
Pada saat tertentu, anda pernah mengalami
kebimbangan dalam melihat sesuatu yang ada pada diri sendiri baik persoalan
pasangan hidup, karir, pertemanan, bahkan sampai pada persoalan kebutuhan
sehari-hari seperti makan-minum, minum obat saat sakit, dan lain-lain. Kebimbangan
muncul karena ada proses berfikir pada diri manusia yang mempertanyakan hakikat
sesuatu dan manfaat dari sesuatu tersebut.
Ada seorang penulis sangat produktif
menulis tentang beragam ilmu. Ia merasa pada mulanya apa yang ia tulis memberi
manfaat kepada orang lain dan sekaligus memberi konstribusi dalam suatu
perubahan dunia semakin baik. Namun, suatu hari ia mengalami kejenuhan. Pada kondisi
seperti itu ia pun berkata dalam hati, begini kira-kira kalimatnya:
“Untuk apa sebenarnya saya menulis, apa sih
manfaatnya. Setiap hari saya menulis, di sebelah sana sudah ada ribuan buku, puluhan
ribu karya ilmiah, ratusan ribu opini lahir setiap bulannya. Untuk apa saya
menulis, dunia tetap seperti ini juga, kejahatan tetap dimana-mana,
perselingkuhan semakin marak, minuman keras semakin canggih, pejabat dan
penjahat semakin sulit dibedakan, pergaulan bebas sudah tanpa batas, kemaksiatan
di dunia maya semakin tidak terkendali…buat apa saya menulis tentang moral,
etika dan pesan-pesan agama, toh kadang yang melanggar moral juga orang-orang
yang dianggap bersih dan suci ”.
Kebimbangan juga terjadi pada seseorang
yang sudah berumah tangga cukup lama, ia mengatakan kurang lebih begini:
“Saya pikir menikah itu enak, ternyata itu
hanya terjadi di malam pertama dan kedua pernikahanku. Setelah masuk lebih
dalam dalam lautan rumah tangga, saya baru tahu bahwa di dalamnya ada biawak,
monyet, ikan buntal, batu, kerikil dan limbah-limbah yang hampir saja aku tidak
bisa bernafas. Saya baru tahu, bahwa perkawinan bukan hanya berisi senyum
simpul kemesraan Pangeran Salju dan Putri Cinderalela atau Kisah Rama dan
Sinta, tapi sering terjadi dalam kenyataan adalah kisah Rahwana yang emosional,
suka marah, bentak-bentak pasangannya, nempeleng. Saya kadang juga melihat pasangan
ku laksana Saparnaka seorang Perempuan yang sulit dinasehati tapi suka
menasehati, marah-marah, ingin menang sendiri”.
Ada juga seorang guru ASN mengajak ku
sarapan pagi. Setelah beberapa waktu ia pun membuka obrolan, kurang lebih
begini:
“Saya sangat pusing menjadi guru. Beban
kerjanya sangat banyak. Selain itu, mereka pun diajar susah masuknya, tidak
juga berubah-rubah. Apalagi saat sekarang ini, setiap guru harus melek IT. Saya
sungguh tidak kuat, dan rencana ingin pindah kerja di pemda atau di perkantoran”.
Hari berikutnya saya pun kedatangan pegawai
di dinas Pendidikan, ia berkata kurang lebih begini:
“Saya melihat guru-guru ketika masuk ke
sekolah-sekolah, rasanya saya ingin menjadi mereka, bisa mengajar anak-anak dan
mencerdaskan mereka menjadi generasi emas. Hati saya sebenarnya menangis, ilmu
kami benar-benar tidak berguna, tidak bisa disalurkan dan sudah tidak lagi
membaca seperti dulu. Saya sudah disibukan dengan administrasi, laporan
keuangan dan sejenisnya. Jika salah sedikit saja, saya kena bentak kepala
dinas, dan kadang juga kena bentak bupati. Sudah di kantor kena bentak, di
rumah pun kena bentak istri”.
Suatu hari saya membeli batagor bersama
anak-anak di pinggir jalan, sambil menunggu, penjual batagor pun menghayalkan
hidupnya, begini khayalannya:
“Enak ya jadi pejabat, kemana-mana badan
sudah bersih, bau nya harum, rambutnya mengkilat, bajunya rapi, dan lebih enak
lagi setiap bulan sudah mendapat gaji. Kalau saya jadi mereka sungguh sangat
beruntung, tidak perlu pagi-pagi sebelum subuh bangun dan cepat-cepat pergi ke
dapur menyiapkan semua perlengkapan jualan”.
Mungkin dari beberapa kisah di atas, yang
agak menarik perhatianku adalah nasehat orang tua kepada anak nya untuk mencari
pekerjaan dan segera menikah. Namun sang anak mengatakan demikian:
“Untuk apa bekerja ayah. Apa sih bekerja
itu? Ujung-ujungnya mendapatkan duit, duit untuk apa? Buat rumah, dan rumah itu
akan hancur juga. Lalu duit buat apa lagi? Untuk kuliah, ujung-ujungnya juga
mencari makan. Apapun yang kita makan juga ujung-ujungnya masuk ke dalam WC. Lalu
ayah dan ibu menyuruhku menikah, apa sih menikah? Paling cuma itu-itu saja,
buat anak, ngasih makan, remaja, besar, kerja, mati. Ngapain serius betul
memerintah saya untuk kerja dan menikah. Dunia ini hanya permainan dan sendau
gurau”.
Lalu ia pun pergi entah kemana.
Ayah dan ibu nya saling berpandangan
mendengar jawabannya. Ketika sang ibu bertanya kepada suaminya atas tingkah
laku anaknya yang “nyleneh”, sang bapak pun menjawab dengan enteng;” Tak
usah dipikirkan serius tingkah laku anak kita, lagian ia pun hasil produk dari
permainan dan sendau gurau kok”.
Dunia memang begitu, permainan dan sendau gurau. Meskipun demikian ia terkadang melahirkan kebimbangan atas permainan dan sendau gurau tersebut. Itulah hidup yang kita alami sekarang ini.
Hidup ini penuh dengan kelucuan. Seperti seorang tukang masak
atau chef. Ia sangat serius mendesain sepotong daging atau sepotong kueh dengan
tekstur kelenturan dan rasa ala internasional, lalu ia meramu bumbu dan
mendatangkan bumbu dari luarnegeri dengan campuran anggur kelas dunia. Setelah di
desain dan sudah jadi makanan tersebut, lalu di taruh di lambar atau piring
kecil. Maka, sang tamu datang dan makan daging yang katanya seluruh ramuannya
berasal dari luar negeri. Sang tamu puas dan merasa bagian dari keluarga kelas
menengah ke atas.
Bayangkan, hanya untuk makan satu potong
daging sebesar kepal tangan anak kecil harus menghabiskan jutaan rupiah. Padahal,
tentang persoalan rasa hanya sebatas hanyalan belaka dan ukuran-ukuran standar
rasa pun hanya ilusi semata untuk memperlihatkan dirinya berbeda dari orang
lain.
Namun begitulah kehidupan. Kita sebenarnya kumpulan
orang-orang yang bimbang pada sisi tertentu dan kadang bingung mendesain segala
sesuatu menjadi hal-hal yang menyakinkan. Kita bisa jadi bimbang terhadap
pasangan hidup kita, bimbang tentang masa depan anak-anaknya, bahkan juga
bimbang terhadap masa depan kita sendiri. Semua hidup dalam kebimbangan, bahkan
para pendakwah yang berapi-api juga sering terkena penyakit bimbang tentang apa
yang disampaikan apakah benar-benar karena Allah atau keuntungan dunia.
Ketika kebimbangan terjadi, maka yang perlu
dilakukan pada diri sendiri adalah niatkan semua aktivitas dan pekerjaan untuk
mencari ridha Allah swt. Seperti apa hasilnya dan apakah ada pengakuannya di
kehidupan dunia ini, paling tidak kita pernah mewarnai perjalanan dunia ini
dengan catatan-catatan kebaikan. Abaikan saja kebimbangan dengan terus berbuat
untuk mengabdi kepada-Nya. Jika makhluk tidak mengakui karya anda, maka tidak
perlu bimbang tentang segi manfaat atau tidak dalam kehidupan ini, sebab semua
karya di dunia ini sebenarnya bukan untuk manusia, tapi hanya untuk Allah swt. Itu
sebenarnya bagian dari firman Allah,”Saya tidak menciptakan jin dan manusia
tiada lain untuk beribadah kepada-Nya”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876