
Sebenarnya makna kesempurnaan bagi makhluk
tidak ada. Bisa saja kata “kesempurnaan” digunakan dalam rangka menempatkan
manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah yang kedudukan-Nya sebagai
Khaliq. Dari sini kemudian kita bisa mengatakan bahwa semua ciptaan Allah
sempurna. Apapun ciptaan-Nya sempurna. Tidak ada ciptaan Allah yang tidak
sempurna. Semua sempurna.
Berbeda ketika kata “sempurna” digunakan
untuk sama-sama statusnya sebagai manusia. Kata “kesempurnaan” menjadi tidak
ada. Hilang. Sebab hakikat manusia adalah ke-fana-an. Sedangkan kesempurnaan
adalah sesuatu yang kekal abadi. Itu sebabnya, ketika saya dan anda melihat
orang lain dengan segala kelebihannya, maka sangat indah sekali anda
mengucapkan “subhanallah”. Artinya anda melihat kesempurnaan makhluk itu di
bawah standar kesempurnaan Sang Pencipta. Sebab tidak ada yang lebih sempurna selain
Allah swt. Ketika statusnya dibawah standar Sang Pencipta, hakikatnya manusia
dilihat oleh manusia lain tidak ada kesempurnaan. Setiap manusia ada kelebihan
dan kelemahan.
Anda mungkin melihat kelebihan seorang
pemimpin seperti Soekarno. Dulu, sebelum kemerdekaan RI, para tokoh melihat
sosok manusia perfect hanya ada pada diri Soekarno. Ia ahli Bahasa, orator
ulung. Berjam-berjam orang mampu berdiri hanya ingin mendengar pidatonya. Ia
juga intelektual, politisi, dan juga sangat dekat dengan para ulama dan
cendekiawan muslim pada masa nya. Apalagi wajah yang tampan dan penampilannya
selalu membawa kesan positif, semua orang melihatnya senang. Ia sangat karismatik.
Bangsa ini percaya, dibawah kekuasaannya Indonesia akan jaya.
Pasangan Soekarno-hatta tidak seindah apa
yang dibayangkan oleh presepsi bangsa Indonesia. ia hadir sebagai pemimpin yang
ada plus-minusnya. Sejarah telah mengabadikannya. Ia turun dari jabatannya dengan
cara yang sangat menyedihkan. Persoalan politik sangat sulit dicerna dengan “segepok”
ilmu pengetahuan.
Datang selanjutnya, ada Soeharto. Ia
pendiam. Jarang menggunakan bahasa Inggris. Lebih sering menggunakan bahasa Indonesia
dan Jawa. Bahkan ia sangat pandai sekali menjabarkan filosofis huruf-huruf aksara Jawa kaitannya dengan “sangkan
paraning dumadi”. Ia presiden yang low profil, murah senyum dan
sedikit bicara. Namun kedipan matanya mampu menggerakan ribuan tentara untuk
perang. Ketika ia “berdehem” atau wajah nya terlihat “kurang berkenan”
terhadap sesuatu, maka orang-orang disekitarnya mampu menterjemahkan dan
mengeksekusi keinginan nya.
Saat di masa tuanya, Soeharto di paksa
turun dari jabatan presiden. Ia “lengser keprabon” saat Indonesia krisis
moneter dan berimbas pada krisis multidimensi.
Sejarah telah menyanjung kehebatan dan
kelebihan Gus Dur, Megawati, SBY dan Jokowi. Sejarah juga telah mencatat
berbagai ungkapan, maki-makian, dan hinaan kepada para kepala negara pada masa
nya. Sanjungan setinggi langit kadang berubah menjadi cacian tanpa lagi
menghiraukan etika dan moralitas. Ironisnya justru sebagian para pencaci maki
adalah orang-orang yang dulunya adalah para pengagumnya.
Calon Pemimpin anda saat sekarang ini bukan
seorang nabi dan seorang sahabat nabi. Calon Pemimpin anda saat sekarang ini
bukan jenis pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz. Calon Pemimpin anda saat
sekarang ini adalah orang-orang yang tidak terlalu jauh melalui kehidupan
sebagaimana yang anda rasakan. Ia memegang HP, makan di kedai kopi, punya whatsSapp,
FB, Instagram, youtube, tidur di hotel, sholat di masjid, matanya sudah melihat
seisi berita di media sosial dari yang bersifat dhohiran dan batinan.
Calon pemimpin anda juga agak-agak seperti
anda, pernah melakukan perjalanan dinas dan mengambil bagian yang bukan pada
hak nya, memanupulasi kwitansi pembelian barang, jalan-jalan di tempat hiburan,
narsis, selfi dan sejenisnya.
Anda dan calon pemimpin anda sama-sama
perutnya masuk makanan yang tidak jelas statusnya, pernah merasakan enaknya
makanan yang bahan penyedapnya tidak jelas statusnya, merasakan makanan yang
tidak habis dimakan lalu dibuang begitu saja. Calon pemimpin anda benar-benar
tidak jauh berbeda dengan posisi anda saat sekarang ini.
Calon pemimpin anda sekarang ini telah
menikmati air hujan buatan yang biayanya berasal dari anda dan masyarakat
seperti anda dan dari pajak segala jenis pajak. Calon pemimpin anda dan juga
mungkin anda sendiri juga telah menikmati air jernih yang sebenarnya hasil
proses penyulingan yang berasal dari air asin dari laut atau malah dari limbah,
lalu berubah menjadi air siap saji untuk diminum.
Apa artinya? Ternyata calon pemimpin dan
yang dipimpin sebenarnya orang-orang yang
sedang berproses untuk mengenal diri sendiri. Masih belajar. Belum paripurna. Ketika
anda menilai bahwa calon pemimpin anda adalah orang terbaik lahir dan batin
sebenarnya penilaian subyektif anda. Sama subyektifnya dengan pesaing anda. Pada
tataran ini sebenarnya anda dan para pesaing anda tidak perlu terlalu
mengagung-ngagungkan calon pemimpin anda. Penulis khawatir, anda dan kita akan
mengalami suatu kekecewaan. Sebesar cinta kita kepada seseorang akan datang
suatu masa sebesar itu kebencian kita kepada orang yang kita cintai.
Mari kita jalankan konstestasi pesta
demokrasi dengan santun, bijak dan penuh dengan nilai-nilai kemulyaan. Seandainya
toh cita-cita anda belum terwujud, setidaknya anda telah menyumbangkan
pemikiran, ucapan dan perilaku yang mulia. Justru disini sebenarnya hakikat
kemenangan. Sebab kemenangan sejati yaitu mampu menginspirasi kebaikan kepada
orang lain, meskipun tidak menjadi pejabat sekalipun.
Penulis : Imam Ghozali
Saifunnajar
Kemenangan sejati adalah mampu menginspirasi orang lain dengan kelebihan apapun anda. Ini poinnya bagi saya. Saya jadi teringat ada ayat, jika orang jahil berkata, maka katakan ucapan yang menyalamatkan dia. Maka sebaiknya dalam hidup ini adalah pemberi solusi dari kegelapan.
Admin
iya pak dosen, terima kasih.
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1076
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   642
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   824
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   801
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   931
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13820
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4868
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3863
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3272