
Doa merupakan wujud dari pengakuan hamba
atas segala keterbatasan antara cinta dan benci. Ia adalah wajah dari
ketidakperdayaan seorang hamba untuk melakukan sesuatu yang sempurna. Itu
sebabnya, dia membutuhkan campur tangan Tuhan untuk merealisasikannya agar
ketidakperdayaan tadi terobati dan seolah-olah menjadi manusia sempurna.
Semakin sering berdoa, dan semakin dikabulkan doa nya maka hamba tadi semakin
merasa sempurna dari ketidaksempurnaan yang sering tidak disadari. Itu sebabnya
ketika dia berdoa dan merasa tidak dikabulkan maka pikiran kacau, hati merana
dan keterputusasaan sering muncul merembet ke sekujur tubuh. Implikasinya,
kekecewaan, ketidakpercayaan, rendah diri, merasa gagal, emosi, mudah marah dan
merasa terpinggirkan. Apakah salah saya kepada Tuhan, sehingga permintaanku
tidak dikabulkan?
Doa bisa saja disebut ketidaksempurnaan manusia. Namun dalam pandangan seorang kekasih sejati, ini adalah wujud dari kesempurnaan dalam alam keterbatasan. Saya teringat doa Nabi Ibrahim a.s saat di
usia senja belum juga mempunyai keturunan. Sepasang suami-istri yang
menginginkan punya keturunan dan mereka berdua bisa jadi tidak membayangkan
bahwa jalan untuk mendapatkan keturunan itu beragam. Mereka bisa jadi tidak
menduga, bahwa implikasi dari doa tersebut melahirkan kecemburuan, kebencian
dan cinta yang kadang sulit dipisahkan pada perasaan dan jiwa seperti tumpukan
baju; dilihat sangat membosankan, tapi dibuang masih sangat dibutuhkan.
Sarah Istri Nabi Ibrahim selalu
menginginkan anak dari rahim nya. Dia tidak membayangkan jika kemudian hari,
doa keinginan mempunyai anak yang dipanjatkan oleh suami nya harus melalui rahim
dari Hajar istri kedua Nabi Ibrahim. Sebagai seorang wanita dan seorang istri
yang setia, dia mengalami kegonjangan yang hebat dalam masa-masa untuk menerima
kehadiran Hajar dan anak nya. Dia melihat dirinya sebagai seorang istri yang
sudah tua renta, umur sudah tua dan secara teori keumuman manusia saat itu,
adalah umur yang sudah tidak memungkinan punya keturunan. Satu sisi, dia sudah
pasrah atas keadaan dirinya, tapi satu sisi harapan-harapan tidak pernah putus
akan keajaiban-keajaiban doa yang dia panjatkan. Suatu perasaan yang sering
terjadi pada seseorang saat mempunyai hajat dan belum juga terwujud
cita-citanya.
Nabi Ibrahim telah dinash sebagai
khalilullah “Kekasih Allah”. Dia menyakini akan keagungan-Nya atas segala
karya-karya-Nya. Hal yang tidak mudah dalam kalkulasi-kalkulasi akal manusia
terbatas memang sudah selayaknya pada saat-saat tertentu harus melatih diri
bahwa di luar akal ada magnetik supranatural yang laksanana jaringan-jaringan energi
listrik yang saling sambung-menyambung antara Tuhan dan hamba-hamba-Nya. Doa dan
amal sholeh akan tersambung dan akan memancar aliran-aliran menjadi suatu
realita. Maka ketika, Tuhan telah memberi informasi ghaib bahwa Sarah akan
mempunyai anak laki-laki, Nabi Ibrahim menyampaikan kepada-nya. Namun, sudah
watak seorang perempuan yang sering mengedepankan perasaan, akal dan pikiran, Sarah
pun tersenyum mendekati tertawa dan menganggap ucapan suaminya bagian dari cara
menghibur dirinya yang sedang sedih. Dia merasa bahwa tubuh yang sudah tua
renta hanya belajar untuk menerima realita atas ketentuan Allah termasuk tidak
mempunyai keturunan. Ternyata ketentuan Allah benar-benar terjadi. Sarah pada
tahun berikutnya mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama “Ishak” yang
dalam bahasa Ibrani artinya “tertawa”.
Ada seorang ustadz memberikan training
center tentang “power of doa” atau kekuatan doa. Dia seorang motivator
ulung. Suara nya menggelegar. Pilihan kata dan diksi-diksi sangat tepat.
sehingga siapapun yang mendengarkan akan masuh ke dalam alam pikiranya dan akan
termotivasi untuk menjalankan apa-apa yang telah disampaikan dalam kehidupan
sehari-hari. Karena motivasi, tentu ketika aura tersebut di bawa ke wilayah
kerja, sedikit demi sedikit terkena erosi oleh beragam situasi yang memang
situasinya tidak semudah melakukan perubahan sebagaimana apa yang dibayangkan.
Sang motivator terus mengatakan tentang
pentingnya “menyingsingkan” lengan baju, “cancut taliwondo”, “rawe-rawe rantas,
malang-malang putung” untuk strong terus-menerus berdoa. Kata para ulama, “man
jadda wa jada”, siapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan apa yang
dia cita-citakan. Dia pun mencontohkan tentang doa Nabi Musa membutuhkan 40
tahun untuk menghancurkan Raja Fir’aun. Ini adalah suatu bukti, bahwa doa harus
mempunyai landasan yang kuat agar doa menjadi suatu kekuatan yang ekstra besar
dalam mewujudkan suatu cita-cita.
Namun tidak semua ucapan motivator
mengispirasi, justru terkadang kontra produktif. Seorang pemuda berumur 30
tahun yang belum juga menikah ketika mendengar kisah doa Nabi Musa untuk kehancuran
Fir’aun malah marah-marah dan membodohkan sang motivator, “Bodoh kamu, apakah
saya harus berdoa 40 tahun hanya untuk mendapat pasangan saya di saat waktu itu
saya sudah berumur 70 tahun”. Ternyata kata-kata mutiara tidak selama nya
mendapat sambutan hangat dan mampu melakukan perubahan tatkala antara sang
pemberi dan penerima tidak ada kesamaan frekuensi. Namun ketika ada kesamaan
frekuensi, maka akan terasa kenikmatan luarbiasa.
Contoh kecil kisah Umar bin Khatab menggunakan
baju dengan harga yang sangat murah sebagaimana model baju yang dipakai oleh
nabi adalah suatu revolusi jiwa yang luarbiasa. Dia bagian dari kaum elit, dan
bisa bersikap merakyat adalah suatu kebanggaan tersendiri bisa dan mampu
menunjukan sikap sebagai masyarakat biasa sebagai mana yang telah dilakukan
oleh Nabi. Dari sini kemudian, Umar menjadi sehabat yang sangat terkenal yang
bukan dari kalangan kaum bangsawan, tapi juga masyarakat jelata. Maka ketika
ada yang tanya tentang Istana Umar, ada kalimat yang sangat terkenal, “Istana
Umar adalah beratap langit dan berlantai bumi”. Ini suatu ungkapan, betapa Umar
bin Khatab ingin menjadi diri sebagai bagian dari kebanyakan masyarakat muslim.
Pantas saja jika Umar bin Khatab mengatakan, “Pemimpin dan rakyat, ibarat
sisir. Semua mempunyai hak dan kewajiban sama”.
Kemampuan tampil menyatu Umar bin Khatab dengan
masyarakat tentu berbeda dengan Bilal bin Rabah. Sahabat Nabi satu ini adalah
sahabat yang sejak kelahiran hingga di usia senja telah digariskan sebagai
sahabat dengan kemulyaan karena dekat dengan kelompok elit, tapi disisi ekonomi
termasuk kelompok hidup apa adanya. Kebanggaan dia bukan karena sikap
“merakyat” sebagaimana Umar bin Khatab, tapi adanya akses politik yang masuk
pada level-level kelompok paling terhormat di kalangan umat Islam dan Suku
Qurays. Kaum Muslimin kala itu iri dengan Bilal bukan karena mendapatkan
fasilitas negara, tapi karena dia sangat dicintai oleh Nabi Muhammad s.a.w
sebagai tokoh utama dan paling mulia pada masa itu dan sepanjang zaman. maka
wajar, masyarakat muslim ingin mengikuti jejak Bilal untuk bisa menjadi bagian
orang-orang yang dicintai oleh nabi Muhammad s.a.w. tidak semua berhasil.
Keterbatasan waktu nabi untuk membagi aktivitas untuk keluarga, agama dan
pemerintahan telah membatasi diri dari berbagai kegiatan dan juga dibatasi oleh
kelompok-kelompok tertentu yang kemudian hari mereka ini yang menjadi penerus
nabi Muhammad baik dalam pemerintahan maupun dalam menebarkan agama Islam. Dari
sini terkadang cinta lebih dulu berjalan ketimbang sebatas
permintaan-permintaan nya. Sebab cinta dalam prakteknya selalu memberi
kebahagiaan lebih banyak ketimbang hanya sebatas pemberian yang bersifat benda
mati semata. Bahkan demi cinta, semua bisa dikorbankan dengan setulus hati.
Bukankah demikian?
Dari kisah-kisah dan tamsil-tamsil di atas
saya bisa menyimpulkan bahwa doa bukan sebatas suatu permintaan anak kecil yang
selalu harus dituruti. Orang tua yang bijak selalu saja memberi berbagai
pertimbangan “apa yang pantas” untuk diberikan kepada anak dengan berbagai
pertimbangan; kebutuhan, umur, pergaulan, kecerdasan (bisa membedakan baik dan
buruk) dan kematangan jiwa nya. perbedaan-perbedaan pemberian dari apa yang
diminta sebenarnya sedang memberikan sesuatu yang terbaik sang pemberi kepada
sang peminta. Namun sering sang peminta tidak menyadarinya. Pada posisi ini,
sang peminta harus belajar untuk mengerti dan menyadari akan makna kasih-sayang
dari sang pemberi. Bahwa ada yang lebih berharga dari sebatas terkabulnya
permintaan yaitu hubungan batin yang mendalam sebagai eskpresi dari rasa cinta
yang tulus. Ketika sudah bisa memahami hal demikian, semua menjadi indah.
Bahkan bisa jadi semakin mengabaikan istilah “permintaan” pada dirinya karena
telah hanyut dalam lautan cinta yang mendalam kepada sang pemberi sebagaimana
hancurnya pandangan surga dan neraka di hadapan Robi’ah Addawiyah akibat terlalu
dalam nya cinta kepada Allah s.w.t.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879