
Saya mencoba menerobos lorong-lorong waktu
masa lalu. Hari ini, Universitas Nizamiyah sangat ramai. Para mahasiswa baru
rata-rata dari putra-putra para khalifah dan para bangsawan. Bukan hanya dari dalam
negeri, tapi juga ada dari luar negeri. Termasuk dari Indonesia.
Saya melihat ada dua dosen baru. Penampilan
lucu. Satu berpenampilan seperti Aladin, satu lagi “slengekan”, rambut
acak-acakan, pakai kaos oblong dan celana jean. Konon cerita, kedua dosen itu
punya kemampuan intelektual di atas rata-rata. Bahkan guru besar pun “keder”
ketika berdebat dengan nya. Namanya : Abu Nawas dan Roky Gerung. Kedua nya
mengajar mata kuliah filsafat politik dalam satu lokal. Semua mendengarkan
paparannya.
“Saya Roky Gerung. Kalian boleh manggil
Roky, boleh juga manggil Gerung. Tapi jangan panggil saya Garangan. Fahimtum?
Semua mahasiswa tersenyum. hanya ada satu
yang tertawa tertawa keras karena mendengar kata garangan. Usut punya
usut, dia seorang mahasiswa Jawa. Namanya Sunarji. Semua pun mendekat kepada nya,tiba-tiba
semua tertawa terpingkal-pingkal. Roky Gerung membiarkan mereka tertawaa dan
apa yang mereka tahu tentang Garangan.
“Politik sering dikaitkan Negara Kota.
Disebut negara kota karena pemimpinnya menggunakan akal sehat. Jika ada negara,
pemimpinnya dungu, tolol, bajingan, maka bukan politik, juga bukan politisi,
tapi molitiki.” Kata Roky Gerung memulai menyampaikan materi kuliah.
“Apakah bapak saya seorang bajingan” tanya
seorang anak khalifah.
“Iya benar” jawab Roky Gerung.
Anak tadi diam. Semua diam. Hanya Sunarji
yang sejak tadi senyam-senyum mendengar jawaban Roky Gerung.
Kini Abu Nawas menyampaikan materi.
“Politik adalah madaniyun bitab’i,
al-ijtima’, al-hadarah”. Itu artinya peradaban. Orang yang memimpin negeri
tersebut pasti punya adab. Tapi sayangnya, banyak khalifah yang hidupnya sudah
gila dan suka fitnah” kata Abu Nawas memaparkan materinya.
“Apakah bapak saya seorang khalifah sudah
gila dan suka fithah” tanya seorang mahasiswa.
“Iya” jawab Abu Nawas.
Ruangan menjadi ramai. Perkuliahan menjadi
tidak kondusif. Para mahasiswa yang tidak terima, marah-marah terhadap Abu
Nawas dan Roky Gerung. Mereka melaporkan kejadian ini kepada dekan Fisipol. Namanya
Syeikh Ahmad Paijo, Dosen imigran berasal dari Surabaya.
Berita ini cepat viral. Sang khalifah
mendapat pesan lewat SMS dan menerima video perkuliahan tersebut. Segera dia
memperintah petugas kerajaan agar syeikh ahmad paijo untuk menghadap bersama
dua dosen; Abu Nawas dan Roky Gerung.
“Abu Nawas, benar kamu mengatakan bahwa
saya adalah gila dan suka fitnah” tanya khalifah.
“Iya, sebab kata nabi hakikat orang gila
adalah orang berjalan di bumi ini dengan sombong, tidak berbuat adil, tapi dia
berharap masuk Surga nya Allah swt.” Jawab Abu Nawas.
Khalifah kaget dengan jawaban Abu Nawas. Dia
pun menyadari akan kesalahannya.
“Apakah saya juga suka fitnah” tanya
khalifah.
“Benar baginda. Surat Al-Anfal ayat 28
telah sangat jelas mengatakan bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah fitnah
(ujian) bagimu. Dan tuanku adalah seorang ayah dan sekaligus khalifah yang
menyukai kedua nya, berarti menyukai fitnah (ujian)” jawab abu nawas.
Khalifah menunduk dan merenungi diri. Setelah
beberapa lama, dia teringat Roky Gerung.
“Mana Roky Gerung” tanya khalifah.
Syeikh Ahmad Paijo dan Abu Nawas saling
berpandangan. Paijo mengatakan kepada khalifah bahwa menurut informasi dari
bagian inteljen, Roky Gerung sudah pulang ke Indonesia lewat jalan tikus. Sehingga
sangat sulit dilacak.
“Syeikh Paijo, saya mau tanya apa arti
bajingan” tanya khalifah.
“Bajingan searti dengan Garangan, baginda”
jawab paijo.
Khalifah berdiri. muka merah. Kedua tangannya
mengepal sangat kuat.
“Sudah saya bayar mahal-mahal untuk mengajarkan
mahasiswa tentang etika politik, malah mengajarkan kepada mereka, tolol, bodoh,
bajingan, bangsat. Apa jadinya jika generasi muda sudah terbiasa ngomong ‘tolol,
bajingan” sama orang tua nya sendiri” kata khalifah penuh dengan kemarahan.
Syaikh Paijo dan Abu Nawas ketakutan. Kedua
nya pun permisi. Ketika sudah di luar Istana, Paijo bertanya kepada Abu Nawas:
“Apakah benar, Roky Gerung sudah pulang ke Indonesia”
tanya Paijo.
Sambil berbisik-bisik di telinganya, Abu
Nawas berkata:
“Belum, dia sekarang di kamar kos-kosan
saya lagi minum bir dan tertawa sendiri sambil melihat film kartun Tom and
Jerry”.
“Diancuuk, Bajingan Si Roky Gerung. Bikin susah
orang saja!” kata Pajio marah-marah.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879