Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Saat Melihat Diri Sempurna, Melihat Orang Lain Serba Kekurangan



Sabtu , 09 November 2024



Telah dibaca :  710

Sebenarnya makna kesempurnaan bagi makhluk tidak ada. Bisa saja kata “kesempurnaan” digunakan dalam rangka menempatkan manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah yang kedudukan-Nya sebagai Khaliq. Dari sini kemudian kita bisa mengatakan bahwa semua ciptaan Allah sempurna. Apapun ciptaan-Nya sempurna. Tidak ada ciptaan Allah yang tidak sempurna. Semua sempurna.

Berbeda ketika kata “sempurna” digunakan untuk sama-sama statusnya sebagai manusia. Kata “kesempurnaan” menjadi tidak ada. Hilang. Sebab hakikat manusia adalah ke-fana-an. Sedangkan kesempurnaan adalah sesuatu yang kekal abadi. Itu sebabnya, ketika saya dan anda melihat orang lain dengan segala kelebihannya, maka sangat indah sekali anda mengucapkan “subhanallah”. Artinya anda melihat kesempurnaan makhluk itu di bawah standar kesempurnaan Sang Pencipta. Sebab tidak ada yang lebih sempurna selain Allah swt. Ketika statusnya dibawah standar Sang Pencipta, hakikatnya manusia dilihat oleh manusia lain tidak ada kesempurnaan. Setiap manusia ada kelebihan dan kelemahan.

Anda mungkin melihat kelebihan seorang pemimpin seperti Soekarno. Dulu, sebelum kemerdekaan RI, para tokoh melihat sosok manusia perfect hanya ada pada diri Soekarno. Ia ahli Bahasa, orator ulung. Berjam-berjam orang mampu berdiri hanya ingin mendengar pidatonya. Ia juga intelektual, politisi, dan juga sangat dekat dengan para ulama dan cendekiawan muslim pada masa nya. Apalagi wajah yang tampan dan penampilannya selalu membawa kesan positif, semua orang melihatnya senang. Ia sangat karismatik. Bangsa ini percaya, dibawah kekuasaannya Indonesia akan jaya.

Pasangan Soekarno-hatta tidak seindah apa yang dibayangkan oleh presepsi bangsa Indonesia. ia hadir sebagai pemimpin yang ada plus-minusnya. Sejarah telah mengabadikannya. Ia turun dari jabatannya dengan cara yang sangat menyedihkan. Persoalan politik sangat sulit dicerna dengan “segepok” ilmu pengetahuan.

Datang selanjutnya, ada Soeharto. Ia pendiam. Jarang menggunakan bahasa Inggris. Lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Bahkan ia sangat pandai sekali menjabarkan filosofis  huruf-huruf aksara Jawa kaitannya dengan “sangkan paraning dumadi”. Ia presiden yang low profil, murah senyum dan sedikit bicara. Namun kedipan matanya mampu menggerakan ribuan tentara untuk perang. Ketika ia “berdehem” atau wajah nya terlihat “kurang berkenan” terhadap sesuatu, maka orang-orang disekitarnya mampu menterjemahkan dan mengeksekusi keinginan nya.

Saat di masa tuanya, Soeharto di paksa turun dari jabatan presiden. Ia “lengser keprabon” saat Indonesia krisis moneter dan berimbas pada krisis multidimensi.

Sejarah telah menyanjung kehebatan dan kelebihan Gus Dur, Megawati, SBY dan Jokowi. Sejarah juga telah mencatat berbagai ungkapan, maki-makian, dan hinaan kepada para kepala negara pada masa nya. Sanjungan setinggi langit kadang berubah menjadi cacian tanpa lagi menghiraukan etika dan moralitas. Ironisnya justru sebagian para pencaci maki adalah orang-orang yang dulunya adalah para pengagumnya.

Calon Pemimpin anda saat sekarang ini bukan seorang nabi dan seorang sahabat nabi. Calon Pemimpin anda saat sekarang ini bukan jenis pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz. Calon Pemimpin anda saat sekarang ini adalah orang-orang yang tidak terlalu jauh melalui kehidupan sebagaimana yang anda rasakan. Ia memegang HP, makan di kedai kopi, punya whatsSapp, FB, Instagram, youtube, tidur di hotel, sholat di masjid, matanya sudah melihat seisi berita di media sosial dari yang bersifat dhohiran dan batinan.

Calon pemimpin anda juga agak-agak seperti anda, pernah melakukan perjalanan dinas dan mengambil bagian yang bukan pada hak nya, memanupulasi kwitansi pembelian barang, jalan-jalan di tempat hiburan, narsis, selfi dan sejenisnya.

Anda dan calon pemimpin anda sama-sama perutnya masuk makanan yang tidak jelas statusnya, pernah merasakan enaknya makanan yang bahan penyedapnya tidak jelas statusnya, merasakan makanan yang tidak habis dimakan lalu dibuang begitu saja. Calon pemimpin anda benar-benar tidak jauh berbeda dengan posisi anda saat sekarang ini.

Calon pemimpin anda sekarang ini telah menikmati air hujan buatan yang biayanya berasal dari anda dan masyarakat seperti anda dan dari pajak segala jenis pajak. Calon pemimpin anda dan juga mungkin anda sendiri juga telah menikmati air jernih yang sebenarnya hasil proses penyulingan yang berasal dari air asin dari laut atau malah dari limbah, lalu berubah menjadi air siap saji untuk diminum.

Apa artinya? Ternyata calon pemimpin dan yang dipimpin  sebenarnya orang-orang yang sedang berproses untuk mengenal diri sendiri. Masih belajar. Belum paripurna. Ketika anda menilai bahwa calon pemimpin anda adalah orang terbaik lahir dan batin sebenarnya penilaian subyektif anda. Sama subyektifnya dengan pesaing anda. Pada tataran ini sebenarnya anda dan para pesaing anda tidak perlu terlalu mengagung-ngagungkan calon pemimpin anda. Penulis khawatir, anda dan kita akan mengalami suatu kekecewaan. Sebesar cinta kita kepada seseorang akan datang suatu masa sebesar itu kebencian kita kepada orang yang kita cintai.

Mari kita jalankan konstestasi pesta demokrasi dengan santun, bijak dan penuh dengan nilai-nilai kemulyaan. Seandainya toh cita-cita anda belum terwujud, setidaknya anda telah menyumbangkan pemikiran, ucapan dan perilaku yang mulia. Justru disini sebenarnya hakikat kemenangan. Sebab kemenangan sejati yaitu mampu menginspirasi kebaikan kepada orang lain, meskipun tidak menjadi pejabat sekalipun.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Saifunnajar

Kemenangan sejati adalah mampu menginspirasi orang lain dengan kelebihan apapun anda. Ini poinnya bagi saya. Saya jadi teringat ada ayat, jika orang jahil berkata, maka katakan ucapan yang menyalamatkan dia. Maka sebaiknya dalam hidup ini adalah pemberi solusi dari kegelapan.

Admin

iya pak dosen, terima kasih.

Avatar

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1076

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   642

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   824

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   801

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   931

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13820


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4868


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3272