Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sarapan Pagi antara Qaul Qadim dan Qaul Jadid



Rabu , 23 April 2025



Telah dibaca :  666

Dalam benak sebagian orang dan termasuk madzhab yang saya anut pada masa dulu, kata “sarapan pagi” dan “makan pagi” secara formal dan subtansional berbeda. Menurut qaul qadim, saya mengartikan “sarapan pagi”, dan “makan pagi” artinya berbeda. Sarapan pagi tidak harus dengan nasi yang berasal dari periuk atau rice cooker, cukup makan ubi goreng atau pisang rebus ditemani secangkir teh manis. Sedangkan makan pagi berarti memang nasi nya berasal dari rice cooker. Benar-benar nasi yang dimakan. Jika anda sudah habis roti bakar dua piring, meskipun sudah kenyang maka belum disebut makan pagi, tapi sarapan pagi.

Sekarang ini saya membuat ijtihad kecil-kecilan. Anggap saja qaul jadid. Bagiku sarapan pagi dan makan pagi itu sama. Sama-sama dimasukan ke dalam mulut, dikunyah, ditelan, diproses dan setelah itu dibuang di WC.

Jadi sebenarnya persoalan kebahasaan bisa disederhanakan. Jika subtansi dari sarapan pagi dan makan pagi itu sama, maka para ibu-ibu atau istri-istri di rumah bisa menyederhanakan proses nya. Jika tidak sempat masak di pagi hari atau lagi malas, gampang saja ngomong sama suaminya: “Bang, yuk kita sarapan di luar”. Silahkan pilih selera nya; ada suka indomie, mie sagu, lontong, gorengan tempe, silahkan makan. Selesai makan di bayar. Lalu pulang. Itu sudah sarapan atau sudah makan pagi. Masa sih, cuma untuk “ganjal perut saja” sibuk nya sampai ke ujung langit.

Sekarang orang sering ribut-ribut. Hidup harus seperti robot. Atau seperti pabrik Indomie. Mulai dari proses barang-barang mentah dimasukan sampai terciptanya indomie bungkusan. Begitu seterusnya. Jika melenceng sedikit, eror, bid’ah, syirik, kafir.

Hidup harus persis seperti Nabi. Malam tahajud. Kaki harus sampai bengkak-bengkak. Harus sujudnya lama, menangis karena melihat neraka dan tertawa karena melihat surga agar seperti Umar bin Khatab. Maqam nya berbeda-beda.

Umat nabi beragam. Ada yang kuat seperti Umar, ada yang ‘alim seperti Ali bin Abi Thalib, ada yang sangat bijaksana seperti Abu Bakar, ada yang yang pemurah seperti Utsman bin Affan, ada juga yang biasa-biasa saja dan menjadi buruh di pasar. Mereka punya kapasitas yang berbeda, berbeda juga mereka memahami sabda Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi sahabat nabi tidak seperti pasukan tentara yang tinggi nya sama, yang makannya harus 10 menit sudah habis, potongan rambutnya plontos. Tidak sama sekali. Perilaku umat nabi sebanyak rambut yang ada di kepala. Sangat beragam. Ada yang sholat suka baca ayat-ayat panjang panjang sempai kena tegur nabi. Ada yang suka bacaan surat al-ikhlas dan dilanggengkan setiap sholat, sehingga dipanggil nabi. Gara-gara kebiasaan membaca surat al-ikhlas malaikat turun memberi rahmat kepada sahabat nabi.

Kenapa harus disederhanakan? Sebab umat nabi itu umat yang sangat mulia. mereka sudah punya kunci yaitu kalimat syahadatain, syahadat tauhid dan syahadat rasul.

Semua amalan mubah menjadi ibadah. Allah dan nabi tidak menyuruh membukukan Al-Qur’an. Sampai-sampai Abu Bakar menolaknya dengan alasan tidak ada dasar hukum nya. Tapi Umar bin Khatab ngotot agar Al-Qur’an dibukukan. Secara dasar hukum,Abu Bakar sangat patuh terhadap hukum. Tapi Abu Bakar tidak mengucapkan model para ustadz zaman now: “Jangan melakukan sesuatu yang tidak ada dalil dalam al-qur’an dan sunnah”, jika dilakukan itu perbuatan bid’ah, tempat bid’ah di neraka”. Biasanya berbicara dengan mata yang melotot saking semangatnya.

Abu Bakar dan Umar Bin Khatab melakukan kajian ilmiah sangat argumentatif. Abu Bakar melihat formalitasnya, Umar bin Khatab melihat semangat denyut nadi pada Al-Qur’an dan Sunnah nya yaitu menjaga agama. Itu maqasid syariah. Jika secara formal tidak disebutkan, maka kajian-kajian subtansional dari ayat-ayat tersebut menjadi sangat penting. sebab dengan cara tersebut, hukum bisa ditemukan. Dan keberlangsungan fungsi Al-Qur’an tetat terjaga relevansinya.

Itu sebabnya para ulama yang sudah “nyegoro ilmunya” ketika membahas persoalan ibadah-ibadah menjadi sangat fleksibel dan tidak kaku. Karena itu yang diajarkan oleh nabi dan para sahabatnya. Saat ada seorang sahabat masih suka maksiat dan disisi lain suka sholat, nabi tersenyum saja. Nabi yang agung tidak melotot dan marah-marah. Sebab perubahan perbuatan manusia membutuhkan proses. Itulah sikap seorang nabi yang paling sempurna fisik, pikiran, sikap dan perbuatannya.

Maka para ulama arif billah (biasanya tidak mengaku-ngaku sebagai orang yang paling sunnah. Sebab mereka malu kepada nabi atas segala kekurangannya) sangat bijaksana sekali dalam mendidik umatnya untuk menumbuhkan kekuatan tauhid dengan ucapan:”Allah-Allah-Allah”.  Sebagaimana dalam hadist [  لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ: اللهُ، اللهُ ] artinya: Kiamat tidak akan terjadi di muka bumi tak disebut lafadz: Allah, Allah”.

Jika cara itu semakin memperkuat keimanan,maka sebenarnya juziyah kata sudah cukup mewakili kulliyah nya. Jika kata Allah sudah memperkuat kalimat tauhid, maka sebenarnya sudah bisa mewakili dari subtansi kalimat Laa Ilaha Illa Allah. Jika memang sarapan cuma dengan ubi goreng sudah cukup, maka tidak harus juga makan nasi di pagi hari. Fungsi nya sama bukan?



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872