Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Santri Reborn



Kamis , 03 Oktober 2024



Telah dibaca :  790

Peringatan hari santri merupakan hadiah negara sebagai bentuk penghargaan terhadap kiprah pesantren pada masa perjuangan kemerdekaan. Hampir semua pesantren terlibat di dalamnya. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan. Tujuannya cuma satu; jihad fisabilillah. Bahkan hadratusyeikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa “jihad membela dan mempertahankan negara hukumnya wajib”. Dari sini sangat jelas sumbangsih pesantren dalam proses lahirnya negara Indonesia.

Ketika merdeka, peran santri seolah-olah tenggelam. Mereka kembali ke barak sebagai penjaga ulumuddin. Hanya sebagian kecil yang ikut berkecimpung di pemerintahan. Pada masa Soekarno, sangat sedikit santri yang muncul menjadi bagian pemerintahan. Satu yang sangat terkenal yaitu K.H. Wahid Hasyim (ayahanda Abdurrahman Wahid). Lainnya terdiri dari kaum nasionalis, nasionalis religious, nasionalis sekuler dan tokoh-tokoh modernis.

Era Soeharto peran santri pun tertelan di bumi. Bahkan semakin dipinggirkan. Ia menjadi warga kelas dua. Kaum modernis justru menikmati kueh pembangunan. Mereka tidak memposisikan sebagai kaum santri. Sebab kata santri saat itu yaitu orang-orang yang belajar ilmu agama dan ilmu-ilmu lain di Pesantren. Akhirnya muncul antitesa dari santri yaitu modernis.

Ketika era reformasi terbuka dan munculnya Gus Dur menjadi presiden, presepsi santri pun cair. Ia tidak melulu dianggap sebagai tukang doa saja, tetapi alumninya sudah bisa mengurus negara. Meskipun masih terlihat “gagap” dan belum terbiasa, era Gus Dur telah menampilkan wajah-wajah santri seperti Prof. AS Hikam, Prof. Alwi Sihab, Khafifah Indar Parawansa. Paradigma santri mulai bergeser. Julukan “kaum sarungan” sedikit demi sedikit menjadi kaum yang sudah terbiasa memakai dasi dan celana panjang. tidak cingkrang. Tapi memakai sarung sering di atas mata kaki. Bukan alasan sunnatullah, tapi untuk menjaga agar “sarungnya” jangan sampai terinjak teman nya. Ma’lum, santri suka memakai sarung lupa tidak memakai celana. Alhamdulillah sekarang sarung dan celana sudah sama-sama dipakai.

Santri sudah mulai hidup dalam era metropolitan. Berdasi dan menjadi direktur BUMN, perusahan milik negara, jadi presidan, gubernur dan bupati/walikota. Para ulama sudah mulai mengkaji ulang dalam persepektif kekinian. Ia mencoba mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Muncul kajian-kajian tasawuf. Sudah tidak lagi tidur di asrama terbuat dari bambu dan dipinggir hutan model para cantrik era majapahit. Kini sudah ada kajian “tasawuf kaum berdasi”, yang kajian-kajiannya di hotel berbintang. Santri telah menjadi semacam “brand” baru.

Tahun 2020 era santri booming. Dulu banyak kelompok Islam yang tidak suka pesantren dan anti pesantren karena dianggap “bid’ah” pun membuat pesantren. Akhirnya muncul beragam pesantren. Dulu para ulama mendirikan pesantren dengan nama daerah sebagai wujud penyatuan dengan kearifan lokal. Kini mendirikan pesantren dengan nama-nama sahabat nabi dan para ulama. Pesantren jadi terlihat asing di daerahnya sendiri. Beragam pesantren dan beragam juga outputnya. Pesantren pun mengalami perkembangan definisi akibat dari perkembangan ragam pesantren dan afiliasinya.

Jika dulu pesantren satu definisi. Tujuannya pun sudah baku; tafaquh fi dien,menghargai kemajemukan agama dan budaya, dan hubbul wathan minal iman. Kini sudah berkembang tidak hanya itu saja. Indikasinya dari alumninya. Meskipun tidak bisa digeneralisir. Paling tidak pola santri adalah pola hubungan pendidik dan peserta didik. Pesantren masih menggunakan pola “mengisi air” ke dalam gelas. Ini yang beberapa waktu lalu ada santri yang melakukan bom bunuh diri, mengkafirkan terhadap sesama muslim dan menganggap taghut pemerintah yang sah. Ajaran ini bisa jadi akan terus tumbuh. Ia hanya menungguh momen saja. Pesantren menjadi tempat sangat efektif melakukan doktrinisasi selain kegiatan-kegiatan keagamaan eklusif yang berkembang secara masih.

Jika ini terjadi, maka akan muncul di Indonesia ada era santri. Namun sudah tercerabut dari makna santri itu sendiri. Era santri seharusnya baik. Tapi bisa jadi justru sebaliknya. Jika pertemuan beragam kepentingan politik, maka konflik di kalangan santri dalam beragam level bisa terjadi secara terbuka. Jika hanya sebatas kepentingan politik kekuasaan semata masih bisa dianggap wajar, meskipun sebenarnya tidak wajar. Konflik bisa saja terjadi pada level ideologi dan persoalan yang sudah mapan seperti bentuk negara. yang dikhawatirkan ketika ini semakin membesar dan sekala nasional, lalu ada orang luar yang “mengipas-ngipasi”. Jika terus dikipasi seperti “bakaran arang” kemudian muncul api kecil-kecil, membesar dan kemudian memberanguskan tanaman yang rindah yaitu negara kesatuan republik Indonesia. negara yang indah dan bangsa yang rukun berubah seperti puing-puing Gedung, dan tiang-tiang listri serta rongsokan mobil akibat kebakaran masal. Sangat mengerikan. Pemandangan yang sangat mencekam.

Semoga hari santri tahun ini tetap meneguhkan kembali hakikat makna santri sebagai generasi yang mencintai agama, keberagaman dan juga tetap menjaga kesatuan dan persatuan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875