Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Saerozi Tanjung Samak; Kyai Rendah Hati Telah Pergi Selamanya



Selasa , 10 September 2024



Telah dibaca :  1024

Beberapa waktu lalu saya berkumpul dengan para kyai dan calon-calon ulama di sebuah majelis ilmu. Diantara diskusi tentang siapa tokoh yang bisa menjadi panutan masyarakat. Saya menjawab: “Kyai Saerozi!!!”.

Entah gimana ceritanya, mereka pun menyetujui pendapat ku. Entah kenapa? Apa karena pengetahuan ku masih awam di antara mereka tentang ilmu-ilmu rasa, ilmu etika, dan ilmu ruhaniah, sehingga mereka pun secara aklamasi menyetujui pendapatku agar bisa menghibur diriku. Apakah juga karena mukasafah mereka melihat rahasia-rahasia ruhaniah sehingga langsung menyetujui pendapatku. Walllahu a’lam. Mereka kemudian membicarakan kepribadian kyai saerozi sebatas yang mereka tahu. Tentu tidak sepenuhnya benar. Seperti melihat suatu benda akan berbeda bentuk nya dari sudut pandangan yang berbeda.

Para kyai dan calon ulama memberi syarah atau penjelasan tentang pribadi Kyai Saerozi sebagai tokoh agama yang menjadi panutan masyarakat.

Paimin  mengatakan begini:

“Kyai Saerozi tidak pernah membicarakan aib orang lain. Sepanjang saya bertahun-tahun berkumpul dengannya, dia tidak pernah membahas aib siapapun. Ia pendiam. Jika diajak bicara, ia lebih suka membahas kesukaannya yaitu mancing di Sungai saat selesai mulang (ngajar) para santri di Pesantren nya”.

Utsman  mengatakan begini:

“Pengalaman ku dengannya adalah adalah tipe kyai tidak menghiraukan persoalan dunia. Bukan tipe kyai mata duitan, materi, tidak gila harta. Malah sebaliknya, dia tipe kyai serba kekurangan dunia. Tapi saat punya harta benda, sering diberikan kepada orang lain. Itu pengalaman ku. Setiap jumpa dengan ku, pasti dia selalu menyisipkan duit lima puluh atau ratusan ribu ke saku ku”.

Ali mengatakan begini:

Zaman saiki susah mencari kyai seperti dia. Mungkin ilmu syariatnya tidak begitu istimewa sama seperti yang lain. Tapi pancaran ketulusan mengabdi kepada masyarakat sangat terasa  dari auranya. Saya kira ketulusan ini yang menyebabkan orang sangat mencintainya. Meskipun ada juga sebagian orang tidak menyukainya. Tetapi hebatnya, ia tidak memperdulikan para pembencinya. Ia selalu mengatakan;”Tidak pernah saya gubris, saya pasrahkan kepada Allah”.

Umar  mengatakan begini:

“Kyai Saerozi tipe kyai yang tidak suka urusan dengan politik praktis. Tidak suka dukung mendukung pasangan calon tertentu baik pada konstestasi eksekutif maupun legislatif. Setiap tamu datang dan meminta doa kepadanya, ia selalu memberi doa kebaikan. Jika ia datang kepada seorang pejabat disebabkan karena ia diundang, maka datang. Ketika ada kesulitan persoalan operasional pesantren, ia pun tidak mengeluh kepada pejabat. Ia bisa menyelesaikan dengan caranya”.

Paijo mengatakan begini:

“Kyai Saerozi mempunyai semangat mengajar. Ia tipe seorang kyai kuno. Ia tidak memperdulikan apakah para murid, santri atau mahasiswa paham apa yang ia sampaikan. Baginya tidak penting. ia lebih menekankan pada perubahan etika pada muridnya, bukan pada perubahan ilmu pengetahuan. Sehingga peserta didik yang memahami hal tersebut benar-benar memprakterkan nilai-nilai moral pada kehidupan sehari-hari”.

Ahmad mengatakan demikian :

“Saat ia dibaiat menjadi khalifah thariqah, demam. Ia bukan senang mendapat amanah tersebut. Ia takut membawa beban berat tersebut. Namun dalam kesedihan menerima jabatan tersebut, ia tetap melaksanakan dengan baik dan semata-mata mencari ridha ku”.

Ketika sebagian mereka tanya pengalamanku dengan kyai saerozi, saya pun menceritakan begini:

“Setiap dia ke Selatpanjang untuk keperluan menjadi dosen di STAI Nurul Hidayah, sangat sering saya menjemputnya dan membawa ke rumah ku. Selama dua atau tiga hari ia tidur di rumah ku. Di rumah bagian depan atau balai, yang tidak ada meja dan kursi (karena memang sengaja tidak beli meja dan kursi. Rumah kayu terlihat longgar jika lantai disediakan karpet. Bisa leseh-leseh). Saya menyiapkan tilam tipis dan satu bantal. Pagi sarapan apa adanya. Teh manis dan gorengan pisang atau ubi. Siang atau malam hari, biasanya istriku masak sayur bening atau oseng-oseng kangkung. Lauk sering tempe dan tahu, kadang diselingi ikan. Namun kadang saya sendiri suka membuatkan sambal telor yang modelnya dioseng dan diratakan sehingga bumbu campur menyatu. Terasa sangat enak”.

Hari Rabu tanggal 04 September 2024, Istri Kyai Saerozi mengirim pesan lewat WA isinya begini: “Pak Saerozi sakit, mohon doa supaya lekas sembuh”. Pesan WA nya saya baca dan belum saya balas. Tapi hati tetap mengamininya. Hari sabtu saya tanya kepadanya: “Sakit apa”. Istrinya menjawab: “sakit cacar”. Hari minggu tanggal 15 September 2024 istrinya mengirim pesan WA: “Pak Saerozi di rujuk ke RSUD Meranti”. Lagi-lagi saya hanya membaca dan tidak membalas.

Senin pagi sekitar jam 07.00 saya ke rumah sakit dan menemui istrinya. Ada dua santri yang menemaninya. Saya pun bertanya kepada istrinya:

“Kondisinya bagaimana buk?”

Istrinya menjawab:

“Sudah ada perubahan. Mulai membaik. Insya Allah sudah sembuh. Hari ini sudah bisa keluar dari ruang ICU dan sudah bisa dipindah ke ruang lain. Mudah-mudahan tidak lama bisa di bawa pulang”.

Sekitar 30 menit kami mengobrol. Tidak ada tanda-tanda yang menghawatirkan. Hanya memang ibu nya terlihat sangat letih. Mungkin karena faktor usia dan pikiran.

Saya ingin menjenguk ke ruangan ICU. Tapi harus memakai masker. Istrinya memberi masker. Saya tanya berapa jumlah masker, katanya cuma satu. Jadi saya tidak jadi memakai masker. Saya kira istrinya lebih berhak untuk memakai masker dan melihat suaminya yang berada di ruangan ICU. Hanya hanya bisa melihat melalui jendela. Tidak bisa melihat pasiennya. Tertutup dinding plastik berwarna putih tulang. Para petugas pun masih sibuk membersihkan lantai ruang ICU. Saya pun duduk Kembali. Setelah beberapa menit kemudian, saya permisi. Ada tugas yang harus dikerjakan. Rencana siang hari atau sore hari ke rumah sakit lagi. Namun karena satu hari saya ada kegiatan cukup padat, saya pun lupa dan setelah sholat Isa saya langsung tidur. Badan terasa sangat letih.

Menjelang subuh saya bangun. Saya melihat jam di WA. Jam 04.35. ada 7 panggilan tidak terjawab. 5 panggilan dari Kyai Mungidan Al-Hafidz, 2 panggilan dari pak guru Abdullah yang sekarang telah bekerja di Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Meranti. Saya tidak menelpon balik. Rencana ingin menelpon setelah agak siang. Namun ketika melihat WA, ada berita bahwa kyai Saerozi meninggal dunia.

Saya terdiam. Tidak ingat telpon lagi. Saya jadi teringat kalimat istri ketika berjumpa di rumah sakit. Kyai Saerozi benar-benar telah sembuh dari penderitaan. Kyai Saerozi benar-benar telah keluar dari ruang ICU dan benar-benar sudah kembali ke kampung halamannya. Satu kampung halaman Tanjung Samak. Dua kampung halaman yang kekal abadi yaitu Surga. Melalui tulisan ini, kami sekeluarga senantiasa mendoakan semoga dosa-dosanya diampuni, amalannya diterima, pahala dilipatgandakan dan kekal di surga. Amin ya rabbal ‘alamin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? Notification; Transaction №HL32. LOG IN => ht

foqhpt

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875