Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sang Bapak Tua Belajar Filosofis Hujan; Berkah atau Adzab?



Minggu , 07 Januari 2024



Telah dibaca :  771

Sekitar jam 23.30 WIB, saat sebagian besar masyarakat Kepulauan Meranti masih tidur (bisa jadi seluruh Provinsi Riau), hujan turun sangat deras. Tidak ada jeda, hingga datang pagi hari. Saya menengok keluar rumah, hari ini benar-benar “mayoran” air hujan. Sekitar rumah ku dan rumah-rumah warga lainnya dikelilingi air hujan. Tanaman tenggelam. Para petani sedih karena gagal panen. Para pencari rumput bingung, hendak kemana mencari pakan kambing dan sapi. Penjual Es duduk di bangku depan Kedai Kopi. Tatapan kosong. Entah apa yang dipikirkan. Tapi hari-hari ini, Penjual Es memang seperti bertemu musuh bebuyutan; air hujan. Semakin sering hujan, semakin berkurang penghasilan.

Setelah sholat subuh, hujan masih masih melantunkan musik dan membuat irama di atap seng rumah-rumah penduduk. Saya membuka Laptop. Saat mulai menulis, sang istri lewat didepanku. “Umi, tolong buatkan kopi” kata ku kepadanya. Alhamdulillah, tidak lama berselang, segelas kopi pun sudah ada di meja kerja ku.

Jam 08.30 ingin keluar rumah. Masih deras. Entah kapan berhenti. Belum ada tanda-tanda hujan berhenti. Masih sangat deras. Saya tetap keluar dan menggunakan jaz hujan. Perut penuh dengan dokument-dokument dan pergi menuju tempat fotocopy. Para petugas banyak yang belum datang. Hanya ada seorang gadis berjilbab yang siap bekerja melayani pembeli, dan seorang wanita etnis Tionghoa yang duduk di kursi kasir.

Saya menunggu fotocopy. Saya melihat di depan gedung fotocopy, ada sebuah gedung penjual baju. Karena agak rendah, air hujan pun masuk ke dalam rumah. Sang pemilik toko baju, sibuk membersihkan air. Wajah nya terlihat sayu, laksana matahari tertutup mendung yang sangat pekat di siang hari. Mungkin karena Toko nya terendam  terlalu dalam. Apalagi beberapa hari yang lalu hujan deras dan masuk ke dalam toko. Musim kadang susah diprediksi. Persis seperti harga saham. Kadang pagi hari terlihat cerah, tiba-tiba cuaca berubah. Mendung datang, dan hujan pun turun. Tiap hari, sang pemilik toko dan puluhan bahkan ratusan rumah warga lain di berbagai daerah mengalami hal yang sama. Mereka mempunyai kerja tambahan, yaitu membuang air yang masuk ke dalam rumah, membersihkan lantai yang terendam air yang campur dengan sampah. Sehingga rumah menghasilkan bau yang tidak sedap. Wajar, jika  sebagian mereka harus mengungsi tidur di rumah saudara, anak dan kemenakan.

Alkisah di sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu, ada seorang bapak sudah cukup umur duduk di tangga pintu  depan rumah. Rambutnya hampir seluruh memutih dihiasi oleh jleretan rambut hitam yang masih ada. Kulitnya sawo matang. Otot-ototnya terlihat menonjol. Tidak pakai baju, tapi pakai celana pendek. Kelihatannya masa lalunya rajin bekerja keras. Musim hujan seperti ini, dia dan keluarganya menghabiskan waktu di rumah. Makan-minum, nonton TV, anak-anak main HP, tidur. Itu siklus hidup di musim hujan.

“Huh, hujan turun lagi” katanya menggerutu.

Saya tidak tahu apakah menggerutu kepada Tuhan atau hanya sebatas karena hujan yang sejak tadi tidak pernah berhenti. Saya mema’luminya, sang bapak tadi adalah kepala keluarga. Sebagai seorang buruh dan kerja serabutan, kondisi alam seperti ini kadang mempengaruhi penghasilannya. Apalagi umur yang sudah tidak muda lagi, tenaga mulai kurang. Dia sudah tidak bisa bersaing dengan para pekerja yang masih muda-muda. Tidak seperti dulu lagi, kini badan mulai lemah, tenaga mulai berkurang. Era masa keemasannya mulai diganti oleh anak-anak muda yang masih kuat tenaga dan pikiran, cekatan, trengginas dan badan masih sehat.

Ironisnya lagi, keluarga nya tidak bagiaan dari kelompok yang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dia kadang hanya mendapatkan kabar slentang-slenting dari para tetangga, bahwa teman-teman nya mendapat bantuan BLT, bansos, dan anak-anaknya mendapatkan bantuan pendidikan KIP. Sedangkan keluarganya tidak pernah mendapatkan bantuan, kecuali saat musim Idul Adha mendapatkan satu kila daging kurban, dan Idul Fitri mendapatkan zakat fitrah. dimana kesalahan, saya tidak tahu. Apa karena dia terlalu sibuk bekerja saat petugas dari kantor desa atau lurah datang melakukan pendataan, apa karena memang tidak mau menerima bantuan, apa karena degil disuruh mengumpulkan data tidak mau mengumpulkan atau juga karena para petugas malas melakukan pendataan ulang, atau mendata hanya sebatas dokumen semata?. Dunia administrasi terkadang memang penuh rahasia di dunia semakin transparan. Jika dulu, persoalan hidup, mati, rezeki dan jodoh bagian dari rahasia Ilahi, jangan-jangan administrasi sudah menjadi bagian daftar tersebut.

“Semoga hujan segera reda, hujan benar-benar menyiksa keluarga ku” kata nya lagi dengan penuh kesedihan.

Pak tua dan ratusan keluarga yang senasib dengan nya melihat saat ini hujan sebagai keadaan yang kurang bersahabat dengan mereka. Bisa jadi menyiksa bagi mereka. Itu adalah perspektif orang-orang dalam melihat kehidupan dari sudut penderitaan. Hal ini memang sangat jauh dari firman-firman Allah dalam Al-Qur’an senantiasa mengaitkan air hujan selalu dengan kebahagiaan, kesejahteraan dan kemakmuran. Hari ini, bapak tua dan keluarga yang senasib dengan nya sebagai hari yang penuh dengan penderitaan. Terlihat kontradiktif.

Kepulauan Meranti dan daerah-daerah lain yang sejenisnya berada di garis katulistiwa. Daerah tropis. Ada dua jenis musim; hujan dan kemarau. Berbeda daerah yang berada di gurun seperti di Arab Saudi dan di Timur Tengah. Melihat hujan tidak setiap waktu frekwensinya. Bahkan ada berita dari teman saya, pernah di daerah Timur Tengah hanya mendapatkan hujan sebanyak dua kali dalam satu tahun. Akibatnya, seluruh daerah terlihat warna hitam. Pegunungan pun begitu, warna hitam yaitu warna bebatuan yang sangat keras. Hanya ada oase di kaki pegunungan. Itupun sedikit. Kadang harus bergantian dengan para khafilah yang lewat atau binatang-binatang ternak. Bahkan dalam kitab-kitab fiqh, ada pembahasan tersendiri tentang cara bersuci yaitu dengan model istinja dan tayamum. Jadi jika tidak ada air ketia buang air kecil dan besar, maka cara membersihkannya yaitu menggunakan  batu atau benda-benda padat  dan meresap serta tidak membahayakan seperti tisu, batu dan kayu (meskipun roti padat, keras dan bisa meresap tidak boleh digunakan untuk membersihkan. Sebab roti bagian dari barang yang dimulyakan). Ini namanya istinja. Jika tidak ada air dan ingin sholat, maka bisa bersuci dengan debu yang halus dan bersih. Cara nya yaitu mengusap muka dan kedua tangannya. Ini namanya tayamum. Bagaimana jika, telah melakukan hubungan suami istri. Bagaimana cara tayamumnya. Padahal tidak ada air. Solusinya juga tayamum. Model tayamum nya sama. Cukup muka dan kedua tangan. Jangan sampai tayamum orang yang dalam keadaan hadast besar (karena baru saja menjadi penganten baru) malam hari tayamum dengan cara guling-guling tanpa busana di depan rumah. Tentu sangat tidak lucu.

Bangsa Arab melihat hujan sebagai suatu kenikmatan. Air adalah keberkahan yang luarbiasa. lebih berharga air daripada emas berlian. Bahkan surga pun memakai simbol air"tajri min tahtiha al-anhar". Berikut ini firman-firman Allah tentang air. Q.S. Az-Zuhruf[43]:11: “yang menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu dengan air itu kami menghidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)”. Q.S An-Nahl[64]:11; Dialah yang telah menurukan air (hujan) dari langit untuk kamu.sebagaian menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan)tumbuhan yang dengannya kamu menggembalan ternakmu”. Q.S. Ar-Rum[30]: 48; “Allah lah yang mengirim angin, lalu ia (angin) menggerakan awan, kemudian Dia (Allah) membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan dia menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka, apabila dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira”.

Masyarakat Arab sama juga menderita ketika tidak ada hujan sebagaimana bapak diatas dalam cerita tulisan ini dan sebagian warga yang sama nasib nya di Kepulauan Meranti yang rumah nya tenggelam oleh air hujan. Jika bangsa Arab menderita karena jarang hujan. Maka disini menderita karena terlalu banyak air hujan. Persoalan-persoalan sejenis ini pun ada di berbagai tempat lain dengan jenis yang berbeda-beda. Hal ini karena setiap masyarakat tinggal dengan kondisi geografis dan musim yang berbeda. Dari situ, akan muncul pula beragam keluhan dan kebahagiaan atas segala peristiwa alam yang terjadi pada dirinya.

Saya tidak bisa menyalahkan orang yang sedang sedih. Namun dalam banyak hal, kita memang dilatih oleh Allah agar tumbuh kedewasaan dalam melihat suatu peristiwa. Tidak serta merta yang datang pada diri kita yang tidak baik dianggap sebagai adzab. Jangan juga cepat-cepat melihat suatu yang membahagiakan dengan sebutan dari pahala karena rajinnya ibadah dan sedekah kepada tetangganya. Kita melihat aturan-aturan Allah pada dua dimensi; jasmaniah dan ruhaniah. Secara jasmaniah, kita harus selalu siap sedia dan selalu berusaha untuk bisa melakukan terbaik dalam keadaan apapun. Kita harus melihat dari sisi positif sebagai orang-orang yang menyandarkan diri Tuhan sebagai sesembahan kita. Cara berfikir positif atas segala terjadi pada kehidupan di wilayah jasmani, sebenarnya suatu anugerah besar bahwa kita bisa melihat segala kejadian dengan rasa gairah , mahabah, dan semangat menyelesaikan masalah tanpa harus mengutuk karya-Nya.

Setiap kejadian, juga harus dilihat dari sisi spiritual. Saat kita melakukan suatu kebaikan, maka sudah tidak lagi melihat bahwa itu adalah amal yang mendatangkan kebahagiaan. Lakukan perintah-Nya sesuai dengan prosedur jasmaniah dan ruhaniah. Biarkan saja amal mengalir dan berlalu dari kita. Biasakan setiap hari membuka lembaran baru dan terus membangun kualitas spiritualitas dengan mahabah kepada Allah dan melakukan segala sesuatu dengan keikhlasan yang agung. Dari sini kita akan melihat bahwa apapun yang terjadi apakah itu menyenangkan atau tidak, sebenarnya anugerah agung yang akan semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Sebagai penutup ada firman Allah dalam Q.S. Al-Ahqaf[46]: 24; “Maka ketika melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lambah-lembah mereka, mereka berkata, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.” Tetapi itu azab yang kamu minta agar disegerakan kedatanganya, yaitu angin yang mengandung azab yang sangat pedih”. Ini adalah perspektif masyarakat Arab yang terlalu besar berharap akan turun air hujan. Allah mengajarkan kepada mereka agar melihat segala kejadian dalam kerangka berfikir Tauhid. Kita juga kadang seperti mereka saat melakukan usaha, kerja keras dan lain-lain selalu menyangka bahwa rencana kita adalah terbaik dan menghasilkan hal yang baik pula. Saat ini menjadi sandaran berfikir, dan hasil nya bertolak belakang dengan kenyataan, kita pun menggerutu dan bisa-bisa menyalahkan ibadah dan menyalahkan Tuhan sebagai Sang Pencipta. Jika demikian cara berfikirnya, maka apa yang telah kita lakukan dan hasil apa yang telah kita kerjakan bernilai adzab yang sangat pedih di dunia dan di akherat. semoga dalam keadaan apapun, dan saat datang air hujan yang melimpah, kita tetap berfikir positif kepada Allah. Salah satu bukti kita selalu optimis mengisi aktivitas dengan hal-hal yang bermafaat untuk diri kita, keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggungan nya. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan segala ikhtiar baik kita.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam Hakim

Masya allaah..marem kulo mbcanya Yi

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876