
Beberapa waktu lalu saya berkumpul dengan
para kyai dan calon-calon ulama di sebuah majelis ilmu. Diantara diskusi
tentang siapa tokoh yang bisa menjadi panutan masyarakat. Saya menjawab: “Kyai
Saerozi!!!”.
Entah gimana ceritanya, mereka pun
menyetujui pendapat ku. Entah kenapa? Apa karena pengetahuan ku masih awam di
antara mereka tentang ilmu-ilmu rasa, ilmu etika, dan ilmu ruhaniah, sehingga
mereka pun secara aklamasi menyetujui pendapatku agar bisa menghibur diriku. Apakah
juga karena mukasafah mereka melihat rahasia-rahasia ruhaniah sehingga langsung
menyetujui pendapatku. Walllahu a’lam. Mereka kemudian membicarakan kepribadian
kyai saerozi sebatas yang mereka tahu. Tentu tidak sepenuhnya benar. Seperti melihat
suatu benda akan berbeda bentuk nya dari sudut pandangan yang berbeda.
Para kyai dan calon ulama memberi syarah
atau penjelasan tentang pribadi Kyai Saerozi sebagai tokoh agama yang menjadi
panutan masyarakat.
Paimin mengatakan begini:
“Kyai Saerozi tidak pernah membicarakan aib
orang lain. Sepanjang saya bertahun-tahun berkumpul dengannya, dia tidak pernah
membahas aib siapapun. Ia pendiam. Jika diajak bicara, ia lebih suka membahas
kesukaannya yaitu mancing di Sungai saat selesai mulang (ngajar)
para santri di Pesantren nya”.
Utsman mengatakan begini:
“Pengalaman ku dengannya adalah adalah tipe
kyai tidak menghiraukan persoalan dunia. Bukan tipe kyai mata duitan, materi,
tidak gila harta. Malah sebaliknya, dia tipe kyai serba kekurangan dunia. Tapi
saat punya harta benda, sering diberikan kepada orang lain. Itu pengalaman ku.
Setiap jumpa dengan ku, pasti dia selalu menyisipkan duit lima puluh atau
ratusan ribu ke saku ku”.
Ali mengatakan begini:
“Zaman saiki susah mencari kyai
seperti dia. Mungkin ilmu syariatnya tidak begitu istimewa sama seperti yang
lain. Tapi pancaran ketulusan mengabdi kepada masyarakat sangat terasa dari auranya. Saya kira ketulusan ini yang
menyebabkan orang sangat mencintainya. Meskipun ada juga sebagian orang tidak
menyukainya. Tetapi hebatnya, ia tidak memperdulikan para pembencinya. Ia
selalu mengatakan;”Tidak pernah saya gubris, saya pasrahkan kepada Allah”.
Umar mengatakan begini:
“Kyai Saerozi tipe kyai yang tidak suka
urusan dengan politik praktis. Tidak suka dukung mendukung pasangan calon
tertentu baik pada konstestasi eksekutif maupun legislatif. Setiap tamu datang
dan meminta doa kepadanya, ia selalu memberi doa kebaikan. Jika ia datang
kepada seorang pejabat disebabkan karena ia diundang, maka datang. Ketika ada
kesulitan persoalan operasional pesantren, ia pun tidak mengeluh kepada pejabat.
Ia bisa menyelesaikan dengan caranya”.
Paijo mengatakan begini:
“Kyai Saerozi mempunyai semangat mengajar. Ia
tipe seorang kyai kuno. Ia tidak memperdulikan apakah para murid, santri atau
mahasiswa paham apa yang ia sampaikan. Baginya tidak penting. ia lebih
menekankan pada perubahan etika pada muridnya, bukan pada perubahan ilmu
pengetahuan. Sehingga peserta didik yang memahami hal tersebut benar-benar
memprakterkan nilai-nilai moral pada kehidupan sehari-hari”.
Ahmad mengatakan demikian :
“Saat ia dibaiat menjadi khalifah
thariqah, demam. Ia bukan senang mendapat amanah tersebut. Ia takut membawa
beban berat tersebut. Namun dalam kesedihan menerima jabatan tersebut, ia tetap
melaksanakan dengan baik dan semata-mata mencari ridha ku”.
Ketika sebagian mereka tanya pengalamanku
dengan kyai saerozi, saya pun menceritakan begini:
“Setiap dia ke Selatpanjang untuk keperluan
menjadi dosen di STAI Nurul Hidayah, sangat sering saya menjemputnya dan
membawa ke rumah ku. Selama dua atau tiga hari ia tidur di rumah ku. Di rumah
bagian depan atau balai, yang tidak ada meja dan kursi (karena memang sengaja
tidak beli meja dan kursi. Rumah kayu terlihat longgar jika lantai disediakan
karpet. Bisa leseh-leseh). Saya menyiapkan tilam tipis dan satu bantal. Pagi
sarapan apa adanya. Teh manis dan gorengan pisang atau ubi. Siang atau malam
hari, biasanya istriku masak sayur bening atau oseng-oseng kangkung.
Lauk sering tempe dan tahu, kadang diselingi ikan. Namun kadang saya sendiri
suka membuatkan sambal telor yang modelnya dioseng dan diratakan
sehingga bumbu campur menyatu. Terasa sangat enak”.
Hari Rabu tanggal 04 September 2024, Istri
Kyai Saerozi mengirim pesan lewat WA isinya begini: “Pak Saerozi sakit, mohon
doa supaya lekas sembuh”. Pesan WA nya saya baca dan belum saya balas. Tapi hati
tetap mengamininya. Hari sabtu saya tanya kepadanya: “Sakit apa”. Istrinya menjawab:
“sakit cacar”. Hari minggu tanggal 15 September 2024 istrinya mengirim pesan
WA: “Pak Saerozi di rujuk ke RSUD Meranti”. Lagi-lagi saya hanya membaca dan
tidak membalas.
Senin pagi sekitar jam 07.00 saya ke rumah
sakit dan menemui istrinya. Ada dua santri yang menemaninya. Saya pun bertanya
kepada istrinya:
“Kondisinya bagaimana buk?”
Istrinya menjawab:
“Sudah ada perubahan. Mulai membaik. Insya Allah
sudah sembuh. Hari ini sudah bisa keluar dari ruang ICU dan sudah bisa dipindah
ke ruang lain. Mudah-mudahan tidak lama bisa di bawa pulang”.
Sekitar 30 menit kami mengobrol. Tidak ada
tanda-tanda yang menghawatirkan. Hanya memang ibu nya terlihat sangat letih. Mungkin
karena faktor usia dan pikiran.
Saya ingin menjenguk ke ruangan ICU. Tapi harus
memakai masker. Istrinya memberi masker. Saya tanya berapa jumlah masker,
katanya cuma satu. Jadi saya tidak jadi memakai masker. Saya kira istrinya lebih
berhak untuk memakai masker dan melihat suaminya yang berada di ruangan ICU. Hanya
hanya bisa melihat melalui jendela. Tidak bisa melihat pasiennya. Tertutup dinding
plastik berwarna putih tulang. Para petugas pun masih sibuk membersihkan lantai
ruang ICU. Saya pun duduk Kembali. Setelah beberapa menit kemudian, saya
permisi. Ada tugas yang harus dikerjakan. Rencana siang hari atau sore hari ke
rumah sakit lagi. Namun karena satu hari saya ada kegiatan cukup padat, saya
pun lupa dan setelah sholat Isa saya langsung tidur. Badan terasa sangat letih.
Menjelang subuh saya bangun. Saya melihat
jam di WA. Jam 04.35. ada 7 panggilan tidak terjawab. 5 panggilan dari Kyai
Mungidan Al-Hafidz, 2 panggilan dari pak guru Abdullah yang sekarang telah
bekerja di Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Meranti. Saya tidak menelpon
balik. Rencana ingin menelpon setelah agak siang. Namun ketika melihat WA, ada berita
bahwa kyai Saerozi meninggal dunia.
Penulis : Imam Ghozali
???? Notification; Transaction №HL32. LOG IN => ht
foqhpt
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875