Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Saat Kebimbangan Datang Menyerang Anda



Senin , 08 Juli 2024



Telah dibaca :  611

Pada saat tertentu, anda pernah mengalami kebimbangan dalam melihat sesuatu yang ada pada diri sendiri baik persoalan pasangan hidup, karir, pertemanan, bahkan sampai pada persoalan kebutuhan sehari-hari seperti makan-minum, minum obat saat sakit, dan lain-lain. Kebimbangan muncul karena ada proses berfikir pada diri manusia yang mempertanyakan hakikat sesuatu dan manfaat dari sesuatu tersebut.

Ada seorang penulis sangat produktif menulis tentang beragam ilmu. Ia merasa pada mulanya apa yang ia tulis memberi manfaat kepada orang lain dan sekaligus memberi konstribusi dalam suatu perubahan dunia semakin baik. Namun, suatu hari ia mengalami kejenuhan. Pada kondisi seperti itu ia pun berkata dalam hati, begini kira-kira kalimatnya:

“Untuk apa sebenarnya saya menulis, apa sih manfaatnya. Setiap hari saya menulis, di sebelah sana sudah ada ribuan buku, puluhan ribu karya ilmiah, ratusan ribu opini lahir setiap bulannya. Untuk apa saya menulis, dunia tetap seperti ini juga, kejahatan tetap dimana-mana, perselingkuhan semakin marak, minuman keras semakin canggih, pejabat dan penjahat semakin sulit dibedakan, pergaulan bebas sudah tanpa batas, kemaksiatan di dunia maya semakin tidak terkendali…buat apa saya menulis tentang moral, etika dan pesan-pesan agama, toh kadang yang melanggar moral juga orang-orang yang dianggap bersih dan suci ”.

Kebimbangan juga terjadi pada seseorang yang sudah berumah tangga cukup lama, ia mengatakan kurang lebih begini:

“Saya pikir menikah itu enak, ternyata itu hanya terjadi di malam pertama dan kedua pernikahanku. Setelah masuk lebih dalam dalam lautan rumah tangga, saya baru tahu bahwa di dalamnya ada biawak, monyet, ikan buntal, batu, kerikil dan limbah-limbah yang hampir saja aku tidak bisa bernafas. Saya baru tahu, bahwa perkawinan bukan hanya berisi senyum simpul kemesraan Pangeran Salju dan Putri Cinderalela atau Kisah Rama dan Sinta, tapi sering terjadi dalam kenyataan adalah kisah Rahwana yang emosional, suka marah, bentak-bentak pasangannya, nempeleng. Saya kadang juga melihat pasangan ku laksana Saparnaka seorang Perempuan yang sulit dinasehati tapi suka menasehati, marah-marah, ingin menang sendiri”.

Ada juga seorang guru ASN mengajak ku sarapan pagi. Setelah beberapa waktu ia pun membuka obrolan, kurang lebih begini:

“Saya sangat pusing menjadi guru. Beban kerjanya sangat banyak. Selain itu, mereka pun diajar susah masuknya, tidak juga berubah-rubah. Apalagi saat sekarang ini, setiap guru harus melek IT. Saya sungguh tidak kuat, dan rencana ingin pindah kerja di pemda atau di perkantoran”.

Hari berikutnya saya pun kedatangan pegawai di dinas Pendidikan, ia berkata kurang lebih begini:

“Saya melihat guru-guru ketika masuk ke sekolah-sekolah, rasanya saya ingin menjadi mereka, bisa mengajar anak-anak dan mencerdaskan mereka menjadi generasi emas. Hati saya sebenarnya menangis, ilmu kami benar-benar tidak berguna, tidak bisa disalurkan dan sudah tidak lagi membaca seperti dulu. Saya sudah disibukan dengan administrasi, laporan keuangan dan sejenisnya. Jika salah sedikit saja, saya kena bentak kepala dinas, dan kadang juga kena bentak bupati. Sudah di kantor kena bentak, di rumah pun kena bentak istri”.

Suatu hari saya membeli batagor bersama anak-anak di pinggir jalan, sambil menunggu, penjual batagor pun menghayalkan hidupnya, begini khayalannya:

“Enak ya jadi pejabat, kemana-mana badan sudah bersih, bau nya harum, rambutnya mengkilat, bajunya rapi, dan lebih enak lagi setiap bulan sudah mendapat gaji. Kalau saya jadi mereka sungguh sangat beruntung, tidak perlu pagi-pagi sebelum subuh bangun dan cepat-cepat pergi ke dapur menyiapkan semua perlengkapan jualan”.

Mungkin dari beberapa kisah di atas, yang agak menarik perhatianku adalah nasehat orang tua kepada anak nya untuk mencari pekerjaan dan segera menikah. Namun sang anak mengatakan demikian:

“Untuk apa bekerja ayah. Apa sih bekerja itu? Ujung-ujungnya mendapatkan duit, duit untuk apa? Buat rumah, dan rumah itu akan hancur juga. Lalu duit buat apa lagi? Untuk kuliah, ujung-ujungnya juga mencari makan. Apapun yang kita makan juga ujung-ujungnya masuk ke dalam WC. Lalu ayah dan ibu menyuruhku menikah, apa sih menikah? Paling cuma itu-itu saja, buat anak, ngasih makan, remaja, besar, kerja, mati. Ngapain serius betul memerintah saya untuk kerja dan menikah. Dunia ini hanya permainan dan sendau gurau”.

Lalu ia pun pergi entah kemana.

Ayah dan ibu nya saling berpandangan mendengar jawabannya. Ketika sang ibu bertanya kepada suaminya atas tingkah laku anaknya yang “nyleneh”, sang bapak pun menjawab dengan enteng;” Tak usah dipikirkan serius tingkah laku anak kita, lagian ia pun hasil produk dari permainan dan sendau gurau kok”.

Dunia memang begitu, permainan dan sendau gurau. Meskipun demikian ia  terkadang melahirkan kebimbangan atas permainan dan sendau gurau tersebut. Itulah hidup yang kita alami sekarang ini.

Hidup ini penuh dengan kelucuan. Seperti seorang tukang masak atau chef. Ia sangat serius mendesain sepotong daging atau sepotong kueh dengan tekstur kelenturan dan rasa ala internasional, lalu ia meramu bumbu dan mendatangkan bumbu dari luarnegeri dengan campuran anggur kelas dunia. Setelah di desain dan sudah jadi makanan tersebut, lalu di taruh di lambar atau piring kecil. Maka, sang tamu datang dan makan daging yang katanya seluruh ramuannya berasal dari luar negeri. Sang tamu puas dan merasa bagian dari keluarga kelas menengah ke atas.

Bayangkan, hanya untuk makan satu potong daging sebesar kepal tangan anak kecil harus menghabiskan jutaan rupiah. Padahal, tentang persoalan rasa hanya sebatas hanyalan belaka dan ukuran-ukuran standar rasa pun hanya ilusi semata untuk memperlihatkan dirinya berbeda dari orang lain.

Namun begitulah kehidupan. Kita sebenarnya kumpulan orang-orang yang bimbang pada sisi tertentu dan kadang bingung mendesain segala sesuatu menjadi hal-hal yang menyakinkan. Kita bisa jadi bimbang terhadap pasangan hidup kita, bimbang tentang masa depan anak-anaknya, bahkan juga bimbang terhadap masa depan kita sendiri. Semua hidup dalam kebimbangan, bahkan para pendakwah yang berapi-api juga sering terkena penyakit bimbang tentang apa yang disampaikan apakah benar-benar karena Allah atau keuntungan dunia.

Ketika kebimbangan terjadi, maka yang perlu dilakukan pada diri sendiri adalah niatkan semua aktivitas dan pekerjaan untuk mencari ridha Allah swt. Seperti apa hasilnya dan apakah ada pengakuannya di kehidupan dunia ini, paling tidak kita pernah mewarnai perjalanan dunia ini dengan catatan-catatan kebaikan. Abaikan saja kebimbangan dengan terus berbuat untuk mengabdi kepada-Nya. Jika makhluk tidak mengakui karya anda, maka tidak perlu bimbang tentang segi manfaat atau tidak dalam kehidupan ini, sebab semua karya di dunia ini sebenarnya bukan untuk manusia, tapi hanya untuk Allah swt. Itu sebenarnya bagian dari firman Allah,”Saya tidak menciptakan jin dan manusia tiada lain untuk beribadah kepada-Nya”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876