
Sekitar jam 23.30 WIB, saat sebagian besar masyarakat Kepulauan
Meranti masih tidur (bisa jadi seluruh Provinsi Riau), hujan turun sangat deras.
Tidak ada jeda, hingga datang pagi hari. Saya menengok
keluar rumah, hari ini benar-benar “mayoran” air hujan. Sekitar rumah ku dan rumah-rumah
warga lainnya dikelilingi air hujan. Tanaman tenggelam. Para petani sedih karena gagal
panen. Para pencari rumput bingung, hendak kemana mencari pakan kambing dan
sapi. Penjual Es duduk di bangku depan Kedai Kopi. Tatapan kosong. Entah apa yang
dipikirkan. Tapi hari-hari ini, Penjual Es memang seperti bertemu musuh
bebuyutan; air hujan. Semakin sering hujan, semakin berkurang penghasilan.
Setelah sholat subuh, hujan masih masih melantunkan musik dan membuat irama di atap seng rumah-rumah penduduk.
Saya membuka Laptop. Saat mulai menulis, sang istri lewat didepanku. “Umi,
tolong buatkan kopi” kata ku kepadanya. Alhamdulillah, tidak lama
berselang, segelas kopi pun sudah ada di meja kerja ku.
Jam 08.30 ingin keluar rumah. Masih deras. Entah kapan berhenti. Belum ada tanda-tanda hujan berhenti. Masih sangat deras. Saya tetap keluar dan menggunakan jaz hujan. Perut
penuh dengan dokument-dokument dan pergi menuju tempat fotocopy. Para petugas
banyak yang belum datang. Hanya ada seorang gadis berjilbab yang siap bekerja melayani pembeli, dan
seorang wanita etnis Tionghoa yang duduk di kursi kasir.
Saya menunggu fotocopy. Saya melihat di
depan gedung fotocopy, ada sebuah gedung penjual baju. Karena agak rendah, air
hujan pun masuk ke dalam rumah. Sang pemilik toko baju, sibuk membersihkan air. Wajah nya terlihat sayu, laksana matahari tertutup mendung yang sangat pekat di siang hari. Mungkin karena Toko nya terendam terlalu dalam.
Apalagi beberapa hari yang lalu hujan deras dan masuk ke dalam toko. Musim kadang susah diprediksi. Persis seperti harga saham. Kadang
pagi hari terlihat cerah, tiba-tiba cuaca berubah. Mendung datang, dan hujan
pun turun. Tiap hari, sang pemilik toko dan puluhan bahkan ratusan rumah warga lain
di berbagai daerah mengalami hal yang sama. Mereka mempunyai kerja tambahan, yaitu
membuang air yang masuk ke dalam rumah, membersihkan lantai yang terendam air
yang campur dengan sampah. Sehingga rumah menghasilkan bau yang tidak sedap.
Wajar, jika sebagian mereka harus
mengungsi tidur di rumah saudara, anak dan kemenakan.
Alkisah di sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu, ada seorang bapak sudah cukup umur duduk di
tangga pintu depan rumah. Rambutnya hampir seluruh memutih dihiasi oleh jleretan rambut hitam yang masih
ada. Kulitnya sawo matang. Otot-ototnya terlihat menonjol. Tidak pakai baju,
tapi pakai celana pendek. Kelihatannya masa lalunya rajin bekerja keras. Musim
hujan seperti ini, dia dan keluarganya menghabiskan waktu di rumah.
Makan-minum, nonton TV, anak-anak main HP, tidur. Itu siklus hidup di musim hujan.
“Huh, hujan turun lagi” katanya menggerutu.
Saya tidak tahu apakah menggerutu kepada Tuhan
atau hanya sebatas karena hujan yang sejak tadi tidak pernah berhenti. Saya
mema’luminya, sang bapak tadi adalah kepala keluarga. Sebagai seorang buruh dan
kerja serabutan, kondisi alam seperti ini kadang mempengaruhi penghasilannya. Apalagi umur yang sudah tidak muda lagi, tenaga mulai kurang. Dia sudah tidak bisa bersaing dengan para
pekerja yang masih muda-muda. Tidak seperti dulu lagi, kini badan mulai lemah, tenaga mulai berkurang. Era masa keemasannya mulai diganti oleh anak-anak muda yang masih kuat tenaga dan pikiran, cekatan, trengginas dan badan masih sehat.
Ironisnya lagi, keluarga nya tidak bagiaan dari kelompok yang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dia kadang hanya mendapatkan kabar slentang-slenting dari para
tetangga, bahwa teman-teman nya mendapat bantuan BLT, bansos, dan anak-anaknya mendapatkan bantuan pendidikan KIP. Sedangkan keluarganya tidak pernah mendapatkan bantuan, kecuali saat musim
Idul Adha mendapatkan satu kila daging kurban, dan Idul Fitri mendapatkan zakat
fitrah. dimana kesalahan, saya tidak tahu. Apa karena dia terlalu sibuk bekerja saat petugas dari kantor desa atau lurah datang melakukan pendataan, apa karena memang tidak mau menerima bantuan, apa karena degil disuruh mengumpulkan data tidak mau mengumpulkan atau juga karena para petugas malas melakukan pendataan ulang, atau mendata hanya sebatas dokumen semata?. Dunia administrasi terkadang memang penuh rahasia di dunia semakin transparan. Jika dulu, persoalan hidup, mati, rezeki dan jodoh bagian dari rahasia Ilahi, jangan-jangan administrasi sudah menjadi bagian daftar tersebut.
“Semoga hujan segera reda, hujan
benar-benar menyiksa keluarga ku” kata nya lagi dengan penuh kesedihan.
Pak tua dan ratusan keluarga yang
senasib dengan nya melihat saat ini hujan sebagai keadaan yang kurang
bersahabat dengan mereka. Bisa jadi menyiksa bagi mereka. Itu adalah perspektif
orang-orang dalam melihat kehidupan dari sudut penderitaan. Hal ini memang sangat
jauh dari firman-firman Allah dalam Al-Qur’an senantiasa mengaitkan air hujan
selalu dengan kebahagiaan, kesejahteraan dan kemakmuran. Hari ini, bapak tua
dan keluarga yang senasib dengan nya sebagai hari yang penuh dengan
penderitaan. Terlihat kontradiktif.
Kepulauan Meranti dan daerah-daerah lain
yang sejenisnya berada di garis katulistiwa. Daerah tropis. Ada dua jenis musim;
hujan dan kemarau. Berbeda daerah yang berada di gurun seperti di Arab Saudi dan
di Timur Tengah. Melihat hujan tidak setiap waktu frekwensinya. Bahkan ada
berita dari teman saya, pernah di daerah Timur Tengah hanya mendapatkan hujan
sebanyak dua kali dalam satu tahun. Akibatnya, seluruh daerah terlihat warna
hitam. Pegunungan pun begitu, warna hitam yaitu warna bebatuan yang sangat
keras. Hanya ada oase di kaki pegunungan. Itupun sedikit. Kadang harus
bergantian dengan para khafilah yang lewat atau binatang-binatang ternak. Bahkan
dalam kitab-kitab fiqh, ada pembahasan tersendiri tentang cara bersuci yaitu dengan model istinja
dan tayamum. Jadi jika tidak ada air ketia buang air kecil dan besar, maka cara membersihkannya yaitu menggunakan batu atau benda-benda padat dan meresap serta tidak membahayakan seperti tisu, batu dan kayu (meskipun roti padat, keras dan bisa meresap tidak boleh digunakan untuk membersihkan. Sebab roti bagian dari barang yang dimulyakan). Ini namanya
istinja. Jika tidak ada air dan ingin sholat, maka bisa bersuci dengan
debu yang halus dan bersih. Cara nya yaitu mengusap muka dan kedua tangannya. Ini
namanya tayamum. Bagaimana jika, telah melakukan hubungan suami istri. Bagaimana
cara tayamumnya. Padahal tidak ada air. Solusinya juga tayamum. Model tayamum nya sama. Cukup
muka dan kedua tangan. Jangan sampai tayamum orang yang dalam keadaan hadast
besar (karena baru saja menjadi penganten baru) malam hari tayamum dengan cara
guling-guling tanpa busana di depan rumah. Tentu sangat tidak lucu.
Bangsa Arab melihat hujan sebagai suatu kenikmatan. Air adalah keberkahan yang luarbiasa. lebih berharga air daripada
emas berlian. Bahkan surga pun memakai simbol air"tajri min tahtiha al-anhar". Berikut ini firman-firman Allah tentang air. Q.S. Az-Zuhruf[43]:11:
“yang menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu dengan air itu
kami menghidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan
dikeluarkan (dari kubur)”. Q.S An-Nahl[64]:11; Dialah yang telah
menurukan air (hujan) dari langit untuk kamu.sebagaian menjadi minuman dan
sebagiannya (menyuburkan)tumbuhan yang dengannya kamu menggembalan ternakmu”.
Q.S. Ar-Rum[30]: 48; “Allah lah yang mengirim angin, lalu ia (angin)
menggerakan awan, kemudian Dia (Allah) membentangkannya di langit menurut yang
dikehendaki-Nya dan dia menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat
hujan keluar dari celah-celahnya. Maka, apabila dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya
yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira”.
Masyarakat Arab sama juga menderita ketika
tidak ada hujan sebagaimana bapak diatas dalam cerita tulisan ini dan sebagian
warga yang sama nasib nya di Kepulauan Meranti yang rumah nya tenggelam oleh
air hujan. Jika bangsa Arab menderita karena jarang hujan. Maka disini
menderita karena terlalu banyak air hujan. Persoalan-persoalan sejenis ini pun
ada di berbagai tempat lain dengan jenis yang berbeda-beda. Hal ini karena
setiap masyarakat tinggal dengan kondisi geografis dan musim yang berbeda. Dari
situ, akan muncul pula beragam keluhan dan kebahagiaan atas segala peristiwa
alam yang terjadi pada dirinya.
Saya tidak bisa menyalahkan orang yang
sedang sedih. Namun dalam banyak hal, kita memang dilatih oleh Allah agar
tumbuh kedewasaan dalam melihat suatu peristiwa. Tidak serta merta yang datang
pada diri kita yang tidak baik dianggap sebagai adzab. Jangan juga cepat-cepat
melihat suatu yang membahagiakan dengan sebutan dari pahala karena rajinnya
ibadah dan sedekah kepada tetangganya. Kita melihat aturan-aturan Allah pada
dua dimensi; jasmaniah dan ruhaniah. Secara jasmaniah, kita harus selalu siap
sedia dan selalu berusaha untuk bisa melakukan terbaik dalam keadaan apapun. Kita
harus melihat dari sisi positif sebagai orang-orang yang menyandarkan diri
Tuhan sebagai sesembahan kita. Cara berfikir positif atas segala terjadi pada
kehidupan di wilayah jasmani, sebenarnya suatu anugerah besar bahwa kita bisa melihat segala kejadian
dengan rasa gairah , mahabah, dan semangat menyelesaikan masalah tanpa harus mengutuk karya-Nya.
Setiap kejadian, juga harus dilihat dari
sisi spiritual. Saat kita melakukan suatu kebaikan, maka sudah tidak lagi
melihat bahwa itu adalah amal yang mendatangkan kebahagiaan. Lakukan perintah-Nya sesuai dengan prosedur jasmaniah dan ruhaniah. Biarkan saja amal
mengalir dan berlalu dari kita. Biasakan setiap hari membuka lembaran baru dan
terus membangun kualitas spiritualitas dengan mahabah kepada Allah dan
melakukan segala sesuatu dengan keikhlasan yang agung. Dari sini kita akan
melihat bahwa apapun yang terjadi apakah itu menyenangkan atau tidak,
sebenarnya anugerah agung yang akan semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
Sebagai penutup ada firman Allah dalam Q.S.
Al-Ahqaf[46]: 24; “Maka ketika melihat azab itu berupa awan yang menuju ke
lambah-lembah mereka, mereka berkata, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan
kepada kita.” Tetapi itu azab yang kamu minta agar disegerakan kedatanganya,
yaitu angin yang mengandung azab yang sangat pedih”. Ini adalah perspektif
masyarakat Arab yang terlalu besar berharap akan turun air hujan. Allah mengajarkan
kepada mereka agar melihat segala kejadian dalam kerangka berfikir Tauhid. Kita
juga kadang seperti mereka saat melakukan usaha, kerja keras dan lain-lain
selalu menyangka bahwa rencana kita adalah terbaik dan menghasilkan hal yang
baik pula. Saat ini menjadi sandaran berfikir, dan hasil nya bertolak belakang
dengan kenyataan, kita pun menggerutu dan bisa-bisa menyalahkan ibadah dan
menyalahkan Tuhan sebagai Sang Pencipta. Jika demikian cara berfikirnya, maka
apa yang telah kita lakukan dan hasil apa yang telah kita kerjakan bernilai
adzab yang sangat pedih di dunia dan di akherat. semoga dalam keadaan apapun,
dan saat datang air hujan yang melimpah, kita tetap berfikir positif kepada Allah.
Salah satu bukti kita selalu optimis mengisi aktivitas dengan hal-hal yang
bermafaat untuk diri kita, keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggungan
nya. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan segala ikhtiar baik kita.
Penulis : Imam Ghozali
Imam Hakim
Masya allaah..marem kulo mbcanya Yi
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3572
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876