
Karena tugas, saya mengikuti kegiatan religion
festiwal kemenag di gedung JIEXPO Jakarta Utara. Acara dikemas dalam tagline “religion
fest” atau “religion festival” sebagai kegiatan memperkenalkan capaian-capaian
kementrian agama. Sebagaimana dari judul, kementrian agama sedang “tahadus
bi nikmat”. Sebab memang Tuhan telah mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya
untuk menyebut sekaligus mensyukuri kenikmatan yang telah diberikan Allah
kepada hamba-hamba-Nya: “wa amma bini’mati rabbika fa haddist” (dan
terhadap nikmat tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan). Ada beberapa capaian
yang sungguh bisa dibanggakan antara lain: naiknya akreditasi unggul mencapai
160% dari tahun-tahun sebelumnya, pelayanan haji mencapai kepuasaan “baik
sekali”, peringkat ke-2 secara nasional tentang transparansi laporan keuangan,
dan mendapatkan penghargaan sebagai kementrian terinovasi dari Kementrian Menpan-RB
dan masih banyak lagi. Kementrian agama tahun ini telah mampu merubah paradigma
dari kementrian yang lambat, letoy dan sejenisnya menjadi kementrian pola
faster-better dan stronger.
Karena saya bukan, dirjen dan sejenisnya
atau menteri agama, jadi tidak perlu menjelaskan capaian yang spektakuler
tersebut. Saya di acara tersebut hanya ingin melihat secara dekat seperti apa
kementrian agama dan santri. Ternyata ada perubahan positif yang signifikant. Begitu
juga santri dan sekolah-sekolahnya. Sudah mulai menuju reformasi yang lebih
manusiawi. Ada kekurangan, itu jelas. Tapi saya juga harus belajar jujur bahwa
kebaikan darimana datangnya harus mendapatkan apresiasi yang sepantasnya.
Saya bersyukur santri mendapat tempat yang
mulai baik di sisi regulasi dan kesempatan pengabdian kepada negara. Berita ini
sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan bahwa negara sudah hadir di tengah-tengah
masyarakat santri. Itu sebabnya, setelah mendengar pidato Gus Men, saya pun
segera keluar dari ruangan teater tersebut. Saat Grub Band Padi mendapat
sambutan yang sangat luarbiasa, saat itu juga saya keluar dari Gedung. Saya khawatir
terlalu asyik mendengar lagu, lupa mandi. Ma’lum, sudah ada tiga hotel seperti Aston,
Mercure, Swiss tidak menerima ku. Semua penuh. Lupa boking dulu Akhirnya saya
tidak bisa tidur di hotel, tidak mandi dan bingung ganti baju. Akhirnya terpaksa
ganti baju dekat parkiran mobil. Saya harus belajar jadi warga Jakarta yang “kadang
harus menanggalkan rasa malu” sepanjang tidak malu-maluin.
Malam itu saya ingin tidur di rumah
masyarakat. Saya ingin melihat festival kehidupan masyarakat. Tentang hidup
mereka yang penuh dengan keberagaman, kebahagiaan, kesedihan dan segala rasa
kehidupan. Ada semua. Kumplit.
Saya menelpon Mas Ramadhan yang doktor ilmu
al-qur’an. Berhubung istrinya belum lama melahirkan, ia tidak bisa menjemputku.
Diwakilkan temannya yang kerja sebagai ojek online. Sebut saja namanya zaidun. Setelah
menunggu beberapa waktu, saya pun jalan-jalan menelusuri kota Jakarta. Sekitar satu
jam keliling Jakarta.
Kota Jakarta merupakan kota perkantoran,
hotel dan kota jalan tol. Malam hari
laksana siang hari. Mas zaidun menceritakan bahwa Jakarta kota 24 jam selalu
sibuk. Sudah jam 23.00 masih padat. Bukan hanya mobil, tapi juga puluhan,
kadang ratusan honda terus berjalan dan berhenti dipersimpangan saat lambu merah
menyala.
Saat melihat di berbagai tempat, Jakarta memang
benar-benar menyala. Ada baleho calon gubernur-dan wakil gubernur di Gedung-gedung
dan pinggir jalan. Paling banyak gambar pasangan Mas Pram dan Bang Doel. Semangatnya
ingin membuat Jakarta menyala.
Masuk jalan Kramat Jati, hampir setiap sepuluh
meter ada baleho kecil-kecil yang dipasang di pagar-pagar jalan baleho mas pram
dan bang doel. Ada beberapa baleho Ridwan Kamil di dekat flyover pasar rabu. Cita-citanya
ingin menyatukan Jakarta.
Masuk kramat jati macet. Bukan karena
persoalan padatnya kendaraan. Tapi ada Pasar Ikan. Saya tanya kepada mas zaidun,
katanya pasar ikan hanya di malam hari. Sampai kapan?. Katanya sampai subuh. Berarti
tidak tidur. Berarti tidurnya pagi atau siang hari. Jakarta benar-benar sudah
tidak lagi memikirkan siang dan malam. Ada budaya kehidupan yang berbeda di ibu
kota, yaitu budaya pola tidur. Ternyata memang benar, Allah menciptakan segala
sesuatu tidak ada yang batil. Binatang Kelelawar yang sering dikritik karena
pagi hari tidur dan dianggap pemalas, justru telah ditiru oleh manusia. Tidur siang
bukan berarti malas, tapi karena mereka mencari rezeki di malam hari. Sah-sah
saja.
Jalan Kramat Jati memang sering macet. Ada pasar
ikan, sayur dan buah di pinggir jalan. Sehingga terlihat kotor. Tapi siapa yang
peduli? Sepanjang jalan raya hanya ada bangunan tinggi-tinggi laksana raksasa
yang sedang “puasa mbisu”. Tidak peduli. Para anak-anak muda berpasang-pasangan
dan “klekaran” dipinggir-pinggir jalan terasa enjoy meskipun duduk dipinggir
jalan terkadang tanpa alas kain atau koran. Baju kotor, rambut tidak terawat. Tidak
ada urusan. Urusan loe, silahkan urus. Biarkan gue, yang ngurus gue sendiri.
Sepanjang kramat jati menunjukan kemerdekaan hidup manusia sekaligus
mencerminkan ketidakpedulian nasib siapa saja di kota Jakarta. Hanya diri
sendiri yang bisa membawa diri, untuk apa, bagaimana dan akan seperti apa.
Ketika masuk jalan kalisari Jakarta Timur
terlihat suasana sedikit berbeda. Tenang dan daerah nya bersih. Daerahnya dataran
tinggi. Pinggir kota. Meskipun tenang dan bersih tidak terlepas pula dari
ungkapan “Jangan dikira air tenang tidak ada buaya nya”. Semua ada kesedihan,
penderitaan dan sejenisnya. Bahkan ingin bertahan hidup sama seperti daerah Jakarta
pada umum nya. Kehidupan keras dan harus tahan banting. Jika tidak kuat, jangan
coba-coba hidup di Jakarta. Hanya akan menjadi sampah. Jika ingin tidur, hidup
lah di kampung. Kita bisa tidur sepuasnya. Sebab di sekitar rumah kita masih
ada pohon kelapa, pisang dan sayur-mayur.
Mas Zaidun yang mengantar saya asli
pemalang. Sudah punya istri dan anak. Ia rela meninggalkan orang tercinta ke Jakarta
untuk bekerja sebagai driver ojol. Saya tidak tahu berapa hasilnya. Katanya kadang
dapat dua atau tiga penumpang. Rumah ngontrak. Satu bulan 200 ribu. Setiap tiga
bulan ia pulang dan menemui istri dan anak nya di kampung Jawa Tengah. Ia harus
bekerja, dan keahliannya hanya itu. Jadi driver dengan modal honda ala kadarnya.
Setelah satu jam keliling Jakarta, saya
tidur di rumah mas Ramadhan. Anda jangan membayangkan rumah di kampung-kampung
yang besar-besar, yang punya halaman luas-luas. Di Jakarta, satu meter persegi
harga tanah sudah mencapai 15 juta lebih. Itu yang masih dipinggir kota. Rumah dengan
ukuran kecil, bisa mencapai harga 300-400 juta. Rumah model kos mahasiswa ruang
depan hanya bisa ditaruh satu Kasur, bagian belakang ada sumur. Kecuali rumah
para pejabat tinggi, para artis, pengusaha, profesi sukses dan orang-orang asli
yang lahir nya di Jakarta. Mereka punya rumah yang sangat representatif.
Pagi hari saya sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta
jam 06.30. perut sakit. Karena belum minum kopi, meskipun sakit saya pesan kopi
dulu, lalu saya pergi ke WC.
Selesai dari kamar kecil, saya melihat di
meja sudah ada kopi dan satu bungkus gula aren yang dibungkus kertas berwarna
putih. Saya biarkan. Badan terasa letih sekali. saya melihat dua pemuda tidur
sambil duduk. Kelihatannya letih seperti ku. Di sampingnya ada tulisan “pijat
refleksi”. Saya menemui seorang gadis tanpa memakai jilbab, dan diikat rambutnya
bagian belakang. “kak, pijat. Tapi yang laki-laki ya?” pintaku.
Saya memang tidak mau dipijati oleh wanita yang
masih muda. Kalau sudah tua mau, terutama dukun bayi. Ia lebih tahu syaraf-syaraf
yang salah dan bisa dibetulkan. Dulu saya pernah pijat refleksi oleh wanita muda,
malah syaraf ku benar jadi salah.
Benar. Mas Budi bagian memijat ku. Sepanjang
proses pijat refleksi, saya bertanya kepadanya seputar asal usulnya dan berapa
penghasilannya satu hari. Dia menjelaskan bahwa satu hari terkadang hanya
mendapat dua pelanggan. Komisi satu pijatan Rp. 15.000, dua orang berarti
Rp.30.000. Rumah Depok. Perjalanan pulang memakan waktu 2 jam. Bekerja mulai
jam 02.00 dini hari sampai jam 11.00. pantas saja, saya melihatnya ngantuk dan
wajah tidak begitu cerah.
“Mudah-mudahan ada presiden baru rezekinya
semakin lancar” katanya sekaligus mendoakan untuk dirinya sendiri. Saya mengamini.
Selesai memijatku sekitar 30 menit, saya
mengambil duit khusus untuk nya Rp.50.000. “Ini saya titip untuk anak mu
yang baru lahir” kata ku kepadanya. Ia sangat senang. Sebab ia juga baru
dikarunianya anak ketiga yang belum lama lahir.
Selesai pijat refleksi, saya kembali ke
kedai kopi. Air kopi dalam gelas sudah dingin. Sedikit hangat. Saya aduk dengan
gula aren. Tidak panas, tapi masih terasa nikmat. Di Jakarta memang harus
belajar menikmati apapun yang kadang tidak sesuai dengan prosedur kewajaran
manusia pada umum nya. Harus dinikmati, agar terbiasa terasa wajar. Meskipun juga
harus konsisten pada hal-hal yang prinsipil untuk tidak mentolerir “yang tidak
wajar” menjadi “wajar”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875