
Dalam benak sebagian orang dan termasuk
madzhab yang saya anut pada masa dulu, kata “sarapan pagi” dan “makan pagi”
secara formal dan subtansional berbeda. Menurut qaul qadim, saya
mengartikan “sarapan pagi”, dan “makan pagi” artinya berbeda. Sarapan pagi
tidak harus dengan nasi yang berasal dari periuk atau rice cooker, cukup makan
ubi goreng atau pisang rebus ditemani secangkir teh manis. Sedangkan makan pagi
berarti memang nasi nya berasal dari rice cooker. Benar-benar nasi yang
dimakan. Jika anda sudah habis roti bakar dua piring, meskipun sudah kenyang
maka belum disebut makan pagi, tapi sarapan pagi.
Sekarang ini saya membuat ijtihad
kecil-kecilan. Anggap saja qaul jadid. Bagiku sarapan pagi dan makan
pagi itu sama. Sama-sama dimasukan ke dalam mulut, dikunyah, ditelan, diproses
dan setelah itu dibuang di WC.
Jadi sebenarnya persoalan kebahasaan bisa
disederhanakan. Jika subtansi dari sarapan pagi dan makan pagi itu sama, maka para
ibu-ibu atau istri-istri di rumah bisa menyederhanakan proses nya. Jika tidak sempat
masak di pagi hari atau lagi malas, gampang saja ngomong sama suaminya: “Bang,
yuk kita sarapan di luar”. Silahkan pilih selera nya; ada suka indomie, mie
sagu, lontong, gorengan tempe, silahkan makan. Selesai makan di bayar. Lalu pulang.
Itu sudah sarapan atau sudah makan pagi. Masa sih, cuma untuk “ganjal perut
saja” sibuk nya sampai ke ujung langit.
Sekarang orang sering ribut-ribut. Hidup
harus seperti robot. Atau seperti pabrik Indomie. Mulai dari proses
barang-barang mentah dimasukan sampai terciptanya indomie bungkusan. Begitu seterusnya.
Jika melenceng sedikit, eror, bid’ah, syirik, kafir.
Hidup harus persis seperti Nabi. Malam tahajud.
Kaki harus sampai bengkak-bengkak. Harus sujudnya lama, menangis karena melihat
neraka dan tertawa karena melihat surga agar seperti Umar bin Khatab. Maqam nya
berbeda-beda.
Umat
nabi beragam. Ada yang kuat seperti Umar, ada yang ‘alim seperti Ali bin Abi
Thalib, ada yang sangat bijaksana seperti Abu Bakar, ada yang yang pemurah
seperti Utsman bin Affan, ada juga yang biasa-biasa saja dan menjadi buruh di
pasar. Mereka punya kapasitas yang berbeda, berbeda juga mereka memahami sabda Nabi
Muhammad dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi sahabat nabi tidak seperti pasukan
tentara yang tinggi nya sama, yang makannya harus 10 menit sudah habis,
potongan rambutnya plontos. Tidak sama sekali. Perilaku umat nabi sebanyak
rambut yang ada di kepala. Sangat beragam. Ada yang sholat suka baca ayat-ayat
panjang panjang sempai kena tegur nabi. Ada yang suka bacaan surat al-ikhlas
dan dilanggengkan setiap sholat, sehingga dipanggil nabi. Gara-gara kebiasaan
membaca surat al-ikhlas malaikat turun memberi rahmat kepada sahabat nabi.
Kenapa harus disederhanakan? Sebab umat
nabi itu umat yang sangat mulia. mereka sudah punya kunci yaitu kalimat
syahadatain, syahadat tauhid dan syahadat rasul.
Semua amalan mubah menjadi ibadah. Allah dan
nabi tidak menyuruh membukukan Al-Qur’an. Sampai-sampai Abu Bakar menolaknya
dengan alasan tidak ada dasar hukum nya. Tapi Umar bin Khatab ngotot agar Al-Qur’an
dibukukan. Secara dasar hukum,Abu Bakar sangat patuh terhadap
hukum. Tapi Abu Bakar tidak mengucapkan model para ustadz zaman now: “Jangan melakukan sesuatu yang tidak ada dalil
dalam al-qur’an dan sunnah”, jika dilakukan itu perbuatan bid’ah, tempat bid’ah
di neraka”. Biasanya berbicara dengan mata yang melotot saking
semangatnya.
Abu Bakar dan Umar Bin Khatab melakukan
kajian ilmiah sangat argumentatif. Abu Bakar melihat formalitasnya, Umar bin
Khatab melihat semangat denyut nadi pada Al-Qur’an dan Sunnah nya yaitu menjaga
agama. Itu maqasid syariah. Jika secara formal tidak disebutkan, maka
kajian-kajian subtansional dari ayat-ayat tersebut menjadi sangat penting.
sebab dengan cara tersebut, hukum bisa ditemukan. Dan keberlangsungan fungsi Al-Qur’an
tetat terjaga relevansinya.
Itu sebabnya para ulama yang sudah “nyegoro
ilmunya” ketika membahas persoalan ibadah-ibadah menjadi sangat fleksibel dan
tidak kaku. Karena itu yang diajarkan oleh nabi dan para sahabatnya. Saat ada
seorang sahabat masih suka maksiat dan disisi lain suka sholat, nabi tersenyum
saja. Nabi yang agung tidak melotot dan marah-marah. Sebab perubahan perbuatan
manusia membutuhkan proses. Itulah sikap seorang nabi yang paling sempurna
fisik, pikiran, sikap dan perbuatannya.
Maka para ulama arif billah (biasanya tidak
mengaku-ngaku sebagai orang yang paling sunnah. Sebab mereka malu kepada nabi
atas segala kekurangannya) sangat bijaksana sekali dalam mendidik umatnya untuk
menumbuhkan kekuatan tauhid dengan ucapan:”Allah-Allah-Allah”. Sebagaimana dalam hadist [ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ: اللهُ، اللهُ ] artinya: Kiamat tidak akan
terjadi di muka bumi tak disebut lafadz: Allah, Allah”.
Jika cara itu semakin memperkuat
keimanan,maka sebenarnya juziyah kata sudah cukup mewakili kulliyah nya. Jika kata
Allah sudah memperkuat kalimat tauhid, maka sebenarnya sudah bisa mewakili dari
subtansi kalimat Laa Ilaha Illa Allah. Jika memang sarapan cuma dengan
ubi goreng sudah cukup, maka tidak harus juga makan nasi di pagi hari. Fungsi nya
sama bukan?
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872