
Alhamdulillah saya bisa silaturahim dengan
dua orang hebat di Kementrian Agama RI: Sekretaris Jenderal Agama RI, Prof.Dr. Muhammad
Ramdhani, S.Tp,MT Dan Direktur Pendidikan Tinggi Agama Islam Prof.Dr.H. Ahmad
Zainul Hamdi, M.Ag. Kami bertemu di acara wisuda STAIN Bengkalis ke-XI tahun
2024. Dari pertemuan singkat, saya akan menulis kesan-kesan dari kedua tokoh yang
sangat humble dan mempunyai selera humor tinggi. Pantas saja keduanya
awet muda.
Pertama-tama saya menulis Prof Inung yang
alhamdulillah sekarang ia sudah mendapatkan gelar baru dan sudah diresmikan di sidang
senat terbuka oleh Prof. Ramdhani yaitu: Almukarom, Al ‘Alamah, Al-Fadhilah
Prof.Dr.KH. Ahmad Zainul Hamdi. Masih ada dua gelar lagi yang belum di
resmikan: syeikh dan al-mujtahid. Mungkin tidak dipanggil syeikh karena masih terlihat
muda, dan tidak dipanggil mujtahid masih tetap memposisikan sebagai santri para
masyayikh nya. Itulah keagungan para ulama dan ilmuwan sejati, ia akan senantiasa terus belajar dan menempatkan diri sebagai seorang santri. Sebab orang yang terus belajar hakikatnya yang mempunyai masa depan.
Jika melihat Prof Inung, terus terang saya
iri. Bukan karena jabatannya, bukan karena guru besar nya, bukan juga karena
tampan nya (jika soal satu ini “babarblas” saya tidak iri, sebab saya
orang yang paling tampan menurut istriku). Saya iri karena di sela-sela
kesibukan seperti Kincir Angin ( jawa-kitiran) masih saja sempat menulis dan
memberi pencerahan kepada masyarakat di berbagai media massa.
Saya sering menemukan tulisannya di arina.id,
suatu media yang konsisten menyebarkan nilai-nilai keagungan, kemodernan,
kemoderatan, dan pentingnya menegakan kesatuan dan persatuan di negara yang
masyarakatnya sangat plural. Nilai-nilai tersebut harus tetap dirawat supaya
tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Dengan cara tersebut,
bangsa akan tetap tegak dalam keberagaman. Merawat keberagaman juga bagian
menyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada bangsa Indonesia.
Salah satu tulisan Prof Inung yang menarik
perhatiannku berjudul”Saya Menyadari, Tak Mudah Menjadi Seorang Ayah”.
Tulisan ini berawal dari WA anak nya. Terlihat cerita ini merupakan kejadian
sehari-hari dan remeh-temeh. Tapi ia mampu mengangkat nya menjadi tema menarik
dan menjadi sesuatu yang sangat penting berkaitan nilai-nilai keagungan dan
kasih sayang di era post truth yang penuh dengan kepalsuan, kebohongan, keangkaramurkaan,
dan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan.
Penulis sendiri bisa merasakan persoalan di
era modern yang sanga kental adanya persaingan hidup sangat keras, apalagi di kota-kota
besar. Orang tua harus bekerja keras
untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Era tradisional yang dulu hubungan orang tua
dan anak bisa tercipta dengan sangat hangat dan penuh kasih sayang secara
pelan-pelan mulai bergeser, sedikit demi sedikit renggang karena terpisah oleh
jarak. Meskipun era modern saat sekarang ini kemajuan teknologi bisa membantu
mendekatkan jarak melalui video call dan bisa ngobrol langsung di
depannya, tapi ada nilai-nilai kehidupan yang hilang yaitu rasa kehangatan
pelukan seorang ayah dan kecupan kening yang diberikan kepada anak-anak
tersayangnya. Jadi ada “ruang kosong” dalam hati anak yang belum diisi
oleh kasih sayang. Ia merindukan hal tersebut. Tapi lagi-lagi kesibukan di
dunia modern saat sekarang ini benar-benar telah menggerus rasa “kasih-sayang”
yang dulu si-buah hati selalu mendapatkan saat ia akan berangkat sekolah dan
setelah pulang sekolah.
Kita mungkin tidak pernah berfikir dampak “kehampaan” dari seorang anak saat
orang tua nya tidak hadir dalam rasa, pikiran dan hati nya. Kita hanya sibuk
melihat satu sisi kejadian seperti kenakalan anak berani melawan orang tua,
guru, konsumsi narkoba, bunuh diri dan melakukan tindakan kekerasan. Kita
sering melihat semua kejadian itu semata-mata karena kesalahan anak. Kita
sering “geleng-geleng kepala” saat melihat ada anak melakukan hal tersebut
dengan memincingkan mata dengan sinis seolah-olah kita lebih baik dari mereka
dan keluarganya. Kita seolah-olah manusia sempurna dan melihat
keluarga-keluarga yang anaknya terkena berbagai kasus sebagai sesuatu yang
sangat hina. Padahal kasus -kasus tersebut bisa menimpa siapa saja di era post
truth saat sekarang ini. Tidak peduli anda siapa dan kedudukannya apa,punya
potensi terjadi kejadian-kejadian yang tidak kita harapkan. Semoga keluarga
kita terjaga dari hal-hal demikian. Amin.
Kenapa bisa demikian? Padahal fasilitas
pendidikan jauh lebih baik, padahal “uang jajan” anak-anak jauh lebih besar
daripada orang tua nya dulu saat sekolah malah tidak mendapatkan uang jajan
sama sekali. Padahal kajian-kajian agama “mbalarah” di tempat ibadah,
perkantoran, youtube, tik-tok dan media-media lainnya. Ironisnya, semakin
banyak fasilitas pendidikan dan fasilitas pengajian agama semakin banyak juga
perilaku yang menyimpang di tengah-tengah generasi muda. Sama. Semakin banyak
obat dan dokter semakin banyak penyakit bermunculan. Dulu saat saya sakit,
obatnya cuma satu “bodrek”. Kadang hanya ramuan tradisional sudah sembuh.
Penulis merenung dan sedikit melakukan
“meditasi” untuk menelusuri persoalan tersebut melalui pendekatan “rasa” dan
“perasaan”. Ada sebuah jawaban yang melintas dalam hati yaitu bahwa anak-anak
modern secara khusus dan manusia modern secara umum telah kehilangan rumah
terindahnya di dalam diri nya yaitu rumah kasih sayang yang tertanam dalam hati.
Manusia modern telah terkisi ruh-ruh kasih sayang, empati, dan kerinduan. Hati
manusia modern telah terlanjur diisi oleh ciptaannya sendiri yaitu “nilai borongan”di
android, ip-Phone yang tidak menyentuh sama sekali terhadap hakikat manusia. Sehingga
kadang anak kita tampil seperti robot. Ia bisa bicara, berfikir dan mampu menghitung
dengan cepat atas kecerdasannya, tapi ia tumpul atas rasa kemanusiaannya dan
mulai hilang tentang hakikat cara menyayangi orang tua dan bahkan cara
mencintai anak-anaknya.
Kadang dalam kesendirian, penulis rindu
masa-masa terindah dulu. Jarum jam tidak bisa diputar kembali. Roda kehidupan
terus berjalan dan zaman pun telah berubah. Namun Tuhan masih memberi hati dan
pikiran. Masih ada kesempatan untuk melakukan perubahan untuk memberikan kasih
sayang kepada anak-anak kita agar masa depan emas benar-benar terwujud dalam
realita.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3565
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2946
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875