Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Refleksi Diri ; Ngalap Berkah Acara Mata Najwa di UGM


 TAUHID

Kamis , 21 September 2023



Telah dibaca :  1109

Salah satu acara Mata Najwa di UGM yang membekas bagi saya yaitu pada sesi refleksi diri saat menampilkan tiga Bakal Calon Presiden (Bacapres) 2024. Penulis tidak akan “nggumrenengi", "ngrasani" atau ”ngegung-ngegungne" ketiga calon yang saat ini telah menjadi tumpuhan masa depan bangsa dan negara Indonesia. Mereka punya maqam sendiri. “laa roibafih” atas kehebatan-kehebatannya. “ojo dibanding-banding ke”. Mereka mempunyai karya dan jasa di bidangnya masing-masing. Saya hanya ingin mengambil secuil Intan Berlian pada salah satu sesi Mata Najwa; refleksi diri.

Refleksi diri sebenarnya “metani” atau mengoreksi diri sendiri. Laksana berdiri di depan cermin, setiap orang akan melihat seperti apa sebenarnya diri kita yang sebenarnya; mulai dari warna rambut, kerutan wajah dan pandangan mata yang tidak seperti dulu.

Refleksi diri tentu bukan karena persoalan semata-mata pada fisik. Jauh dari itu adalah jalan untuk mengenal diri sendiri darimana dan akan kemana kehidupan selanjutnya. Siapapun orang yang sudah mengenal diri sendiri, maka akan melahirkan kearifan-kearifan. Jika di-jlentreh-kan dalam ilmu tasawuf kearifan itu sebenarnya sedang menuju pola hidup yang ‘arif yang berasal dari kata ‘arafa-yu’rifu-irfan artinya mengenal atau mengetahui. Ma’rifat mengetahui diri sendiri secara lebih spesifik berkaitan hubungan diri dengan sang pencipta yaitu Allah swt. Kemudian lahir istilah ma’rifat.

Refleksi diri sebagai wujud perilaku orang-orang ‘arif adalah perilaku yang komplementer melibatkan pikiran, rasa, ilmu pengetahuan, hati dan perilaku pada kesadaran diri akan konsep darimana dan akan kemana kehidupan di dunia ini. orang-orang bijak dulu mengatakan “sangkan paraning dumadi”. Tahu asal-usul kehidupan yang sebenarnya.

Yahya Bin Muadz Ar-Razi mengatakan: “Barangsiapa mengenal dirinya sendiri, maka mengenal Tuhan nya”. Kenapa demikian? Karena orang yang mengenal diri nya sendiri akan mengenal hakikat manusia yang bersifat fana dan penuh keterbatasan. Syeikh Nawawi Al-Bantani mengatakan; “Wajib bagi setiap mukallah (muslim baligh dan berakal) mengetahui sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah SWT. Mengapa demikian? Ada filosofis yang sangat penting. Bahwa dalam membangun kesadaran diri, bahwa manusia mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan sifat-sifat-nya. jika allah mempunyai sifat yang kekal dan absolut, sedangkan manusia mempunyai sifat terbatas dan relatif.

Jika berdiri di depan cermin kita semakin menyadari bahwa perjalanan waktu telah merubah segala nya tentang kita dan akan berakhir dalam waktu-waktu yang telah ditentukan. Kita disadarkan oleh cermin, bahwa akan datang suatu masa seperti datangnya siang dan malam. Kita dalam hidup ini akan menemukan suatu perjalanan hidup yang menyenangkan, sehat, dan mencapai puncak karir serta segala kemulyaan. Lalu lambat laun semua yang kita punya akan menurun seperti matahari yang berjalan ke arah barat. Pelan-pelan, tapi pasti dan akan tenggelam. Semakin bertambah waktu, semakin gelap-gulita. Lalu datang pagi hari dengan muncul generasi-generasi baru mengganti posisi kehidupan para pendahulunya.

Refleksi di depan cermin tentu tidak perlu lama-lama. Khawatir akan tertipu oleh keindahan atau akan menyesal dengan keadaan dirinya. Cukup beberapa saat. Lalu mengambil pelajaran untuk melangkah kehidupan semakin lebih bermakna untuk mengisi kehidupan.

Sayangnya, refleksi diri sering hilang dalam catatan hidup saat terlalu banyak kisah kehidupan yang mampir dan kemudian menutupnya seperti tumpukan berkas-berkas kerja di meja tugas. Akhirnya, kita kehilangan sekala prioritas dan jadwal-jadwal mana yang harus diselesaikan mana yang perlu dilakukan kemudian hari.

Lalu kita berada di level mana? Sudahkah mengenal diri sendiri dengan segala kekurangan,menyiapkan langkah-langkah strategis perbaikan-perbaikan? atau sebaliknya sudah kehilangan catatan-catatan agenda yang telah kita susun? Semua kembali kepada masing-masing. Namun yang jelas, refleksi sesuatu langkah penting untuk mengenal diri tentang level tangga kehidupan. Refleksi adalah tangga kehidupan untuk terus melangkah dengan perhitungan yang tepat dan terukur jelas. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216

Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199

Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   110

Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   122

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2878