
Saat sekarang ini santri tidak hanya
berkutat pada pendalaman ilmu agama. Pesantren semakin terbuka dan memadukan
kurikulum terapan seperti komputer, pertanian, perkebunan, perhotelan dan
lain-lain. Perguruan Tinggi juga bukan hanya sebatas mengajarkan persoalan kehebatan
nilai akademik. Kini sudah ada pemaduan antara akademik dan tradisi pesantren. Baik
pesantren maupun perguruan tinggi seolah-olah mempunyai semangat sama yaitu
mengintegrasikan agama dan ilmu pengetahuan. Semakin berkurang dikotomi ilmu. Apapun namanya sudah tidak ada
istilah lagi ilmu agama dan ilmu umum. Semua ilmunya Allah. Berarti ulumuddin. Dasarnya
jelas; “Allah akan mengangkat derajatnya lebih tinggi bagi orang beriman dan
berilmu”. Ada hadist nabi yang terkenal; “Sebaik-baik manusia adalah
yang mampu memberi kemanfaatan kepada orang lain”.
Kini pesantren dan perguruan tinggi mengarah
pada pola sama, yaitu mewujudkan insan kamil. Meskipun tetap outputnya dan
regulasi nya beda, tapi semangat mewujudkan yang perlu diapresiasi. Semangat
ini bisa jadi terinspirasi pada kejayaan Islam pada masa lalu. Kita mengenal
ilmuwan seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Mawardi, Ibnu Khaldun dan sejenisnya. Sederetan
tokoh yang pada dirinya menguasai ilmu agama dengan baik sekaligus menguasai ilmu-ilmu
terapan yang hebat. ilmu agama dan ilmu umum bisa berjalan bersama.
Negara Islam yang sudah menerapkan pola
seperti ini adalah negara Iran. Negeri ini sering disebut sebagai negeri para mullah.
Kita harus bisa memahami penyebutan tersebut sebagai identitas yang dimiliki
oleh negara tersebut sebagaimana penyebutan negara-negara lain dengan beragam
sebutan seperti Belanda disebut sebagai negeri kincir angin, thailand sebagai
negeri pagoda, Indonesia sebagai zamrud katulistiwa dan sebutan-sebutan
lainnya. Ada identitas yang menjadi kebanggaan. Dan Iran telah mempromosikan
diri sebagai negeri para mullah yaitu negeri nya kaum intelektual, ilmuwan dan
sekaligus ulama atau mujtahid. Ingin jadi anggota dewan Iran, syarat nya sudah
menjadi mujtahid dan hidup penuh dengan kesederhanaan sebagaimana kesederhanaan
kehidupan Ali bin Abi Thalib.
Negara-negara non-muslim yang memadukan
agama atau keyakinan dan ilmu pengetahuan seperti Jepang. Menurut keyakinan
warganya semua ada di dunia ini adalah mempunyai ruh. Ia menjadi spirit nasionalisme,
pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi semangat memperdalam saint
dan teknologi bukan semata-mata karena tuntutan kebutuhan hidup, tetapi wujud
dari implementasi dari ajaran mereka yang diyakini sebagai suatu kebenaran. Dorongan
ruhaniah ini yang menjadi kekuatan hebat bangsa Jepang menjadi negara maju. Hal
sama juga negara seperti Israel dan India.
Negara-negara barat memisahkan agama dan
ilmu pengetahuan. Agama berjalan sendiri dan ilmu pengetahuan berjalan sendiri.
Akibatnya, budaya bangsa barat sudah terjerabut dari nilai-nilai agama. Materialisme
plus rasionalisme. Akibatnya, saint dan teknologi sudah kehilangan nilai-nilai dasar
naluri manusia yang selalu menjunjung nilai-nilai kebaikan dan ketuhanan.
Yang perlu dicatat bahwa negara-negara
seperti Israel, Iran, Jepang dan India adalah sampel negara yang berhasil
menyatukan agama dan ilmu pengetahuan. Penulis bisa melihat bahwa mereka
sebagai penganut agama atau keyakinan yang patuh, ilmu pengetahuan yang sangat
baik dan kecintaan terhadap bangsa dan negara sangat tinggi. Sejarah telah
membuktikan keberanian mereka menjaga marwah negara dan bangsa. Penulis bisa
melihat saat jepang terkena gempa bertubi-tubi, masyarakat segera bersatu padu
bangkit. Perbedaan pandangan berhenti. Semua bersama-sama menyelesaikan
persoalan gempa. Warga negara Kerja siang malam. Berhasil. Selesai masalah. Penulis
juga melihat kehebatan India, uji coba produk transportasi Kereta Api paling
sering terjadi kecelakaan. Banyak makan korban. Tapi optimisme tinggi. Seolah punya
prinsip,”lebih baik terjadi korban jiwa hasil uji coba karya anak bangsa daripada
terus-menerus menggunakan produk luar negeri”. Penulis juga bisa membaca
sejarah bagaimana kisah Iran di embargo ekonomi oleh Amerika Serikat dan bangsa
barat. Pemerintah Iran dan warga negaranya tenang. Mereka tetap eksis dalam kondisi
ekonomi ambruk dan tidak mengeluh. Mereka terus menerus melakukan inovasi
perbaikan ekonomi di dalam negeri dengan cara nya.
Penulis bisa memahami bahwa integrasi agama
dan ilmu yang mapan pada negara-negara tersebut melahirkan warga negara yang
baik intelektualnya, jenius inovasinya, tinggi kualitas etos kerjanya dan yang
tidak ketinggalan adalah semangat nasionalisme nya sangat besar.
Persoalan dalam penganut agama Islam
sedikit berbeda. Adanya Upaya integrasi agama dan ilmu sebagai identitas ajaran
Islam yang kaffah, tapi pada sisi etos kerja dan nasionalisme masih terlihat
belum mapan. Berkaitan dengan nasionalisme masih ada problematic. Sebagian penganut
agama Islam belum bisa menerima, bahkan menganggap sebagai “thogut” atau
berhala. Akibatnya, persoalan ini menyisakan persoalan politik yang tidak
kunjung selesai hingga kini.
Persoalan etos kerja juga demikian masih
terlihat lemah. Mahasiswa masih malas membuat karya ilmiah (apakah dosen juga
sama?). Mereka masih menempatkan diri sebagai konsumen dan copy paste. Toh jika
ada, sedikit jumlahnya. Etos kerja lain seperti kemandirian tidak tergantung
kepada orang tua pun masih sedikit.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875