Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ru'yah, Hisab, dan Kegenitan Politik



Kamis , 20 April 2023



Telah dibaca :  473

Dalam penerapan awal bulan ramadhan dan akhir ramadhan ada metode nya sendiri; ru’yah dan hisab. Metode ru’yah menggunakan hadist Nabi. Metode ini juga menggunakan hisab. Sebab tanpa hisab, ru’yah pun tidak bisa. Jadi ru’yatul hilal adalah cara mengerti awal dan akhir bulan Ramadhan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w melalui hadist,”Berpuasalah kalian dengan melihat hilal dan berbukalah atau mengahiri puasa dengan melihat hilal. Bila ia tidak tampak olehmu, maka sempurnakan hitungan sya’ban menjadi 30 hari” (HR. Bukhari dan Muslim).

Status hadist tersebut shohih. Tradisi ru’yatul hilal adalah tradisi yang telah dilakukan pada masa nabi sampai sekarang dalam rangka menentukan awal dan akhir Ramadhan. Dari sini jelas, siapapun yang menggunakan metode ru’yatul hilal bisa dipastikan menggunakan metode yang digunakan oleh nabi, sahabat, tabi’in, tabi’in-tabi’in, ulama besar Islam dan generasi Islam setelahnya.

Sedangkan metode hisab, yaitu metode yang dilakukan untuk menentukan awal puasa dengan menggunakan perhitungan matematika dan astronomi. Metode ini dengan menggunakan hisab hakiki wujudul hilal. Bulan kamariah baru dimulai apabila pada hari ke-29 berjalan saat matahari terbenam terpenuhi tiga syarat secara komulatif; telah terjadi ijtimak, ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan (piringan atasnya) masih di atas ufuk. Apabila salah satu dari syarat tersebut tidak terpenuhi, maka bulan berjalan akan digenapkan menjadi 30 hari dan bulan baru dimulai lusa.  Menurut metode ini, jika posisi bulan sudah berada di atas ufuk pada saat matahari terbenam di seluruh Indonesia, berapapun tingginya (meskipun hanya 0.1o ), maka keesokan harinya sudah masuk bulan baru.

Penggunaan metode hisab yaitu Q.S. AR-Rahman Ayat 5 yang menjelaskan tentang penentuan waktu dengan berdasarkan gerak matahari dan bulan. Selain itu, hisab juga menggunakan mendasari pada hadist tersebut di atas tentang hilal. Mengingat pada masa nabi masih tradisional, maka menggunakan hilal. Kini perkembangan sudah maju dan modern, maka perlu menggunakan penghitungan yang lebih efektif dan efisien, yaitu memakai hisab. alasan ini paling tidak yang mendasari perlu adanya hisab.

Mana yang benar? Semua benar. Toh seandainya ada yang salah pun, tetap mendapatkan pahala. Disini pentingnya ijtihad atas dasar kedalaman ilmu. Islam memberi peluang untuk ijtihad. Pemerintah, ormas telah melakukan ijtihad. Jika hasil berbeda, maka logikanya masing-masing melaksanakan hasil ijtihadnya. Jika hasil ijtihad hari jum’at idul fitri, maka sholat idul fitrinya hari jum’at, jika ijtihadnya hari sabtu idul fitrinya, maka sholat idul fitri nya hari sabtu.

Apakah Berbeda Hari Raya Bermasalah ?

Perbedaan hari raya tidak bermasalah. Saya melihat perbedaan metode ru’yah dan hisab sudah lama terjadi. Pada masa Orde Baru pun sudah terjadi. Pernah orang tua saya berbeda dalam menentukan hari raya. Ibu saya mengikuti ketentuan pemerintah, sedangkan bapak saya mengikuti ijtihad sendiri ulama tariqah. Sehingga bapak dan ibu saya berbeda hari raya idul fitri. Anak-anaknya pun berbeda-beda juga hari raya. Tapi sebagian besar mengikuti ketentuan pemerintah. Bapak saya mempersilahkan. Dia sangat terbuka tentang perbedaan dan sama sekali tidak ada persoalan. Seolah-olah itu hal yang biasa saja. Bapak saya pun tidak melakukan kapitalisasi melalui jaringan-jaringan yang dipunya untuk menunjukan eksistensinya. Jadi, tetap adem-ayem. Semua rukun.

Apakah Indonesia bisa Belajar dari Mesir ?

Umat Islam di Mesir secara khusus pun mengalami perbedaan dalam penentuan awal Idul Fitri. Seorang Guru Besar Al-Azhar, Syeikh Prof.Dr. Musa Syahin Lasyin adalah guru besar bidang ilmu hadist. Saat bulan Ramadhan tiba sebagaimana ketentuan pemerintah, dia pun ikut puasa ramadhan. Padahal menurut perhitungan hisab, awal bulan ramadhan jatuh hari sebelumnya.

Para mahasiswa heran. Mereka bertanya kenapa tidak melakukan puasa sesuai hisab dan malah mengikuti keputusan pemerintah? Syeikh Musa Syahin mengatakan, bahwa saya berbeda pemerintah dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan. Jika benar atau salah, maka saya akan menanggung beban tersebut. Namun jika mengikuti keputusan pemerintah [hakim], maka hakim kelak yang akan mempertanggungjawabkan dan keputusannya di hadapan Allah. Itu sebabnya, semua yang menggunakan metode hilal dan hisab mengikuti keputusan pemerintah dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan.

Jadi, dari pelajaran ini metode hilal dan hisab memang secara dalil tidak ada persoalan. Keduanya mempunyai peluang berbeda. Namun jika ingin menyatukan satu pemahaman, seluruh ormas sebaiknya menggunakan keputusan pemerintah. Siapapun pemerintah saat ini dan akan datang. Sehingga perbedaan idul fitri tidak terjadi lagi. Dan tradisi ini sudah dilakukan oleh negara-negara Islam sejak dulu. Sehingga potensi perbedaan hari lebaran bisa diatasi.

Ego politik bersliweran

Ironis memang, setiap menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri selalu saja muncul sikap ketidakdewasaan dalam berpolitik. Perbedaan penentuan Idul Fitri dikomentari oleh sebagian masyarakat dunia maya sebagai sesuatu yang mengerikan. Sangat tidak terpelajar. Para pegiat medsos mempresepsikan bahwa perbedaan penetapan Idul Fitri sering tampil dari sikap keagamaan dan kesolehan seseorang atau kelompok ormas tertentu. Jika mengikuti keputusan pemerintah dipresepsikan kualitas iman nya lemah. Jika berseberangan dengan pemerintah terlihat sholeh dan iman nya kuat. Pola-pola penggiringan opini oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab di media sosial terus berjalan dan terjadi sampai saat sekarang ini.

Padahal jika posisi mereka dalam lingkaran pemerintah dan mempunyai tanggungjawab untuk mengatur urusan agama, maka akan mendapat celaan yang sama dan dianggap sebagai bagian dari orang-orang yang dianggap kurang islami. Padahal, keputusan pemerintah mengatur persoalan-persoalan agama seperti sholat, puasa[termasuk awal Idul Fitri], zakat, dan haji menunjukan bahwa negara Indonesia adalah negara yang sangat mengakomodir kepentingan agama Islam. Sayangnya, ketika pemerintah mempunyai komitmen untuk mengatur urusan-urusan agama, sering dituduh telah merusak agama atau memecah belah agama. Ketika pemerintah tidak mengurus agama, dituduh liberal dan anti Islam.

Kritik satu sisi sangat diperlukan. Namun ketika kritit lahir atas dasar kebenian, hanya melahirkan seribu alasan untuk menjatuhkan sebagaimana cinta juga punya seribu alasan untuk menyanjungnya. Kritik jadi sebatas tumpukan argumentasi untuk mempertahankan kebenaran diri dan tidak menerima pendapat orang lain. Ini yang rusak.

Jadi sederhana sebenarnya menyikapi perbedaan ini. Jika masyarakat sudah terbiasa berfikir ilmiah, maka perbedaan itu wajar-wajar saja. Sah-sah saja perbedaan hari raya di tengah masyarakat. Tapi jika masyarakat masih model masyarakat “komentator” tanpa ilmu, maka se-ilmiah apapun suatu ilmu akan dianggap tidak baik dan dianggap menyesatkan. Maka, solusinya sederhana saja; jika ingin sama hari raya nya, maka ikut keputusan pemerintah. Masa sih mengikuti keputusan pemerintah begitu berat padahal ibadah haji dan segala rangkaianya pun ikut peraturan pemerintah. Siapapun penguasa saat ini dan di masa mendatang. Sisi positifnya, paling tidak sudah menerapkan ayat tentang pentingnya ketaatan terhadap allah, rasul dan pemimpin di antara kamu.

Tapi kalau mau jualan produk, ya silahkan. Masa sih orang mau jualan kok di larang.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   918

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4578


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895