Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Saya Iri sama Prof Inung



Minggu , 24 November 2024



Telah dibaca :  629

Alhamdulillah saya bisa silaturahim dengan dua orang hebat di Kementrian Agama RI: Sekretaris Jenderal Agama RI, Prof.Dr. Muhammad Ramdhani, S.Tp,MT Dan Direktur Pendidikan Tinggi Agama Islam Prof.Dr.H. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. Kami bertemu di acara wisuda STAIN Bengkalis ke-XI tahun 2024. Dari pertemuan singkat, saya akan menulis kesan-kesan dari kedua tokoh yang sangat humble dan mempunyai selera humor tinggi. Pantas saja keduanya awet muda.

Pertama-tama saya menulis Prof Inung yang alhamdulillah sekarang ia sudah mendapatkan gelar baru dan sudah diresmikan di sidang senat terbuka oleh Prof. Ramdhani yaitu: Almukarom, Al ‘Alamah, Al-Fadhilah Prof.Dr.KH. Ahmad Zainul Hamdi. Masih ada dua gelar lagi yang belum di resmikan: syeikh dan al-mujtahid. Mungkin tidak dipanggil syeikh karena masih terlihat muda, dan tidak dipanggil mujtahid masih tetap memposisikan sebagai santri para masyayikh nya. Itulah keagungan para ulama dan ilmuwan sejati, ia akan senantiasa terus belajar dan menempatkan diri sebagai seorang santri. Sebab orang yang terus belajar hakikatnya yang mempunyai masa depan.

Jika melihat Prof Inung, terus terang saya iri. Bukan karena jabatannya, bukan karena guru besar nya, bukan juga karena tampan nya (jika soal satu ini “babarblas” saya tidak iri, sebab saya orang yang paling tampan menurut istriku). Saya iri karena di sela-sela kesibukan seperti Kincir Angin ( jawa-kitiran) masih saja sempat menulis dan memberi pencerahan kepada masyarakat di berbagai media massa.

Saya sering menemukan tulisannya di arina.id, suatu media yang konsisten menyebarkan nilai-nilai keagungan, kemodernan, kemoderatan, dan pentingnya menegakan kesatuan dan persatuan di negara yang masyarakatnya sangat plural. Nilai-nilai tersebut harus tetap dirawat supaya tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Dengan cara tersebut, bangsa akan tetap tegak dalam keberagaman. Merawat keberagaman juga bagian menyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada bangsa Indonesia.

Salah satu tulisan Prof Inung yang menarik perhatiannku berjudul”Saya Menyadari, Tak Mudah Menjadi Seorang Ayah”. Tulisan ini berawal dari WA anak nya. Terlihat cerita ini merupakan kejadian sehari-hari dan remeh-temeh. Tapi ia mampu mengangkat nya menjadi tema menarik dan menjadi sesuatu yang sangat penting berkaitan nilai-nilai keagungan dan kasih sayang di era post truth yang penuh dengan kepalsuan, kebohongan, keangkaramurkaan, dan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan.

Penulis sendiri bisa merasakan persoalan di era modern yang sanga kental adanya persaingan hidup sangat keras, apalagi di kota-kota besar.  Orang tua harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Era tradisional yang dulu hubungan orang tua dan anak bisa tercipta dengan sangat hangat dan penuh kasih sayang secara pelan-pelan mulai bergeser, sedikit demi sedikit renggang karena terpisah oleh jarak. Meskipun era modern saat sekarang ini kemajuan teknologi bisa membantu mendekatkan jarak melalui video call dan bisa ngobrol langsung di depannya, tapi ada nilai-nilai kehidupan yang hilang yaitu rasa kehangatan pelukan seorang ayah dan kecupan kening yang diberikan kepada anak-anak tersayangnya. Jadi ada “ruang kosong” dalam hati anak yang belum diisi oleh kasih sayang. Ia merindukan hal tersebut. Tapi lagi-lagi kesibukan di dunia modern saat sekarang ini benar-benar telah menggerus rasa “kasih-sayang” yang dulu si-buah hati selalu mendapatkan saat ia akan berangkat sekolah dan setelah pulang sekolah.

Kita mungkin tidak pernah berfikir  dampak “kehampaan” dari seorang anak saat orang tua nya tidak hadir dalam rasa, pikiran dan hati nya. Kita hanya sibuk melihat satu sisi kejadian seperti kenakalan anak berani melawan orang tua, guru, konsumsi narkoba, bunuh diri dan melakukan tindakan kekerasan. Kita sering melihat semua kejadian itu semata-mata karena kesalahan anak. Kita sering “geleng-geleng kepala” saat melihat ada anak melakukan hal tersebut dengan memincingkan mata dengan sinis seolah-olah kita lebih baik dari mereka dan keluarganya. Kita seolah-olah manusia sempurna dan melihat keluarga-keluarga yang anaknya terkena berbagai kasus sebagai sesuatu yang sangat hina. Padahal kasus -kasus tersebut bisa menimpa siapa saja di era post truth saat sekarang ini. Tidak peduli anda siapa dan kedudukannya apa,punya potensi terjadi kejadian-kejadian yang tidak kita harapkan. Semoga keluarga kita terjaga dari hal-hal demikian. Amin.

Kenapa bisa demikian? Padahal fasilitas pendidikan jauh lebih baik, padahal “uang jajan” anak-anak jauh lebih besar daripada orang tua nya dulu saat sekolah malah tidak mendapatkan uang jajan sama sekali. Padahal kajian-kajian agama “mbalarah” di tempat ibadah, perkantoran, youtube, tik-tok dan media-media lainnya. Ironisnya, semakin banyak fasilitas pendidikan dan fasilitas pengajian agama semakin banyak juga perilaku yang menyimpang di tengah-tengah generasi muda. Sama. Semakin banyak obat dan dokter semakin banyak penyakit bermunculan. Dulu saat saya sakit, obatnya cuma satu “bodrek”. Kadang hanya ramuan tradisional sudah sembuh.

Penulis merenung dan sedikit melakukan “meditasi” untuk menelusuri persoalan tersebut melalui pendekatan “rasa” dan “perasaan”. Ada sebuah jawaban yang melintas dalam hati yaitu bahwa anak-anak modern secara khusus dan manusia modern secara umum telah kehilangan rumah terindahnya di dalam diri nya yaitu rumah kasih sayang yang tertanam dalam hati. Manusia modern telah terkisi ruh-ruh kasih sayang, empati, dan kerinduan. Hati manusia modern telah terlanjur diisi oleh ciptaannya sendiri yaitu “nilai borongan”di android, ip-Phone yang tidak menyentuh sama sekali terhadap hakikat manusia. Sehingga kadang anak kita tampil seperti robot. Ia bisa bicara, berfikir dan mampu menghitung dengan cepat atas kecerdasannya, tapi ia tumpul atas rasa kemanusiaannya dan mulai hilang tentang hakikat cara menyayangi orang tua dan bahkan cara mencintai anak-anaknya.

Kadang dalam kesendirian, penulis rindu masa-masa terindah dulu. Jarum jam tidak bisa diputar kembali. Roda kehidupan terus berjalan dan zaman pun telah berubah. Namun Tuhan masih memberi hati dan pikiran. Masih ada kesempatan untuk melakukan perubahan untuk memberikan kasih sayang kepada anak-anak kita agar masa depan emas benar-benar terwujud dalam realita.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875