Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Santri, Mahasiswa dan Etos Kerja



Senin , 07 Oktober 2024



Telah dibaca :  457

Saat sekarang ini santri tidak hanya berkutat pada pendalaman ilmu agama. Pesantren semakin terbuka dan memadukan kurikulum terapan seperti komputer, pertanian, perkebunan, perhotelan dan lain-lain. Perguruan Tinggi juga bukan hanya sebatas mengajarkan persoalan kehebatan nilai akademik. Kini sudah ada pemaduan antara akademik dan tradisi pesantren. Baik pesantren maupun perguruan tinggi seolah-olah mempunyai semangat sama yaitu mengintegrasikan agama dan ilmu pengetahuan. Semakin berkurang  dikotomi ilmu. Apapun namanya sudah tidak ada istilah lagi ilmu agama dan ilmu umum. Semua ilmunya Allah. Berarti ulumuddin. Dasarnya jelas; “Allah akan mengangkat derajatnya lebih tinggi bagi orang beriman dan berilmu”. Ada hadist nabi yang terkenal; “Sebaik-baik manusia adalah yang mampu memberi kemanfaatan kepada orang lain”.

Kini pesantren dan perguruan tinggi mengarah pada pola sama, yaitu mewujudkan insan kamil. Meskipun tetap outputnya dan regulasi nya beda, tapi semangat mewujudkan yang perlu diapresiasi. Semangat ini bisa jadi terinspirasi pada kejayaan Islam pada masa lalu. Kita mengenal ilmuwan seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Mawardi, Ibnu Khaldun dan sejenisnya. Sederetan tokoh yang pada dirinya menguasai ilmu agama dengan baik sekaligus menguasai ilmu-ilmu terapan yang hebat. ilmu agama dan ilmu umum bisa berjalan bersama.

Negara Islam yang sudah menerapkan pola seperti ini adalah negara Iran. Negeri ini sering disebut sebagai negeri para mullah. Kita harus bisa memahami penyebutan tersebut sebagai identitas yang dimiliki oleh negara tersebut sebagaimana penyebutan negara-negara lain dengan beragam sebutan seperti Belanda disebut sebagai negeri kincir angin, thailand sebagai negeri pagoda, Indonesia sebagai zamrud katulistiwa dan sebutan-sebutan lainnya. Ada identitas yang menjadi kebanggaan. Dan Iran telah mempromosikan diri sebagai negeri para mullah yaitu negeri nya kaum intelektual, ilmuwan dan sekaligus ulama atau mujtahid. Ingin jadi anggota dewan Iran, syarat nya sudah menjadi mujtahid dan hidup penuh dengan kesederhanaan sebagaimana kesederhanaan kehidupan Ali bin Abi Thalib.

Negara-negara non-muslim yang memadukan agama atau keyakinan dan ilmu pengetahuan seperti Jepang. Menurut keyakinan warganya semua ada di dunia ini adalah mempunyai ruh. Ia menjadi spirit nasionalisme, pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi semangat memperdalam saint dan teknologi bukan semata-mata karena tuntutan kebutuhan hidup, tetapi wujud dari implementasi dari ajaran mereka yang diyakini sebagai suatu kebenaran. Dorongan ruhaniah ini yang menjadi kekuatan hebat bangsa Jepang menjadi negara maju. Hal sama juga negara seperti Israel dan India.

Negara-negara barat memisahkan agama dan ilmu pengetahuan. Agama berjalan sendiri dan ilmu pengetahuan berjalan sendiri. Akibatnya, budaya bangsa barat sudah terjerabut dari nilai-nilai agama. Materialisme plus rasionalisme. Akibatnya, saint dan teknologi sudah kehilangan nilai-nilai dasar naluri manusia yang selalu menjunjung nilai-nilai kebaikan dan ketuhanan.

Yang perlu dicatat bahwa negara-negara seperti Israel, Iran, Jepang dan India adalah sampel negara yang berhasil menyatukan agama dan ilmu pengetahuan. Penulis bisa melihat bahwa mereka sebagai penganut agama atau keyakinan yang patuh, ilmu pengetahuan yang sangat baik dan kecintaan terhadap bangsa dan negara sangat tinggi. Sejarah telah membuktikan keberanian mereka menjaga marwah negara dan bangsa. Penulis bisa melihat saat jepang terkena gempa bertubi-tubi, masyarakat segera bersatu padu bangkit. Perbedaan pandangan berhenti. Semua bersama-sama menyelesaikan persoalan gempa. Warga negara Kerja siang malam. Berhasil. Selesai masalah. Penulis juga melihat kehebatan India, uji coba produk transportasi Kereta Api paling sering terjadi kecelakaan. Banyak makan korban. Tapi optimisme tinggi. Seolah punya prinsip,”lebih baik terjadi korban jiwa hasil  uji coba karya anak bangsa daripada terus-menerus menggunakan produk luar negeri”. Penulis juga bisa membaca sejarah bagaimana kisah Iran di embargo ekonomi oleh Amerika Serikat dan bangsa barat. Pemerintah Iran dan warga negaranya tenang. Mereka tetap eksis dalam kondisi ekonomi ambruk dan tidak mengeluh. Mereka terus menerus melakukan inovasi perbaikan ekonomi di dalam negeri dengan cara nya.

Penulis bisa memahami bahwa integrasi agama dan ilmu yang mapan pada negara-negara tersebut melahirkan warga negara yang baik intelektualnya, jenius inovasinya, tinggi kualitas etos kerjanya dan yang tidak ketinggalan adalah semangat nasionalisme nya sangat besar.

Persoalan dalam penganut agama Islam sedikit berbeda. Adanya Upaya integrasi agama dan ilmu sebagai identitas ajaran Islam yang kaffah, tapi pada sisi etos kerja dan nasionalisme masih terlihat belum mapan. Berkaitan dengan nasionalisme masih ada problematic. Sebagian penganut agama Islam belum bisa menerima, bahkan menganggap sebagai “thogut” atau berhala. Akibatnya, persoalan ini menyisakan persoalan politik yang tidak kunjung selesai hingga kini.

Persoalan etos kerja juga demikian masih terlihat lemah. Mahasiswa masih malas membuat karya ilmiah (apakah dosen juga sama?). Mereka masih menempatkan diri sebagai konsumen dan copy paste. Toh jika ada, sedikit jumlahnya. Etos kerja lain seperti kemandirian tidak tergantung kepada orang tua pun masih sedikit.

Berangkat dari persoalan tersebut di atas, baik pondok pesantren yang melahirkan santri dan perguruan tinggi yang melahirkan kaum intelektual belum sepenuhnya berhasil melahirkan alumninya yang mempunyai semangat etos kerja yang hebat. Masih banyak pekerjaan rumah. Dan PR tersebut terjadi di rumah kita bersama. Berarti sama-sama kita bertanggungjawab



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875