Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Rindu dan Salam Perdamaian dari Baitullah



Selasa , 04 Juni 2024



Telah dibaca :  618

Hampir setiap muslim merindukan pergi ke Baitullah, yaitu suatu tempat terindah di muka bumi. Mereka terkadang laksana anak kecil yang menginginkan suatu mainan, namun orang tuanya tidak mampu membelikan keinginannya. Saat duduk seorang diri, sang bocah kecil itu hanya menangis dan mengusap air matanya dibaju yang sudah lusuh.

Anda pun demikian, saat duduk seorang diri melihat rombongan para jamaah calon haji, ada rasa iri kepada mereka yang mendapat panggilan ke tanah suci. Anda iri bukan dengki, tapi iri panggilan hati yang suci karena rindu ingin mendapat panggilan Allah dan berjumpa dengan kota Rasulullah saw.

Anda bisa membayangkan saat anda menjadi bagian jutaan manusia mengagungkan asma Allah dan mengelilingi ka’bah dengan baju ihram nya. Coba anda visualisasikan saat anda berada di masjid Nabawi dan di dekat Raudhah yaitu makam Rasulullah saw. Saat anda membayangkan Rasulullah, terlukis senyum wajah nya yang sangat lembut dan teduh. Seandainya bisa bertemu di alam nyata, anda secepat menundukan tubuh dengan penuh hormat,  mencium tangan dan memeluk tubuhnya. Saat ini terjadi mungkin tetesan air mata anda tidak bisa dibendung dan terus mengalir karena kerinduan mu kepada Rasulullah saw.

Saya mungkin seperti anda yang sangat merindukan Rasulullah. Meskpun dalam hati ketika melihat diri sendiri, terasa badan ku sangat kotor dan merasa tidak pantas berdekatan dengan manusia teragung di muka bumi. Namun itu hanya perasaan ku, sebab nabi tetap tersenyum menyaksikan tingkah laku kami saat bisa duduk di majelis ilmu nya. Bahkan bisa-bisa dia berdiri dan menyambut kami lalu memeluknya dan mengasihi kami sebagaimana mencintai dirinya sendiri.

Saya mungkin seperti anda saat rindu ingin bertemu Rasulullah saw. Kami rindu, tapi malu dan tetap berdiri dari kejauhan majelisnya. Kami tidak mau mendekat karena kami sadar bahwa atas kesalahan dalam keseharian nya, ucapannya kotor, suka membenci, memfitnah, sombong dan sering melakukan kecurangan atas beberapa hak-hak orang lain, menipu, menyia-nyiakan pasangan dan anak-anak, berzina, melakukan dzalim dan berbuatan-berbuatan yang tidak pantas lainnya.

Lagi-lagi, nabi pun tersenyum melihat kami. Laksana seorang ayah, ia menyambut kami dengan penuh kasih sayang. Pancaran matanya yang sangat indah dan wajahnya yang bersinar mampu memberi kesejukan hati dan meruntuhkan sendi-sendi tubuh sehingga kami tidak mampu berdiri saat berada di depannya.

Saya dan anda mungkin hanya sebatas memvisualisasikan kehadirannya. Kami tidak bisa melihat langsung, tapi hanya bisa melihat Raudhah. Meskipun demikian, saat melihatnya kami  merasakan keberkahan luarbiasa, hati kami terasa tenang, pikiran cerah,  pengakuan kami atas segala dosa benar-benar tertumpahkan di hadapan makam nya, dan tentu saja kami senantiasa berdoa dan mengharap agar menjadi bagian orang-orang yang mendapatkan syafaat pada saat baju dhahir dan batin kami penuh dengan noda-noda kedzaliman, kemunafikan, dan kesombongan serta kebodohan yang tidak saja beranjak dari rasa malas dan selalu berbuat maksiat.

Saya mungkin seperti anda yang tidak akan pernah bisa ke tanah suci dan manatap Baitullah atau mencium Hajar Aswad. Mungkin tidak akan pernah terjadi. Antrian para calon jamaah haji terlalu panjang dan tidak ada kelebihan harta untuk ke tempat teragung tersebut menjadi catatan yang sangat sulit dilupakan. Meskpun saya menyakini, jika Tuhan berkehendak maka tidak ada jalan yang tidak mungkin untuk pergi haji ke Baitullah.

Sungguh sangat beruntung ratusan ribu jama’ah dari Indonesia dan jutaan manusia di dunia bermunajat kepada Sang Maha Agung. Mereka berkumpul dan saling sapa serta senyum yang sangat tulus, tidak ada kebencian dan tidak ada permusuhan. Mereka saling mengasihi satu dengan lainnya.

Semoga sekembalinya dari tanah suci, jutaan manusia yang telah ditraining di Baitullah menjadi orang-orang pembawa misi perdamaian umat manusia dan tercipta peradaban baru yaitu peradaban lahir atas dasar saling menebarkan salam, kasih sayang dan tumbuh rasa kekeluargaan dalam perbedaan.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876