
Peringatan maulid Nabi sudah berlangsung
lebih dari satu bulan, bahkan sudah masuk ba’da mulud umat Islam masih
semangat memperingati kelahiran manusia yang teragung yaitu Nabi Muhammad SAW.
Allah mengidentifikasikan keagungan akhlak dengan ungkapan " khuluqin 'adziem" , dan Nabi menyebutnya
“makarimal akhlak”.
Nabi Muhammad telah mampu menjadikan diri
sebagai cahaya dan uswatun hasanah. Ia benar-benar sudah selesai dengan dirinya sendiri. Pancaran keagungan nya telah menerangi alam semesta. Keindahan moralitasnya menyinari seluruh manusia baik dhohir
maupun batin. Bukan hanya kepada umatnya, tapi juga kepada orang-orang
yang membencinya. Beberapa paman beliau Seperti Abu Jahal dan Abu Lahab telah mengerti cahaya
kebenaran Sang Rasul, tapi hidayah belum ada pada diri mereka. Akibatnya mereka mengalami kegelapan di dunia yang terang benderang. Gelap bukan karena
tidak ada cahaya, tapi karena tidak mendapatkan cahaya kebenaran dan hidayah.
Saya merasa “basyarun mislukum” yang belum ada kesempurnaan pada diri
etika, moral dan akhlak. Saya -mungkin juga anda- adalah manusia yang masih
sangat membutuhkan formasi ulang -reformasi-pada sisi tersebut. Kita punya
kepala yang sempurna dengan segala komponennya, mungkin juga cara berfikir kita yang masih bengkok, kita
punya hati yang selalu digunakan untuk berdzikir dan berfikir, bisa jadi isinya
lebih banyak sampah daripada cahaya Ilahi. Kita punya mulut yang sangat sering
memberi nasehat, tapi bisa jadi kapasitas lebih banyak mendurhakai
nikmat-nikmat Tuhan yang telah dianugerahkan kepada kita. Jujur, kita begitu
banyak kenikmatan yang mblarah, lumeber kemana-mana, tapi bisa jadi lebih
banyak yang kita “kufuri” daripada yang kita syukuri. Kita punya hati sebagai
tempat tertinggi pada manusia karena ia menjadi simbol kedekatan dengan Rabb
nya, namun kadang hati kita sering keras tidak bisa menerima pesan-pesan Tuhan
yang telah mampir melalui jendela alam semesta.
Saya -dan mungkin anda-adalah manusia yang masih
kotor-yang kadang berpenampilan sok sumuci- yang belum bisa membersihkan diri
sendiri dengan sebaik-baiknya. Saya hadir di hadapan anda, dan anda hadir di
hadapanku adalah kenikmatan. Sebab Allah menjadikan kita sebagai cahaya untuk
melihat diri, bukan sibuk melihat orang lain. Saat melihat sesuatu kebaikan
pada diri orang lain, maka diri ini cepat-cepat mengucapkan “alhamdulillah”,
sebab Allah telah menghadirkan orang lain untuk menjadi uswatun hasanah.
Saat melihat orang lain belum sesuai dengan indikator-indikator kebaikan, maka
kita intropeksi diri agar kita bisa menjaga dari hal-hal yang demikian, dan
kita memberi sentuhan nasehat atau pesan kebaikan dengan cara-cara yang baik.
Saya teringat dawuh K.H.Musfofa
Bisri- Gus Mus- tentang makna al-hikmah dalam mengajak kebaikan.
Menurutnya hikmah mengajak dengan kelembutan, menasehati dengan kelembutan,
memperhatikan siapa yang diajak, kondisinya, status sosialnya, dan umurnya.
Semua harus ada unsur “qaulan layina”. Sedangkan bil mau’idzatil
hasanah yaitu yang menasehati, yang ngoreksi, yang mengajak haruslah sudah
dapat melakukan kebaikan-kebaikan sebelumnya. Ia harus benar-benar sudah
selesai dengan dirinya sendiri
Unsur al-hikmah dan mau’idzatil
hasanah pada diri manusia laksana bunga Melati yang sangat harum bau nya.
Bahkan jauh lebih tinggi dari nya. Jika bunga Melati menebarkan keharuman
mengikut arah mata angin, maka keharuman manusia mampu menebarkan keharuman melawan arah mata angin
Semerbak harum manusia tidak hanya sebatas
kelincahan lindah dan kecerdasan akal, tentu harus dibarengi dengan komitmen
diri untuk patuh dan taat terhadap ajaran-ajaran kebajikan dan ajaran-ajaran
ilahiyah. Kebenaran yang hanya bersandarkan kepada akal tidak mencukupi bagi
manusia untuk menemukan suatu alasan yang tepat. Selalu saja akal melahirkan
tafsir-tafsir kebenaran yang masih terus diperdebatkan dari sudut pandang
masing-masing orang dengan latarbelakang dan kapasitas yang berbeda-beda.
Manusia membutuhkan petunjuk-petunjuk wahyu dan ajaran kenabian untuk bisa merajuk
kebenaran sebagai titik temu dari semua argumen
Petunjuk wahyu dan ajaran kenabian mampu
menjadi titik temu kebenaran dengan menanggalkan egoisme diri dan merangkul
semua nya sebagai simbol kebersamaan dan ketidakmampuan diri untuk mengelola
kehidupan sosial seorang diri. Simbol-simbol kebersamaan yang tulus sebagaimana
yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad saat meletakan Hajar Aswad bersama-sama
tokoh masyarakat Kaum Qurays.
Penulis bisa membayangkan betapa agung karakter Nabi Muhammad. Ketika ia menghadapi perdebatan dan perbedaan pandangan yang
sangat tajam saat renovasi Ka’bah yang rusak akibat banjir, ia dengan
kebersihan hati menggelar Serban nya dan meletakan Hajar Aswad di tengah nya. Lalu
ia mengajak kepada pemuka masyarakat untuk sama-sama mengangkat dan meletakan
nya di tempat semula.
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak
lepas dari persoalan kehidupan yang beragam. Kita kadang ada persoalan dengan
pasangan hidup, keluarga, mertua, organisasi, institusi tempat kerja dan
koneksi-koneksi lainnya. Terkadang ada rasa kebuntuan disebabkan adanya
perbedaan pandangan dan egoisme-egoisme diri yang menyebabkan nafsu-nafsu keakuan
menutup kebersamaan. Saat itu kita membutuhkan diri kita masing-masing untuk bisa
tampil dengan penuh kebersihan hati, kejernihan pikiran dan keagungan moralitas
sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nilai-nilai ini lah
yang sebenarnya mampu mengurai kemacetan dan bisa menempatkan diri kita sebagai
manusia yang mulia. Hebatnya lagi, kemuliaan bukan hanya milik satu orang atau
kelompok, tapi milik bersama. Itulah kemuliaan sejati yang diajarkan Nabi
melalui kemampuan mereformasi diri dengan kemampuan mengenal diri atas segala
kekurangan yang ada pada diri masing-masing, yang pada Akhirnya kita sadar
bahwa kita tidak bisa lepas dari orang lain dengan segala kelebihan dan
kelemahan yang ada.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874