahwa setiap cita-cita baik juga
membutuhkan SDM yang baik. SDM yang baik adalah sekelompok manusia yang
mengenal diri sendiri dan menyadari atas kekurangan masing-masing lalu
sama-sama melakukan suatu perubahan. Sebab suatu perubahan terjadi bukan karena
terdiri dari kumpulan orang-orang hebat, tapi kumpulan dari orang-orang yang
terbuka hatinya dengan tulus untuk maju bersama dalam segala keterbatasan yang
ada pada diri mereka.
Selain pesan-pesan moral tentang kehidupan
di atas, tulisan yang sering muncul di bagian belakang Bak Truk adalah
persoalan cinta.
Berikut beberapa contoh yang pernah
dibersliweran di depan mata ku:
“Aku kudu kerja keras soale pensil alis dan
wedak mu orang ditanggung BPJS”
“Bukannya aku tak memperhatikanmu, tapi aku
sibuk untuk membahagiakanmu”
Dua tulisan di Bak Truk tersebut sudah
cukup mewakili bahwa cinta membutuhkan perjuangan untuk menciptakan
kebahagiaan. Para supir menyadari bahwa persoalan kebutuhan hidup rumah tangga
harus diperjuangkan meskipun sering berpisah dengan keluarga. Sebab tanpa
adanya kerja keras, maka sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jadi,
ungkapan tersebut sebagai pengingat kepada keluarga yang ditinggalkan untuk
senantiasa menyadari kerja keras suaminya sebagai seorang Supir Truk.
Ada juga kalimat yang menunjukan ungkapan
cinta terlalu mendalam. Mungkin ada romantisme yang sulit dilupakan dan ada
semacam “MoU” untuk sehidup semati bersama sang kekasih. Namun perjalan hidup
tidak seindah kenangannya lamanya. Keduanya harus berpisah oleh realita
kehidupan. Berikut beberapa contoh kalimat tentang konsistensi cinta versi Supir:
“Bila single mu tak kudapat, jangan harap
jandamu bisa lari dariku”
“Kutunggu jandamu”
Namun ada kalimat yang sangat radikal akibat
putus cinta. Bisa jadi pengalaman supir berkaitan dengan “asmara” yang berawal
sangat indah tetapi berakhir dengan penghianatan yang sangat membekas di dalam
hati. Berikut satu contoh manusia menderita karena cinta.
“Terima jasa !, tabrak mantan”
Dari kalimat tersebut membuktikan bahwa
mantan tidak selama nya bisa mengingatkan kembali kenangan indah pada masa lalu
dengan pola “cinta lama bersemi kembali”, tapi ada juga justru membuka luka-luka
lama kambuh kembali. Apapun namanya, keduanya sebenarnya tetap menyakitkan.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876