Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Reformasi Diri



Minggu , 28 September 2025



Telah dibaca :  533

Peringatan maulid Nabi sudah berlangsung lebih dari satu bulan, bahkan sudah masuk ba’da mulud umat Islam masih semangat memperingati kelahiran manusia yang teragung yaitu Nabi Muhammad SAW. Allah mengidentifikasikan keagungan akhlak dengan ungkapan " khuluqin 'adziem" , dan Nabi menyebutnya “makarimal akhlak”.

Nabi Muhammad telah mampu menjadikan diri sebagai cahaya dan uswatun hasanah. Ia benar-benar sudah selesai dengan dirinya sendiri. Pancaran keagungan nya telah menerangi alam semesta. Keindahan moralitasnya menyinari seluruh manusia baik dhohir maupun batin. Bukan hanya kepada umatnya, tapi juga kepada orang-orang yang membencinya. Beberapa paman beliau Seperti Abu Jahal dan Abu Lahab telah mengerti cahaya kebenaran Sang Rasul, tapi hidayah belum ada pada diri mereka. Akibatnya mereka mengalami kegelapan di dunia yang terang benderang. Gelap bukan karena tidak ada cahaya, tapi karena tidak mendapatkan cahaya kebenaran dan hidayah.

Saya  merasa “basyarun mislukum” yang belum ada kesempurnaan pada diri etika, moral dan akhlak. Saya -mungkin juga anda- adalah manusia yang masih sangat membutuhkan formasi ulang -reformasi-pada sisi tersebut. Kita punya kepala yang sempurna dengan segala komponennya, mungkin juga cara berfikir kita yang masih bengkok, kita punya hati yang selalu digunakan untuk berdzikir dan berfikir, bisa jadi isinya lebih banyak sampah daripada cahaya Ilahi. Kita punya mulut yang sangat sering memberi nasehat, tapi bisa jadi kapasitas lebih banyak mendurhakai nikmat-nikmat Tuhan yang telah dianugerahkan kepada kita. Jujur, kita begitu banyak kenikmatan yang mblarah, lumeber kemana-mana, tapi bisa jadi lebih banyak yang kita “kufuri” daripada yang kita syukuri. Kita punya hati sebagai tempat tertinggi pada manusia karena ia menjadi simbol kedekatan dengan Rabb nya, namun kadang hati kita sering keras tidak bisa menerima pesan-pesan Tuhan yang telah mampir melalui jendela alam semesta.

Saya -dan mungkin anda-adalah manusia yang masih kotor-yang kadang berpenampilan sok sumuci- yang belum bisa membersihkan diri sendiri dengan sebaik-baiknya. Saya hadir di hadapan anda, dan anda hadir di hadapanku adalah kenikmatan. Sebab Allah menjadikan kita sebagai cahaya untuk melihat diri, bukan sibuk melihat orang lain. Saat melihat sesuatu kebaikan pada diri orang lain, maka diri ini cepat-cepat mengucapkan “alhamdulillah”, sebab Allah telah menghadirkan orang lain untuk menjadi uswatun hasanah. Saat melihat orang lain belum sesuai dengan indikator-indikator kebaikan, maka kita intropeksi diri agar kita bisa menjaga dari hal-hal yang demikian, dan kita memberi sentuhan nasehat atau pesan kebaikan dengan cara-cara yang baik.

Saya teringat dawuh K.H.Musfofa Bisri- Gus Mus- tentang makna al-hikmah dalam mengajak kebaikan. Menurutnya hikmah mengajak dengan kelembutan, menasehati dengan kelembutan, memperhatikan siapa yang diajak, kondisinya, status sosialnya, dan umurnya. Semua harus ada unsur “qaulan layina”. Sedangkan bil mau’idzatil hasanah yaitu yang menasehati, yang ngoreksi, yang mengajak haruslah sudah dapat melakukan kebaikan-kebaikan sebelumnya. Ia harus benar-benar sudah selesai dengan dirinya sendiri (Bisri, 2010).

Unsur al-hikmah dan mau’idzatil hasanah pada diri manusia laksana bunga Melati yang sangat harum bau nya. Bahkan jauh lebih tinggi dari nya. Jika bunga Melati menebarkan keharuman mengikut arah mata angin, maka keharuman manusia mampu menebarkan keharuman melawan arah mata angin (Ikeda, Dialog Peradaban , 2010). Tidak peduli, seluruh penjuru mata angin orang tidak menyukai kita, bahkan dengan seluruh cara untuk menghasut dan menghina dengan segala macam cara, maka semerbak harum tersebut akan terus tersebar dan menjadi inspirasi kebaikan bagi masyarakat. Itu sebabnya orang-orang ahli kebaikan akan senantiasa tenang dalam menghadapi segala ujian sebagaimana tenang air laut saat semua manusia membuang kotoran ke dalam nya. Air laut statusnya tetap suci.

Semerbak harum manusia tidak hanya sebatas kelincahan lindah dan kecerdasan akal, tentu harus dibarengi dengan komitmen diri untuk patuh dan taat terhadap ajaran-ajaran kebajikan dan ajaran-ajaran ilahiyah. Kebenaran yang hanya bersandarkan kepada akal tidak mencukupi bagi manusia untuk menemukan suatu alasan yang tepat. Selalu saja akal melahirkan tafsir-tafsir kebenaran yang masih terus diperdebatkan dari sudut pandang masing-masing orang dengan latarbelakang dan kapasitas yang berbeda-beda. Manusia membutuhkan petunjuk-petunjuk wahyu dan ajaran kenabian untuk bisa merajuk kebenaran sebagai titik temu dari semua argumen (Az-Zanjani, 2009).

Petunjuk wahyu dan ajaran kenabian mampu menjadi titik temu kebenaran dengan menanggalkan egoisme diri dan merangkul semua nya sebagai simbol kebersamaan dan ketidakmampuan diri untuk mengelola kehidupan sosial seorang diri. Simbol-simbol kebersamaan yang tulus sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad saat meletakan Hajar Aswad bersama-sama tokoh masyarakat Kaum Qurays.

Penulis bisa membayangkan betapa agung karakter Nabi Muhammad. Ketika ia menghadapi perdebatan dan perbedaan pandangan yang sangat tajam saat renovasi Ka’bah yang rusak akibat banjir, ia dengan kebersihan hati menggelar Serban nya dan meletakan Hajar Aswad di tengah nya. Lalu ia mengajak kepada pemuka masyarakat untuk sama-sama mengangkat dan meletakan nya di tempat semula.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari persoalan kehidupan yang beragam. Kita kadang ada persoalan dengan pasangan hidup, keluarga, mertua, organisasi, institusi tempat kerja dan koneksi-koneksi lainnya. Terkadang ada rasa kebuntuan disebabkan adanya perbedaan pandangan dan egoisme-egoisme diri yang menyebabkan nafsu-nafsu keakuan menutup kebersamaan. Saat itu kita membutuhkan diri kita masing-masing untuk bisa tampil dengan penuh kebersihan hati, kejernihan pikiran dan keagungan moralitas sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nilai-nilai ini lah yang sebenarnya mampu mengurai kemacetan dan bisa menempatkan diri kita sebagai manusia yang mulia. Hebatnya lagi, kemuliaan bukan hanya milik satu orang atau kelompok, tapi milik bersama. Itulah kemuliaan sejati yang diajarkan Nabi melalui kemampuan mereformasi diri dengan kemampuan mengenal diri atas segala kekurangan yang ada pada diri masing-masing, yang pada Akhirnya kita sadar bahwa kita tidak bisa lepas dari orang lain dengan segala kelebihan dan kelemahan yang ada. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874