Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Roky Gerung dan Abu Nawas Di Universitas Nizamiyah



Sabtu , 05 Agustus 2023



Telah dibaca :  603

Saya mencoba menerobos lorong-lorong waktu masa lalu. Hari ini, Universitas Nizamiyah sangat ramai. Para mahasiswa baru rata-rata dari putra-putra para khalifah dan para bangsawan. Bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga ada dari luar negeri. Termasuk dari Indonesia.

Saya melihat ada dua dosen baru. Penampilan lucu. Satu berpenampilan seperti Aladin, satu lagi “slengekan”, rambut acak-acakan, pakai kaos oblong dan celana jean. Konon cerita, kedua dosen itu punya kemampuan intelektual di atas rata-rata. Bahkan guru besar pun “keder” ketika berdebat dengan nya. Namanya : Abu Nawas dan Roky Gerung. Kedua nya mengajar mata kuliah filsafat politik dalam satu lokal. Semua mendengarkan paparannya.

“Saya Roky Gerung. Kalian boleh manggil Roky, boleh juga manggil Gerung. Tapi jangan panggil saya Garangan. Fahimtum?

Semua mahasiswa tersenyum. hanya ada satu yang tertawa tertawa keras karena mendengar kata garangan. Usut punya usut, dia seorang mahasiswa Jawa. Namanya Sunarji. Semua pun mendekat kepada nya,tiba-tiba semua tertawa terpingkal-pingkal. Roky Gerung membiarkan mereka tertawaa dan apa yang mereka tahu tentang Garangan.

“Politik sering dikaitkan Negara Kota. Disebut negara kota karena pemimpinnya menggunakan akal sehat. Jika ada negara, pemimpinnya dungu, tolol, bajingan, maka bukan politik, juga bukan politisi, tapi molitiki.” Kata Roky Gerung memulai menyampaikan materi kuliah.

“Apakah bapak saya seorang bajingan” tanya seorang anak khalifah.

“Iya benar” jawab Roky Gerung.

Anak tadi diam. Semua diam. Hanya Sunarji yang sejak tadi senyam-senyum mendengar jawaban Roky Gerung.

Kini Abu Nawas menyampaikan materi.

“Politik adalah madaniyun bitab’i, al-ijtima’, al-hadarah”. Itu artinya peradaban. Orang yang memimpin negeri tersebut pasti punya adab. Tapi sayangnya, banyak khalifah yang hidupnya sudah gila dan suka fitnah” kata Abu Nawas memaparkan materinya.

“Apakah bapak saya seorang khalifah sudah gila dan suka fithah” tanya seorang mahasiswa.

“Iya” jawab Abu Nawas.

Ruangan menjadi ramai. Perkuliahan menjadi tidak kondusif. Para mahasiswa yang tidak terima, marah-marah terhadap Abu Nawas dan Roky Gerung. Mereka melaporkan kejadian ini kepada dekan Fisipol. Namanya Syeikh Ahmad Paijo, Dosen imigran berasal dari Surabaya.

Berita ini cepat viral. Sang khalifah mendapat pesan lewat SMS dan menerima video perkuliahan tersebut. Segera dia memperintah petugas kerajaan agar syeikh ahmad paijo untuk menghadap bersama dua dosen; Abu Nawas dan Roky Gerung.

“Abu Nawas, benar kamu mengatakan bahwa saya adalah gila dan suka fitnah” tanya khalifah.

“Iya, sebab kata nabi hakikat orang gila adalah orang berjalan di bumi ini dengan sombong, tidak berbuat adil, tapi dia berharap masuk Surga nya Allah swt.” Jawab Abu Nawas.

Khalifah kaget dengan jawaban Abu Nawas. Dia pun menyadari akan kesalahannya.

“Apakah saya juga suka fitnah” tanya khalifah.

“Benar baginda. Surat Al-Anfal ayat 28 telah sangat jelas mengatakan bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian) bagimu. Dan tuanku adalah seorang ayah dan sekaligus khalifah yang menyukai kedua nya, berarti menyukai fitnah (ujian)” jawab abu nawas.

Khalifah menunduk dan merenungi diri. Setelah beberapa lama, dia teringat Roky Gerung.

“Mana Roky Gerung”  tanya khalifah.

Syeikh Ahmad Paijo dan Abu Nawas saling berpandangan. Paijo mengatakan kepada khalifah bahwa menurut informasi dari bagian inteljen, Roky Gerung sudah pulang ke Indonesia lewat jalan tikus. Sehingga sangat sulit dilacak.

“Syeikh Paijo, saya mau tanya apa arti bajingan” tanya khalifah.

“Bajingan searti dengan Garangan, baginda” jawab paijo.

Khalifah berdiri. muka merah. Kedua tangannya mengepal sangat kuat.

“Sudah saya bayar mahal-mahal untuk mengajarkan mahasiswa tentang etika politik, malah mengajarkan kepada mereka, tolol, bodoh, bajingan, bangsat. Apa jadinya jika generasi muda sudah terbiasa ngomong ‘tolol, bajingan” sama orang tua nya sendiri” kata khalifah penuh dengan kemarahan.

Syaikh Paijo dan Abu Nawas ketakutan. Kedua nya pun permisi. Ketika sudah di luar Istana, Paijo bertanya kepada Abu Nawas:

“Apakah benar, Roky Gerung sudah pulang ke Indonesia” tanya Paijo.

Sambil berbisik-bisik di telinganya, Abu Nawas berkata:

“Belum, dia sekarang di kamar kos-kosan saya lagi minum bir dan tertawa sendiri sambil melihat film kartun Tom and Jerry”.

“Diancuuk, Bajingan Si Roky Gerung. Bikin susah orang saja!” kata Pajio marah-marah.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879