Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Religion Fest dan Community Fest; Inilah Jakarta !



Kamis , 10 Oktober 2024



Telah dibaca :  542

Karena tugas, saya mengikuti kegiatan religion festiwal kemenag di gedung JIEXPO Jakarta Utara. Acara dikemas dalam tagline “religion fest” atau “religion festival” sebagai kegiatan memperkenalkan capaian-capaian kementrian agama. Sebagaimana dari judul, kementrian agama sedang “tahadus bi nikmat”. Sebab memang Tuhan telah mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyebut sekaligus mensyukuri kenikmatan yang telah diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya: “wa amma bini’mati rabbika fa haddist” (dan terhadap nikmat tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan). Ada beberapa capaian yang sungguh bisa dibanggakan antara lain: naiknya akreditasi unggul mencapai 160% dari tahun-tahun sebelumnya, pelayanan haji mencapai kepuasaan “baik sekali”, peringkat ke-2 secara nasional tentang transparansi laporan keuangan, dan mendapatkan penghargaan sebagai kementrian terinovasi dari Kementrian Menpan-RB dan masih banyak lagi. Kementrian agama tahun ini telah mampu merubah paradigma dari kementrian yang lambat, letoy dan sejenisnya menjadi kementrian pola faster-better dan stronger.

Karena saya bukan, dirjen dan sejenisnya atau menteri agama, jadi tidak perlu menjelaskan capaian yang spektakuler tersebut. Saya di acara tersebut hanya ingin melihat secara dekat seperti apa kementrian agama dan santri. Ternyata ada perubahan positif yang signifikant. Begitu juga santri dan sekolah-sekolahnya. Sudah mulai menuju reformasi yang lebih manusiawi. Ada kekurangan, itu jelas. Tapi saya juga harus belajar jujur bahwa kebaikan darimana datangnya harus mendapatkan apresiasi yang sepantasnya.

Saya bersyukur santri mendapat tempat yang mulai baik di sisi regulasi dan kesempatan pengabdian kepada negara. Berita ini sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan bahwa negara sudah hadir di tengah-tengah masyarakat santri. Itu sebabnya, setelah mendengar pidato Gus Men, saya pun segera keluar dari ruangan teater tersebut. Saat Grub Band Padi mendapat sambutan yang sangat luarbiasa, saat itu juga saya keluar dari Gedung. Saya khawatir terlalu asyik mendengar lagu, lupa mandi. Ma’lum, sudah ada tiga hotel seperti Aston, Mercure, Swiss tidak menerima ku. Semua penuh. Lupa boking dulu Akhirnya saya tidak bisa tidur di hotel, tidak mandi dan bingung ganti baju. Akhirnya terpaksa ganti baju dekat parkiran mobil. Saya harus belajar jadi warga Jakarta yang “kadang harus menanggalkan rasa malu” sepanjang tidak malu-maluin.

Malam itu saya ingin tidur di rumah masyarakat. Saya ingin melihat festival kehidupan masyarakat. Tentang hidup mereka yang penuh dengan keberagaman, kebahagiaan, kesedihan dan segala rasa kehidupan. Ada semua. Kumplit.

Saya menelpon Mas Ramadhan yang doktor ilmu al-qur’an. Berhubung istrinya belum lama melahirkan, ia tidak bisa menjemputku. Diwakilkan temannya yang kerja sebagai ojek online. Sebut saja namanya zaidun. Setelah menunggu beberapa waktu, saya pun jalan-jalan menelusuri kota Jakarta. Sekitar satu jam keliling Jakarta.

Kota Jakarta merupakan kota perkantoran, hotel dan  kota jalan tol. Malam hari laksana siang hari. Mas zaidun menceritakan bahwa Jakarta kota 24 jam selalu sibuk. Sudah jam 23.00 masih padat. Bukan hanya mobil, tapi juga puluhan, kadang ratusan honda terus berjalan dan berhenti dipersimpangan saat lambu merah menyala.

Saat melihat di berbagai tempat, Jakarta memang benar-benar menyala. Ada baleho calon gubernur-dan wakil gubernur di Gedung-gedung dan pinggir jalan. Paling banyak gambar pasangan Mas Pram dan Bang Doel. Semangatnya ingin membuat Jakarta menyala.

Masuk jalan Kramat Jati, hampir setiap sepuluh meter ada baleho kecil-kecil yang dipasang di pagar-pagar jalan baleho mas pram dan bang doel. Ada beberapa baleho Ridwan Kamil di dekat flyover pasar rabu. Cita-citanya ingin menyatukan Jakarta.

Masuk kramat jati macet. Bukan karena persoalan padatnya kendaraan. Tapi ada Pasar Ikan. Saya tanya kepada mas zaidun, katanya pasar ikan hanya di malam hari. Sampai kapan?. Katanya sampai subuh. Berarti tidak tidur. Berarti tidurnya pagi atau siang hari. Jakarta benar-benar sudah tidak lagi memikirkan siang dan malam. Ada budaya kehidupan yang berbeda di ibu kota, yaitu budaya pola tidur. Ternyata memang benar, Allah menciptakan segala sesuatu tidak ada yang batil. Binatang Kelelawar yang sering dikritik karena pagi hari tidur dan dianggap pemalas, justru telah ditiru oleh manusia. Tidur siang bukan berarti malas, tapi karena mereka mencari rezeki di malam hari. Sah-sah saja.

Jalan Kramat Jati memang sering macet. Ada pasar ikan, sayur dan buah di pinggir jalan. Sehingga terlihat kotor. Tapi siapa yang peduli? Sepanjang jalan raya hanya ada bangunan tinggi-tinggi laksana raksasa yang sedang “puasa mbisu”. Tidak peduli. Para anak-anak muda berpasang-pasangan dan “klekaran” dipinggir-pinggir jalan terasa enjoy meskipun duduk dipinggir jalan terkadang tanpa alas kain atau koran. Baju kotor, rambut tidak terawat. Tidak ada urusan. Urusan loe, silahkan urus. Biarkan gue, yang ngurus gue sendiri. Sepanjang kramat jati menunjukan kemerdekaan hidup manusia sekaligus mencerminkan ketidakpedulian nasib siapa saja di kota Jakarta. Hanya diri sendiri yang bisa membawa diri, untuk apa, bagaimana dan akan seperti apa.

Ketika masuk jalan kalisari Jakarta Timur terlihat suasana sedikit berbeda. Tenang dan daerah nya bersih. Daerahnya dataran tinggi. Pinggir kota. Meskipun tenang dan bersih tidak terlepas pula dari ungkapan “Jangan dikira air tenang tidak ada buaya nya”. Semua ada kesedihan, penderitaan dan sejenisnya. Bahkan ingin bertahan hidup sama seperti daerah Jakarta pada umum nya. Kehidupan keras dan harus tahan banting. Jika tidak kuat, jangan coba-coba hidup di Jakarta. Hanya akan menjadi sampah. Jika ingin tidur, hidup lah di kampung. Kita bisa tidur sepuasnya. Sebab di sekitar rumah kita masih ada pohon kelapa, pisang dan sayur-mayur.

Mas Zaidun yang mengantar saya asli pemalang. Sudah punya istri dan anak. Ia rela meninggalkan orang tercinta ke Jakarta untuk bekerja sebagai driver ojol. Saya tidak tahu berapa hasilnya. Katanya kadang dapat dua atau tiga penumpang. Rumah ngontrak. Satu bulan 200 ribu. Setiap tiga bulan ia pulang dan menemui istri dan anak nya di kampung Jawa Tengah. Ia harus bekerja, dan keahliannya hanya itu. Jadi driver dengan modal honda ala kadarnya.

Setelah satu jam keliling Jakarta, saya tidur di rumah mas Ramadhan. Anda jangan membayangkan rumah di kampung-kampung yang besar-besar, yang punya halaman luas-luas. Di Jakarta, satu meter persegi harga tanah sudah mencapai 15 juta lebih. Itu yang masih dipinggir kota. Rumah dengan ukuran kecil, bisa mencapai harga 300-400 juta. Rumah model kos mahasiswa ruang depan hanya bisa ditaruh satu Kasur, bagian belakang ada sumur. Kecuali rumah para pejabat tinggi, para artis, pengusaha, profesi sukses dan orang-orang asli yang lahir nya di Jakarta. Mereka punya rumah yang sangat representatif.

Pagi hari saya sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta jam 06.30. perut sakit. Karena belum minum kopi, meskipun sakit saya pesan kopi dulu, lalu saya pergi ke WC.

Selesai dari kamar kecil, saya melihat di meja sudah ada kopi dan satu bungkus gula aren yang dibungkus kertas berwarna putih. Saya biarkan. Badan terasa letih sekali. saya melihat dua pemuda tidur sambil duduk. Kelihatannya letih seperti ku. Di sampingnya ada tulisan “pijat refleksi”. Saya menemui seorang gadis tanpa memakai jilbab, dan diikat rambutnya bagian belakang. “kak, pijat. Tapi yang laki-laki ya?” pintaku.

Saya memang tidak mau dipijati oleh wanita yang masih muda. Kalau sudah tua mau, terutama dukun bayi. Ia lebih tahu syaraf-syaraf yang salah dan bisa dibetulkan. Dulu saya pernah pijat refleksi oleh wanita muda, malah syaraf ku benar jadi salah.

Benar. Mas Budi bagian memijat ku. Sepanjang proses pijat refleksi, saya bertanya kepadanya seputar asal usulnya dan berapa penghasilannya satu hari. Dia menjelaskan bahwa satu hari terkadang hanya mendapat dua pelanggan. Komisi satu pijatan Rp. 15.000, dua orang berarti Rp.30.000. Rumah Depok. Perjalanan pulang memakan waktu 2 jam. Bekerja mulai jam 02.00 dini hari sampai jam 11.00. pantas saja, saya melihatnya ngantuk dan wajah tidak begitu cerah.

“Mudah-mudahan ada presiden baru rezekinya semakin lancar” katanya sekaligus mendoakan untuk dirinya sendiri. Saya mengamini.

Selesai memijatku sekitar 30 menit, saya mengambil duit khusus untuk nya Rp.50.000. “Ini saya titip untuk anak mu yang baru lahir” kata ku kepadanya. Ia sangat senang. Sebab ia juga baru dikarunianya anak ketiga yang belum lama lahir.

Selesai pijat refleksi, saya kembali ke kedai kopi. Air kopi dalam gelas sudah dingin. Sedikit hangat. Saya aduk dengan gula aren. Tidak panas, tapi masih terasa nikmat. Di Jakarta memang harus belajar menikmati apapun yang kadang tidak sesuai dengan prosedur kewajaran manusia pada umum nya. Harus dinikmati, agar terbiasa terasa wajar. Meskipun juga harus konsisten pada hal-hal yang prinsipil untuk tidak mentolerir “yang tidak wajar” menjadi “wajar”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875