
Salah satu acara Mata Najwa di UGM yang membekas bagi saya yaitu pada sesi refleksi diri saat menampilkan tiga Bakal Calon Presiden (Bacapres) 2024. Penulis tidak akan “nggumrenengi", "ngrasani" atau ”ngegung-ngegungne" ketiga calon yang saat ini telah menjadi tumpuhan masa depan bangsa dan negara Indonesia. Mereka punya maqam sendiri. “laa roibafih” atas kehebatan-kehebatannya. “ojo dibanding-banding ke”. Mereka mempunyai karya dan jasa di bidangnya masing-masing. Saya hanya ingin mengambil secuil Intan Berlian pada salah satu sesi Mata Najwa; refleksi diri.
Refleksi diri sebenarnya “metani” atau mengoreksi diri sendiri. Laksana berdiri di depan cermin, setiap orang akan melihat
seperti apa sebenarnya diri kita yang sebenarnya; mulai dari warna rambut,
kerutan wajah dan pandangan mata yang tidak seperti dulu.
Refleksi diri tentu bukan karena persoalan
semata-mata pada fisik. Jauh dari itu adalah jalan untuk mengenal diri sendiri
darimana dan akan kemana kehidupan selanjutnya. Siapapun orang yang sudah
mengenal diri sendiri, maka akan melahirkan kearifan-kearifan. Jika di-jlentreh-kan
dalam ilmu tasawuf kearifan itu sebenarnya sedang menuju pola hidup yang ‘arif
yang berasal dari kata ‘arafa-yu’rifu-irfan artinya mengenal atau
mengetahui. Ma’rifat mengetahui diri sendiri secara lebih spesifik berkaitan
hubungan diri dengan sang pencipta yaitu Allah swt. Kemudian lahir istilah ma’rifat.
Refleksi diri sebagai wujud perilaku
orang-orang ‘arif adalah perilaku yang komplementer melibatkan pikiran, rasa,
ilmu pengetahuan, hati dan perilaku pada kesadaran diri akan konsep darimana
dan akan kemana kehidupan di dunia ini. orang-orang bijak dulu mengatakan “sangkan
paraning dumadi”. Tahu asal-usul kehidupan yang sebenarnya.
Yahya Bin Muadz Ar-Razi mengatakan: “Barangsiapa
mengenal dirinya sendiri, maka mengenal Tuhan nya”. Kenapa demikian? Karena orang
yang mengenal diri nya sendiri akan mengenal hakikat manusia yang bersifat fana
dan penuh keterbatasan. Syeikh Nawawi Al-Bantani mengatakan; “Wajib bagi setiap
mukallah (muslim baligh dan berakal) mengetahui sifat-sifat wajib, mustahil dan
jaiz bagi Allah SWT. Mengapa demikian? Ada filosofis yang sangat penting. Bahwa
dalam membangun kesadaran diri, bahwa manusia mempunyai sifat-sifat yang
berbeda dengan sifat-sifat-nya. jika allah mempunyai sifat yang kekal dan absolut,
sedangkan manusia mempunyai sifat terbatas dan relatif.
Jika berdiri di depan cermin kita semakin
menyadari bahwa perjalanan waktu telah merubah segala nya tentang kita dan akan
berakhir dalam waktu-waktu yang telah ditentukan. Kita disadarkan oleh cermin,
bahwa akan datang suatu masa seperti datangnya siang dan malam. Kita dalam
hidup ini akan menemukan suatu perjalanan hidup yang menyenangkan, sehat, dan
mencapai puncak karir serta segala kemulyaan. Lalu lambat laun semua yang kita
punya akan menurun seperti matahari yang berjalan ke arah barat. Pelan-pelan,
tapi pasti dan akan tenggelam. Semakin bertambah waktu, semakin gelap-gulita. Lalu
datang pagi hari dengan muncul generasi-generasi baru mengganti posisi
kehidupan para pendahulunya.
Refleksi di depan cermin tentu tidak perlu lama-lama. Khawatir akan tertipu oleh keindahan atau akan menyesal dengan keadaan dirinya. Cukup beberapa saat. Lalu mengambil pelajaran untuk melangkah kehidupan semakin lebih bermakna untuk mengisi kehidupan.
Sayangnya, refleksi diri sering hilang dalam catatan hidup saat terlalu banyak kisah kehidupan yang mampir dan kemudian menutupnya seperti tumpukan berkas-berkas kerja di meja tugas. Akhirnya, kita kehilangan sekala prioritas dan jadwal-jadwal mana yang harus diselesaikan mana yang perlu dilakukan kemudian hari.
Lalu kita berada di level mana? Sudahkah mengenal
diri sendiri dengan segala kekurangan,menyiapkan langkah-langkah strategis
perbaikan-perbaikan? atau sebaliknya sudah kehilangan catatan-catatan agenda
yang telah kita susun? Semua kembali kepada masing-masing. Namun yang jelas,
refleksi sesuatu langkah penting untuk mengenal diri tentang level tangga
kehidupan. Refleksi adalah tangga kehidupan untuk terus melangkah dengan perhitungan
yang tepat dan terukur jelas.
Penulis : Imam Ghozali
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217
Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216
Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199
Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   110
Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   122
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2974
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2878