
Setelah membaca refleksi Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama
(PBNU) K.H.Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) setebal 9 halaman dalam versi PDF,
saya tersenyum-senyum. Meskipun istriku masih dalam penyembuhan sakit, saya
lupa kalau punya istri sakit. Mungkin karena saya sudah mengenal NU sebelum
menikah (anggota IPNU saja baru tahun 1988 di Banyumas), jadi kenangan terhadap
organisasi Bintang Sembilan tersebut (itu sebab nya, bisa jadi Gus Yahya sebagai
Ketua Umum membuat sambutan pun 9 halaman. Wujud tafaulan terhadap para
masyayikh pendiri NU), terkadang lebih mendalam. Sebagaimana juga sepasang
suami-istri, kenangan di organisasi ini pun terkadang ada manis-pahitnya. Tidak
apa-apa, sebab saya saya mengikut
tarekat ayahanda R.K.H. Munajat (allahuyarham yang mirip-mirip tarekat Gus
Dur) “jor klowor, ora usah
pusing-pusing”.
Dari Sembilan halaman refleksi Gus Yahya, ada kata kunci yang
sering diulang-ulang yaitu “konsolidasi”. Mirip. Mirip sekali. Apa yang
dikatakan oleh nya bahwa kata konsolidasi itu ucapan yang sudah usang dan
terlihat amatiran. Tapi benarkah demikian?
Mulai tahun 2009, saat PCNU Meranti mati suri selama 9 tahun lalu
(berarti mulai tahun 2000 sampai 2009 vokum kepengurusan PCNU Cabang Istimewa Selatpanjang),
saya bersama Kyai Kholil Irfan, S.Ag, SH (Hakim Pengadilan Agama
Selatpanjang-Sekarang Kab. Kepulauan Meranti) melakukan kegiatan bernama “Temu
Forum Alim-Ulama Se-Kepulauan Meranti”. Aktivis NU yang ikut aktif antara lain:
Kyai Khosairi dan Kyai Nurdin serta Kyai Abdul Rauf. Kami punya tema yang diusung
yaitu “Mengorganisasikan NU, dan meng-NU-kan organisasi”. Dari temu
forum alim-ulama, lahirlah pengurus PCNU yang SK-nya ditandatangani oleh Drs.KH.
Hasyim Muzadi (Allahuyarham).
Niat tulus para kyai dan aktivis NU dalam “Mengorganisasikan NU,
dan meng-NU-kan organisasi” kandas. Sebagian aktivis lebih tertarik memilih
orang-orang yang menurut kacamata mereka adalah orang-orang berduit. Kami yang
konsisten terhadap perjuangan untuk mengorganisasikan NU sebagai jalan
perjuangan terlempar. Namun kami tetap konsisten. Siapapun terpilih, kami harus
masuk menjadi jajaran kepengurusan. Mana tahu, jika ada indikasi melenceng kami
bisa memberi nasehat. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan dalam
berorganisasi. Terlalu banyak retorika dan intrik, yang kemudian nasehat para
kyai pun akhirnya masuk dalam Tong Sampah. Hingga kondisi tersebut terjadi
sampai penghujung tahun 2023. Berarti kami telah menyuarakan pentingnya “Mengorganisasikan
NU” sudah 14 tahun lalu.
Dalam skala besar, apa yang dirasakan oleh Gus Yahya (mungkin, bisa
jadi) juga dirasakan oleh ku dalam skala kecil. Orang kecil tentu berfikir
kecil, orang besar berfikir besar. Saya belajar untuk mengerti ukuran baju
sendiri. Gus Yahya mulai merasakan (bisa jadi malah sebelum menjadi Ketua Umum PBNU),
bahwa konsolidasi jauh lebih berharga dari sebuah bangunan universitas dan
rumah sakit. Apa artinya badan besar tapi sering sakit-sakitan. Apa artinya
badan bongsor, tapi tidak jelas arah jalan yang dituju.Ada yang lebih penting
sebelum membangun bangunan fisik, yaitu membangun kekuatan pondasi organisasi. Sebab
berorganisasi bukan bicara tentang ‘aku”, tapi “kami” sebagai pengejawantahan
filosofis hidup yang agung “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”. Ketika berbicara
kami tapi sebenarnya bermakna “aku” akan tercipta “ketundukan” kamulfase. Justru
ini menjadi persoalan serius dalam perjalanan organisasi.
Pada bulan Mei 2024 (jika tak salah) dalam pertemuan dengan para
kyai NU (kegiatan non-formal) hampir seluruh kabupaten di Riau juga saya
menekankan “Mengorganisasikan NU dan meng-NU-kan organisasi”. Saya suarakan
lagi di forum tersebut. Saya berbicara tidak ada niat untuk menjadi pengurus. Bahkan
jika saya mau menjadi pengurus PCNU saja, mungkin tahun 2009 dan 2015 saya
sudah menjadi ketua PCNU (setiap konfercab saya menolak menjadi calon Ketua PCNU,
termasuk tahun 2023. Saya lebih senang
menjadi panitia). Bahkan saya menjadi ketua MUI gara-gara ditipu oleh rekan-rekan
kyai. Ketika saya lagi sakit, disuruh datang ke tempat Rakerda. Hasilnya, para
kyai memilih aku menjadi Ketua Umum MUI Kabupaten Kepulauan Meranti. Tapi itulah
para kyai NU, selalu bersikap tawadhu dan tidak pernah menawarkan diri menjadi
pimpinan organisasi. Ketika ada yang lebih hebat dan senior, bisa dipastikan
teman-teman kyai dan ustadz akan menawarkan kepada yang lebih senior. Meskipun juga
bukan berarti yang senior itu lebih hebat dari yunior. Itulah sopan santun yang
diajarkan oleh para pendiri NU dan ulama-ulama di pesantren.
Kini tantangan semakin besar. Era keterbukaan dan transformasi
digital menjadi tantangan sangat berat. Efisiensi sistem berorganisasi dan
kelincahan berorganisasi dalam era digital sangat dibutuhkan. Siapapun bisa
membuat perkumpulan. Bahkan perkumpulan nama “Agus” se-Indonesia bisa terbentuk
dan mempunyai jejaringan kuat di antara mereka. Ada teman ku menjadi ketua
ormas agama yang sudah mendunia seperti NU, cukup hanya mengeluarkan biaya
tidak lebih dari 5 juta. Dari sini penulis bisa membayangkan bahwa organisasi
di masa depan selain tentang pentingnya konsolidasi juga adanya efisiensi biaya.
Meskipun sedikit biaya, tapi perjalanan organisasi nya mampu menggerakan
program-program seperti Pendidikan, klinik, dan rumah-rumah anak yatim. Salah satunya,
seluruh anggota menyadari arti penting dalam berorganisasi yaitu “Ngurip-ngurip
organisasi, bukan urip di organisasi”.
Sebagai seorang percaya akan keberkahan para ulama, penulis sangat
setuju terhadap program kerja Gus Yahya tentang pentingnya konsolidasi organisasi.
Penulis tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Gus Yahya, apakah akan
melakukan gerakan evolusioner atau revolusioner? Jika evolusioner mungkin
membutuhkan program “Repelita” model Orde Baru “Rencana Pembangunan Lima
Tahun”. Terlihat pelan tapi pasti hasilnya. Jika revolusioner, saya khawatir
banyak yang kaget dan tidak siap. Sebab NU adalah golongan kaum tua yang masih
banyak yang tua dan juga mulai banyak anak-anak mudanya. Jika Muhamadiyah
golongan kaum muda meskipun pengurusnya sudah tua. Atau kalau bisa memilih
model bj Habibie “evolusi yang dipercepat”. Kadang digas, kadang juga diperlambat
kecepatannya 20km/jam. Ma’lum penumpangnya beragam. Jika cepat semua takbir,
jika lambat tasbih.
Mungkin yang belum ditulis pada refleksi Gus Yahya yaitu “konsolidasi
rasa”(ma’lum, saya menulis terburu-buru karena Kapolda selalu menelpon
diriku terus, jadi tidak utuh bacanya). Sebab manusia terletak pada rasa. Disini
letak cinta. Apapun kalau sudah “satu frekwensi”, ngomong apa saja tetap
“ngguyu”, dan bisa “guyonn”. Tapi kalau “rasa hati” belum
menyatu, “guyon” pun dikira “ngenyek”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872