
Peringatan hari santri merupakan hadiah
negara sebagai bentuk penghargaan terhadap kiprah pesantren pada masa
perjuangan kemerdekaan. Hampir semua pesantren terlibat di dalamnya. Mereka
berjuang sampai titik darah penghabisan. Tujuannya cuma satu; jihad
fisabilillah. Bahkan hadratusyeikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa “jihad
membela dan mempertahankan negara hukumnya wajib”. Dari sini sangat jelas
sumbangsih pesantren dalam proses lahirnya negara Indonesia.
Ketika merdeka, peran santri seolah-olah
tenggelam. Mereka kembali ke barak sebagai penjaga ulumuddin. Hanya
sebagian kecil yang ikut berkecimpung di pemerintahan. Pada masa Soekarno,
sangat sedikit santri yang muncul menjadi bagian pemerintahan. Satu yang sangat
terkenal yaitu K.H. Wahid Hasyim (ayahanda Abdurrahman Wahid). Lainnya terdiri
dari kaum nasionalis, nasionalis religious, nasionalis sekuler dan tokoh-tokoh
modernis.
Era Soeharto peran santri pun tertelan di
bumi. Bahkan semakin dipinggirkan. Ia menjadi warga kelas dua. Kaum modernis
justru menikmati kueh pembangunan. Mereka tidak memposisikan sebagai kaum
santri. Sebab kata santri saat itu yaitu orang-orang yang belajar ilmu agama
dan ilmu-ilmu lain di Pesantren. Akhirnya muncul antitesa dari santri yaitu
modernis.
Ketika era reformasi terbuka dan munculnya Gus
Dur menjadi presiden, presepsi santri pun cair. Ia tidak melulu dianggap
sebagai tukang doa saja, tetapi alumninya sudah bisa mengurus negara. Meskipun
masih terlihat “gagap” dan belum terbiasa, era Gus Dur telah menampilkan wajah-wajah
santri seperti Prof. AS Hikam, Prof. Alwi Sihab, Khafifah Indar Parawansa. Paradigma
santri mulai bergeser. Julukan “kaum sarungan” sedikit demi sedikit menjadi
kaum yang sudah terbiasa memakai dasi dan celana panjang. tidak cingkrang. Tapi
memakai sarung sering di atas mata kaki. Bukan alasan sunnatullah, tapi untuk
menjaga agar “sarungnya” jangan sampai terinjak teman nya. Ma’lum, santri suka
memakai sarung lupa tidak memakai celana. Alhamdulillah sekarang sarung dan
celana sudah sama-sama dipakai.
Santri sudah mulai hidup dalam era metropolitan.
Berdasi dan menjadi direktur BUMN, perusahan milik negara, jadi presidan,
gubernur dan bupati/walikota. Para ulama sudah mulai mengkaji ulang dalam persepektif
kekinian. Ia mencoba mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Muncul kajian-kajian
tasawuf. Sudah tidak lagi tidur di asrama terbuat dari bambu dan dipinggir
hutan model para cantrik era majapahit. Kini sudah ada kajian “tasawuf
kaum berdasi”, yang kajian-kajiannya di hotel berbintang. Santri telah
menjadi semacam “brand” baru.
Tahun 2020 era santri booming. Dulu banyak kelompok
Islam yang tidak suka pesantren dan anti pesantren karena dianggap “bid’ah” pun
membuat pesantren. Akhirnya muncul beragam pesantren. Dulu para ulama
mendirikan pesantren dengan nama daerah sebagai wujud penyatuan dengan kearifan
lokal. Kini mendirikan pesantren dengan nama-nama sahabat nabi dan para ulama. Pesantren
jadi terlihat asing di daerahnya sendiri. Beragam pesantren dan beragam juga
outputnya. Pesantren pun mengalami perkembangan definisi akibat dari
perkembangan ragam pesantren dan afiliasinya.
Jika dulu pesantren satu definisi. Tujuannya
pun sudah baku; tafaquh fi dien,menghargai kemajemukan agama dan budaya, dan
hubbul wathan minal iman. Kini sudah berkembang tidak hanya itu saja. Indikasinya
dari alumninya. Meskipun tidak bisa digeneralisir. Paling tidak pola santri
adalah pola hubungan pendidik dan peserta didik. Pesantren masih menggunakan
pola “mengisi air” ke dalam gelas. Ini yang beberapa waktu lalu ada santri yang
melakukan bom bunuh diri, mengkafirkan terhadap sesama muslim dan menganggap taghut
pemerintah yang sah. Ajaran ini bisa jadi akan terus tumbuh. Ia hanya menungguh
momen saja. Pesantren menjadi tempat sangat efektif melakukan doktrinisasi
selain kegiatan-kegiatan keagamaan eklusif yang berkembang secara masih.
Jika ini terjadi, maka akan muncul di Indonesia
ada era santri. Namun sudah tercerabut dari makna santri itu sendiri. Era santri
seharusnya baik. Tapi bisa jadi justru sebaliknya. Jika pertemuan beragam
kepentingan politik, maka konflik di kalangan santri dalam beragam level bisa
terjadi secara terbuka. Jika hanya sebatas kepentingan politik kekuasaan semata
masih bisa dianggap wajar, meskipun sebenarnya tidak wajar. Konflik bisa saja
terjadi pada level ideologi dan persoalan yang sudah mapan seperti bentuk
negara. yang dikhawatirkan ketika ini semakin membesar dan sekala nasional,
lalu ada orang luar yang “mengipas-ngipasi”. Jika terus dikipasi seperti “bakaran
arang” kemudian muncul api kecil-kecil, membesar dan kemudian memberanguskan
tanaman yang rindah yaitu negara kesatuan republik Indonesia. negara yang indah
dan bangsa yang rukun berubah seperti puing-puing Gedung, dan tiang-tiang
listri serta rongsokan mobil akibat kebakaran masal. Sangat mengerikan. Pemandangan
yang sangat mencekam.
Semoga hari santri tahun ini tetap meneguhkan
kembali hakikat makna santri sebagai generasi yang mencintai agama, keberagaman
dan juga tetap menjaga kesatuan dan persatuan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875