Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ruh Cinta dalam Lorong-Lorong Doa



Sabtu , 24 Juni 2023



Telah dibaca :  312

Doa merupakan wujud dari pengakuan hamba atas segala keterbatasan antara cinta dan benci. Ia adalah wajah dari ketidakperdayaan seorang hamba untuk melakukan sesuatu yang sempurna. Itu sebabnya, dia membutuhkan campur tangan Tuhan untuk merealisasikannya agar ketidakperdayaan tadi terobati dan seolah-olah menjadi manusia sempurna. Semakin sering berdoa, dan semakin dikabulkan doa nya maka hamba tadi semakin merasa sempurna dari ketidaksempurnaan yang sering tidak disadari. Itu sebabnya ketika dia berdoa dan merasa tidak dikabulkan maka pikiran kacau, hati merana dan keterputusasaan sering muncul merembet ke sekujur tubuh. Implikasinya, kekecewaan, ketidakpercayaan, rendah diri, merasa gagal, emosi, mudah marah dan merasa terpinggirkan. Apakah salah saya kepada Tuhan, sehingga permintaanku tidak dikabulkan?

Doa bisa saja disebut ketidaksempurnaan manusia. Namun dalam pandangan seorang kekasih sejati, ini adalah wujud dari kesempurnaan dalam alam keterbatasan. Saya teringat doa Nabi Ibrahim a.s saat di usia senja belum juga mempunyai keturunan. Sepasang suami-istri yang menginginkan punya keturunan dan mereka berdua bisa jadi tidak membayangkan bahwa jalan untuk mendapatkan keturunan itu beragam. Mereka bisa jadi tidak menduga, bahwa implikasi dari doa tersebut melahirkan kecemburuan, kebencian dan cinta yang kadang sulit dipisahkan pada perasaan dan jiwa seperti tumpukan baju; dilihat sangat membosankan, tapi dibuang masih sangat dibutuhkan.

Sarah Istri Nabi Ibrahim selalu menginginkan anak dari rahim nya. Dia tidak membayangkan jika kemudian hari, doa keinginan mempunyai anak yang dipanjatkan oleh suami nya harus melalui rahim dari Hajar istri kedua Nabi Ibrahim. Sebagai seorang wanita dan seorang istri yang setia, dia mengalami kegonjangan yang hebat dalam masa-masa untuk menerima kehadiran Hajar dan anak nya. Dia melihat dirinya sebagai seorang istri yang sudah tua renta, umur sudah tua dan secara teori keumuman manusia saat itu, adalah umur yang sudah tidak memungkinan punya keturunan. Satu sisi, dia sudah pasrah atas keadaan dirinya, tapi satu sisi harapan-harapan tidak pernah putus akan keajaiban-keajaiban doa yang dia panjatkan. Suatu perasaan yang sering terjadi pada seseorang saat mempunyai hajat dan belum juga terwujud cita-citanya.

Nabi Ibrahim telah dinash sebagai khalilullah “Kekasih Allah”. Dia menyakini akan keagungan-Nya atas segala karya-karya-Nya. Hal yang tidak mudah dalam kalkulasi-kalkulasi akal manusia terbatas memang sudah selayaknya pada saat-saat tertentu harus melatih diri bahwa di luar akal ada magnetik supranatural yang laksanana jaringan-jaringan energi listrik yang saling sambung-menyambung antara Tuhan dan hamba-hamba-Nya. Doa dan amal sholeh akan tersambung dan akan memancar aliran-aliran menjadi suatu realita. Maka ketika, Tuhan telah memberi informasi ghaib bahwa Sarah akan mempunyai anak laki-laki, Nabi Ibrahim menyampaikan kepada-nya. Namun, sudah watak seorang perempuan yang sering mengedepankan perasaan, akal dan pikiran, Sarah pun tersenyum mendekati tertawa dan menganggap ucapan suaminya bagian dari cara menghibur dirinya yang sedang sedih. Dia merasa bahwa tubuh yang sudah tua renta hanya belajar untuk menerima realita atas ketentuan Allah termasuk tidak mempunyai keturunan. Ternyata ketentuan Allah benar-benar terjadi. Sarah pada tahun berikutnya mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama “Ishak” yang dalam bahasa Ibrani artinya “tertawa”.

Ada seorang ustadz memberikan training center tentang “power of doa” atau kekuatan doa. Dia seorang motivator ulung. Suara nya menggelegar. Pilihan kata dan diksi-diksi sangat tepat. sehingga siapapun yang mendengarkan akan masuh ke dalam alam pikiranya dan akan termotivasi untuk menjalankan apa-apa yang telah disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena motivasi, tentu ketika aura tersebut di bawa ke wilayah kerja, sedikit demi sedikit terkena erosi oleh beragam situasi yang memang situasinya tidak semudah melakukan perubahan sebagaimana apa yang dibayangkan.

Sang motivator terus mengatakan tentang pentingnya “menyingsingkan” lengan baju, “cancut taliwondo”, “rawe-rawe rantas, malang-malang putung” untuk strong terus-menerus berdoa. Kata para ulama, “man jadda wa jada”, siapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan apa yang dia cita-citakan. Dia pun mencontohkan tentang doa Nabi Musa membutuhkan 40 tahun untuk menghancurkan Raja Fir’aun. Ini adalah suatu bukti, bahwa doa harus mempunyai landasan yang kuat agar doa menjadi suatu kekuatan yang ekstra besar dalam mewujudkan suatu cita-cita.

Namun tidak semua ucapan motivator mengispirasi, justru terkadang kontra produktif. Seorang pemuda berumur 30 tahun yang belum juga menikah ketika mendengar kisah doa Nabi Musa untuk kehancuran Fir’aun malah marah-marah dan membodohkan sang motivator, “Bodoh kamu, apakah saya harus berdoa 40 tahun hanya untuk mendapat pasangan saya di saat waktu itu saya sudah berumur 70 tahun”. Ternyata kata-kata mutiara tidak selama nya mendapat sambutan hangat dan mampu melakukan perubahan tatkala antara sang pemberi dan penerima tidak ada kesamaan frekuensi. Namun ketika ada kesamaan frekuensi, maka akan terasa kenikmatan luarbiasa.

Contoh kecil kisah Umar bin Khatab menggunakan baju dengan harga yang sangat murah sebagaimana model baju yang dipakai oleh nabi adalah suatu revolusi jiwa yang luarbiasa. Dia bagian dari kaum elit, dan bisa bersikap merakyat adalah suatu kebanggaan tersendiri bisa dan mampu menunjukan sikap sebagai masyarakat biasa sebagai mana yang telah dilakukan oleh Nabi. Dari sini kemudian, Umar menjadi sehabat yang sangat terkenal yang bukan dari kalangan kaum bangsawan, tapi juga masyarakat jelata. Maka ketika ada yang tanya tentang Istana Umar, ada kalimat yang sangat terkenal, “Istana Umar adalah beratap langit dan berlantai bumi”. Ini suatu ungkapan, betapa Umar bin Khatab ingin menjadi diri sebagai bagian dari kebanyakan masyarakat muslim. Pantas saja jika Umar bin Khatab mengatakan, “Pemimpin dan rakyat, ibarat sisir. Semua mempunyai hak dan kewajiban sama”.

Kemampuan tampil menyatu Umar bin Khatab dengan masyarakat tentu berbeda dengan Bilal bin Rabah. Sahabat Nabi satu ini adalah sahabat yang sejak kelahiran hingga di usia senja telah digariskan sebagai sahabat dengan kemulyaan karena dekat dengan kelompok elit, tapi disisi ekonomi termasuk kelompok hidup apa adanya. Kebanggaan dia bukan karena sikap “merakyat” sebagaimana Umar bin Khatab, tapi adanya akses politik yang masuk pada level-level kelompok paling terhormat di kalangan umat Islam dan Suku Qurays. Kaum Muslimin kala itu iri dengan Bilal bukan karena mendapatkan fasilitas negara, tapi karena dia sangat dicintai oleh Nabi Muhammad s.a.w sebagai tokoh utama dan paling mulia pada masa itu dan sepanjang zaman. maka wajar, masyarakat muslim ingin mengikuti jejak Bilal untuk bisa menjadi bagian orang-orang yang dicintai oleh nabi Muhammad s.a.w. tidak semua berhasil. Keterbatasan waktu nabi untuk membagi aktivitas untuk keluarga, agama dan pemerintahan telah membatasi diri dari berbagai kegiatan dan juga dibatasi oleh kelompok-kelompok tertentu yang kemudian hari mereka ini yang menjadi penerus nabi Muhammad baik dalam pemerintahan maupun dalam menebarkan agama Islam. Dari sini terkadang cinta lebih dulu berjalan ketimbang sebatas permintaan-permintaan nya. Sebab cinta dalam prakteknya selalu memberi kebahagiaan lebih banyak ketimbang hanya sebatas pemberian yang bersifat benda mati semata. Bahkan demi cinta, semua bisa dikorbankan dengan setulus hati. Bukankah demikian?

Dari kisah-kisah dan tamsil-tamsil di atas saya bisa menyimpulkan bahwa doa bukan sebatas suatu permintaan anak kecil yang selalu harus dituruti. Orang tua yang bijak selalu saja memberi berbagai pertimbangan “apa yang pantas” untuk diberikan kepada anak dengan berbagai pertimbangan; kebutuhan, umur, pergaulan, kecerdasan (bisa membedakan baik dan buruk) dan kematangan jiwa nya. perbedaan-perbedaan pemberian dari apa yang diminta sebenarnya sedang memberikan sesuatu yang terbaik sang pemberi kepada sang peminta. Namun sering sang peminta tidak menyadarinya. Pada posisi ini, sang peminta harus belajar untuk mengerti dan menyadari akan makna kasih-sayang dari sang pemberi. Bahwa ada yang lebih berharga dari sebatas terkabulnya permintaan yaitu hubungan batin yang mendalam sebagai eskpresi dari rasa cinta yang tulus. Ketika sudah bisa memahami hal demikian, semua menjadi indah. Bahkan bisa jadi semakin mengabaikan istilah “permintaan” pada dirinya karena telah hanyut dalam lautan cinta yang mendalam kepada sang pemberi sebagaimana hancurnya pandangan surga dan neraka di hadapan Robi’ah Addawiyah akibat terlalu dalam nya cinta kepada Allah s.w.t.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879