Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Refleksi Akhir Tahun; Konsolidasi NU Model Gus Yahya



Selasa , 31 Desember 2024



Telah dibaca :  424

Setelah membaca refleksi Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) K.H.Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) setebal 9 halaman dalam versi PDF, saya tersenyum-senyum. Meskipun istriku masih dalam penyembuhan sakit, saya lupa kalau punya istri sakit. Mungkin karena saya sudah mengenal NU sebelum menikah (anggota IPNU saja baru tahun 1988 di Banyumas), jadi kenangan terhadap organisasi Bintang Sembilan tersebut (itu sebab nya, bisa jadi Gus Yahya sebagai Ketua Umum membuat sambutan pun 9 halaman. Wujud tafaulan terhadap para masyayikh pendiri NU), terkadang lebih mendalam. Sebagaimana juga sepasang suami-istri, kenangan di organisasi ini pun terkadang ada manis-pahitnya. Tidak apa-apa, sebab saya  saya mengikut tarekat ayahanda R.K.H. Munajat (allahuyarham yang mirip-mirip tarekat Gus Dur)  “jor klowor, ora usah pusing-pusing”.

Dari Sembilan halaman refleksi Gus Yahya, ada kata kunci yang sering diulang-ulang yaitu “konsolidasi”. Mirip. Mirip sekali. Apa yang dikatakan oleh nya bahwa kata konsolidasi itu ucapan yang sudah usang dan terlihat amatiran. Tapi benarkah demikian?

Mulai tahun 2009, saat PCNU Meranti mati suri selama 9 tahun lalu (berarti mulai tahun 2000 sampai 2009 vokum kepengurusan PCNU Cabang Istimewa Selatpanjang), saya bersama Kyai Kholil Irfan, S.Ag, SH (Hakim Pengadilan Agama Selatpanjang-Sekarang Kab. Kepulauan Meranti) melakukan kegiatan bernama “Temu Forum Alim-Ulama Se-Kepulauan Meranti”. Aktivis NU yang ikut aktif antara lain: Kyai Khosairi dan Kyai Nurdin serta Kyai Abdul Rauf. Kami punya tema yang diusung yaitu “Mengorganisasikan NU, dan meng-NU-kan organisasi”. Dari temu forum alim-ulama, lahirlah pengurus PCNU yang SK-nya ditandatangani oleh Drs.KH. Hasyim Muzadi (Allahuyarham).

Niat tulus para kyai dan aktivis NU dalam “Mengorganisasikan NU, dan meng-NU-kan organisasi” kandas. Sebagian aktivis lebih tertarik memilih orang-orang yang menurut kacamata mereka adalah orang-orang berduit. Kami yang konsisten terhadap perjuangan untuk mengorganisasikan NU sebagai jalan perjuangan terlempar. Namun kami tetap konsisten. Siapapun terpilih, kami harus masuk menjadi jajaran kepengurusan. Mana tahu, jika ada indikasi melenceng kami bisa memberi nasehat. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan dalam berorganisasi. Terlalu banyak retorika dan intrik, yang kemudian nasehat para kyai pun akhirnya masuk dalam Tong Sampah. Hingga kondisi tersebut terjadi sampai penghujung tahun 2023. Berarti kami telah menyuarakan pentingnya “Mengorganisasikan NU” sudah 14 tahun lalu.

Dalam skala besar, apa yang dirasakan oleh Gus Yahya (mungkin, bisa jadi) juga dirasakan oleh ku dalam skala kecil. Orang kecil tentu berfikir kecil, orang besar berfikir besar. Saya belajar untuk mengerti ukuran baju sendiri. Gus Yahya mulai merasakan (bisa jadi malah sebelum menjadi Ketua Umum PBNU), bahwa konsolidasi jauh lebih berharga dari sebuah bangunan universitas dan rumah sakit. Apa artinya badan besar tapi sering sakit-sakitan. Apa artinya badan bongsor, tapi tidak jelas arah jalan yang dituju.Ada yang lebih penting sebelum membangun bangunan fisik, yaitu membangun kekuatan pondasi organisasi. Sebab berorganisasi bukan bicara tentang ‘aku”, tapi “kami” sebagai pengejawantahan filosofis hidup yang agung “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”. Ketika berbicara kami tapi sebenarnya bermakna “aku” akan tercipta “ketundukan” kamulfase. Justru ini menjadi persoalan serius dalam perjalanan organisasi.

Pada bulan Mei 2024 (jika tak salah) dalam pertemuan dengan para kyai NU (kegiatan non-formal) hampir seluruh kabupaten di Riau juga saya menekankan “Mengorganisasikan NU dan meng-NU-kan organisasi”. Saya suarakan lagi di forum tersebut. Saya berbicara tidak ada niat untuk menjadi pengurus. Bahkan jika saya mau menjadi pengurus PCNU saja, mungkin tahun 2009 dan 2015 saya sudah menjadi ketua PCNU (setiap konfercab saya menolak menjadi calon Ketua PCNU, termasuk  tahun 2023. Saya lebih senang menjadi panitia). Bahkan saya menjadi ketua MUI gara-gara ditipu oleh rekan-rekan kyai. Ketika saya lagi sakit, disuruh datang ke tempat Rakerda. Hasilnya, para kyai memilih aku menjadi Ketua Umum MUI Kabupaten Kepulauan Meranti. Tapi itulah para kyai NU, selalu bersikap tawadhu dan tidak pernah menawarkan diri menjadi pimpinan organisasi. Ketika ada yang lebih hebat dan senior, bisa dipastikan teman-teman kyai dan ustadz akan menawarkan kepada yang lebih senior. Meskipun juga bukan berarti yang senior itu lebih hebat dari yunior. Itulah sopan santun yang diajarkan oleh para pendiri NU dan ulama-ulama di pesantren.

Kini tantangan semakin besar. Era keterbukaan dan transformasi digital menjadi tantangan sangat berat. Efisiensi sistem berorganisasi dan kelincahan berorganisasi dalam era digital sangat dibutuhkan. Siapapun bisa membuat perkumpulan. Bahkan perkumpulan nama “Agus” se-Indonesia bisa terbentuk dan mempunyai jejaringan kuat di antara mereka. Ada teman ku menjadi ketua ormas agama yang sudah mendunia seperti NU, cukup hanya mengeluarkan biaya tidak lebih dari 5 juta. Dari sini penulis bisa membayangkan bahwa organisasi di masa depan selain tentang pentingnya konsolidasi juga adanya efisiensi biaya. Meskipun sedikit biaya, tapi perjalanan organisasi nya mampu menggerakan program-program seperti Pendidikan, klinik, dan rumah-rumah anak yatim. Salah satunya, seluruh anggota menyadari arti penting dalam berorganisasi yaitu “Ngurip-ngurip organisasi, bukan urip di organisasi”.

Sebagai seorang percaya akan keberkahan para ulama, penulis sangat setuju terhadap program kerja Gus Yahya tentang pentingnya konsolidasi organisasi. Penulis tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Gus Yahya, apakah akan melakukan gerakan evolusioner atau revolusioner? Jika evolusioner mungkin membutuhkan program “Repelita” model Orde Baru “Rencana Pembangunan Lima Tahun”. Terlihat pelan tapi pasti hasilnya. Jika revolusioner, saya khawatir banyak yang kaget dan tidak siap. Sebab NU adalah golongan kaum tua yang masih banyak yang tua dan juga mulai banyak anak-anak mudanya. Jika Muhamadiyah golongan kaum muda meskipun pengurusnya sudah tua. Atau kalau bisa memilih model bj Habibie “evolusi yang dipercepat”. Kadang digas, kadang juga diperlambat kecepatannya 20km/jam. Ma’lum penumpangnya beragam. Jika cepat semua takbir, jika lambat tasbih.

Mungkin yang belum ditulis pada refleksi Gus Yahya yaitu “konsolidasi rasa”(ma’lum, saya menulis terburu-buru karena Kapolda selalu menelpon diriku terus, jadi tidak utuh bacanya). Sebab manusia terletak pada rasa. Disini letak cinta. Apapun kalau sudah “satu frekwensi”, ngomong apa saja tetap “ngguyu”, dan bisa “guyonn”. Tapi kalau “rasa hati” belum menyatu, “guyon” pun dikira “ngenyek”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872